#52 Andrew

951 Kata
Bagitu aku membuka pintu mobil itu, aroma wangi yang lembut segera menguar dari dalam. Dan begitu aku duduk di kursinya, memasang sabuk pengaman, aku merasa seperti mimpi. Ini mobil yang selama ini aku mimpi-mimpikan. Lexus UE-300. Biasanya, aku hanya bisa melihat dari jauh mobil-mobil seperti ini ketika kutemui berseliweran di jalan. Sekarang, aku duduk manis di dalamnya. Rasanya jantungku berdetak kencang saking tidak percayanya. Aku lebih tidak percaya lagi, aku sedang berada di mobil mewah ini, dan seorang putra direktur utama Hizi Corp sedang menyetir, mengantarkanku pulang di malam Minggu. Sungguh, ini pasti yang diimpikan beberapa gadis di luar sana. "Kita ke arah mana nih?" Tanya Andrew begitu menjalankan mobil. "Jalan Dharmawangsa." Jawabku singkat. "Gimana kalau ke arah masa depan kita aja." "Hah?" Dari percakapan awal kami sudah terlihat bagaimana karakter Andrew. Dia laki-laki yang ramah, supel dan mudah mencairkan suasana. Sejenak saja, kami sudah larut dalam suasana mengobrol yang hangat. "Jadi dulu kamu anak aksel? Pantesan baru duapuluh dua sudah lulus magister profesi psikolog." Kata Andrew begitu kujelaskan mengapa di usia dua puluh enam, aku sudah empat tahun pengalaman di dunia konsultan psikologi. "Kamu sekarang berapa?" Tanyaku. "Berapa apanya?" Jawab Andrew cepat. Kami tertawa bersama. "Usia. Ih? Dikira apa?" "Dua enam juga." Jawabnya kemudian "Eh sama dong." "Ditambah dua." "Ish.." Entah kenapa aku merasa mengobrol dengan Andrew seperti sedang mengobrol dengan Zahra, akrab sekali. "Aku dulu juga ingin ambil psikologi lho." Kata Andrew. "Ohya? Masak sih?" "Iya, tapi sama Bapak nggak boleh." "Jadinya ngambil apa?" "Bussiness Management." Andrew membawa mobil dengan setengah mengebut, dia sama sekali tidak berpikir bahwa sedang membawa perempuan yang selalu melaju maksimal enam puluh kilometer per jam. "Jadi kamu dari SMA di Singapura?" "Iya, dari SMA aku udah hidup di kost-kost-an hahaha." "Ohya? Nggak percaya." "Sumpah, aku kerja freelance juga di restoran." "Kukira seorang anak bos akan hidup enak." "Eh itu juga hidup enak, aku tidak mikirin uang sekolah, Bapak yang bayar. Aku hanya mikir uang untuk hidup dan main." Gaya cerita Andrew sangat asyik, dia lawan bicara yang menyenangkan. Perasaanku, kami baru mengobrol sebentar, tapi tiba-tiba sudah sampai depan rumahku saja. Maklum, Andrew mengebut. "Ini rumah kamu?" "Iya, terimakasih ya." Kataku lalu turun. "Eh." Andrew memanggilku ketika aku hendak turun. "Iya." Aku menoleh. "Emmm tidak jadi." "Ooh oke." Akhirnya aku turun, mengangguk dan melambai ke arah Andrew dan dia pun berlalu. Kulihat terus mobil impian itu hingga menghilang di belokan. Wow! Aku masih takjub bahwa aku baru saja baik mobil yang sudah kuimpikan sejak dulu. Ibu melihatku dari teras, aku segera melambai ke arah ibu dan berlari menuju beliau. "Kamu diantar siapa? Mobil kamu mana?" Ibu segera memberondong dengan pertanyaan begitu aku tiba di dekat beliau. "Ban mobil meletus, Bu." "Tapi kamu nggak apa-apa, kan? "Syukurlah meletusnya masih di depan rumah Pak Wayan. Tadi diantar putra beliau." "Tapi kamu nggak papa, kan?" Ibu bertanya sekali lagi. "Nggak papa, ibuuu." Kami berjalan masuk rumah beriringan. Aku merangkul ibu menenangkan beliau, ibu masih beberapa kali menengok ke jalan, seperti tidak percaya aku pulang tidak bawa mobil dan diantar seorang lelaki. "Kamu menikmati makan malam tadi?" "Iya, Bu. Mereka sangat ramah. Makanan hidangan yang lezat. Pengalaman yang menyenangkan. "Kaizan datang?" "Datang Bu. Dia tadi juga menawari untuk mengantarku." "Terus?" "Tapi Pak Wayan juga menawari agar Andrew mengantarku. Aku tidak mau mengambil resiko diantar tunangan orang lain, Bu." "Ibu bangga sama kamu. Ibu tahu, dalam hati kamu ingin diantar Kaizan, tapi kamu lebih memilih menjaga hati." Aku tersenyum mendengar jawaban ibu, karena memang benar adanya. Aku tadi tidak mengindahkan hatiku ketika memutuskan itu. "Bebersihlah, lalu segera tidur, sudah malam." Kata ibu lalu lalu keluar dari kamar. Aku segera bebersih, cuci muka, ganti baju dan segera merebah di kasur. Sekali lagi, kurasakan perasaan lega menjalari hatiku. Pertama, lega karena hari ini sudah berlalu. Kedua, lega karena aku berhasil menolak Kaizan. Baru saja hampir kumatikan lampu kamar, dan mengaktifkan mode pesawat, handphone ku menyala. Sebuah pesan dari nomer tidak dikenal. Siapa? Batinku. Segera kubuka. "Halo, Biv. Senang berkenalan denganmu. Have a nice dream. Andrew." Astaga? Aku kaget tidak percaya. Dari mana Andrew mendapat nomer handphone ku. Pak Wayan tidak punya nomerku. Apakah dia mendapatkannya dari Kaizan? "Halo, Andrew. Terimakasih sudah mengantarku. Btw, kamu dapat nomerku darimana?" Segera kubalas dan bertanya, dia dapat nomerku darimana. Aku tidak dapat menekan rasa penasaran. "Kaizan." Tepat, seperti dugaanku. Pikiranku menjadi macam-macam sejak mendapat pesan dari Andrew. Apa maksudnya laki-laki itu meminta nomerku pada Kaizan. Apa yang dipikirkan Kaizan tentang ini? Apakah mereka cukup kenal dekat? Aku tidak jadi mengantuk, kejadian malam ini sungguh membuat pikiran dan perasaanku campur aduk. Aku mencoba menerka-nerka, apa rencana Allah setelah ini? Andrew anak yang menyenangkan, dia tampan, wajah keturunan masih sangat terlihat. Dia juga pekerja keras, didikan seorang direktur utama. Perlakuannya membuatku menerka-nerka, apakah dia menyukaiku? Atau, apakah dia playboy? Ahh tapi pikiranku terlalu jauh memikirkan itu. Toh, aku juga tidak terbawa perasaan dengannya. Tapi aku menyukai keakraban kami tadi. Jarang sekali aku mudah akrab dengan orang baru. *** Aku mengawali hari Minggu dengan jogging bersama ibu seperti biasa. Dan mengakhirinya dengan memakan gudeg Jogja di depan perumahan. "Bu, semalam Andrew mengirimiku pesan." "Ohya? Bagaimana dia tahu nomer kamu, dia minta?" Tanya ibu, aku menggeleng. "Tidak, Bu. Dia meminta dari Kaizan." "Ha?" Ibu bengong mendengar jawabanku. "Dia tipikal orang yang pemberani sepertinya." Tambah ibu. "Kira-kira, dia kenapa dia mau repot-repot meminta nomerku pada Kaizan ya Bu?" Tanyaku lagi. "Ada tiga kemungkinan. Dia pengen berteman sama kamu, dia iseng, atau dia suka sama kamu." "Mungkin ya, Bu?" "Mungkin saja. Gimana menurut dia kamu?" "Dia baik, dia cerita tentang kehidupannya di Singapura, dia pekerja keras, dia teman bicara yang asyik. Tapi aku tidak, maksudku belum tertarik lebih jauh." "Hehehe, ibu paham." Sahut ibu. Kami menghabiskan sisa makanan kami lalu segera pulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN