#55 Pak Sadetil 2

1382 Kata
Setelah makan bakso, Bu Ulaimi membuatkan kami es campur dari alpukat nangka dan s**u, jadilah acara makan-makan kami berlangsung lebih lama lagi. Hingga adzan Dzuhur berbunyi, kami masih sibuk mengobrol santai. Aku dan Zahra cukup menikmati kebersamaan kami. Baru selepas sholat Dzuhur, sekitar pukul satu, Pak Sadetil mengajak kami pindah tempat mengobrol. Beliau membawa kami ke belakang rumah. Aku tidak menyangka, halaman belakang rumah Pak Sadetil begitu indah. Justru lebih indah halaman belakang daripada yang depan. Ada kolam cukup besar berbentuk lingkaran yang bening dan berisi ikan koi warna warni dan gemuk. Terdapat dua saung atau gazebo di dekat kolam. Kami duduk di salah satunya. "Jadi, Nak. Apa yang harus Bapak lakukan sekarang?" Tanya Pak Sadetil begitu kami duduk. Bu Ulaimi tidak iku kami berkumpul, entah kemana beliau. "Maaf, Pak. Sekali lagi saya mohon maaf jika saya lancang. Misi kita selanjutnya adalah menyembuhkan luka hati Ghulam." "Bapak sebenarnya sudah merasa bersalah sejak lama, bapak ingin menebus kesalahan sejak lama. Tapi jujur, bapak bingung bagaimana caranya. Karena Ghulam terlalu membenci Bapak. Jangankan bertemu, dia menelpon bapak saja tidak mau." Saat Pak Sadetil bicara begitu, tampak sekali raut penyesalan di wajah beliau. Terlihat orangtua ini adalah orang yang bijak. Jika dulu beliau seperti yang dikatakan Ghulam, sekarang beliau sudah berubah sepertinya. "Apakah Bapak berkenan bertemu Ghulam?" Tanyaku hati-hati. "Kenapa aku harus menolak bertemu dengannya. Selama ini aku sangat ingin bertemu dengannya, terutama dengan istri dan anaknya. Aku ingin tahu cucuku. Tapi masalahnya justru dia, dia belum tentu mau bertemu denganku, bukankah tadi kalian bilang sendiri, kalian kesini sembunyi-sembunyi." Pak Sadetil berkata sambil menerawang, memperhatian jajaran bunga-bunga krokot di dekat kolam. "Nah, itulah Pak yang harus kita cari jalan keluarnya." "Apakah Alana mengizinkan kalian kemari?" "Ya, dia yang memberi tahu nomer Bu Ulaimi kepada kami." "Berarti kita bekerja sama saja dengan istrinya." Mata Pak Sadetil mengkilat sambil berkata demikian, ia seperti sedang menjelaskan ide paling berlian. "Kalau boleh tahu, kerjasama apa, Pak?" Tanya Zahra penasaran. "Sebentar Bapak berpikir dulu." Aku dan Zahra menghela nafas, dalam hati kami kecewa. Kami pikir, berkata demikian Pak Sadetil sudah memiliki ide, ternyata baru berpikir. Saat ayah Ghulam itu asyik merenung berpikir, Bu Ulaimi datang dengan membawa teko. Makanan lagi? Batinku. Bu Ulaimi ini perempuan sejenis ibuku, yang tangannya selalu gatel ingin memberi makan orang disekitarnya. Dan benar, beliau datang membawa satu loyang puding berwarna kuning dan putih, sepertinya puding mangga. Kelihatan segar sekali seperti baru keluar dari kulkas. "Yang adem, yang adem." Kata Bu Ulaimi sambil naik ke atas saung. Saung ini terbuat dari bambu, atapnya terbuat dari daun rumbiya, jadi sangat adem berteduh di bawahnya meskipun di terik panas siang bolong begini. "Makanan lagi, Bu?" Kata Zahra tertawa. "Iya, masih muat kan?" Jawab Bu Ulaimi. "Masih dong!" Jawab Zahra, kami tertawa kompak. Selanjutnya kami bercakap-cakap sambil menikmati puding mangga. Puding mangga buatan Bu Ulaimi, persis buatan ibuku, sepertinya resepnya sama persis, diambil dari buku resep yang sama. Bedanya, kalau ibuku di masukkan potongan mangga yang banyak, tapi Bu Ulaimi tidak. "Bu, ini mereka meminta pendapat, bagaimana caranya bapak bisa berbaikan dengan Ghulam?" Tanya Pak Sadetil kepada Bu Ulaimi yang duduk di sebelahnya. Tampak sekali, mereka adalah pasangan yang harmonis dari cara mereka mengobrol dan memandang. "Ya, Bapak minta maaf, dong!" Jawab Bu Ulaimi santai. "Nanti kalau Ghulam marah bagaimana?" "Ya kita terima to, Pak. Wong kita yang salah. Atau kita bertemu istrinya dulu, agar kita akrab dengan istrinya dan anaknya." Tambah Bu Ulaimi lagi. "Ide bagus, Bu." Tiba-tiba Zahra menyahut. "Kita bikin Kavya sayang sama kakeknya, sehingga Ghulam mau tak mau tetap menerima, dan paling tidak, tidak mengusir Bapak. Bagaimana?" Tambah Zahra. "Ooh ide bagus itu, Nak." Kata Pak Sadetil bersemangat. "Kapan aku bisa kesana?" "Secepat yang Bapak bisa " Jawabku. "Bagaimana kalau besok?" "Hah?" Aku, Zahra dan Bu Ulaimi terkejut. Kami belum bisa merancang apapun, sudah tiba-tiba besok saja. "Apa tidak terlalu terburu-buru, Pak? Kita belom cari oleh-oleh lho buat kesana? Ibu bisa bikin kue dulu." Sanggah Bu Ulaimi. "Kan bikin kuenya bisa nanti malam." Pak Sadetil berupaya mempertahankan pendapat. "Bagaimana kalau paling tidak dua hari lagi? Saya bisa mengkondisikan Alana terlebih dahulu." Kataku menengahi. Pak Sadetil diam berpikir sejenak. "Oh, baiklah kalau begitu." Akhirnya beliau mengalah. "Saya yakin, Kavya akan suka dengan kakeknya." Tambahku lagi meyakinkan. Kami melanjutkan mengobrol tentang banyak hal, tentang kesulitan hidup Pak Sadetil di masa lalu, yang membuatnya berbuat tidak adil pada Ghulam dan ibunya. "Mungkin saat itu, jiwa Bapak ini belum dewasa. Bapak punya cita-cita, tapi bapak paksakan keluarga menerimanya. Bapak lupa bahwa kewajiban mencari uang itu bagi laki-laki itu utama. Bapak tidak tahu, saat itu harusnya Bapak bekerja keras dulu lalu Bapak bisa membiayai hobi bapak. Tapi Bapak paksakan semua mengikuti hobi dan bapak terlalu arogan." Pak Sadetil menunduk. Bu Ulaimi memegang lengan beliau memberi keyakinan. "Berulang kali semanjak Ghulam menjauh, atau mengenang ibu dan adiknya Ghulam, Bapak selalu mengulang-ulang kata-kata yang baru saja kalian dengar itu tadi. Bapak benar-benar menyesal, bahkan kadang Bapak mengigau memanggil nama Ghulam dan Ghina, adik Ghulam." Kata Bu Ulaimi menambahkan, Pak Sadetil semakin menunduk. "Sekarang semua yang bapak miliki, tanah bapak luas Nak, ladang tebu juga banyak, tapi seperti tidak ada gunanya kalau sudah tua begini. Kalau anak Bapak membenci Bapak." Aku tidak menyangka, Pak Sadetil ternyata menangis dalam ketertundukan kepalanya. Matanya memerah begitu wajah beliau terangkat. Aku dan Zahra hanya diam menyimak. "Dulu pernah, saking menyesalnya, Bapak berhenti berkarya, padahal saat itu Bapak pernah menerima pesanan dari luar pulau senilai ratusan juta. Mengetahui uang ratusan juta itu, hati Bapak sakit, Nak. Untuk siapa uang sebanyak itu? Tidak ada artinya. Bapak bersyukur punya Ibu yang meyakinkan di sisi, Bapak tidak boleh berhenti berkarya." Kali ini tangis beliau menjadi cukup keras, pundak beliau hingga terguncang. Bu Ulaimi merapat ke sisinya, merangkul pundak suaminya yang sedang emosional. Saat itu, aku yang melihat ikut menangis tanpa terasa, Zahra juga. Terlihat sekali penyesalan seorang ayah. "Saya ikut terharu melihat penyesalan Bapak. Saya lihat Bapak adalah ayah yang tulus bagi Ghulam, mungkin di masa lalu Bapak pernah salah, tapi Bapak selalu memiliki kesempatan untuk memperbaikinya. Kita perbaiki sama-sama ya, Pak." Kataku dengan hati-hati. Pak Sadetil menyeka air matanya. "Terimakasih, Nak. Aku tidak tahu siapa kalian. Tapi jika kalian menjadi jembatan ats terhubungnya aku dengan anakku. Maka aku akan berhutang banyak pada kalian." Suasana di saung siang itu menjadi penuh keharuan. Puding mangga yang sisa separuh sudah tidak kami hiraukan. Zahra dan Bu Ulaimi juga ikut menangis. Menjelang sore, aku dan Zahra pamit pulang. Tanpa kami duga, Pak Sadetil dan Bu Ulaimi sudah menyiapkan bermacam-macam oleh-oleh. Dua kotak kue yang entah isinya kue apa, kerupuk mentah, bawang merah dan bawang putih yang katanya panenan mereka sendiri, sampai bunga-bunga dalam pot karena tadi aku sempat cerita bahwa ibuku juga suka bunga. Bagasi belakang mobil sampai penuh sesak. Rencana kami mampir ke toko oleh-oleh pun gagal. *** "Aku tidak menyangka mereka sebaik itu." Kataku pada Zahra begitu mobil kami meninggalkan rumah Pak Sadetil. "Sama, kukira kita bakal mendapat perlakuan tidak baik, sindiran, tatapan mata penuh curiga. Nyatanya, mereka semua kelewat baik, mereka memperlakukan kita seperti keluarga." Celoteh Zahra dengan mimik penuh ekspresi. "Aku seperti tidak percaya Ghulam terluka di masa lalu dengan ayahnya." Imbuh Zahra. "Tapi orang bisa saja berubah, Ra. Pak Sadetil dulu seperti apa, kita tidak tahu pastinya." Kataku menimpali. "Dan Bu Ulaimi, pak Sadetil beruntung memperistri beliau, perempuan yang sangat tulus dan penyayang. Dia sangat mendukung suaminya." "Kira-kira, apa yang harus kukatakan pada Alana, Ra? Agar dia yakin bertemu mertuanya bersama Kavya. Karena masih ada keraguan dalam diri Ala dengan mertuanya. Pasti sedikit banyak dia terpengaruh suaminya." Aku berkata sambil terus menatap jalanan panjang di hadapanku. Hitam dan panas, fatamorga berkelindan di sana sini. "Ala harus tahu semuanya, Ala harus dengar semuanya, tanpa terkecuali. Dia harus tahu, bahwa bapak mertuanya itu sangat mencintai dan mengharapkan mereka. Bahwa pak Sadetil sudah berubah tak seperti dulu lagi. Ala harus yakin, karena hanya dia yang bisa turut meyakinkan suaminya." Zahra berkata menggebu-gebu. Ia tidak terlihat mengantuk atau lelah sama sekali. Aku mengangguk menyetujui. Tekatku semakin bulat mempersatukan keluarga ini, bagaimana pun caranya. "Biv, gimana kalau kita kasihkan beberapa oleh-oleh itu pada Ala, kan banyak?" Tanya Zahra lagi, sambil melongok ke belakang. "Iya, bener. Aku juga kepikiran gitu." Kami melanjutkan perjalanan dengan banyak membicarakan keluarga Pak Sadetil. Kami masih takjub perlakuan mereka, kehangatan mereka, dan keharmonisan mereka. Ala pasti bahagia jika tahu ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN