#7 Mak Semi & Pertengkaran

1050 Kata
"Kamu terlalu mementingkan pekerjaanmu, Kavya mana bisa dititipkan kepada orang asing!" Begitu Mak Semi menuntun Kavya ke kemarnya, nada Ghulam meninggi. Wajahnya penuh kebencian. "Aku tidak ada pilihan lain, apa aku bisa menitipkannya padamu? Tidak, kan? Kamu nggak akan pernah mau menjaga anakmu sendiri." Aku tidak tahan untuk tidak ikut menggunakan nada tinggi, dadaku sesak sekali, sekuat tenaga kutahan tangis. "Aku akan menjaga Kavya, tapi kamu selalu tidak percaya!." Rahang Ghulam mengeras, wajahnya memerah. "Karena kamu fokus dengan pekerjaanmu! Bagaimana aku tenang menitipkan Kavya. Kamu selalu menomorsatukan pekerjaan. Kami nomor sekian!" Aku berteriak-teriak tak terkendali, suaraku parau, tangisku pecah. Aku akhirnya lari menuju kasur dan membenamkan wajahku di bantal. Terdengar suara langkah kaki Ghulam, lalu terdengar suara pintu dibanting dengan sangat keras. Telingaku sakit, tapi hatiku lebih sakit. Aku menangis semakin keras. "Ma...ma...ma…" Kavya berlarian masuk ke kamar, aku masih membenamkan wajahku di kasur, "Ma..ma...ma…" Kavya memanggiliku dan mengelus-elus rambutku. "Maaf Bu, Neng Kavya memaksa berlari kesini." Mak Semi menjelaskan dengan suara pelan. Kuangkat wajahku menghadap mereka. Kuhapus air mata. Lalu tersenyum kepada mereka. Kurentangkan tangan mengharap pelukan Kavya, Kavya melompat memelukku. "I love you." Kavya mengelus punggungku. Dia selalu begitu ketika aku menangis selepas bertengkar dengan Ghulam. Dia melepas pelukannya dan menghapus air mataku. "Kim...kim..kim.." Dia menawariku es krim agar hatiku membaik. Aku mengangguk kencang lalu kami bergandengan tangan menuju dapur. *** Ala menyeka airmatanya, mengakhiri ceritanya pagi itu. Pagi ini, dia sudah datang ketika aku masih sarapan di dapur kantor. Aku menawarinya minum teh hangat tapi dia menolak. Setelah aku selesai makan dan memintanya duduk di sofa, pecah tangisannya dalam ceritanya yang panjang. Aku diam saja sengaja tidak menanggapi, kutepuk-tepuk pundaknya memberi kekuatan dan kusodorkan tempat tissu agar dia mengambil sendiri, Ala mengambil dua helai tissu dan mengucapkan terimakasih. Ceritanya tadi sangat emosional, terlihat sekali dia tersakiti. Aku membiarkan Ala menangis sesengukkan tanpa menyelanya. "Menangislah selama yang kau ingin." Dia mengangguk masih terisak. "Setelah itu, dia pergi entah kemana, handphone-nya tidak aktif, aku mencoba menelfon karena Kavya yang meminta. Anak kecil itu mengkhawatirkan ayahnya. Aku sedih sekali melihat dia kecewa tidak bisa menelfon ayahnya. Menjelang tengah malam, kata Mak Semi, Ghulam baru pulang dan tidur di sofa ruang tamu. Mak Semi bilang sempat menawarinya membuatkan mie kuah atau teh panas tapi dia menolak, katanya tidak lapar." Tangisan Ala sudah mereda, suaranya lebih tenang. Dia memperbaiki duduknya, tapi sesekali masih menyeka hidungnya. "Apa yang harus kulakukan, Biv! Sepertinya komunikasi sudah bukan jalan keluar bagi permasalahan kami, kami bertengkar karena justru berkomunikasi. Apa aku boleh mendiamkannya? "Tidak apa-apa kamu diam, tapi jawablah ketika dia bertanya, tetap layani dia, siapkan keperluannya. Diamlah, jangan bercerita apapun, jangan mendebatnya." Jawabku akhirnya menanggapi. Ala mengangguk. "Apa perlu kau temui dia?" Tanyanya kemudian. "Jangan, dia masih emosi. Dia akan menyangkamu mengadukan padaku. Bisa saja dia tidak suka." Ala mengangguk lagi. Sejenak kemudian Ala pamit. Dia meninggalkan Mak Semi dan Kavya di dalam mobil. "Selepas ini, aku mau mengantar Kavya ke tempat terapinya. Jadi aku mengajak Mak Semi untuk menemaninya di mobil. Karena Kavya tidak bisa melihatku menangis. Dan aku juga tidak mau menangis di hadapannya." Ala berkata sambil berdiri. "Kau mengantarkan Kavya, boleh kah Mak Semi kau tinggal di sini? Mungkin aku butuh menanyakan sesuatu." "Ya, jika itu dirasa perlu. Aku akan memintanya kesini." Sesaat kemudian, Sosok perempuan lima puluh tahunan memasuki ruanganku, dia mengangguk setelah kupersilakan duduk. Untuk ukuran asisten rumah tangga, dia ibu yang modis, mungkin Ala fashion stylist-nya. Rok plisket di bawah lutut warna nude, kaos dan sweater. Mak Semi memakai sandal flat bermerk yang kukenal yang biasanya dijual di departement store di mall besar. Rambutnya hitam, mungkun di semir, wajahnya juga tidak kusam. Ala rupanya totalitas mendandani asisten rumah tangganya. "Mak Semi, perkenalkan saya Bivi. Konselor pernikahan Alana dan Ghulam. Jadi, tugas saya membantu Ala dan Ghulam untuk menemukan jalan keluar dari masalah rumah tangga mereka. Mak tentu sudah akrab kan dengan masalah mereka?" Mak Semi mengangguk-angguk menyimakku. "Sejak kapan Mak ikut bersama mereka?" Tanyaku kemudian. "Saya sudah lama ikut keluarga besar Bu Ala, lebih dari dua puluh tahun. Tapi saya ikut Bu Ala baru baru ini, mungkin empat tahun lalu saat Pak Ghulam mulai memiliki jabatan yang bagus di pekerjaannya." Mak Semi menerawang, mengingat-ingat. "Jadi, Mak ikut mereka sebelum Bu Ala memiliki usaha yang sekarang ini?" "Iya, saya kira bebarengan dengan Bu Ala memulai usaha itu dan sedang berkembang sehingga tidak memiliki banyak waktu mengurus rumah dan Neng Kavya." "Mak sering menyaksikan mereka bertengkar?" "Ya, akhir-akhir ini lebih sering." "Mereka bertengkar karena apa?" "Apapun mereka buat pertengkaran, kadang Pak Ghulam memarahi karena Ibu pulang sore, karena Kavya sakit, karena belanja terlalu boros, dan Ibu balas memarahinya karena tidak ada waktu, karena tidak ikut mengurus Neng Kavya, Ibu menuduh Bapak mudah marah, padahal mereka berdua sama-sama mudah marah." "Sejak kapan itu tepatnya, Mak?" "Tepatnya saya lupa Bu, seingat saya sejak Bu Ala semakin sibuk. Mereka sama-sama sibuk." "Sesibuk apa Bu Ala?" "Sibuk sekali, kalau lagi buka penjualan atau apalah namanya Ibu biasanya cerita, pulang bisa malam banget, kalai di rumah pun banyak di depan laptop atau hapenya." "Kalau Pak Ghulam?" "Kalau Pak Ghulam saya tidak tahu, kadang sibul sekali sampai beberapa hari tidak pulang, kadang beberapa hari tidak bekerja." "Tidak bekerja?" "Iya, tidak bekerja dan sepanjang hari di rumah." "Kalau sedang seperti itu, apa yang Pak Ghulam lakukan?" "Banyak tidur, bermain Hp, mengajak bermain Neng Kavya sebentar. Tapi sering bertengkar dengan Ibu." "Apa yang biasanya Mak lakukan ketika mereka bertengkar?" "Saya membawa Neng Kavya ke kamar, dan mengunci pintu rapat-rapat. Tapi kami tetap mendengar pertengkaran mereka karena mereka berteriak-teriak." "Lalu Kavya?" "Neng Kavya." Mak Semi menghela nafas panjang. "Kasihan sekali anak itu. Dia memang tidak bisa berbicara dengan baik, tapi hatinya sangat lembut, sangat peka. Dia pasti memaksa keluar, mungkin ingin melerai orangtuanya. Tapi tidak saya bukakan pintu kecuali pertengkaran mereka sudah mereda. Dia hanya bisa memelukku di kamarnya, hanya diam saja, tidak menangis. Dia lebih dewasa dibanding anak-anak pada umumnya." Aku ikut menghela nafas, membayangkan apa yang dihadapi Kavya setiap hari. "Terimakasih Mak atas waktunya, pertanyaan saya insyaAllah cukup." Kataku memungkasi obrolan. "Saya sangat berharap Anda bisa membantu mereka mempertahankan pernikahan mereka." Jawabnya dengan wajah sendu. "Saya harap juga demikian." Jawabku. "Bukan apa, aku hanya tidak ingin anak kecil sesuci Neng Kavya semakin terluka jiwanya melihat orangtuanya berpisah." Lanjut Mak Semi. Lagi-lagi, aku hanya bisa mengangguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN