"Ahh jangan kelamaan Nak Ghulam, aku tahu kalian telah berpacaran tujuh tahun lamanya. Aku tahu semua ceritanya. Aku hanya ingin kau segera mengesahkan putriku." Ayah Ala justru menjawab seperti itu. Aku kagok dibuatnya, bingung harus berbicara apalagi. Melihatku yang tak berkutik, Ala berusaha menolongku.
"Jangan ditodong seperti itu, Ayah. Ghulam barangkali ingin meminta restu orangtuanya dulu." Ala menyelamatkanku, aku mengangguk menyetujuai.
"Baiklah kalau begitu. Kutunggu paling lama tiga hari, bawa bapakmu segera kesini. Kita langsung akad nikah!" Ayah Ala menjawab tegas tapi dengan nada lelucon, semua yang hadir di ruangan itu tertawa. Hanya aku yang tak bisa ikut tertawa karena tegang.
Bisa dibilang, malam itu adalah malam paling menegangkan di hidupku. Esoknya aku segera siap-siap menemui bapak. Bapak ada di luar kota, tinggal bersama ibu sambungku. Jadi dengan uang yang sudah tidak genap dua ratus ribu, aku kembali menempuh perjalanan.
Di dalam bis, aku kaget ketika mengecek ponsel, ada pemberitahuan m-banking, Ala mentransfer uang sebesar 2 juta. Aku kaget darimana ia tahu nomor rekeningku, kemudian aku baru ingat, dia pernah meminjam uang kepadaku 100 ribu, dan meminta nomor rekeningku besoknya. Kubilang tidak usah dikembalikan tetapi dia memaksa. Besoknya dia mentransfer uang lima ratus ribu. Dia tahu, saat itu aku sedang kesulitan. Tapi itu sudah lama sekali, untung rekeningku tidak hangus. Aku tersenyum sendiri mengingat Ala.
Sesampainya rumah bapak, tanpa ba bi bu, bapak langsung bilang iya dan kami pun berangkat ke rumah Ala saat itu juga. Sebelum ke rumahnya aku sempat mampir ke toko emas membelikan Ala cincin emas murah seberat dua gram seharga satu juta dua ratus ribu untuk mas mahar. Jadi aku membelikannya mahar dari uang pemberiannya.
Kami datang bertiga, bersama ibu sambungku juga. Aku agak lega karena ibu sambungku juga menyiapkan bawaan berupa kue, roti, dodol, dan lainnya yang lumayan beragam. Dalam hatiku berjanji, nanti akan kuganti uang yang telah beliau keluarkan untuk keperluan ini.
Dan hari itulah. Hari sakral aku dan Ala dimulai."
***
Ghulam membuang napas dalam, dia seperti telah melakulan sesuatu yang berat. Ya, mungkin mengingat bagaimana dulu kisahnya bersama Ala.
"Kau capek mendengarkanku?" Sejenak kemudian Ghulam bertanya, aku hanya menggeleng.
"Tidak, aku sangat tertarik mendengar kisah kalian, lanjutkan!" Jawabku kemudian.
"Baik, tapi apakah aku bisa minta minum dulu. Aku haus."
"Oh, maaf. Aku kurang peka. Akan kupesankan minum dari dapur."
Kemudian aku menelfon Laila untuk mengantarkan sekotak jus dan sebotol air mineral.
Setelah Laila mengantarkan minuman itu ke ruanganku dan Ghulam segera meneguknya. Ghulam terlihat lebih segar.
"Kau siap mendengar kisahku selanjutnya." Tanyanya setelah sekotak jus itu kosong dan sebotol air mineral sisa separuh.
"Tentu!" Kujawab disertai anggukan.
***
Ala terpaksa pindah ke kotaku. Ya, kota kita sekarang ini. Dia melepas karirnya di perusahaan besar dan memilih mengikutiku yang masih dalam ketidakpastian.
Aku masih saja dalam perkerjaanku sebagai relawan kemanusiaan. Tapi aku sangat bersyukur, dua bulan setelah menikah, aku diangkat sebagai pengurus tetap LSM tempatku mengabdi. Meskipun tidak banyak, setidaknya aku punya penghasilan tetap setiap bulan.
Melalui hidup yang masih serba kurang, penghasilan pas-pasan terkadang kurang, rumah mengontrak, terutama setelah Kavya, putri kami lahir, hidup kamii semakin sulit. Kavya terlahir spesial, dia berkebutuhan khusus. Kau pasti lebih tahu. Banyak dana kami habiskan di awal-awal pertumbuhannya untuk mendatangan dokter anak, psikiater, psikolog, lembaga terapi, dan lain-lain.
Semakin sulit tapi semakin erat kami bergandengan dan semakin tak terpisahkan. Ala masih setia mendukungku, dia membuka jasa jahit kecil-kecilan untuk membantuku dengan masih tetap merawat putri kami. Ohya, dia membeli mesin jahit bekas dari uang hasil menjual perhiasan simpanannya. Simpanan terakhirnya karena sebelumnya kami sudah menjualnya untuk kebutuhan perawatan Kavya.
Pernah suatu kali, kami tidur bertiga tanpa makan malam karena tidak ada yang dimakan. Kavya menangis tengah malam, mungkin karena terlalu lapar sehingga kemudian aku keluar rumah untuk memetik bayam yang tumbuh di pekarangan kontrakan kami, aku meminta Ala untuk memasaknya malam itu, dan dia hanya pasrah melakukan apa yang dia bisa. Ala memasak sop bayam, sop bayam dengan bumbu garam dan sedikit gula saja. Kami malam itu, menghabiskan satu panci sop bayam itu.
Tapi kami beruntung, itu semua tidak berlangsung selamanya. Semakin lama, karirku semakin naik, lembagaku semakin berkembang, bekerja sama dengan dunia internasional. Kami sering mengelola dana-dana besar proyek kemanusiaan, tentu bagianku juga besar. Dan pastinya waktu yang kuhabiskan untuk pekerjaanku semakin banyak pula.
Aku sering sekali ke luar kota, bahkan keluar pulau keliling Indonesia. Terkadang dalam waktu satu minggu, hanya satu hari kuhabiskan di rumah. Kadang malah aku harus pulang dua minggu sekali. Ala memang sesekali protes, tapi itu wajar, bisa kuterima, mungkin dia rindu aku yang dulu kerap ada membantunya apapun.
Masalah kami sekarang bukanlah uang, tapi waktu. Kami sudah punya rumah, tapi kami jarang sekalu kumpul bersama. Aku sering meninggalkan Ala, tapi aku memberinya fasilitas asisten rumah tangga agar dia tidak capek.
Tapi sejauh itu, masalah bisa kami atasi. Masalah-masalah lain yang lebih pelik adalah justru ketika Ala memulai usaha butiknya. Usaha jahitnya berkembang, yang awalnya pelanggannya hanya teman-teman kami, tetangga, rekan sesama wali siswa di sekolah Kavya, semakin lama semakin banyak yang kenal jahitan Ala.
Dia membeli mesin jahit baru dan mengangkat seorang karyawan. Mungkin memang sudah jalannya. Orderan untuk Ala semakin membeludak, bahkan tanpa dia harus promosi di media sosial pun.
Ala rajin menabung, hingga kemudian dia berhasil membeli tanah untuk membangun konveksi dan butiknya secara bersamaan. Bisa dibilang, ia telah mencapai kemapan finansial. Ia bisa membeli mobil sendiri, investasi bermacam-macam, berlibur ke tempat manapun.
Sepertinya itu yang diidamkan semua keluarga. Tapi ini bencana bagi keluarga kami. Entah, semakin lama kami bergelimangan harta. Cinta di hati kami semakin terkikis kering. Kavya terpenuhi segala kebutuhannya, tapi dia juga semakin sering melihat kami bertengkar hebat. Kami bisa makan apapun dimanapun, tapi kami sering makan dalan kondisi berdebat atau saling mendiamkan.
Aku tidak bermaksud menyalahkan profesi Ala saat ini, tapi memang semua prahara ini dimulai sejak itu. Ala selalu bilang, aku tak punya waktu, aku mementingkan pekerjaan, aku tidak cinta keluarga, aku tidak mengurus Kavya, aku egois, dan lain-lain. Aku tidak menyudutkannya dan merasa benar, karena aku memang begitu dengan pekerjaanku. Bukan kah dari dulu dia tahu?
Aku heran sekarang, mengapa sulit sekali rasa pengertian muncul di hati kami, seperti dulu-dulu sering hadir.
Rasanya, aku ingin Ala menutup saja butiknya agar semua masalah ini selesai. Tapi kukira itu hanya akan menjadi pertengkaran dahsyat yang baru. Atau malah, akhir dari hubungan ini."
***
Ghulam menghembus nafas dalam lagi mengakhiri ceritanya, kemudian ia melirik arloji. sudah dua jam dia berbicara. Botol air meniralnya pun telah kosong melompong.
"Maaf kalau terlalu panjang." Katanya kemudian, dan lagi-lagi aku menggeleng.
Ghulam termasuk orang yang pandai berkata-kata dan pintar bercerita. Aku seperti terhanyut mendengar ceritanya. Hatiku ikut berbunga, sedih, semangat, menangis, tegang sepanjang ia bercerita.
Sejujurnya, menemui klien seperti Ghulam adalah surga bagi konselor, dia menceritakan banyak hal. Dan benar, aku ingin tahu lebih banyak lagi.
"Tidak, jika belum selesai. Kau boleh melanjutkannya nanti setelah kita istirahat, atau besok." Jawabku, sekarang Ghulam yang menjawab dengan gelengan. "Jika sudah selesai, maka anda boleh meninggalkan ruaņgan ini, karena kami masuk jam ishoma." Kataku melanjutkan.
"Terimakasih Bivi, kuharap kau bisa membantu kami." Katanya kemudian berjalan dengan mantap keluar ruanganku.