"Mbak bisa gantiin saya nggak?" Suara Bu Riana terdengar lemah di seberang telepon, kemudian disusul batuk-batuk kering, baru saja hendak kujawab dia batuk-batuk lagi, lalu terdengar suara seperti air yang dituang dituang ke gelas.
"Gantiin apa ya, Bu? Ibu kenapa? Sakit?" Jawabku begitu suara dari seberang hening.
"Iya nih, dari semalam batuk-batuk terus. Kamu bisa nggak gantiin ngisi acara penyuluhan kesehatan mental bareng Hizi Faundation. Kalau kamu bersedia, nanti ibu kirim kontak panitia dan alamatnya."
"Iya Bu, saya mau. Saya juga sedang free, ibu istirahat saja."
"Ok, terimakasih ya, nanti ibu hubungkan ke panitianya."
Tut..tut..tut...nada sambungan terputus. Aku lega karena hari ini ada acara, paling tidak, aku tidak gabut. Beberapa hari terakhir, sejak tutup khasus Alana, aku memang sedang tidak terikat dengan klien, tidak ada tanggungan psikotes atau jadwal mengisi acara. Zahra pun cukup dengan kotrak dengan satu klien, jadi tidak butuh bantuanku. Jadi aku merasa post power syndrome, stress sekali rasanya menganggur. Jadi, tawaran dari senior, Bu Riana, bisa jadi hiburan yang menarik
Aku pun segera menyiapkan diri, mendownload materi yang dikirim Bu Riana, menyiapkan laptop dan pointer, dan berganti baju yang lebih resmi. Menurut info Bu Riana, jadwalku adalah pukul 10.15. Aku masih memiliki waktu untuk touch up sebentar. Begitu siap, aku langsung bersemangat berangkat.
"Jalan Otto Ikandardinata No. 17? Yang mana sih ini? Kok nggak ketemu-ketemu?" Dua kali aku memutari jalan ini, nomer alamat hotel Amarylis tempat acara itu tetap tidak ketemu. Aku sampai berkeringat meskipun ac mobil sudah kunyalakan. Mana sih ya Allah…Masa aku harus telepon Bu Riana? Kan kasihan sakit-sakit masih kusuruh mikir jalan.
Panggilan nomer baru di handphoneku. Oh ya Allah, aku baru ingat tadi ada nomer panitia, kenapa aku tidak menghubunginya dari tadi. Sagere kujawab panggilan itu.
"Maaf, dengan Bu Bivi?" Suara serak dan berat dari seberang, terdengar bayangan sosok berwibawa di seberang telepo "Saya Kaizan, ketua panitia acara training motivasi Hizi Foundation. Apakah Ibu kesulitan menjangkau tempat acara?"
"Oh iya ini saya tersesat dan tidak bisa menemukan Hotel Amarylis." Jawabku cepat.
"Baik, tolong ibu share location, saya akan minta orang saya menjemput." Tegas, solutif, tanpa ba bi bu. Belum nampak wajah fisiknya tapi sudah tergambar ketegasan dan wibawanya. Entah kenapa aku jadi ciut.
***
Tidak sampai lima menit, utusan yang dimaksud ketua panitia tadi datang. Ternyata tadi aku salah belok, dan melewatkan hotel yang kutuju. Aku merutuki diriku sendiri, bagaimana bisa seceroboh itu.
Utusan itu mengantarkanku hingga ruang transit, aku dipersilakan istirahat dulu menyiapkan diri, dan memang itulah yang kubutuhkan saat ini. Kepanikan hati karena terlambat perlu aku redam dulu. Begitu aku sudah merasa siap, aku berdiri berniat berjalan keluar, namun belum sampai melewati pintu terdengar suara orang bercakap-cakap. Rupanya panitia sedang briefing. Beberapa orang berdiri melingkar, tidak pas di depan pintu namun aku cukup bisa mendengar apa yang mereka katakan.
"Saya tidak ingin hal ini terjadi lagi, kredibelitas kita di depan Pak Wayan dan para karyawan baru turun hari ini. Acara yang seharusnya selesai tepat waktu jadi mundur. Besok-besok kalau narasumber utama berhalangan, tolong carikan ganti yang senior dan berpengalaman. Bisa dimengerti!"
Begitu mendengar kalimat itu, aku segera kembali ke tempat dudukku tadi. Jantungku berdetak tak karuan, antara tidak suka dan merutuki diri merasa bersalah. Suara yang kudengar tadi adalah suara Kaizan, ketua panitia yang tadi menelfonku.
Tidak lama kemudian, seorang perempuan datang menghampiriku. "Apakah Ibu sudah siap? Acara hendak kita mulai." Dia sangat ramah, dia salah seorang yanh ikut briefing berdiri tadi. Luar biasa, dia sama sekali tidak menunjukkan raut tidak suka padaku. Padahal jelas gara-gara aku, dia dan timnya kena marah tadi. Aku segera mengangguk mengiyakan, kali ini, siap tak siap aku harus maju.
Ruang acara itu tidak begitu besar, tidak sampai kapasitas 100 orang, mungkin 80 orang. Ac di dalam jauh lebih dingin daripada ruang transit tadi. Perempuan tadi langsung mengarahkanku duduk di sofa narasumber. Di sana sudah ada seorang laki-laki yang duduk memegang mic dan selembar kertas. Begitu duduk, aku memandangi seluruh ruangan sejenak, mengumpulkan rasa percaya diri yang sedang menciut.
Di hadapanku, di kursi paling depan, tampak duduk berjajar orang-orang (yang sepertinya penting), Kaizan ada di sana, entah kenapa jantungku tak karuan begitu kami bertatapan. Ada rasa malu atau minder. Ihh ini bukan diriku. MC membuka acara, acara pun di mulai.
***
"Terimakasih Ibu, atas kerjasamanya!" Pak Wayan, direktur Hizi Corp menyalamiku dengan hangat. Disusul Kaizan, tanganku dingin sekali, sama dinginnya ketika mendengar percakapan briefing di depan ruang transit tadi. Mereka pasti membatin aku gugup.
"Sangat berenergi dan penuh ilmu untuk karyawan baru di perusahaan ini." Pak Wayan masih memuji, aku hanya mengangguk-angguk tersenyum. "Kalau berkenan, anda bisa makan siang bersama kami?" Lanjut Pak Wayan.
"Terimakasih tawarannya, Pak. Saya merasa sangat tersanjung untuk itu, namum mohon maaf, saya harus segera kembali ke kantor, ada urusan yang harus segera saya selesaikam." Jawabku menanggapi tawaran itu. Aku pun segera berpamit undur diri. Perempuan yang tadi menjemputku dari ruanh transit, mengantarkanku ke mobil.
"Terimakasih ya!" Kataku pada perempuan itu begitu sampai mobil.
"Sama-sama Kak, saya Rindani, salam kenal, saya staff HRD di Hizi Corp." Ia mengulurkan tangan mengenalkan diri. Aku tersenyum meraih tangannya.
"Pak Kaizan, staff HRD juga?" Entah kenapa aku ceroboh sekali menanyakan itu, aku keceplosan karena didorong rasa penasaran.
"Iya, beliau manajer HRD." Rindani mengangguk.
Aku tak mau berlama-lama, aku takut rasa penasaranku mendorongku bertanya-tamya lebih lanjut. Begitu aku masuk mobil, Rindani berbalik meninggalkanku. Kuhela nafas panjang sekali, lega sekali rasanya terlalui acara tadi. Entah kenapa, aku lebih banyak tertekan sebenarnya.
Jujur, ini kali pertama kali menjadi narasumber di perusahaan besar di kota ini. Aku sudah terbiasa mengisi acara di instansi pemerintah, lembaga-lembaga kecil, organisasi, kampus, sekolah, atau perusahaan kecil sampai sedang. Aku belum pernah menjadi narasumber atau trainer untuk perusahaan besar, apalagi sekelas Hizi Corp.
Hizi Corp. adalah perusahaan yanh bergerak di bidang pengolahan pakan ternak unggas dan olahan pangan unggas. Produknya sekalin pakan ternak, obat-obatan ternak unggas, vaksin unggas, vitamin unggas, ada juga seperti sossis siap makan, nugget, daging ayam beku, dll.
Aku sudah tahu Hizi dari kecil, dulu beberapa orang tua teman sekolahku bekerja di sana. Mereka anak-anak orang kaya. Bekerja di Hizi gajinya besar, begitu bayanganku sejak kecil. Aku pernah berniat melamar kerja di sana, namun Ibu melarang, Ibu tidak ingin aku terlalu sibuk jika bekerja di perusahaan besar.
Dan hari ini, aku menyesal menerima tawaran Bu Riana tadi pagi, bagaimana begitu entengnya aku menerima tawaran itu hanya karena agar tidak gabut. Tidak kupikirkan harusnya aku mempersiapkan diri paling tidak satu mingggu sebelumnya untuk di perusahaan besar, bukan beberapa jam sebelumnya.
Hufttt….aku menghela nafas lagi, mencoba menerima dan memaafkan kecerobohanku, mungkin ini sudah jalannya. Jalannya aku bertemu Kaizan, deg! Hatiku mencelos ketika mengingat nama itu.