"Ra, masih marah?" Kataku begitu datang dan duduk di sofa ruang kerja Zahra, tapi diacuhkan. Dia akhirnya menoleh. Hanya menatapku tanpa menjawab apapun.
Pagi ini, aku sengaja membawa bekal makan pagi dan meminta ibu membuatkan dua bekal, satu untuk Zahra. Aku ingin makan berdua dengan Zahra.
"Makan yuk, ibu bikin nasi liwet buat kita." Kataku lagi, berupaya merayunya.
"Kamu nyogok aku?" Katanya sambil memandangi kotak nasi. Aku mengangguk, lalu kami tertawa.
"Yaudah aku terima sogokannya karena pas banget aku belum sarapan dan lapar."
Kami tertawa lagi lalu segera sibuk membuka bekal ibu. Ibu baru beberapa kali bikin nasi liwet khas sunda, tapi aromanya sudah membuat kami seperti sedang hendak berbuka puasa.
Nasi dimasak bersama bumbu-bumbuan, teri medan, pete, dan cabe rawit, sungguh sangat menggugah selera. Apalagi ibu juga membuatkan ayam lengkuas dan kering kentang sebagai lauknya, sempurna Aku sudah menduga Zahra akan luluh, tapi bukan karena nasi liwet melainkan memang dia tidak pernah lama marah denganku.
Kami makan dengan lahap bersama-sama, tidak seperti orang yang baru saja baikan. Bahkan kami saling berebut paha ayam, yang sama2 favorit kami.
"Ra, aku mau cerita, tapi jangan marah, ya?"
"Tentang apa?" Zahra langsung berhenti makan, dan menolehku.
"Aku kemarin diundang Pak Wayan makan di rumahnya."
"Pak Wayan direktur Hizi Corp.?" Tanya Zahra, aku mengangguk. "Kok bisa?" Tanya Zahra lagi. Dia tampak antusias dengan isi pembicaraan kami.
"Iya, beliau memberi reward atas kesuksesan program kerja di Yogyakarta kemarin."
"Kamu aja?"
"Sama Kaizan." Segera kulihat respon Zahra mendengar nama Kaizan, dia langsung tidak berselera. "Eh jangan marah dulu, dengerin."
"Iyaa ..iyaa." Zahra kembali makan dengan raut muka malas.
"Kemarin ban ku meletus saat aku masih di depan rumah Pak Wayan."
"Kamu nggak papa?"
"Aku nggak papa, tapi aku diantar pulang Andrew."
"Hah, siapa Andrew?"
"Anak bungsu Pak Wayan."
"Kamu diantar anaknya direktur Hizi Corp.?" Kata Zahra tidak percaya, aku mengangguk.
"Naik Lexus UE 300." Kataku menambahi
"Apa?" Zahra kaget bukan main. Zahra memang tahu banget, mobil itu mobil impianku, karena sering sekali kubicarakan jika jalan dengannya.
"Dan ada satu hal yang pasti membuatmu bangga."
"Apa?"
"Pada waktu malam itu, Kaizan juga menawari mengantarkan aku pulang. Tapi aku tolak."
Zahra hanya ternganga mendengar perkataanku. Dia seperti tidak percaya dengan apa yang kukatakan.
"Jadi malam itu kamu kayak diperebutkan dan kamu memilih Andrew?" Kata Zahra, aku mengangguk.
Kami tertawa ngakak bersama. Lalu melanjutkan makan. Tapi, tiba-tiba Laila datang mengetuk pintu ruangan Zahra.
"Mbak Zahra, Bu Listia sudah di depan bagaimana?"
"Eh tunggu, sepuluh menit lagi."
Kami cepat-cepat menghabiskan makan, dan aku pun buru-buru hengkang dari ruangan Zahra.
Pagi ini, aku ada janji dengan Alana. Semalam dia menelpon. Tapi, aku selalu membuka sesi minimal pukul setengah sembilan agar tidak kejadian terburu-buru seperti Zahra barusan.
Pukul sembilan kurang seperempat, Alana datang. Dia datang dengan keadaan mata sembab seperti baru saja menangis semalaman. Matanya sampai terlihat seperti bengkak dan merah. Dia tidak mengatakan apa-apa ketika duduk di depanku.
"Apa yang terjadi?" Kataku sambil memegang lengannya.
"Ghulam pergi membawa Kavya."
"Apa?"
"Kami bertengkar, dan kali ini Ghulam pergi membawa Kavya." Tangis Ala pecah lagi. Aku kasihan melihatnya, seperti ikut merasakan perih melihat mukanya yang sudah memerah dan matanya terus berair.
"Mereka kemana kamu tahu?" Tanyaku, Ala menggeleng.
"Apakah kamu ingin cerita mengapa kalian bertengkar sampai Ghulam bisa kabur membawa anak kalian." Kataku setelah beberapa menit lamanya hanya diam melihat Ala yang masih menangis. Ala mengangguk.
"Dia membawa Kavya pergi kemarin sore, paginya, kami janji dengan salah seorang kenalan temanku yang bekerja dalam bidang sosial. Diam-diam, aku memang terus mencarikan Ghulam jaringan untuk bisa bekerja di bidang yang ia sukai. Aku tak lagi menawarinya membuka usaha atau bekerja di tempat lain karena aku tahu, dia pasti menolak dengan kemarahan.
Hingga akhirnya Widia temanku bercerita, bahwa adiknya bekerja di sebuah lembaga sosial dan mereka sedang mencari tim. Aku merasa ini adalah pekerjaan yang akan Ghulam suka. Lalu kami merancang pertemuan bersama Widia dan adiknya. Dari awal sudah kulihat sebenarnya, Ghulam tidak tertarik. Tapi siapa tahu, setelah tahu pekerjaannya dia akan cocok.
Kami rencana bertemu pagi kemarin, di sebuah mall. Kami berangkat bertiga, sekalian mengajak Kavya jalan-jalan. Saat perjalanan sebenarnya aku mulai curiga, Ghulam seperti mencari-cari alasan untuk tidak jadi bertemu.
Hingga sampailah kami di mall dan bertemu di salah satu gerai fast food. Widia dan adiknya menyambutkan kami antusian, adiknya sibuk menjelaskan bagaimana lembaga yang mereka bangun bekerja. Dan, aku sangat kaget bagai disambar petir dengan respon Ghulam.
"Oh, jadi ini masih lembaga kecil." Katanya. Sungguh Biv, saat itu aku malu sekali dengan Widia dan adiknya. Masak aku mengajak bertemu untuk mengejek mereka.
"Oh iya, kami masih merintis." Untung adik Widia sabar menanggapi, aku sudah meremas-remas tangan ingin mencolek Ghulam.
"Ada potensi berkembang nggak nih tapi?" Penghinaan Ghulam yang kedua kalinya. Hatiku sudah panas.
"Kalau Abang lihatnya bagaimana?" Tanya Adik Widia, dia masih sabar.
"Aku belum bisa melihat masa depannya."
"Kalau Abang kurang berkenan, silakan Abang cari lembaga lain, kami pamit dulu." Akhirnya mereka tersinggung dan memilih pergi. Dari sanalah aku murka, Biv. Saat itulah aku malu memiliki suami Ghulam. Aku ucapkan itu Biv di depannya. Di depan Kavya.
Dia marah, katanya aku lebih mementingkan temanku. Dari sisi mana aku mementingkan temanku? Aku mementingkan dia, dan dia egois. Dia marah, ketika kami sampai rumah, dan aku turun dari mobil. Aku masuk rumah dahulu, dia dan Kavya masih di mobil, dia menjalankan kembali mobilnya. Dia membawa mobilku pergi bersama anakku. Hingga pagi ini, mereka belum kembali."
Ala menyeka sisa air mata di ujung matanya. Aku menawarinya tissu dan mengambilkannya minum.
"Kamu ada ide kemana dia membawa Kavya?" Tanyaku. Ala menggeleng.
"Apakah ke rumah orangtua Ghulam?"
"Sepertinya tidak mungkin."
"Apakah kamu sudah menelponnya?"
"Sepertinya dia memblokir nomerku, aku tidak bisa menghubunginya.
"Apakah mereka menginap di suatu hotel."
"Bisa jadi, tapi Biv, tapi uang Ghulam tidak banyak di rekeningnya. Selama ini dia tidak mau menerima uang dariku. Dia menghabiskan tabungannya. Bagaimana kalau dia kehabisan uang. Dia membawa Kavya, Kavya harus dijaga makannya tidak bisa makan sembarangan. Bagaimana kalau dia kelaparan, bagaimana kalau Ghulam menyewa hotel murah yang panas."
Tangis Alana pecah lagi. Aku hanya bisa menatapnya iba. Dia selalu sehancur ini jika dipisahkan dengan anaknya. Dan Ghulam, bagaimana bisa dia Setega itu. Dari sini aku bisa menyimpulkan, mental Ghulam tidak sedang baik-baik saja. Dia terluka sehingga dia melukai.
Aku biarkan Ala tenang, dia menghabiskan minuman yang kuambilkan tadi. Lalu mengecek handphonenya. Baru setelah dia cukup tenang. Kujelaskan tentang ini.
"Maaf Ala, ada sesuatu yang harus kusampaikan. Ini tentang kondisi mental Ghulam menurut analisisku. Bahwa dia sedang tidak baik-baik saja. Dia sedang terluka jiwanya, sehingga dia melukai orang lain." Kataku sambil menatap Alana dalam-dalam.
"Maksudmu?" Tanya Ala.
"Aku menduga ada luka di hati Ghulam yang belum sembuh dan berdampak pada pribadi dan perilakunya saat ini." Jawabku.
"Apakah itu luka hati dari ayahnya?"
"Bisa iya, bisa tidak. Karena itu, aku sangat berharap bisa menggali persoalan ini lebih dalam. Aku ingin tahu sudut pandang ayahnya Ghulam."
"Aku tidak punya kontak ayahnya, tapi aku punya kontak ibu sambungnya. Aku bisa memberikannya padamu jika kau memerlukannya. Kita tidak perlu meminta izin Ghulam, kita hubungi secara diam-diam."
Ala mencatatkan nomer telepon ibu sambung Ghulam di atas sesobek kertas dan menyerahkannya padaku.
"Baik, nanti akan kukabari apa yang akan kulakukan padamu. Akan kukabari terus." Kataku.
"Tapi, Biv. Bagaimana aku bisa menemukan mereka sekarang?"
Jujur, aku juga tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mencari Ghulam dan Kavya. Tapi aku tidak mengatakan begitu. Aku harus menenangkan Alana, dia butuh itu.
"Tunggu, coba aku telepon dulu. Kamu bilang tadi nomermu diblokir. Coba ku telepon dengan handphoneku."
Aku pun menghubungi Ghulam, dan tersambung. Terdengar beberapa kali nada sambung, namun tak juga kunjung diangkat.
"Tersambung, tapi tidak diangkat." Kataku, Ala menghela nafas mendengarnya.
"Apakah nomer itu bisa dilacak keberadaannya?" Kata Ala kemudian.
"Mungkin bisa saja, tapi bukan aku yang bisa melakukannya."
"Apakah kamu bisa mengantarku ke kantor polisi."
"Apakah kita akan melaporkan suamimu?" Tanyaku.
"Tidak, aku hanya ingin tahu mereka dimana."
Aku terdiam beberapa saat. Berpikir baiknya bagaimana.
"Apakah tidak sebaiknya kita tunggu dulu." Kataku kemudian, Ala diam saja tidak menanggapi. "Anakmu bersama ayahnya. Dia akan baik-baik saja, ayahnya pasti akan menjaga putrinya itu dengan sangat baik." Tambahku.
"Tapi Ghulam tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika Kavya mogok makan, dia tidak tahu Kavya tidak cocok beberapa merek s**u UHT. Dia tidak tahu cara menenangkan Kavya ketika tantrum. Ghulam tidak tahu semua itu."
Tangis Ala pecah lagi, bahkan dia sampai tersedu-sedu cukup keras. Kudekati dia dan kurangkul pundaknya memberi kekuatan.
"Baiklah, kita akan menelpon mereka sekali lagi." Kataku. Aku pun menelpon Ghulam kembali. Kali ini diangkat. Aku segera memberi kode pada Alana untuk tenang dan diam. Jangan sampai Ghulam menutup telepon karena tahu aku bersama Alana, meskipun dia pastinya sudah tahu.
"Halo, Biv." Kata Ghulam begitu telepon terhubung.
"Halo, Ghulam. Apa kabar?" Kataku mencoba menenangkan nada bicara.
"Aku baik, kamu bagaimana?"
"Aku juga baik, kamu sekarang ada dimana?"
"Kamu di suruh Alana?"
"Tidak, atas inisiatifku sendiri."
"Tapi Alana di sana?"
Aku diam sebentar. Melihat Alana yang memasang wajah penasaran.
"Ya."
Tutt...tutt..tutt Ghulam menutup teleponnya tanpa permisi, padahal aku hendak menjelaskan jika istri sangat mengkhawatirkan anak mereka. Ala menghela nafas panjang melihatku tak berdaya ketika Ghulam memutus sambungan teleponnya.
"Tunggu, aku akan mengiriminya pesan."
Belum sampai aku mengetik pesan, Ghulam terlebih dulu mengirimiku pesan.
"Tolong jangan usik aku dulu. Aku ingin menenangkan diri bersama Kavya. Kavya baik-baik saja. Bilang pada Alana, dia tidak perlu khawatir."
Kutunjukkan pesan itu pada Ala, Ala terdiam tidak merespon.
"Kita tunggu dulu saja ya, Al. insyaAllah Kavya baik-baik saja. Percayalah." Kataku kemudian. Ala mengangguk. Lalu dia pamit pulang. Aku kasihan melihatnya, lalu kuantar dia hingga ke depan.