#54 Pak Sadetil

2001 Kata
Aku melihat secarik kertas yang berisi nomer telepon ibu sambung Ghulam. Sambil berpikir, kira-kira apa yang akan kutakan padanya tentang maksudku ingin bertemu suaminya. Rumah mereka berjarak kira-kira delapan puluh kilometer dari rumahku. Bagaimana kalau mereka bisa bertemu tapi akunya yang sedang tidak bisa. Akhirnya aku ke ruangan Zahra, meminta pertimbangan. Seperti biasa, jika pusing tentang tugas kantor, aku selalu minta pertimbangan Zahra, bukan karena dia lebih bijak dan lebih tahu, tapi dia teman yang baik dalam berbagi senasib sepenanggungan. "Udah, hubungin aja. Nanti aku anterin." Kata Zahra setelah kuutarakan kegalauanku. "Masalahnya ini jauh lho, Ra. Aku nggak pernah nyetir sejauh itu." "Ya nanti gantian deh, asal ada uang lelah aja." Akhirnya aku beranikan diri menelpon nomor itu. Panggilan pertama tidak diangkat. Aku telepon lagi. "Halo, assalamualaikum!" Suara dari seberang kalem sekali terdengar keibuan. "Waalaikumsalam, dengan Bu Ulaimi?" Kataku. "Iya, saya sendiri. Ini dengan siapa?" Aku terdiam, berpikir apakah aku harus terus atau basa-basi. "Nama saya Bivisyani, Bu. Saya konselor pernikahan dari putra sambung ibu Ghulam Irsyani." Bu Ulaimi terdiam tidak menjawab, mungkin dia kaget mengapa aku menelponnya. "Ibu." Panggilku saat beliau masih terus saja diam. "Ada bisa saya bantu, Mbak?" Kata beliau kemudian. "Saya ingin terhubung dengan Pak Sadetil, suami ibu. Ada yang perlu saya tanyakan, sedikit panjang, jadi saya ingin bertemu beliau, apakah bisa?" Bu Ulaimi diam lagi, lagi-lagi kupikir dia bingung bagaimana harus meresponku. "Itu jika ibu mengizinkan." Bu Ulaimi masih diam, aku jadi bingung juga. Terdengar kasak kusuk di seberang, mungkin beliau bercakap-cakap dengan orang di dekatnya. "Ibu..Bu Ulaim?" "Ini ada Bapak, Mbak. Apa Mbak bicara dengan Bapak saja." "Oh iya, Bu." Sepertinya telepon telah berpindah tangan. "Halo, ini siapa?" Suara laki-laki, sepertinya Pak Sadetil. "Nama saya Bivisyani, Pak. Saya seorang konsultan psikologi. Apakah ini dengan Pak Sadetil ayah dari Ghulam Irsyani." Pak Sadetil diam saja. Entah apa yang ada dalam pikirannya. "Pak, apakah Bapak mendengar saya?" Tanyaku hati-hati. "Iya, Mbak. Apa yang bisa saya bantu?" Kata beliau kemudian. Suara sedikit berat. "Ceritanya cukup panjang jika saya ceritakan di telepon. Pada intinya, pernikahan putra bapak dengan istrinya Alana sedang dalam masalah. Mereka meminta saya sebagai konselor pernikahan. Dan untuk menyelesaikan berbagai masalah mereka, saya rasa ada peran besar Bapak di sana." Kataku menjelaskan. Di seberang, tampak hening mendengarkan. "Saya? Apa yang bisa saya lakukan." "Izinkan saya menemui Bapak secara langsung, kita akan membahasnya ketika bertemu, Pak." "Anak bertempat tinggal dimana?" "Saya satu kota dengan Ghulam. Tapi Bapak tidak perlu khawatir, saya yang akan mendatangi Bapak. Bapak kirimkan saja alamat rumah, atau kalau bisa google map." "Baik-baik, nanti saya kirimkan." Aku menutup telepon Pak Sadetil dengan perasaan lega, karena dipikiranku, aku akan berhadapan dengan orang yang keras dan sulit seperti yang diceritakan Ghulam. Tapi tadi, Pak Sadetil cukup kooperatif. Beberapa saat setelah itu, ayah Ghulam itu mengirimiku google map. Aku membatin, canggih juga orangtua bisa mengoperasikan google map, ibuku saja tidak bisa meskipun seratus kali keajari. "Delapan puluh tujuh kilometer, gimana Ra?" Kataku pada Zahra setelah mengecek jarak antara tempat kami dengan rumah Pak Sadetil. "Siapp, nggak jauh-jauh amat kok, biasa aja. Tapi habis itu kita wisata kuliner di sana ya." "Oke, Sabtu ya." *** Inilah hari Sabtu itu, dimana aku dan Zahra akan berangkat menuju rumah Pak Sadetil, ayah kandung Ghulam. Ohya, untuk perkembangan khasus Ala dan Ghulam, dua hari lalu, Ghulam sudah pulang ke rumah Alana setelah tiga hari meninggalkan rumah tidak jelas kemana. Alana mengabariku, begitu mereka sampai. Sampai sekarang pun, Ala tidak tahu (karena tidak bertanya) kemana Ghulam membawa Kavya. Aku menjemput Zahra pagi-pagi buta, dia belum mandi, apalagi sarapan. Jadi aku membawanya pulang ke rumah dulu. Kami sarapan dulu nasi goreng bikinan ibu. "Wah! Ibu belum masakin bekal nih." "Nggak papa Tante, nanti kita wisata kuliner kok." Kata Zahra enteng. "Ohya? Nanti Tante dibungkusin ya." "Siap, Tan." Aku hanya bisa menggeleng mendengar percakapan mereka. Tapi, se-tidak bawa- bekal yang dimaksud ibu adalah kami tetap membawa dua bungkus roti sisir, s**u uht, jus dalam kotak, buah apel dan per, juga snack bermacam-macam. "Definisi nggak bawa bekal ya Biv." Kata Zahra sambil berjalan menuju mobil. Kami tertawa kompak. "Alah, gitu kamu juga seneng kan?" Kataku merespon pernyataannya. Ibu hanya bisa geleng-geleng melihat kami. Ibu mengantarkan kami hingga pinggir jalan, selalu begitu, selain untuk menutupkan pagar setelah itu, juga melambai ketika mobil kami sudah jalan. Tepat pukul delapan kami berangkat. Kali ini Zahra yang menyetir duluan, katanya mumpung energinya masih penuh. Nanti ketika sudah siang, panas, dan ngantuk maka giliranku. Sungguh dia teman yang licik dan banyak akal. Tapi aku tetap bersyukur sudah ditemani. Kami sangat menikmati perjalanan, berbekal makanan ringan dari ibu, kami terus tertawa dan bernyanyi sepanjang jalan. Sampai tidak terasa, dua jam sudah terlalui, kami memasuki kota tempat tinggal Pak Sadetil. Pukul sepuluh lebih dua puluh, Zahra sudah menepikan mobil di depan sebuah rumah. Menurut google map, lokasi yang kami tuju sudah sampai. Rumah itu cukup besar, berbentuk joglo berpagar hitam dari kayu. Di depannya, banyak sekali lukisan dan patung-patung. Aku jadi ingat kata Ghulam, ayahnya seorang seniman. Sepertinya, memang benar ini rumah Pak Sadetil. "Masuk yuk!" Kataku masih sambil mengamati rumah itu. Sungguh sebuah rumah yang artistik. "Yuk!" Jawab Zahra segera cepat melepas sabuk pengamannya. Kami berdiri di depan pagar, mengamati dari luar sambil melihat, apakah ada orang di dalam. "Assalamualaikum!" Tiba-tiba Zahra sedikit berteriak, aku yang belum siap jadi terkaget. "Waalaikumsalam!" Segera terdengar sahutan dari dalam. Jangkauan antara pagar dan rumah sebenarnya cukup panjang, di depan rumah masih ada halaman yang dipenuhi bunga-bunga. Tapi karena Zahra mengucapkan salam sambil setengah berteriak, yang punya rumah langsung mendengar. Seorang ibu-ibu, kira-kira usia empat puluhan awal, segera tergopoh menuju kami. Membukakan pagar cepat-cepat. "Yang psikolog ya?" Tanyanya sambil membuka pagar. "Iya, Bu." Jawab kami. "Silakan masuk, tunggu dulu di teras, Bapak masih mandi, baru saja dari luar." Bu Ulaimi mengantar kami duduk di kursi batu ukiran di teras. Lalu beliau pamit untuk membikinkan minum. "Nggak usah, Bu, merepotkan." Kataku. Tapi Bu Ulaimi tidak peduli, tetap berjalan masuk. "Nggak papa, kita lagi kaus kan?" Bisik Zahra. Kami tertawa kecil. Sejenak kami memiliki waktu untuk melihat-lihat pemandangan di depan rumah Pak Sadetil. Melihat teras rumah bisa kusimpulkan, jika memang Pak Sadetil memiliki cita rasa seni yang tinggi. Beberapa lukisan terpajang dan terlihat seperti lukisan mahal. Di setiap pojok, terdapat patung dan ukiran dari batu, marmer, dan kayu. Ada beberapa topeng kayu tertempel di dinding. Beberapa saat kemudian, Bu Ulaimi datang dengan membawa baki yang berisi dua gelas es teh dan satu piring kue pukis yang langsung menguarkan aroma mentega. "Sambil nunggu Bapak, silakan sambil dicicipi. Ini bikinan saya sendiri lho. Masih hangat." "Terimakasih, Bu." Aku dan Zahra menjawab bersamaan. Tak sungkan-sungkan, Zahra langsung mengambil segelas es teh dan meminumnya. Bu Ulaimi jadi menyuruhku melakukan hal yang sama. "Bapak baru saja ngisi seminar di kampus." Kata Bu Ulaimi membuka percakapan. "Di kampus? Pak Sadetil jadi dosen?" Tanya Zahra. "Tidak, hanya sesekali diminta mengisi seminar atau pelatihan. Kok bisa ya Mbak, Bapak yang hanyy seorang lulusan Tsanawiyah bisa ngajari mahasiswa." Bu Ulaimi terkekeh. "Iya, Bu, karena Bapak punya keahlian." Jawab Zahra. "Ngomong-ngomong pukisnya enak, Bu." Tambahnya lagi. Ibu Bu Ulaimi terkekeh lagi. "Ibu hanya tinggal bersama Bapak?" Tanyaku hati-hati, sebenarnya aku ingin tanya apakah dari pernikahan kedua ini, pak Sadetil punya anak atau tidak. "Iya, kami hanya tinggal berdua. Takdir Gusti Allah nggak kasih kami momongan. Sebenarnya, harusnya Nak Ghulam itu." Aku jadi tidak enak telah berkata begitu tadi. "Ghulam kapan terakhir kesini, Bu?" Tanyaku. "Kapan ya, Ibu lupa. Dia tidak suka pulang kesini. Sepertinya sejak menikah baru sekali. Maklum, dia tidak suka sama Bapak, entah karena apa. Padahal, Bapak sudah nggak kayak dulu lho, Mbak. Sudah nggak kaku lagi, sekarang beliau penyayang. Beberapa bulan terakhir kalah kepikiran mencari Ghulam, ingin menemui cucu, tapi kan kami tidak tahu rumah mereka dimana. Ngomong-ngomong Mbak-mbak dapat nomer handphone saya dari mana?" "Dari Alana, Bu. Istrinya Ghulam." "Jadi dia punya nomer saya." Bu Ulaimi kaget, aku mengangguk. "Ooh mungkin dulu sekali itu, saya juga pernah punya, tapi sudah tidak bisa dihubungi mereka. Mungkin ganti nomer." "Iya, Bu. Ala juga ingin menghubungi ibu dan bapak, tapi Ghulam melarang, Ghulam belum siap." Kataku. "Saya sedih kalau ingat hubungan anak dan bapak ini. Saya juga bingung dengan Nak Ghulam, mengapa dia sangat membenci bapak ya." Ketika kami tengah asyik mengobrol, Pak Sadetil datang. Persis sosok yang kubayangkan seorang laki-laki paruh baya yang seniman. Badannya tinggi besar seperti Ghulam, bedanya beliau memiliki kumis dan jenggot yang tebal, bisa dikatakan berewok. Rambutnya sudah hitam putih, cukup panjang sampai telinga tapi tidak sampai menyentuh pundak. Saat itu, beliau baru saja keramas, jadi terlihat kelimis. "Maaf, membuat kalian lama menunggu." Kata beliau begitu melihat kami. Beliau langsung duduk dengan khitmat bergabung bersama kami. "Tidak apa-apa, Pak. Maaf kami sudah merepotkan. Semoga kedatangan kami tidak mengganggu Bapak dan Ibu. Sebelumnya perkenalkan, saya Bivisyani dan ini rekan saya Zahra Zahira. Seperti yang sudah saya jelaskan di telepon, saya konselor pernikahan putra bapak, Ghulam." Kataku berupaya sangat sopan. Aku pun bingung harus mengimbangi bicara santai seperti apa, beliau berbicara dengan nada medok Jawa. "Apakah mereka ada masalah?" Tanya Pak Sadetil, menatapku dalam-dalam. "Ya, sudah beberapa bulan terakhir ini mereka berkonsultasi dengan saya." "Apa masalah mereka?" "Banyak sekali, cukup kompleks." "Apa itu ada hubungannya dengan saya sehingga kalian harus repot-repot kesini?" Kata Pak Sadetil sambil melihat ke arah kataku mencari jawaban. Aku diam, menata kalimat. "Maaf jika saya salah, tapi saya melihatnya demikian, Pak. Saya melihat ada luka yang belum tersembuhkan di dalam hati Ghulam. Dan menurutku, itulah akar dari segala permasalahannya. Dia mudah sekali emosi, dia sulit bahagia, mereka sering bertengkar, bahkan Ghulam tidak menyukai dan cemburu pada kesuksesan istrinya. Kondisi mental Ghulam sangat mempengaruhi hubungan mereka, Alana ikut menjadi emosional, mereka bertengkar hingga berteriak dan saling menyakiti di depan anak, hidup mereka jauh dari kata harmonis. Maaf untuk analisisku ini. Tapi menurutku Ghulam perlu berdamai dengan Bapak untuk menemukan kembali keharmonisan keluarga dan kesehatan mentalnya." Aku berkata sedikit emosional dan berapi-api, bahkan kurasai mataku panas ingin nenangis. Pak Sadetil hanya menunduk. "Itu semua memang salahku, Nak. Salahku berpuluh tahun lalu. Tapi aku tidak menduga, putraku masih menyimpan luka itu hingga kini. Dan hatiku hancur ketika tahu itu juga mempengaruhi hidup istrinya dan cucuku." Kata Pak Sadetil masih sambil menunduk. "Apa yang menurut Bapak salah? Maafkan jika saya lancang menanyakan ini." Kataku hati-hati sekali. Pak Sadetil akhirnya mendongak. "Kau tadi mengatakan bahwa Ghulam merasa cemburu dengan kesuksesan? Aku sakit mendengar itu, sama sakitnya yang kurasakan dulu melihat ibunya Ghulam punya penghasilan tetap, dan aku seringkali tak menghasilkan apapun. Apa kira-kira Ghulam kecil melihat itu semua dan dia meniru? Apa pekerjaan dia sekarang? Apa pekerjaan istrinya? Apakah istrinya lebih pandai mencari uang?" Pak Sadetil berkata panjang lebar. "Awalnya, dia seorang pekerja di lembaga sosial, dia seorang ketua lembaga. Gajinya lumayan besar, tapi istrinya adalah seorang pengusaha, tentu penghasilannya lebih besar. Masalah lain timbul ketika, Ghulam terpaksa harus berhenti bekerja karena alasan tertentu dan mendesak. Sekarang dia tidak bekerja, dan masalah mereka semakin rumit. Lebih rumit lagi, Ghulam tak mau membantu usaha istrinya, dan tak mau dibantu istrinya dalam mencari kerja." Pak Sadetil terdiam mendengar perkataan ku, ia mendongak lagi melihat atap rumahnya joglo yang gentengnya berwarna cokelat. "Mendengar perkataanku mengingatkan masa mudaku. Ghulam adalah aku di masa muda. Apakah dia tahu kalian datang kesini?" Pak Sadetil bertanya sambil memandangi aku dan Zahra bergantian, kami menggeleng. "Kami kesini diam-diam, Pak. Ghulam tidak mengizinkan." "Dia sangat keras kepala, dia mewarisi sifat burukku." "Menurut Bapak, apa yang harus kami lakukan untuk membantu mereka. Jujur, jika secara profesional, kami bisa saja menyarankan perceraian agar masalah ini selesai, toh keharmonisan saat ini menjadi barang langka bagi mereka. Namun hati kecilku selalu memintaku untuk membantu mereka melewati ini, karena aku percaya mereka layak hidup penuh cinta, dan Kavya butuh orangtua yang utuh." Pak Sadetil diam lagi, ada sesuatu yang sedang berat ia pikirkan, mungkin rasa bersalah, mungkin penyesalan atau yang lainnya. Bu Ulaimi mendinginkan suasana dengan menawari kami untuk makan bakso, kebetulan ada tukang bakso mendorong gerobak lewat depan rumah, kami menolak, tapi Bu Ulaimi tetap memanggilkan tukang bakso itu, akhrnya kami makan dulu sebelum lanjut mengobrol. (Bersambung)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN