Pak Malik menyambutku di lobi kantor dengan raut muka sumringah, kemeja warna biru laut dan celana cingkrang warna biru tua selalu menjadi ciri khas-nya. Selalu begitu, jika kemejanya warna hijau muda, celananya warna hijau tua, jika celananya warna coklat tua, kemejanya warna cream, selalu begitu.
"Wah, kayaknya lagi happy nih, Pak!" Kataku begitu sampai di depannya.
"Iya dong!"
"Deal proyek besar?" Aku pun penasaran.
Pak Malik menggeleng, masih dengan senyam-senyum tidak jelas.
"Dapat reward besar dari klien?"
Pak Malik menggeleng lagi. "Terus apa dong, Pak? Aku tidak sabar dengan ketidakjelasan ini.
"Transferan dari Bu Ala, klien kamu, hehehe."
"Hah?" Aku kaget bukan buatan.
"Iya, Bu Ala bertanggung jawab atas kerusakan tanaman saya! Satu jeti!" Begitu menjawab, Pak Malik ngeloyor masuk kantor dengan terkekeh-kekeh. Aku masih melongo tidak percaya.
***
Sepekan terakhir ini aku senggang, tidak ada janji dengan siapapun, aku akhirnya membantu proyek psikotes Zahra. Kemarin aku seharusnya ada janji denga Ala, untuk membicarakan kelanjutan permasalahannya. Tapi Ala bilang pertemuan ditunda, ia mengaku sedang liburan keluarga.
Alasan yang sedikit menggelikan untuk seseorang yang kemarin bertengkar hebat dengan pasangannya. Atau Ala berlibur tanpa Ghulam? Memangnya bisa berlibur dalam kondisi emosi sedang tidak stabil?
"Liburan? Aneh banget. Mungkin cuman alasan, Biv. Masa sih bisa secepet itu baikannya dan memutuskan liburan?" Zahra mengernyit mendengar salah satu alasanku sering kosong pekan ini, ya Ala satu-satunya klien yang kontrak denganku sedang liburan.
"Alasan buat apa, Ra?" Jawabku sembari mengoreksi lembar jawab psikotes.
"Ya mana ku tau!" Zahra mengangkat bahu.
Tok..tok… seseorang mengetuk pintu ruang kerja Zahra. Laila berdiri di depan pintu.
"Mbak Bivi, Ada Bu Ala di ruang tamu. Apakah ada janji?"
Aku dan Zahra saling pandang, baru saja kami membicarakan masalah itu.
"Ok, tolong suruh tunggu di ruanganku ya Mbak." Jawabku pada Laila.
"Siapp Mbak!" Laila balik badan meninggalkan ruangan Zahra.
Aku segera menyelesaikan lembar jawab psikotes yang kupegang, dan bergegas berdiri. Zahra mengantarku dengan tatapan tidak mengerti.
***
Ala duduk di sofa ruang kerjaku dengan anggun, ia tampil girly seperti biasa. Perpaduan celana kulot warna army dan blouse warna nude yang cantik. Wajahnya sumringah tidak bisa menyembunyika rona bahagia yang mungkin sedang dirasakan hatinya.
Sekilas kemudian, mataku menyapu tumpukan oleh-oleh di atas meja. Pie s**u khas bali, coklat, krupuk ikan dan bebera jenis cake. "Hai Biv! Jangan khawatir, aku tidak akan lama menganggu aktivitasmu. Aku kesini hanya untuk mengantar oleh-oleh!" Ala bersorak begitu melihatku datang.
"Kamu benar-benar liburan?"
"Astaga Bivi! Kamu tidak percaya? Kami liburan tiga hari, staycation di Bali!" Ala menjawab bersemangat. Aku hanya menjawab dengan ber-oh panjang.
"Kalian bertiga?" Tanyaku kemudian. Ala mengangguk riang. "Alhamdulillah kalau gitu, aku ikut senang mendengarnya." Lanjutku.
"Kamu pasti nggak percaya." Ala menyelidik melihatku, aku tersenyum.
"Hari itu setelah dari sini, aku benar-benar mendiamkan Ghulam. Dan seperti saranmu, aku tetap melayaninya, menyiapkan keperluannya. Ghulam menanyaiku, aku menjawab seperlunya.
Aku melakukan tugasku di rumah dengan baik, termasuk menyiapkan makanan yang enak. Aki sendiri yang memasak. Aku mengajal bicara semua orang kecuali Ghulam. Hari ketiga aku melakukan itu, kau tahu apa yang terjadi?" Ini kali pertama kudengar Ala bersemangat sekali bercerita. Wajah putihnya berseri-seri, ia semakin cantik.
"Apa yang terjadi?" Tanyaku.
"Ghulam minta maaf! Kami berpelukan, saling menangis, lama sekali. Bivi...aku rindu sekali moment seperti itu." Raut muka Ala berubah menjadi haru.
Jujur, aku penasaran sekali menunggunya melanjutkan cerita. "Lalu?" Kuminta Ala segera melanjutkan.
"Malam itu, pertama kali sejak hampir tiga bulan, kami b******a lagi. Kami hanyut dalam kerinduan, kami lupa pertengkaran tiga hari sebelumnya. Semua indah sekali, Biv! Suamiku seperti kembali. Dia berkata cinta, dia memujiku, dia lembut sekali gaya bicaranya.
Malam itu juga, kemudian kami memutuskan untuk pergi liburan. Karena kami merasa butuh itu. Sampai larut malam kami sibuk dan heboh mencari dari situs internet wahana wisata yang akan kami kunjungi, hotel tempat kami akan menginap, akomodasi, baju apa yang akan kami pakai, menyewa fotografer setempat. Dan hal seru lain.
Kami kemudian tertidur pukul 03.00 pagi. Dan bangun dengan semangat. Kavya bahagia sekali melihat kami, dia tertawa-tawa, dan bersenandung. Mak Semi juga. Beliau semangat sekali membantu kami bersiap-siap.
Sorenya, kami berangkat ke Bali. Ya, kami memilih Bali karena belum pernah berlibur kesana. Itu pertama kali Kavya naik pesawat, dia antara takut dan penasaran. Kami tertawa-tawa sepanjang perjalanan.
Kami menginap di sebuah hotel berbintang lima di tepi pantai. Kami menyewa deluxe room dengan balkon menghadap laut. Semua indah sekali Bivi!
Kami menghabiskan waktu bermain di pantai, kebun binatang, waterboom, wisata kuliner, belanja dan semua hal yang serba menyenangkan. Biv tahu kah kamu, selama di sana kami tidak pernah bertengkar."
Ala mengkhiri ceritanya dengan ngos-ngosan. Dia bercerita terlalu menggebu dan bersemangat. Aku menyodorkan segelas air mineral yang dengan sigap ia terima lalu habiskan.
"Semoga ini awal yang baik." Kataku sambil tersenyum. Aku memang cukup lega, tantangan kisah Ala dan Ghulam tidak serumit yang kubayangkan.
"Hahaha...Mak Semi juga berkata begitu. Begitu kami datang, dia langsung mengintrogasi, apakah kami bertengkar di sana, apakah semua baik-baik saja? Dia khawatir sekali tidak ada yang menjaga Kavya ketika kami bertengkar." Ala tertawa seolah itu adalah hal lucu. Dia sebentar-sebentar tertawa dan tersenyum. Nampak sekali kebahagiaan hatinya. "Kamu mau lihat foto-foto kami?" Lanjutnya kemudian, aku mengangguk.
Kemudia Ala merogoh handphone dari tas jinjing kecilnya. Dia mencari-cari sesuatu lalu bersorak menunjukkan padaku. Foto-foto mereka berdua, bertiga, Kavya, dan sendiri-sendiri. Bermain di pantai, sedang berenang di kolam renang hotel. Bermain di kebun binatang, makan-makan, dan belanja di tempat kerajinan tangan.
"Ohya, sini aku tunjukkan foto kami di waterboom. Kami naik perahu boot ke tengah laut dan bermain banana boot. Seru sekali, Biv!" Ala mengambil alih handphonenya dan membuka-buka folder untuk mencari foto yang ia maksud dan segera menunjukkan padaku ketika telah menemukannya.
"Wow! Seru sekali!" Kataku begitu melihat gambar mereka. Tampak mereka semua bahagia, tertawa, dan saling merangkul dengan latar pemandangan yang indah. Sangat sempurna di lihat mata.
Setelah puas bercerita, Ala berpamit dan dia memelukku sambil mengatakan akan menjalin hubungan yang baik denganku meski masalahnya telah selesai. Aku hanya mengangguk dan mengiyakan tak lupa juga mendoakan. Kuantar Ala hingga ke mobilnya. Barangkali ini kali trakhir ia ke kantor ini. Kulambaikan tangan dan dia membalas dengan hangat.
Ahh...kisah Ala dan Ghulam yang sempat menyedot perhatianku telah usai. Tugasku berakhir secepat itu ternyata.
Aku kembali ke ruang kerjaku dan sudah menemukan Zahra di sana.
"Dia membawakanmu oleh-oleh sebanyak ini?" Tanya Zahra sambil mengoreksi satu per satu macam oleh-oleh itu.
"Iya, ambil saja Ra yang kamu ingin!" Jawabku singat. "Sepertinya tantangan Alana telah berakhir!" Lanjutku kemudian.
"Secepat itu?" Tanya Zahra sambil membuka bungkus kerupuk ikan oleh-oleh Ala. Aku mengangguk.