3# Ghulam Irsyani

1228 Kata
Aku membanting tasku di sofa ruang tengah kantorku, Zahra yang berdiri di depan kalender dindin sontak menoleh. Dia sedang menandai kalender, entah untuk apa. Di kantor kami, ada lima orang psikolog (diantaranya aku dan Zahra), dua lainnya adalah psikolog senior (Pak Malik dan Bu Riana), satu orang kepala lembaga (yang juga psikolog) yaitu Pak Ruslam, dua orang asisten serbaguna, dan dua orang yang bertugas bagian dapur dan kebun. Yang paling dekat denganku adalah Zahra, mungkin faktor usia. Karena hampir semua rekan kami yang lain berusia di atas 40 tahun. Bahkan Pak Ruslam hampir 60 tahun. Kantor kami bukan lembaga besar, namun cukup diperhitungkan di kota ini karena cukup legendaris. Sebenarnya kurang manajemen saja, misal diserahkan ke tangan manajer profesional, aku yakin bisa besar. Tapi, tidak besar pun, aku sudah sering lembur. "Kamu sedang kesal, Biv?" Zahra mendekatiku, ia lalu duduk di sofa sebelahku. Aku hanya mengangkat bahu. "Dipermainkan klien." Jawabku kemudian. Zahra menanggapi dengan tertawa, "Salah satu derita kita, Biv! Jangan dimasukkan ke hati, nanti cepat tua!" Zahra masih tertawa mengakhiri kalimatnya, dia kemudia ngeloyor pergi ke arah dapur. *** Esoknya, aku berangkat ke kantor seperti biasa. Hatiku sudah pulih dari kejengkelan kemarin. Aku tidur nyenyak tadi malam, sehingga hari ini semangatku penuh. Kusapa Zahra dengan ceria ketika melewati ruangnya, dia nyengir. Begitu aku membuka pintu ruang kerjaku, aku kaget. Seorang laki-laki telah berada di sana. Duduk di sofa ruang kerjaku. Ruang kerjaku tidak luas, kira-kira 6×4 cm. Tapi sangat multifungsi. Di sana terdapat satu buah meja kerja dengan sebuah kursi kerja yang sangat nyaman, dua buah kursi untuk klien di seberang meja. Sebuah rak kaca untuk menyimpan dokumenku, kipas angin, dan di pojokan terdapat sofa memanjang lengkap dengan meja kaca. Di sanalah laki-laki itu duduk. Ya, dia adalah Ghulam, suami Ala yang sempat bertemu beberapa saat kemarin di caffe orange. Hari ini penampilannya lebih segar meskipun segala rambut masih awut-awutan. Dia mengenakan lagi-lagi kaos polo, kali ini warna army dan celana borju coklat tua. Dia tak menyadari kedatanganku, kemudian aku sengaja berdeham untuk memberi tahu, pemilik ruangan sudah datang. "Oh..Bivi! Maaf, tadi resepsionis menyurusku menunggu di sini." Sama seperti Ala, dia memanggilku Bivi seolah kami sudah akrab lama. Tapi, tidak masalah karena aku juga lebih suka begitu. "Ini masih terlalu pagi. Aku masih akan sarapan dulu." Jawabku kemudia menaruh tasku di meja kerja. "Oh tidak apa-apa. Pergilah sarapan, aku akan tetap menunggu di sini." Aku segera mengambil bekalku dari dalam tas dan berjalan menuju dapur. Biasanya aku  sarapan di ruanganku, tapi...ya sudahlah. *** Zahra sudah di dapur dengan secangkir teh hangat di tangannya. "Aku juga mau segelas tes hangat, Laila." Kataku sambil menarik kursi makan hanya kami bertiga di sana. Aku mengelurkan bekalku, tepatnya bekal yang di siapkan ibu untukku. Tiga lembar roti maryam dengan gula halus dalam plastik klip terpisah. Ibu selalu mempersiapkan dengan baik, batinku. Zahra lalu menyomot rotiku tanpa izin. "Kau tidak makan di ruanganmu." Tanya Zahra sambil mengunyah. "Ada orang di sana." Jawabku sembari menaburkan gula halus secara pelan-pelan agar merata. "Siapa? Klien?" "Ya, namanya Ghulam. Suami Ala. Klien yang kemarin mempermainkanku karena membuatku menungggu selama dua jam, lalu mereka bertengkar di depan umum tanpa terkendali."  Aku menyuapkan robekan pertama roti maryamku ke mulut, enak sekali. Luarnya garing dan dalamnya lembut. Menteganya terasa berkualitas, rasanya gurih manis dan semakin sempurna dengan gula halus. Ibu memang tidak pernah gagal dalam memasak. Roti maryam ini bikinan ibukku sendiri. "Sekarang, giliranmu membuatnya menunggu?" Zahra lalu tertawa garing. "Bukan salahku karena aku menyuruhnya datang pukul 09.00." "Dia mungkin takut terlambat lagi." Kata Zahra kemudian, aku hanya mengangkat bahu. Segera kuselesaikan makanku, kuseruput habis teh hangat yang dihidangkan Laila, dan bergegas kembali ke ruangan. Aku bukan tipe orang yang tanpa sungkan membuat orang menunggu sekalipun bukan salahku dia menunggu. Tidak lupa, aku meminta Laila membawakan kopi untuk klienku itu. *** "Jadi, anda adalah Ghulam, suami Ala?" Kataku setelah mempersilakan Ghulam duduk di kursi depan meja kerja. "Ya. Apa yang diceritakan Ala kepadamu?" Dia langsung menodongku dengan pertanyaan. "Apakah dia menjelekkanku?" Imbuhnya. Aku menggeleng. "Dia hanya memintaku membantu menyelamatkan pernikahan kalian, begitu katanya." Jawabku kemudian. Dia diam tidak bergeming. "Memangnya apa yang terjadi?" Lanjutku kemudian, dia tetap tidak menjawab, hanya memberiku tatapan berpikir. "Ya, Ala memang sudah bercerita beberapa hal tentang pernikahan kalian. Tapi, Bukankah tidak adil kalau aku hanya mendengarkannya tanpa mempertimbangkan sudut pandangmu." "Ini akan lama." Jawabnya kemudian, "Aku tak mungkin menceritakannya hanya sepenggal." Lanjutnya. "Ceritalah. Aku hanya akan berbicara jika kau telah selesai." Ghulam mengalihkan pandangannya pada jendela kaca yanh tirainya kubuka. Di sana hanya ada pemandangan kebun pisang di lahan sempit di samping kantor ini. *** "Aku dan Ala berteman sejak kami sekolah menengah atas. Ya, dia teman sekelasku. Hubungan kami di mulai dari sana. Aku sudah jatuh cinta padanya sejak dia masih belum mengenal lipstick, masih memakai baju kedodoran, dan pipinya sering ditumbuhi jerawat. Jauh bila dibanding sekarang. Lalu kami kuliah di tempat berbeda, di kota berbeda. Aku mengambil jurusan sosiologi, dia tata busana. Aku sering mengunjunginya, atau menjemputnya, untuk pulang kampung naik kereta. Kadang dia juga datang ke kotaku, main ke kampusku, jika aku sibuk urusan organisasi. Ya, aku mulai aktif organisasi. Dia sangat mendukung. Salah satu alasan mengapa aku memilihnya adalah dia selalu mendukungku dalam kebaikan. Empat tahun kuliah, dia lulus duluan. Aku belum. Dia selalu support, memotivasiku bahwa aku pasti bisa  menyelesaikan kuliahku. Aku belum juga lulus. Dia sudah dua tahun bekerja sebagai designer grafis di sebuah perusahaan kecil. Dia tetap setia dan semangat meyakinkanku. Dan benar, aku lulus di tahun ketuju kuliah. Setelah lulus aku meminta izin padanya untuk menjadi relawan kemanusiaan di Kongo. Dia mengizinkan. Kami berhubungan jarak jauh selama satu tahun lebih. Secara fisik dan penampilan, dia berubah. Dia gadis yang hidup di kota besar, penghasilan lumayan. Dia sangat fashionable, cara bicaranya cerdas, dan attitudenya tetap bagus. Dia gadis langka yang setia menunggu seorang relawan kemanusiaan dengan gaji tidak pasti dan kehidupan belum mapan. Usia kami 25 saat itu. Dia memintaku meminangnya, aku tahu kalau dia santai, hanya orangtuanya yang menekan. Aku bingung karena bagaimana hendak menjelaskan pekerjaanku ini kepada orangtuanya. Jujur, aku bukan laki-laki gantle yang kerap datang mengapel ke rumah pacaranya. Aku cemen. Aku tidak dekat dengan orangtua Ala. Aku menolak dengan alasan belum siap. Besoknya lagi, Ala datang sambil menangis, lagi-lagi orangtua menekannya, dan mengatakan akan mencarikan jodoh lain jika aku tidak berani maju. Aku hanya terpaku saat itu. Akhirnya, dengan uang di dompet 200.000, kuberanikan diri berangkat ke rumah Ala yang letaknya 200km dari kota tempat tinggalku saat itu. Dan itulah untuk pertama kali aku menemui orangtuanya setelah tujuh tahun pacaran dengannya. Malam itu, di rumah Ala. Ayah dan Ibu menyambutku dengan hangat. Beberapa saudaranya turut datang pula. Padahal aku hanya datang seorang diri. Rupanya langsung ada acara kecil-kecilan untuk kedatanganku. Pakaian mereke semua rapi, persis hendak ke acara undangan. Aku saja yang kumal. Ala, hari itu dengan jilbab yang dililit di leher, nampak manis sekali. Makanan kecil, kue-kue, bermacam-macam tersaji di meja. Menggiurkan sekali, tapi aku tak berani menyantapnya. Di ruang tengah, yang masih terlihat jelas dari ruang tamu, tertata rapi di meja, hidangan prasmanan lengkap dengan es campur. Aku benar-benar bingung, kaku, canggung dan malu semua campur jadi satu. Semua menyambutku dengan ramah tapi aku sangat gugup. Akhirnya di detik-detik terakhir, setelah cukup lama di sana. Aku memaksa diriku untuk berani mengatakan, bahwa malam itu aku hendak melamar Ala. Dan akan segera datang bersama bapakku dalam waktu yang menyusul. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN