#10 Ibuku Temanku

1159 Kata
Kuhempaskan tubuhku di kasur keras-keras, perasaan plong atau lega yang begitu dalam masih merasuki hatiku. Hari ini, selepas mengisi acara dengan Hizi Corp. tadi, aku langsung pulang. Hal ini di kantorku tidak masalah karena aku sedang tugas lapangan. Sepanjang perjalanan pulang hingga sampai rumah, pikiranku masih tak menentu. Suara Kaizan saat memberi solusi atas kebingunganku, kemudian saat dia memimpin briefing menanggapi keterlambatanku, semuanya berkelindan di pikiranku. Kenapa jadi begini? "Kamu sudah makan siang Mbak?" Suara Ibu mengagetkan membuyarkan lamunanku. Ibu melongok dari pintu kamar yang memang tidak kututup. Aku menggeleng. "Makan yuk, barusan mateng sayur asem sama ayam kremes kesukaanmu." Tidak usah diaba-aba lagi, aku langsung bangkit mengikuti ibu menuju ruang makan. Di meja makan, ternyata bukan hanya sayur asem dan ayam goreng, ada bakwan jagung, telur omelet, sambal trasi, es degan dan krupuk. "Wah..ibu udah firasat Bivi bakal makan siang di rumah?" "Nggak sih, tapi ibu pengen masak banyak aja." "Itu bagian dari firasat Ibu…" Aku bersemangat mengambil makanan, ibu melongo melihatku. "Ibu, ayo!" Ibu tertawa. "Kamu lagi seneng?" Tanya ibu kemudian. "Umm...kelihatan ya, Bu?" Kami tertawa. "Bukan seneng sih Bu, tapi lega!" Lanjutku. "Ohya? Lega kenapa?" "Ibu tahu nggak, tadi aku jadi narasumber di acara Hizi Corp." "Wow!" Ibu memasang wajah exited, muka ibu condongkan ke arahku, kursi digeser mendekatku. "Jadi sebenernya semua ini tugas Bu Riana, tapi beliau sakit sejak semalam, dan memintaku menggantikannya. Dan aku bodoh sekali menerimanya, tanpa persiapan!" Ibu melongo mendengar ceritaku, beliau tak komentar apapun." Aku mengambil jeda menyuapkan sesendok sayur asem. "Dan aku telat sampai di sana, Bu! Dan lebih memalukan lagi, manajer HRD mengutus orang menjemputku. Bu, aku tidak sengaja mendengar briefing panitia, mereka mengoreksi keterlambatanku. Aku gemetar memasuki ruang acara, aku tidak lepas seperti aku biasanya, aku deg-degan." "Deg-degan?" Ibu memotong menyelidik, aku mengangguk. "Karena apa seorang Bivi deg-degan!" "Manajer HRD itu bu...aku seperti menciut dan minder." "Apakah dia tampan?" Lagi-lagi ibu menyelidik. "Tidak begitu." Aku menggeleng. "Pintar?" "Sepertinya iya, dan berwibawa juga." "Itu lebih menarik!" Kami tertawa. "Tapi, aku merasa konyol atas keterlambatanku. Lebih-lebih aku tidak bisa menemikan hotel itu padahal alamatnya jelas dan google-map ada. Pasti aku terlihat bodoh dan tidak kompeten. Hufftt. Tapi aku lega Bu, menyelesaikan acara itu dengan baik. Pak Wayan, Direktut Utama Hizi bahlan menyalamiki dengan hangat dan menawariku makan siang bersama." Lanjutku sambil menyuapkan sesendok makanan lagi menutup ceritaku. "Jadi rasanya lega?" Ibu bertanya begitu aku selesai, makanan di piring ibu belum tersentuh. Aku mengangguk. "Lega aja?" Ibu memberikan pandangan menyelidik lagi. "Maksud Ibu apa?" Lalu kami tertawa. Ibu memang begitu, karena kami hanya berdua di rumah, kami sangat dekat. Aku menceritakan semua yang kualami, apapun, kepada ibu. Ibu selalu antusias mendengarnya, tidak pernah menghakimiku apalagi memarahi. Di usiaku yang sudah hampir 27 tahun, Ibu tidak pernah sekalipun menyuruh-nyuruhku menikah. Ibu tahu, aku akan menikah pada waktunya. Pernah kutanyakan apakah ibu khawatir tentang anak gadisnya yang tak kunjung menikah ini, beliau menjawab, "Ibu lebih khawatir jika anak ibu tidak bahagia. Asal anak ibu bahagia, ibu tidak menuntut apa-apa lagi. Kami terus membahas kejadian yang kualami tadi pagi termasuk peristiwa keceplosan menyanyakan apa posisi Kaizan. Setelah makanan kami habis, aku menemani ibu mencuci piring sambil bercerita, lalu kami pindah ke teras depan rumah masih sambil bercerita. Rumah kami tidak luas, hanya ada 5 ruang, kamarku, kamar ibu, kamar tamu, ruang tengah tempat menonton televisi, dan dapur yang merangkap ruang makan. Ya, kami tidak punya ruang tamu di dalam rumah. Yang berbeda, teras kami cukup luas untuk ukuran teras. Di sana ada sofa panjang, sofa kecil dan sebuah meja kaca bulat pasangan si sofa. Sepanjang batas lantai teras depan terdapat hiasan bunga gantung yang menjuntai yang selalu hijau dan basah. Di tiap pojokan lantai juga tidak absen pot-pot besar berisi bunga hias. Tentu saja semua hiasan itu bukan punyaku, tentu milik ibu. Ibu tidak memasukkan tamu ke rumah, kami menerima tamu di luar rumah, hanya keluarga dekat yang kami persilakan sampai masuk ke dalam rumah. Salah satu alasannya, karena tidak ada laki-laki di rumau kami. Aku dan ibu duduk di sofa, aku membawa toples krupuk udang dan ibu membawa nampan berisi dua gelas air kelapa dingin alias es degan yang degannya sudah raib kami habiskan tadi. Kami sengaja menikmati moment karena ini jarang-jarang dalam hari aktif aku bisa pulang siang, aku sering pulang sore menjelang magrib bahkan malam. "Jadi, yang seperti Kaizan tipe kamu?" "Enggak juga sih, tapi kaya gitu juga boleh." Kami tertawa lagi. "Permisi!!" Tawa kami terhenti, slot kunci pagar besi rumah kami berdenting-denting, seseorang berdiri di balik pagar. "Bivi lihat dulu!" Aku berlari kecil menuju pagar, dan menemukan Ala yang berdiri di balik pagar itu. "Ala?" Aku setengah berteriak karena kaget. Ala masih mematung belum menjawab. Segera kubuka kunci pagar membuka pagar lebar-lebar. "Mobil mau dimasukkan pagar?" Tanyaku kemudian, Ala menggeleng. "Tidak usah, biar di pinggir jalan saja." Sahutnya kemudian. "Mari masuk!" Aku berjalan dahulu, Ala membuntutiku. Kupersilakan di duduk dan kuperkenalkan pada Ibu. Sejenak kemudian ibu permisi untuk masuk rumah. Ala, dengan dandanan seperti biasa. Ia mengenakan kulot salur, atasan kaos ketat dan outer rajut, selalu dengan warna pastel. Rambutnya tergerai rapi, makeup natural dan tas jinjing kecil. Begitu duduk, ia menangis sejadinya. Aku tunggu dia selesai menangis, bahkan ketika dari jauh terlihat ibu datang hendak mengantarkan minum dan cemilan, segera ku kode agar nanti saja. Beberapa saat kemudian, tangisan Ala mereda. Kutawari dia minum dan dia mengangguk. Aku cepat-cepat masuk ke rumah dan menemui ibu di dapur. "Dia ada masalah lagi dengan suaminya?" Ibu bertanya begitu aku datang, aku hanya mengangkat bahu. Segera kubawa keluar senampan kudapan yang disiapkan ibu. "Aku ceritanya nanti ya bu." Jawabku kemudian. Bivi meneguk secangkir teh hangat bikinan ibuku, dia segera menoleh kepadaku begitu menyeruput teh itu. "Ada aroma pandan jahe dan melati? Teh apa ini?" Aku tersenyum mendengar pertanyaan Ala, itu pertanyaan semua orang setelah menyesap teh khas ibu. "Iya, resep ibuku. Jadi, kamu tahu alamat sini dari mana? Kamu ke kantor tadi?" "Aku sepagi mencari kamu, tapi kata Mbak Laila, kamu ada tugas lapangan. Aku menunggu kamu sampai jam makan siang karena kupikir kamu akan datang setelah itu, Biv. Ternyata kamu tidak datang, jadi aku menanyakan alamatmu kepada Mbak Laila, dia tidak langsung menjawab sih, karena peraturan lembaga tidak mengizinkannya. Tapi aku memaksa,aku memohon dan menangis di depannya, kemudia aku minta bertemu kepala lembaga, bagaimanapun caranya, aku harus ketemu kamu hari ini." Aku melongo mendengar cerita Ala. Dan aku baru ingat, Handphoneku tidak aktif sejak acara tadi pagi. Aku terlalu hectic dan perasaan macam-macam. Mungkin Ala sudah berusaha menelfonku. Kasihan dia. "Maafkan aku Ala, aku tidak tahu kamu menungguku." Ala menggeleng mendengar perkataanky. "Apa yang terjadi?" Lanjutku kemudian. "Kami dalam masalah lagi, Biv!" Tangis Ala kembali pecah, dia meraih tissu yang kusodorkan, bahunya hingga berguncang-guncang. Aku berpindah duduk di sampingnya, kurangkul perempuan cantik itu dan kuelus pundaknya. "Masalah kami lebih besar lagi! Kami bertengkar lebih hebat lagi. Mungkin, ini akhir dari cerita kami, Biv!" Kubiarkan Ala menangis di pelukanku, gerimis perlahan turun, hawa dingin menyergap kami. Ibu meminta kami masuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN