"Makan yuk!" Ajak Andrew kepada Kaizan, Kaizan menolehnya, seperti ya dia segera menguasai diri. Ya Tuhan, kenapa aku se-Ge-Er ini, tapi memang kulihat dia shock bertemu aku dan Andrew. Tidak, bukan cemburu, aku masih tahu diri untuk menyebut dia cemburu, dia hanya terkejut.
"Sorry, brow, i'm full." Kata Kaizan, dia juga memperlihatkan keranjang belanja yang masih terisi satu buku. Sepertinya memang dia baru datang.
"Ayolah, Brow! Jarang-jarang kita bisa makan bareng di luar, lho!" Andrew masih mencoba menawar agar Kaizan bersedia. Kaizan tetap menggeleng. Aku hanya terpaku menatap mereka dengan perasaan tidak jelas.
Akhirnya aku dan Andrew berangkat tanpa Kaizan, meninggalkannya kembali asyik memilih buku. Aku sempat menoleh ke belakang saat kami berjalan keluar area bazar. Dan sial sekali, Kaizan masih atau sedang menatap kepergian kami.
"Kamu sudah lama kenal Kaizan." Kataku mensejajari langkah Andrew, sebelumnya kami memutuskan menitipkan buku-buku belanjaan di tempat penitipan.
"Sejak di sering makan malam di rumah." Jawab Andrew santai.
"Dia sering diundang makan malam di rumah kalian?" Tanyaku lagi. Andrew mengangguk.
"Dia atasan kamu kan? Kalian kelihatan tidak akrab." Andrew mengalihkan pembicaraan. Aku mengangguk mengiyakan pernyataannya. Karena kenyataannya memang demikian, tapi dalam hatiku sebenarnya ingin akrab dengan Kaizan.
"Ya, mungkin karena tidak setiap hari bertemu juga." Jawabku agar tidak terkesan aneh.
Kami tidak jadi makan pizza karena antriannya mengular. Kami makan sushi, ya meskipun sushi juga makan berat, daripada harus mengantri panjang.
Di perjalanan pulang, aku dan Andrew banyak diam. Tidak seperti saat kami berangkat tadi, mungkin karena aku kurang minat juga, aku masih kepikiran, bagaimana Kaizan bisa di mall itu dan bertemu dengan kami. Padahal banyak spot yang bisa dikunjungi di hari libur seperti ini, mengapa dia memilih bazar buku. Dan aku, aku berencana tidak keluar, mengapa aku akhirnya mengiyakan ajakan Andrew. Ah rencana Allah sungguh misterius.
"Sudah sampai, nih Buk." Celetukan Andrew mengagetkanku, aku segera menoleh, kami sudah di depan rumahku. "Mau turun atau mau ikut pulang?" Tambahnya lagi, aku tertawa menanggapinya, sekaligus malu karena kepergok melamun dari tadi.
Andrew turun untuk membantuku menurunkan kardus buku yang memang besar. Dia juga meminta untuk dipanggilkan ibu untuk mengucapkan terimakasih sudah boleh mengajak anaknya jalan-jalan dan sebagai bukti dia sudah membawaku pulang dengan selamat. Sungguh attitude yang baik, Andrew. Kamu pantas jadi putra mahkota Hizi Corp. Tapi aku tidak tahu, kamu tulus atau main-main saja.
"Banyak sekali, Biv. Kamu habis berapa belanja buku sebanyak ini?" Ibu ikut memilah buku, membantu mengeluarkan dari kardus. "Bukunya bagus-bagus, ya." Tambah beliau.
"Satu juta lebih sedikit, Bu. Tapi bukan Bivi yang bayar." Kataku malu-malu. Karena sebenarnya, aku sendiri malu dibayarin. "Aku sudah berusaha membayar sendiri, tapi Andrew memaksa." Tambahku membela diri. Ibu tersenyum.
"Dia anak yang baik, sopan, dan beretika. Sepertinya, dia sedang mencari perhatianmu."
"Apakah dia tulus ya, Bu?"
"Ibu tidak tahu, waktu yang akan menjawab. Kalau kamu sendiri, bagaimana tanggapanmu tentang dia?"
"Bivi tidak tahu, perasaan Bivi biasa aja." Jawabku.
"Biarkan saja perasaanmu mengalir, tidak usah dipaksakan." Kata ibu, aku hanya mengangguk.
"Bu, tadi kami bertemu Kaizan."
"Ohya? Dia kaget nggak melihat kalian."
"Dia terbengong, Bu. Entah apa yang dia pikirkan."
"Mungkin dia pikir kalian pacaran." Kata ibu sambil tertawa, aku juga, tapi tidak dari hati.
***
"Novel dan komikl sekeren ini buat aku?" Mata Zahra berkilat melihat buku-buku di depannya. "Kapan kamu ke bazar? Kok nggak ajakin?"
"Kemarin."
"Kemarin? Katanya capek? Aku aja tidur seharian saking capeknya."
"Iya, awalnya gitu. Tapi diajakin sih."
"Siapa?"
"Andrew."
"HAH?" Zahra berteriak kencang saking kagetnya, aku sampai menjumpai mulutnya dengan jari-jariku. "Dia ngajakin kamu jalan? Aku speechless, Biv." Zahra menggeleng-geleng, aku justru tertawa melihat tingkahnya.
"Kalian janji atau gimana, sih? Kok kamu kemarin nggak bilang?"
Belum sampai aku menjawab, Laila datang seperti biasa, dia memberitahu klien sudah datang.
"Okey, aku ceritain nanti ya." Kataku sambil berdiri dan berlalu keluar ruangan Zahra.
"Eh, eh, eh sekarang dong, keburu penasaran." Zahra teriak-teriak kesal.
***
"Apa kabar, Ala?" Kataku saat masuk ruang, ternyata Ala sudah duduk di sana. Waktu memang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan.
"Halo, Biv. Aku sudah lebih baik daripada saat terakhir bertemu denganmu. Tapi aku dan Ghulam masih saling diam, kamu hanya bicara untuk hal yang sangat mendesak." Jawab Alana kurang bersemangat, tapi paling tidak, dia tidak sedang menangis seperti kemarin.
"Tidak apa, paling tidak kalian masih punya semangat untuk memperbaiki diri, itu modal paling penting."
"Terimakasih, Biv. Kamulah orang yang paling mendukung kami untuk berbenah. Sekarang, tolong ceritakan padaku secara lengkap, apa yang terjadi kemarin, di rumah ayahnya Ghulam." Alana merapatkan kursi bersiap mendengarkanku.
Aku ceritakan pada Ala semuanya, mulai dari proses berangkat ajm berapa, berapa lama waktu perjalanan, sampai kesanku ketika melihat rumah mereka. Aku juga menceritakan dengan lengkap bagaimana kesanku melihat Pak Sadetil dan Bu Ulaimi. Kebaikan mereka, cara mereka menjamu kami, makanan-makanan, dan oleh-oleh dari mereka. Terakhir, kuceritakan pada Ala bagaimana aku dan Zahra terhanyut ikut menangis melihat Pak Sadetil mengungkapkan berbagai penyesalan, pernah berhenti berkarya, hingga terus kepikiran untuk mencari mereka.
Ala diam terpaku mendengar ceritaku, dia tidak menyela sama sekali. Wajahnya bahkan cenderung datar tanpa ekspresi. Tapi diakhir-akhir aku baru sadar, dia juga menitikkan air mata.
"Jadi kemarin, kami memutuskan untuk membuat perjanjian pertemuan denganmu dan Kavya. Paling tidak, Pak Sadetil ingin bertemu Kavya." Kataku mengakhiri cerita.
"Aku juga sangat ingin bertemu dengannya, Biv. Aku ikut sakit mendengar ceritamu bahwa ayahnya suamiku sampai menangis merindukan anaknya. Bagaimana kami bisa bertemu?"
"Tentunya sementara ini, kita hanya bisa secara sembunyi-sembunyi dari Ghulam. Kapan kamu bisa? Nanti aku yang mengabari Pak Sadetil dan istrinya."
"Aku malu padamu, Biv. Justru kamu yang mempertemukan ku dengan mertuaku, padahal kamu orang lain."
"Ini bukan masalah, Ala. Ayolah tidak usah berbicara seperti itu, aku tahu kamu tidak enak, tapi ini sudah menjadi tugasku membantu kalian keluar dari masalah ini. Sekarang, katakan padaku, kapan kalian bisa bertemu?"
"Besok bisa, Biv."
"Baik, besok ya."
Pertemuan dengan Alana kucukupkan sampai di situ. Kami tidak membahas bagaimana keadaan hubungannya dengan Ghulam secara lebih dalam, karena itu bukan fokus kami sekarang. Aku memberinya sebagian oleh-oleh dari Pak Sadetil agar dia turut merasakan bagaimana kebaikan mertuanya. "Jangan bilang dari siapanya kepada Ghulam." Kataku. Lalu kami membuat janji untuk bertemu di sebuah warung lesehan, tempat pertama kali Ala dan Ghulam mengajak aku dan ibu makan malam bersama.
Aku segera menghubungi Pak Sadetil, mereka antusias menyambut dan mengatakan akan berangkat ke kota kami malam ini juga. Mereka akan menginap di hotel dan paginya akan mampir dulu ke rumahku. Bahkan Bu Ulaimi sempat bilang padaku ingin dibawakan apa, ibuku ingin bunga apa, aku suka kue apa, sungguh orang yang baru kenal tapi rasa saudara sendiri.
Aku menutup hari ini dengan tangan pegal-pegal, kepala pening dan tenggorokan kering. Seharian, aku bertemu empat klien. Semua menuntut banyak bicara. Bahkan, aku tadi tidak sempat makan siang, hanya minum jus saking terburu-buru dan sudah ditunggu.
"Jajan tekwan, yuk." Zahra berdiri di pintu ruang kerjaku, dia sudah siap pulang dengan tas di tangannya.
"Boleh." Jawabku sambil merapikan dokumen-dokumen di meja.
"Mbak, ada yang mencari." Laila datang membawa kabar kurang enak, aku dan Zahra menghela nafas.
"Siapa?" Jawabku malas.
"Nggak tahu, kayaknya belum janjian, belum daftar juga, tapi ganteng mbak orangnya hihihi." Laila mengakhiri kalimatnya dengan tawa kecil. Jarang-jarang Laila memuji seseorang, dia orangnya pendiam dan cenderung pemalu, kalau dia sudah berani bilang begitu, berarti memang tidak biasa.
"Hah? Siapa?" Aku dan Zahra saling menengok. Aku mengangkat bahu
"Suruh tunggu di lobi saja, La." Jawabku.
"Siap, mbak!" Kata Laila lalu pergi.
Aku mempercepat merapikan ruanganku karena penasaran. Zahra yang biasanya hanya melihat, sampai membantuku agar aku cepat selesai.
"Siapa Biv?" Tanya Zahra ketika kami berjalan ke lobi bersama.
"Nggak tahu, makanya kita lihat saja." Kataku sambil terus berjalan. Dan, sesampainya di lobi.
"Andrew?" Kataku begitu melihat Andrew yang duduk di sofa lobi. Dia langsung tersenyum begitu melihatku. Dan hati aku berkata, benar kan Andrew, karena tadi sebenarnya ketika Laila bilang anaknya ganteng, aku sudah menduga itu Andrew, tapi masih belum yakin kalau belum membuktikan. "Kamu ngapain kesini?" Tambahku lagi.
Andrew berpenampilan seperti biasa, kasual dengan kaos, celana jeans, sepatu kets dan selalu tampak segar, rambut seperti basah seperti habis mandi.
"Tadi aku ada janji ketemu orang di toko kopi di dekat sini. Jadi aku kepikiran untuk mampir bawain es kopi untuk kamu, ini!" Andrew berkata sambil menyerahkan kantong kain khas orang-orang zero waste dengan semboyan go green-nya. Sekilas kulihat ada dua cup besar es kopi dan sekotak makan yang wanginya enak sekali.
"Oh, makasih." Kataku menerima tas itu, "tapi kamu tahu kantorku darimana?" Tambahku.
"Kaizan." Jawabnya singkat. Huftt aku menghela nafas, mengapa dia selalu melibatkan Kaizan untuk semua urusan? Membuatku semakin tidak enak dengan Kaizan. Nanti dikiranya, aku dan Andrew ada sesuatu.
"Aku langsung balik, ya." Tambah Andrew beberapa saat kemudian.
"Oh, sampai lupa, kenalin dulu, ini teman baik aku, Zahra."
"Oh, hai Zahra! Salam kenal!"
"Hallo!" Zahra dan Andrew hanya saling melambai tangan dan melempar senyum. Andrew pun, setelah itu pergi. Aku dan Zahra terbengong melihat dari dalam kantor, mobil Andrew berlalu.
"Kayaknya dia beneran suka sama kamu." Kata Zahra masih terbengong menghadap ke jalan, padahal mobil Andrew sudah menghilang.
"Entahlah. Tapi ini es kopinya ada dua, satu buat kamu." Kataku sambil mengecek kotak, yang ternyata adalah lima buah croffle yang wanginya menggoda.
"Gimana, jadi jajan?" Tanya Zahra.
"Nggak usah, ya. Penghematan, kita makan ini aja, di sini."
Aku dan Zahra tidak jadi pulang, kami makan croffle dari Andrew bersama di sofa lobi.
"Oh, itu orangnya. Aku jadi tahu yang namanya Andrew. Kaizan, kalah jauh banget gantengnya." Kelakar Zahra sambil menyeruput es kopi." Aku hanya bisa menggeleng sambil dalam hati menanggapi, masih menarik Kaizan di mataku. "Kalau aku jadi kamu sih, Biv. Pasti udah klepek-klepek diginiin." Tambah Zahra lagi, dia begitu menikmati es kopi itu. Aku juga menikmati, karena memang sedang kehausan.
"Iya, tapi kan kita nggak tahu maksudnya apa." Jawabku.
"Jadi kamu buruk sangka dia playboy?"
"Enggak juga, cuman nggak pengen terlalu berharap aja."
"Eh iya, bener juga sih."