#5 Kavya

1004 Kata
Begitu Ghulam menghilang dari pandanganku, aku beralih ke sofa untuk merebah. Ada perasaan yang aneh muncul di hatiku. Persis seperti ketika aku menonton sebuah film lalu seluruh pikiranku hanyut di dalamnya. Cerita Ghulam tentang kisah cintanya dengan Ala sangat spesial, mereka bukan pasangan main-main. Mereka saling cinta. Aku, yang dari tadi sebagai penonton atau pendengar lebih tepatnya dari cerita mereka, tiba-tiba merasa tidak rela jika mereka harus berakhir dengan berpisah. Aku merasakan energi cinta dari kisah mereka. Entah, perasaan seperti ini jarang kualami ketika menghadapi klien. Apa karena gaya bercerita Ghulam yang penuh penghayatan? Atau karena memang kisah mereka yang menarik? Aku tidak tahu. Ponselku bergetar, sudah kuduga, pesan dari Ala. "Dia bicara apa saja? Mengapa dia lama sekali di sana?" Kututup lagi ponselku tanpa membalas pesan dari Ala. Biar dia belajar percaya lagi kepada suaminya. Sejenak kemudian, ponselku bergetar kembali, Ala mengirim pesan kedua, "besok aku ke kantormu ya, Biv!" Kubalas dengan emot jempol. Mengapa Ala begitu penasaran? Mengapa dia tidak tanya sendiri kepada suaminya? Bukan kah mereka satu rumah? Ahh...salah satu jurang yang memisahkan kedua raga yang saling cinta memanglah ego. *** Esok paginya, Ala datang ke kantorku. Pagi-pagi pukul 09.00 tet. Ia tidak sendiri, ia datang bersama Kavya. Ala dan Kavya memakai kaos couple lengan tiga perempat warna orange dan rok rempel warna denim yang membuat mereka kelihatan segar. Perfect, ibu yang cantik dan anak yang menggemaskan. "Apa ini terlalu pagi?" Tanyanya begitu ia duduk di hadapanku. "Tidak, aku suka semangatmu!" Jawabku lalu tertawa, Ala juga. "Apa aku boleh langsung bertanya, karena aku sangat penasaran." Dia berkata begitu tawa kami mereda. "Ghulam menceritakan kisah kalian. Dan aku sangat terkesan, kisah cinta yang indah seperti di novel-novel roman." Ala terdiam. "Jadi dia tidak mengadukan sikapku bagaimana-bagaimana?" Aku menggeleng. Ala kembali terdiam. Kavya juga diam saja menyimak kami. "Apakah dia kelihatan mencari muka di depanmu?" "Ala, kenapa kau terus berburuk sangka kepada suamimu?" "Aku hanya memastikan dia tidak mengatakan yang tidak-tidak dan menghasutmu." "Apa kalian ada janji bertemu lagi?" Tanya Ala menyerbuku dengan pertanyaan setelah beberapa saat terdiam. "Ya, jika dirasa perlu. Kau masih ingin mempertahankan pernikahanmu kan?" Jawabku, Ala mengangguk lirih menanggapi. Beberapa saat kemudian, Ala menerima sebuah telepon, begitu ia mengakhiri panggilan itu, wajahnya terlihat bingung. Ia terlihat mondar-mandir beberapa saat, seperti sedang berpikir keras, lalu mendekatiku. "Bivi, aku boleh minta tolong paadamu?" Wajah Ala sangat memelas ketika mengatakan itu, aku hanya hanya mengernyit menunggu kalimatnya selanjutnya. "Aku baru saja ditelfon seorang suplier kain, dia memberikan penawaran menarik dengan harga yang sangat bisa diterima. Sebelumnya, untuk kain jenis ini, aku harus impor dari luar negeri. Dan sekarang suplier asal Indonesia menawariku. Ini sangat langka Bivi. Dia tidak punya waktu lama di kota ini, aku harus segera menemuinya sekarang." Ala berkata masih dengan nada memohon. "Iya, jadi?" Tanyaku kemudian. Ala terlihat sungkan untuk menjawab. Dia menggigit bibir lalu menjawab. "Boleh kah aku titip Kavya kepadamu sebentar saja?" Ala memegang tanganku, tatapannya sangat memelas. "Aku tidak punya waktu untuk pulang ke rumah mengantarkannya. Tolonglah aku, Bivi. Kavya anak yang baik. Dia tidak akan merepotkanmu." Apa-apaan ini, sejak kapan ada klien yang seberani ini? Aku menghela nafas panjang. Ala masih menatapku memelas, aku menoleh pada Kavya, dia duduk manis di kursi tidak bergeming. "Bagaimana Biv? Apa kau bisa menolongku?" Aku belum menjawab, ini sebuah kelancangan. Dia pikir dirinya saja yang sedang sibuk dan aku hanya menganggur. Aku menghela nafas lagi. Ala mendekati Kavya, "Kavya, mama harus kerja sebentar, Kavya tunggu sini dengan tante Bivi. Kavya tenang ya! Mama akan segera datang." Ajaib, anak kecil itu mengangguk, berdiri lalu mendekatiku dan menggenggam tanganku. Genggaman tangannya gembul dan hangat, dia kemudian menatapku dan memeluk kakiku. Aku hanya bingung menyaksikan ini. "Bivi terimakasih ya, aku akan segera kembali." Ala pergi tanpa perlu persetujuan dariku. Dia pergi begitu saja meninggalkanku dengan gadis down syndrome yang baru kutemui dua kali. Huftttt *** "Kavya duduk sini ya, tante akan ada tamu sebentar lagi. Duduk tenang di sini ya, Nak!" Aku menuntunnya ke sofa, mengeluarkan snack dari tas, tapi sesaat kemudian berfikir, apakah dia boleh memakan snack kemasan ini? Lalu snack itu kumasukkan lagi. "Au au au….au au au." Kavya menyerbuku, sambil menyodorkan tapak tangan, rupanya ia terlanjur melihat snack yang sempat kukeluarkan. "Kamu mau?" Tanyaku, dia mengangguk. "Sedikit saja ya." Kubuka bungkus snack lalu kuambil tiga keping keripik kentang berbumbu. Ini terlalu bermicin untukmu, batinku dalam hati. Kavya girang menerimanya. Kemudian aku berpikir mencari ide untuk memberinya aktivitas karena sebentar lagi ada janji bertemu klien. "Kavya, kamu mau mewarna?" Dia mengangguk. Sesaat kemudian dia menyuapiku sekeping kripik kentang yang tadi kuberikan. Aku menolak tapi dia memaksa, persis seperti seorang ibu memaksa anak mereka makan. Aku akhirnya menerima suapan itu, dia lalu mengacungkan jempol, dan kami tertawa. Aku mengambil HVS dari tempat recepsionist dan menggambar apel, jeruk, pisang, semangka dan beberapa buah-buahan lain menggunakan spidol yang kupunya. Sejenak kemudian aku berpikir, Kavya akan mewarna pakai spidol juga? Huffttt… Semenit kemudian, klienku datang, kami pun tenggelam dalam percakapan konseling, seperti biasa. Dan aku lupa sekaligus luput memperhatikan Kavya, aku tidak ingat jik ada anak kecil di ruang kerjaku. Hingga, satu jam kemudian klienku pamit undur diri, dan melihat selembar hvs penuh coretan spidol, aku kemudian ingat, dimana Kavya? Aku gugup mencari anak itu, kutanya Laila, Zahra dan rekanku yang lain. Mereka semua menggeleng. Aku berlarian keluar kantor menuju jalan raya. Sejauh mata memandang, Kavya tidak terlihat dimanapun. Sialan...kemana anak itu? Kucoba telfon Ala, tapi berulangkali panggilan sibuk. Huftt aku mencoba tenang. Menepis pikiran buruk tentang seorang konselor menghilangkan anak kliennya. Tentang gadis kecil downsyndrome yang berjalan sendiri di jalan raya. Tentang kemungkinan dia di bawa penculik anak entah kemana. Argghhhh aku belum pernah segugup ini memikirkan sesuatu. Dadaku bedetak kencang, gigiku bergemeretuk dan tanganku tremor. Zahra memintaku tenang dan Laila dengan sigap segera memberiku minum, beberapa rekanku lain malah langsung memintaku lapor kepada polisi. Hatiku semakin ciut mendengar polisi. Di pikiranku tiba-tiba dipenuhi bayangan anak berpipi bulat itu. Rangkulannya di kakiku, genggaman hangatnya di jariku beberapa jam lalu. Apa yang akan kukatakan pada Ala nanti? Dimana anaknya? Ya Tuhaannn
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN