#56 Bazar Buku

2081 Kata
Pagi ini, aku malas sekali bangun. Badanku pegal-pegal, setelah kemarin menyetir sejauh delapan puluh kilometer lebih. Untuk gantian sama Zahra, dia pegang setir berangkatnya, aku pulangnya. Sebenarnya, ini tidak seberapa jauh. Tapi aku tidak pernah menyetir sejauh itu. Jika bepergian jauh, ibu selalu memintaku menyewa sopir agar aman dan tidak capek. Beruntungnya hari ini masih hari minggu, jadi aku bisa gegoleran sepanjang hari. Aku hanya berguling-guling malas di atas kasur setelah bangun untuk sholat subuh. Ibu sudah memanggilku untuk sarapan, tapi tidak kuhiraukan. "Bivi, ayo sarapan dulu, Nak." Panggilan kedua dari ibu. Akhirnya, aku terpaksa bangun. Tapi baru saja aku bergeser satu sentimeter meter dari tempat semula, handphoneku berdering, panggilan dari Alana. "Halo, Ala." Kataku malas. "Hai, Biv. Kamu sudah bangun?" Aku melirik jam dinding ketika Ala berkata begitu. Yang benar saja sudah jam tujuh masak aku belum bangun. "Sudah." Jawabku singkat. "Bagaimana kemarin?" "Sangat tidak kuduga, Al. Pak Sadetil orang yang sangat ramah, mereka memperlakukan kami dengan sangat baik." Aku mulai memiliki energi untuk bercerita. "Tapi ceritanya cukup panjang untuk aku ceritakan di telepon." Tambahku. "Baik, nanti aku ke rumahmu ya? Aku ingin segera mendengar ceritamu." "Jangan, Al. Tolong, aku libur hari ini. Aku ingin tidur-tiduran sepanjang hari." Kataku memelas. "Hahaha. Baiklah, baik." Ala tertawa mendengar perkataanku. "Bivii…!" Suara ibu sekali lagi memanggilku dari luar. "Oh itu suara ibumu, Biv? Baiklah sampai jumpa besok Senin ya?." Kututup telepon Ala tanpa berbasa-basi lagi, dan segera meluncur menuju meja makan bersama ibu. Ibu sudah menungguku dengan berbagai hidangan di meja. Ayam geprek sambal kemangi, segera membuatku bersemangat mengambil piring. Ibu melarang ku membeli makanan fastfood, jadi beliau belajar membuatnya sendiri. Seperti ayam geprek ini. Beliau pernah ikut kursus bikin ayam goreng tepung agar enak seperti fastfood terkenal. "Oleh-oleh nya banyak sekali, Biv? Kamu beli atau dibawain?" Tanya ibu. "Itu dari Pak Sadetil dan istrinya, Bu." Kataku sambil makan. "Kok banyak banget?" "Iya, Bu. Mereka baik banget." "Tidak seperti yang diceritakan Ghulam?" "Sepertinya Pak Sadetil sudah banyak berubah. Bahkan beliau mengatakan penyesalannya yang terdalam, Bu. Aku dan Zahra sampai ikut menangis dibuatnya, kasihan, dia seperti sangat-sangat menyesali perbuatannya di masa lalu. Dia ingin minta maaf pada Ghulam, tapi tidak memiliki kontak dan alamatnya, jadi selama ini mereka lost contact." Aku dan ibu terus membicarakan Pak Sadetil dan Ghulam sepanjang kami makan. Hingga kemudian kami dikejutkan oleh bel depan yang berbunyi. "Siapa, Bu?" Tanyaku penasaran, sambil celingukan melihat depan, tapi tidak kelihatan. "Ibu lihat, ya." Ibu berjalan ke depan untuk mengecek siapa tamu itu. Sejenak kemudian, ibu kembali. "Teman kamu." Kata ibu, "Cepat temui, kasihan, tadi ibu nggak suruh dia masuk. Anak laki-laki." Tambah ibu lagi. "Siapa, Bu?" "Siapa ya tadi namanya. Eru kayaknya." "Eru?" "Sudah cepat, lihat sana." Sejujurnya aku malas ke depan, malas jalan kaki, malam bergerak. Apalagi aku masih belum mandi dan masih pakai piyama. Aku benar-benar tidak menyangka, jika tamu pagi-pagi itu adalah… "Andrew?" Bisa kalian bayangkan bagaimana ekspresi terkejutku. Ada Andrew anak Pak Wayan di depan rumahku. Dia tampak bersih, segar, berpakaian bagus, dan bersepatu. Sedang aku masih compang-camping, belum mandi, hanya wudhu waktu sholat subuh tadi, belum sisiran, dan ma. "Mau ngapain kesini?" Itu yang keluar dari mulutku saking terkejutnya. "Emang nggak boleh?" Andrew tertawa kecil. "Ya, boleh. Tapi aku belum siap." Jawabku asal, salah tingkah juga aku. "Aku nggak ngajakin kemana-mana kok, jadi nggak perlu siap-siap." Laki-laki itu masih saja cengengesan tertawa. "Yaudah masuk yuk." Akhirnya kusuruh dia masuk. Dan kupersilakan duduk di teras. Lalu aku izin masuk rumah dulu. Demi apa ini ya Tuhaan, kenapa dia datang ke rumah? Saat aku hanya ingin gegoleran di kasur dan tidak ada niat untuk berangkat mandi. Aku segera menemui ibu yang masih meneruskan makan di meja makan. "Bu, itu Andrew. Andrew putranya pak Wayan." "Ha? Ada urusan apa?" "Nggak tahu, ibu temui dulu, ambilkan minum. Bivi mau mandi dulu." Kataku sambil berlalu. Aku mandi dengan cepat-cepat. Bukan apa-apa, karena mana mungkin aku mengobrol dengan putra direktur dengan hanya memakai piyama dan raut muka compang-camping. Sebenarnya, aku tidak benar-benar mandi, hanya cuci muka pakai sabun, gosok gigi, ganti baju, pakai pelembab wajah dan lipstik. Semua itu kulakukan dalam waktu sepuluh menit. Setelah itu, aku segera ke depan dan menemukan ibu sedang mengobrll bersama Andrew, di hadapan Andrew sudah tersedia secangkir kopi s**u. "Oh ini dia anaknya, sudah ya, ibu ke belakang dulu." Kata ibu begitu melihat aku datang. "Maaf ya, aku mandi dulu." "Siap-siap?" "Siap-siap mau apa?" "Ngapain mandi kalau nggak siap-siap? "Ya pengen aja, ya masak aku menemui putra bapak direktur dengan penampilan compang-camping." Jawabku. Entah kenapa, kalau dengan Andrew aku bisa sama sekali tidak jaim, tidak seperti ketika dengan Kaizan. "Hahaha berarti siap keluar nih?" Kata Andrew sambil tertawa. Kuperhatikan sepanjang bicara, dia banyak tertawa kecil. "Hah? Mau kemana?" "Kemana aja, yuk!" "Apa-apaan ini." "Aku sudah izin ibu kamu kok tadi." "Hah? Serius?" "Coba tanya ibu kamu." Andrew tertawa lagi. Dan bodohnya, aku pun masuk untuk bertanya pada ibu memastikan pernyataan Andrew. "Bu, apakah Andrew sudah izin untuk mengajakku keluar?" Ibu hanya bengong mendengar pertanyaanku. Ketika aku dan ibu ke teras, Andrew sudah berdiri siap-siap. "Tente, kalau boleh saya mau ajak Bivi jalan-jalan keluar?" Kata Andrew begitu melihat kami datang, seperti tak memberi kesempatan aku untuk protes. "Oh! Mau kemana?" Ibu terkaget ditanya begitu. Selain itu, ibu pasti bingung karena ini kali pertama seorang laki-laki datang meminta izin mengajak putrinya keluar. "Ke mall Tante, kebetulan ada bazar dan pameran buku, kemarin saya lihat sekilas bukunya bagus-bagus, barangkali Bivi suka." Karangan apa yang dia bikin ya Tuhaan. Andrew tidak membahas apapun tentang bazar buku tadi. Mengapa dia bisa secepat itu memutuskan jika aku akan mau. "Oh bagus itu, pergi saja Nak!" Kata ibu melihatku. "Iya, tapi hari ini Bivi pegal-pegal, Bu." Kataku lirih, sebenarnya aku tidak enak harus keluar dengan laki-laki yang baru kukenal. "Nggak papa, daripada gegoleran di atas kasur nanti tambah pegal seharian." Ibu justru mendorongku untuk mengikuti ajakan Andrew. Andrew hanya mengangguk-angguk seolah takzim kata ibu, hal itu justru membuatku tidak habis pikir dengan tingkahnya. "Yaudah Bivi ganti baju dulu." "Enggak usah, gitu aja udah cantik." Andrew berkata spontan menanggapi kata-kataku. Apa tadi dia bilang? Gini aja udah cantik, jujur hatiku mencelos mendengarnya. Ini kali pertama juga seorang laki-laki memujiku, apalagi di depan ibuku. Ibuku hanya bisa tertawa kecil, dikira mungkin bercanda. Eh, bercanda atau tidak aku juga tidak tahu. Jadilah aku pergi jalan-jalan bersama seorang anak direktur perusahaan besar, dan hanya memakai celana jogger, kaos reeb lengan panjang dan sepatu kets. Akhirnya untuk kedua kalinya, aku naik mobil impianku. Tapi kali ini, rasanya sudah tak semengejutkan yang pertama kemarin. Aku sudah tidak sekaku kemarin. Andrew juga tidak sengebut kemarin. "Sarapan dulu ya." Kata Andrew begitu menjalankan mobil. "Hah? Aku udah sarapan." Jawabku. "Yaudah, kamu nemenin aku sarapan, mau?" Andrew bertanya lembut. Akhirnya pun aku mengangguk. Tak kusangka kita berhenti di pinggir jalan, di sebuah mobil pickup yang jual aneka makanan untuk sarapan. Sungguh ku tak menyangka, anak konglomerat dengan mobil mewahnya, makan di pinggir jalan. Beberapa orang memperhatikan ketika kami datang, mungkin merasa aneh. "Kamu udah sering makan di sini?" Tanyaku, aku hanya memesan cemilan lemper ayam dan teh manis agar tidak nganggur menunggu. Andrew mengangguk. Dia memesan nasi pecel dengan rempeyek kacang yang melimpah. Bahkan dia tidak pakai lauk apapun selain rempeyek kacang itu. "Sejak SMA kayaknya, ibunya sampai hafal dengan namaku kan tadi?" Kata Andrew sambil makan. Memang benar, ibu penjual terlihat akrab dengan Andrew, bahkan ibu itu tanya apakah aku pacarnya, tapi Andrew pura-pura tidak mendengar. Kuperhatikan Andrew yang sedang makan dengan lahap. Dia seorang laki-laki yang tampan, kulitnya putih bersih, lebih putih dari kulitku yang perempuan, wajar dia keturunan. Lebih dari itu, dia sosok yang sangat rendah hati, tidak sungkan makan di pinggir jalan. Padahal, kalau ingin makan menu ini, bisa saja dia menyuruh koki di rumahnya untuk memasak. "Kamu nggak malu makan di sini?" Tanyaku hati-hati. Ekspresi Andrew justru terkejut kutanya begitu. "Ngapain malu." Jawabnya. "Kamu nggak ikut makan sih, makanya under-estimate." Tambahnya. "Enggak, kalau aku mah udah biasa sehari-hari makan di tempat kayak gini. Kalau keluarga kamu kan beda." "Bedanya dimana? Sama aja. Bapak juga sering makan di tempat kayak gini, ibu aja sih dan kakak-kakak aku yang nggak pernah, karena mereka alergian. Tempat ini, yang ngenalin juga Bapak." "Ohya? Nggak nyangka sih Pak Wayan sederhana." Andrew meneruskan makannya, dia bahkan minta tambah ke penjual tetap dengan ekstra rempeyek kacang. "Di sini, rempeyeknya juara. Nggak aku temuin dimanapun. Aku pernah pesan di bawa ke Singapura, sayang banget sampai sana lumat." Kata Andrew ditutup dengan tertawa renyah. Andrew terus makan dan aku terus mengemil. Selain makanan yang kata Andrew enak, jajanan pasar di sini juga enak. Klepon sama lemper ayamnya enak sekali. Sayang cukup jauh dari rumah, jadi nggak bisa sering-sering beli. Dan saat kami selesai makan dan hendak membayar, ada kejadian lucu. "Aduh, aku lupa nggak bawa cash." Andrew menepuk jidatnya. "Ibunya menerima pembayaran pakai kartu nggak ya? Atau pembayaran virtual?" "Yaudah, aku aja yang bayar. Mana ada warung pinggir jalan ada menerima pembayaran ovo atau gopay." "Eh, jangan! Bentar aku cek di mobil dulu." Andrew lalu berlarian menuju mobil. Dan sepertinya dia kembali dengan kecewa karena tidak membawa apa-apa. "Udah, aku aja." Kataku. "Berapa, Bu?" Tanyaku pada ibu penjual. "Wah, dibayarin ceweknya, koh? Totalnya tiga pulih lima aja." Andrew menepok jidat dan menutup matanya. Mungkin dia malu mengajakku makan tapi aku yang membayar, tapi aku biasa saja. Kami selanjutnya segera menuju mall tempat bazar buku. Dan ternyata mall itu cukup jauh, hampir di perbatasan kota. Aku jadi berpikir, bagaimana Andrew tahu tempat ini. "Kok kamu tahu ada bazar buku di mall ini, sering main kesini ya?" Tanyaku, Andrew menggeleng. "Enggak juga." Jawabnya. "Kok bisa tau?" "Ya tau aja." "Darimana?" "Ya, cari tahu dong. Kalau mau ngajak jalan cewek tuh cari tahu destinasinya. Biar kelihatan pinter, cari event yang bikin kelihatan pinter, kayak bazar buku, pameran seni, pertunjukan teater." Aku tertawa mendengar penjelasan Andrew, entah apa yang dia katakan benar atau dia hanya membual, tapi masuk akal juga. Bisa menjadi strategi izin ke ibu si cewe, kan kalau ke acara ilmiah mudah dapat izin. Bener-bener cerdas nih orang, batinku. Kami sampai di mall setelah hampir satu jam perjalanan. Saat itu, hari sudah cukup siang, mall sangat ramai. Untuk mencari tempat parkir saja, kami kesulitan. Tapi, ternyata bazar buku yang dimaksud Andrew bukan sembarang bazar. Bazar ibu skala internasional, buku-bukunya juga internasional, meskipun buku lokas juga banyak. Kami segera tenggelam asyik menikmati memilih dan memilah buku. Selama hampir dua jam kami seseruan di bazar buku. Saling berdiskusi apakah buku ini bagus atau tidak, apakah pernah membaca buku ini atau tidak, bagaimana novel terjemahan yang ini, bersemangat melihat diskon besar. Ternyata Andrew juga bersemangat melihat diskon. Dia berbelanja banyak sekali, seperti hendak membuat perpustakaan. Bahkan dia juga beli banyak sekali buku anak-anak, katanya untuk dikirim ke keponakan. Aku juga membelikan novel-novel dan komik untuk Zahra, buku resep dan ilmu menanam untuk ibu. Buku-buku psikologi, konseling dan pernikahan. Memang, pergi ke bazar buku membuat minat membaca kita menggeliat lagi. "Tadi kamu yang bayarin aku makan, sekarang aku yang bayarin kamu." Kata Andrew begitu kami mengantri di kasir. "Eh, jangan! Aku bayar sendiri aja. Ini banyak lho, nggak enak aku." Jawabku. Jujur, aku akan sangat tidak enak dibayarin karena total semua buku ini bisa sampai satu juta. "Udah nggak papa!" Dan benar, Andrew meninggalkan kartu debitnya bersama kasir. "Mbak, nanti saya bayar sendiri. Nggak pakai kartu yang itu." Kataku mewanti-wanti mbak kasir, dia mengangguk. "Mbak, jangan lupa pesan saya ya." Andrew mengancam si mbak, mbak mengangguk lagi. Kuyakin dia bingung akan memihak siapa. Dan mbak kasir itu memihak Andrew, dia menolak kartuku dan mengatakan sudah dibayar menggunakan kartu masnya. Huftt ya sudahlah. "Makan yuk!" Kata Andrew. Kami sama-sama mendorong troli yang berisi penuh buku-buku. "Kan barusan makan." Kataku. "Yaudah makan ringan aja, pizza ringan nggak? Eh bentar...kayaknya kenal." Belum sampai kujawab, Andrew ngeloyor menemui seseorang. Dia menepok orang itu dari belakang. Orang itu sedang asyik memilih buku. Ya, kami masih di area bazar. Dan betapa terkejutnya aku, orang itu adalah… "Kaizan?" Kataku lirih. Tidak percaya dengan mataku sendiri. Tiba-tiba jantungku berdetak cepat dan berantakan. Mengapa Kaizan bisa di sini? Bukankah ini mall yang jauh dari rumah-rumau kami. Aku menggeleng tidak percaya. Kulihat Kaizan tampak kaget melihat Andrew. Dan dia lebih kaget lagi melihatku, mengetahui bahwa Andrew datang kesini bersamaku. "Kalian berdua?" Kata Kaizan menatapku. Aku diam saja tidak bisa berkata-kata, hanya menoleh kepada Andrew. "Iya, awalnya mau bertiga, tapi pastinya kamu sibuk dong." Andrew berkelakar. Kaizan tidak menanggapi, ia terpaku menatapku, sedikit lebih tajam dari biasanya, aku jadi gugup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN