Aku sudah lemas, bingung dan sulit berpikir ketika ada suara mobil memasuki halaman kantor. Aku duduk sofa ruang tamu, Zahra dan beberapa rekanku mengerubungiku. Hampir dua jam sejak aku kehilangan jejak Kavya, beberapa saat kemudian, terdengar deru halus suara mobil memasuki halaman kantor kami yang tidak begitu besar, sehingga suara mobil itu terdengar sangat jelas.
Nissan juke warna putih segera terparklir anggun di depan kantor. Ya, itu mobil Ala. Terlihat dari jendela dan pintu kaca, Ala dengan anggun keluar dari mobil itu. Dan berjalan mantap memasuki kantor. Aku semakin ketar ketir, lidahku sudah kelu bagaimana nanti menjelaskan. Zahra mengelus-elus pundakku memberi kekuatan "Semua akan baik-baik saja." Bisiknya meyakinkan. Aku mengangguk sangat pelan.
"Halo Biv, Hai semua...maafkan aku lama dan pasti merepotkan kalian. Apakah semua baik-baik saja?" Ala berkata begitu sampai di depan kami semua. Aku hanya diam, teman-temanku juga.
Tiba-tiba..
Brakkkk…
"Mbak Bivi, anak itu di halaman belakang!" Laila berteriak dari dapur kantor. Apa yang dia bilang tadi? Aku langsung berdiri dan berlari menuju halaman belakang, semua yang ada di ruang tamu membuntutiku.
Sesampainya di halaman belakang. Astaga! Itu Kavya. Dia berdiri diam saja melihat kami. Bola matanya bergerak-gerak. Wajahnya cemong terkena lumpur atau tanah coklat. Baju oranye sudah kotor sekali dan rambut kucir duanya berantakan. Di belakangnya, tampak pot-pot warna coklat dari tanah liat koleksi Pak Malik hancur berkeping. Beberapa tanaman bunga hias tercerabut dari tanah dan tergolek tidak berdaya di tanah.
Aku berlarian ke arahnya dan segera kupeluk erat. Entah kenapa begitu memeluknya, tumpah air mataku. Aku menangis karena bahagia akhirnya bisa melihatnya lagi, meski dengan kondisi seperti itu. Ya, aku tadi sangat khawatir.
"Kamu di sini, Kav!" Masih kupeluk Kavya dengan erat, tak kuperhatikan bagaimana ekspresi teman-temanku dan juga Ala melihat pemandangan itu.
Begitu kulepas pelukan itu, Kavya memandangiku dengan pandangan ajaib. Ia menghapus air mata yang masih membasahi pipiku. Aku berjongkok di hadapannya, membiarkan tangannya yang kotor mengelap pipiku yang pasti akan menjadi cemong juga seperti dia. Dia menggeleng, seperti mengekspresikan agar aku jangan menangis. Aku memeluknya sekali lagi.
"Biv, apa yang terjadi?" Aku melepaskan pelukanku ketika mendengar suara Kavya. Sudah pasti dia bingung melihat anaknya di peluk dengan cara seperti itu. Kavya beralih dariku mendekati ibunya, ia meraih tangan Ala.
"Kukira tadi aku kehilangannya. Aku meninggalkannya mewarna di sofa ruang kerja, aku menemui dan mengobrol dengan klienku. Aku tidak memperhatikannya karena tenggelam dalam obrolan bersama klienku. Kemudian aku panik ketika menyadari dia tidak di sofa. Aku panik mencari Kavya ke semua tempat tapi aku tidak menemukannya."
"Ahh Bivi...aku sudah merepotkanmu dan membuatmu panik. Maafkan aku!" Ala merengkuhku dalan pelukannya, aku diam saja tak berdaya. Aku hanya tak menyangka, aku baru saja hampir menghilangkan anaknya dan dia memelukku meminta maaf. Ya aku tahu, sudah seharusnya dia seperti itu. Tapi aku tetap saja merasa aneh. Aku kemudia mengangguk, merespon perkataan Ala.
Ala membersihkan muka dan mengganti baju Kavya di toilet, ia merapikan kembali rambut kucir dua Kavya dan menyemprotkan baby cologne ke bajunya.
"Sekarang, minta maaf pada tante Bivi, Kavya sudah membuat tante Bivi panik." Ala berjongkok di depan putrinya, ia berkata dengan intonasi yang pelan dan mimik yang jelas sembari memberikan kode agar Kavya mendekat kepadaku.
Dan benar, gadis cilik itu pelan-pelan melangkah ke arahku. Dia sambil cengar cengir memerkan gigi kecil-kecilnya, hidungnya yang mungil semakin tenggelan, poninya ikut bergerak-gerak ketika ia berjalan.
"Te...a..af! Te...A af." Kavya meraih tanganku, genggamannya tetap hangat dan nyaman. Tatapannya sangat ajaib, dia anak down syndrome yang paling memesona yang pernah kutemui. Aku pun berjongkok menyejajarinya dan mengangguk. Kavya merentangkan tangan meminta pelukan, dan kamipun berpelukan sambil tertawa.
"Bivi, sekali lagi aku minta maaf sudah merepotkanmu. Kami pamit dulu."
Beberapa detik kemudian, Ala dan Kavya menghilang di balik pintu. Aku menghela nafas lega.
***
Begitu Kavya dan Ala pergi, Zahra masuk ke ruanganku. Wajahnya terlihat sangat penasaran. Dia merapatkan diri duduk di sebelahku. "Dia bayar berapa menitipkan anak kepadamu?" Wajah Zahra benar-benar menyiratkan rasa penasaran. Aku hanya menggeleng.
"Dia tidak membayarku untuk menjagakan anak."
"Lalu?"
Aku menggeleng lagi. "Aku tidak tahu, Ra!" Lanjutku.
"Aneh sekali perempuan itu, Biv. Besok-besok lagi jangan mau dititipi anak seperti tadi." Wajah Zahra berubah menjadi kesal. Aku tertawa lalu menggeleng. Zahra lali segara berdiri dan pergi.
Aku juga bingung. Aku sama sekali tidak marah atau menyesal atas kejadian tadi. Dulu, aku saat masih kuliah, aku memang pernah bercita-cita menjadi terapis anak berkebutuhan khusus. Aku pernah magang selama satu tahun sebagai terapis sebelum lulus kuliah, dan aku memang dari dulu sangat menikmati berinteraksi dengan mereka.
Tatapan mereka tulus sekali, mereka merespon seperti apa isi hati kita. Ya, mereka seperti bisa membaca pikiran, apakah kita menyukai mereka atau tidak. Terutama anak-anak downsyndrome, mereka ramah sekali, seperti Kavya yang ramah dan manis.
"Mbak, anak klien Mbak Bivi merusak tanaman saya!" Pak Malik berdiri di depan pintu ruanganku.
"Saya sangat mohon maaf, Pak. Akan saya ganti." Jawabku merasa tidak enak.
"Itu bunga langka dan mahal lho Mbak." Pak Malik sepertinya menuntut.
"Akan saya ganti, Pak. Atau nanti saya akan menghubungi klien saya itu untuk mencarikan bunga seperti milik Pak Malik."
Pak Malik bersungut-sungut, "Ya, nanti akan tak catatkan." Ia berkata demikian, lalu pergi. Aku hanya bisa menggeleng.
Sore itu, aku melangkah ke mobil dengan perasaan yang sukar dijelaskan, seperti bangga atau puas, atau seperti ingin bertemu Kavya.
Handphoneku bergetar ketika aku hendak menyalakan starter, pesan dari Ala.
"Kami bertengkar hebat lagi, Biv. Ghulam memarahiku karena menitipkan Kavya padamu tadi. Aku membela diri karena aku tidak ada pilihan lain. Apakah dia pernah mau kutitipi anak? Dia saja tidak pernah mau menjaga anaknga. Apa aku salah, Biv! Dia meneriakiku seolah aku sudah berzina. Padahal aku hanya menitipkan anak."
Aku menghela nafas. Baru saja aku akan bersyukur karena tidak mendapat pesan pengaduan dari Ala tentang masalah mereka. Mereka muncul lagi dengan pertengkarannya. Belum sampai pesan itu kututup, pesan berikutnya masuk.
"Aku tidak kuat dibentak seperti itu, Biv. Apa aku seburuk itu? Tolong nasehati dia. Aku ingin bertahan dengan rumah tangga ini tapi aku tidak kuat diperlakukan seperti ini."
Membaca pesan Ala yang terakhir itu, aku berpikir. Bagaimana bisa Ghulam melakukan itu pada Ala? Itu seperti bertolak belakang dengan yang nampak ketika dia menemuiku. Ahh banyak sekali teka-teki dalam hubungan satu ini.