#36 Kedatangan Ghulam

1672 Kata
Aku menutup hari ini dengan setumpuk PR yang harus keselesaikan besok. Aku perlu membuat dokumen presentasi untuk klien lembaga yang sebuah perusahaan, tapi seharian ini jadwalku penuh dengan konseling dengan klien. Ketika merapikan meja, kutemukan lagi surat Alana. Aku teringat pesan Alana untuk menemui Ghulam. Ahh, maafkan aku, Ala. Aku tidak tahu kapan aku bisa menemui Ghulam, karena jadwalku sedang penuh hingga akhir pekan. Bukan hanya jadwal di lembaga, tapi juga jadwal di Hizi. Hampir setiap hari aku tidur larut untuk menyelesaikan banyak hal. Aku hampir saja hendak berdiri ketika Laila muncul di balik pintu ruang kerjaku. "Ada apa, La?" Tanyaku karena heran untuk apa kedatangan Laila ketika jam kerja sudah usai. "Ada tamu, Mbak. Suaminya Bu Ala." Ha? Benar-benar panjang umur, baru saja aku membatin kapan aku bisa menemuinya, dan tiba-tiba dia muncul di kantor. "Suruh masuk, La." Kataku pada Laila, Laila mengangguk lalu pergi. Tak lama kemudian, Ghulam masuk ke ruangan ku. Ghulam yang datang saat ini di hadapanku, benar-benar Ghulam yang berbeda dengan yang terakhir kami bertemu di restoran fast food di dalam mall waktu itu. Saat ini Ghulam terlihat tidak terawat, penampilannya compang-camping, rambut jambangnya belum dipotong, pakaiannya seperti tidak disetrika, wajahnya berkeringat dan berminyak seperti belum cuci muka pakai sabun. Melihatnya seperti itu, terbitlah rasa iba di hati. Ghulam, dulunya seorang ketua LSM besar, berwibawa, disegani, kini tampil memprihatinkan. "Apa kabar?" Tanyaku begitu Ghulam duduk. "Seperti inilah, Biv." Jawabnya loyo. "Tunggu, aku ambilkan minum dulu." Aku segera berjalan dengan cepat ke dapur, mengambil sekotak teh botol dingin dan segera kembali ke ruang kerja. "Minumlah." Kataku menyerahkan minuman itu pada Ghulam. Dia menerimanya, lalu segera meneguknya. "Apa kabar Ala dan Kavya?" Tanyaku kemudian. Ghulam menggeleng. "Aku tidak tahu, Biv." Jawabnya setelah itu, aku sengaja tidak menanggapi, tapi memasang wajah menyimak agar dia lanjut berbicara. Tapi Ghulam tak kunjung bicara apapun. "Kalian dalam masalah?" Kataku setelah sekian lama kami hanya saling diam. Ghulam mengangguk. "Ini semua salahku, aku tidak tahu, Biv. Mengapa hubungan kami seperti ini. Ku kira, hubungan kami akan membaik setelah aku berhenti bekerja. Nyatanya, justru semakin memburuk. Hatiku setiap hari merasa panas melihatnya sibuk dengan pekerjaan. Aku tahu, ini bukan resmi salahnya. Itu memang pekerjaannya. Tapi sesak dan panas itu memang kurasakan. Aku tidak suka. Dia lebih perhatian dengan pekerjaan. Aku tidak suka melihatnya sukses. Aku tidak tahu mengapa aku begini. Saat seperti sekarang, aku masih bisa berpikir jernih, menguasai emosiku. Tapi ketika dihadapkan situasi di depan Alana, aku sering kalap dan lupa diri. Aku kehilangan kontrol, Biv. Sekarang, semua tinggal penyesalan, Biv. Ala benar-benar marah. Puncaknya malam itu. Aku tahu, selama ini dia selalu sabar menghadapi ku. Aku yang mencari gara-gara membuatnya marah. Seperti malam itu, Biv. Aku gelap mata mengatainya macam-macam. Dia marah, dia mungkin kehilangan kesabaran, dia murka, berteriak di depan mukaku. Aku semakin gelap mata, dia membawa-bawa nama Farisha dan pekerjaan ku yang selama ini aku tidak mau menyinggungnya karena aku ingin move-on. Tapi malam itu Ala menyinggungnya keras sekali di depan mukaku. Aku kehilangan kendali, Biv. Aku menamparnya. Setelah melakukan itu, hatiku seperti sadar. Aku sangat menyesal, apalagi melihat Alana terduduk menangis tergugu. Aku merutuki diriku, aku sudah menyakiti hatinya, kini aku membuat luka itu semakin membesar dengan menambah luka fisik. Aku menamparnya, Biv. Dengan tanganku, aku memukul pipi istriku, perempuan yang melahirkan anakku, perempuan yang menaniku bertahun-tahun dalam keadaan paling susah sekalipun. Aku menyakitinya, Biv." Suara Ghulam parau mengatakan itu, wajahnya memerah, terlihat sekali dia menahan tangis. Aku mencoba menguasai diri agar tak terseret larut dalam emosi Ghulam. Aku melihat jelas raut penyesalan di wajahnya. Dia mengepalkan tangan, lalu tergugu, Ghulam tak kuat lagi menahan air matanya. Dia menangis di depanku. Kubiarkan saja dia menangis sampai selesai, lalu ku serahkan selembar tisu. Begitu ia tenang, Ghulam meneguk kembali teh kotaknya. "Sekarang dia sudah pergi, Biv. Aku tadi ke rumahmu mencarinya, kukira Ala di sana. Tapi aku hanya menemukan ibumu, tentu saja beliau tidak tahu. Lalu aku kesini, karena saai ini, kamulah orang kepercayaan Alana. Dia pasti sudah mengabarimu apa yang terjadi pada kami." "Ya, dia mengirim surat." "Mengirim surat?" Ghulam kaget mendengar jawabanku. "Dia dimana sekarang? Di rumah ibu?" Tambahnya. Aku mengangguk. "Dia bilang ingin menangkan diri." Ghulam terdiam, wajahnya menunduk. "Apa yang harus kukatakan pada orangtua Ala, Biv. Aku sudah menyakiti anaknya." "Kamu benar-benar menyesal?" Tanyaku, Ghulam mengangguk. "Tiada yang lain kecuali minta maaf." Jawabku. "Apakah Ala akan memaafkan ku?" "Kita tidak tahu kecuali sudah mencobanya." "Jadi aku harus menyusulnya sekarang?" "Kapan pun menurut kesiapan hatimu." "Biv, apa yang harus aku sampaikan pada bapak ibu Alana?" "Isi hatimu. Jika kamu menyesal katakanlah, jika kamu ingin meminta maaf, katakanlah dengan baik." Ghulam mangut-mangut, ia lirik sebentar arloji di tangannya. "Sudah sore, Biv." Katanya kemudia lalu berdiri. Aku mengangguk. "Terimakasih, Biv. Maaf menganggumu." Ghulam berdiri lalu mohon diri untuk pergi. Aku juga lansung berdiri untuk keluar kantor karena hari sudah sore. Di tempat parkir, hanya tersisa dua mobil, mobilku dan mobil Pak Ruslam yang memang selalu pulang paling akhir diantara kami. Di dalam mobil, di perjalanan pulang, pikiranku berkecamuk tentang Ghulam dan Alana. Mengapa kasus mereka selalu menyedot perhatian ku paling banyak. Aku selalu terjun ke ranah emosional ketika bersinggungan dengan kasus mereka. Aku bertanya-tanya, apakah Ala akan menerima Ghulam secara penuh sesudah ini? Apakah kasus ini yang terlihat selesai akan muncul lagi masalah lain? Bagaimana orangtua Ala menerima kedatangan Ghulam? Bagaimana Kavya? Aku kepikiran semua itu hingga sampai rumah, mandi, dan duduk manis di depan meja makan. Di hadapanku sudah tersaji mie goreng Jawa buatan ibu, lengkap dengan kerupuk dan air jeruk hangat. Aku masih memandangi nya saja. "Tadi Ghulam kesini." "Iya." "Kamu sudah tahu?" "Karena sesudah itu ia ke kantor." "Mereka sepertinya ada masalah lagi." "Iya, Bu. Ala pulang ke rumah ibunya?" Ibu terkejut mendengar jawabanku, tapi masih tetap meneruskan makan. "Berarti masalahnya serius dong?" Tanya ibu kemudian. "Aku tidak tahu, Bu. Mereka masih di lingkaran permasalahan yang sama. Mereka belum keluar dari sana sejak itu." Handphone ku berdering ketika aku bicara, nama Alana berkedip-kedip di layarku yang menyala. "Biv, ibu mendesakku untuk pulang." Alana langsung bicara begitu kuangkat teleponnya. Dia terdengar berbicara sambil menyeka ingus atau air mata. "Ibu tidak mengatakannya secara langsung, hanya dia mengkhawatirkan Ghulam dan memintaku untuk pulang. Tidak baik kami berlama-lama berpisah katanya. Aku bingung, Biv. Aku bingung mengapa Ghulam tak kunjung minta maaf atau menyusul kami di sini. Apakah dia sudah benar-benar tidak peduli?" Ala akhirnya berhenti bicara "Dia tadi ke kantor." Kataku begitu Ala diam. "Ohya?" Suaranya terdengar terkejut. "Dia mengatakan apa?" "Menceritakan seperti yang kau ceritakan. Dia terlihat menyesal." "Dia terlihat menyesal tapi dia tidak minta maaf atau menyusul kami di sini." "Dia bilang akan menyusul mu." "Ohya?" Aku dengar nada bersorak dalam kata-kata Alana, dia terdengar senang. "Tapi dia masih menyiapkan diri, dia mungkin butuh keberanian menjemputmu kesana." "Aku harap tidak lama, Biv." "Iya." Alana menutup teleponnya. Aku menghela nafas dan memikirkan seperti apa ujung masalah ini. "Mengapa masalah mereka pasang dan surut tidak berhenti, Bu?" Kataku pada ibu, piring ibu sudah bersih, mie goreng Jawa yang tadi penuh mengepul sudah raib. Punyaku masih separuh lebih. "Berarti ada yang tidak berjalan sebagaimana mestinya Biv." "Apa itu, Bu?" "Tugasmu membantu mereka mencarinya." Tugasku membantu mereka mencarinya. Satu kalimat ibu sangat menggangguku. Aku mengabaikan beberapa tugas dari Hizi dan lembaga untuk memecahkan ini malam ini juga. Aku buka kembali buku relationship nya John Gray yang waktu itu sempat k****a. Aku ingin menemukan teka-teki permasalahan berulang Ghulam dan Alana. Dan dari buku itu, malam ini, aku menemukan fakta menarik. Mungkin yang terjadi pada Ghulam dan Alana adalah masing-masing dari mereka kehilangan banyak hormon dominan mereka. Sehingga mereka tidak dapat menjalankan fungsi kehidupan dengan baik. Ghulam kehilangan banyak sisi maskulin, dan Alana terkikis feminitasnya. Apa yang menyebabkan? Aku terus membaca dengan bersemangat tanpa merasa mengantuk. Kubuka lembar-lembar berikutnya buku itu, aku harus menemukan penyebab hal itu terjadi. Peran yang tertukar? Apakah benar seperti kata John Gray, apakah peran mereka tertukar? Ah tidak sepertinya. Alana tetap menjalankan perannya sebagai ibu dan istri yang baik. Eh, tapi Ghulam? Iya, Ghulam yang mengalami ketidakstabilan mental. Dia tadi mengaku sering marah tidak jelas dan sering hilang kendali dan menjadi emosional. Ya, benar. Ghulam sedang terkikis maskulinitasnya. Hal ini karena apa? Aku meneruskan membaca, kulirik jam dinding menunjuk pukul setengah dua belas, tapi aku tidak peduli. Malam ini, teka-teki penyebab masalah-masalah mereka hars ditemukan agar aku bisa merumuskan bagaimana jalan keluarnya. Ghulam tidak bekerja, Ghulam merasa kalah dalam segi pendapatan dari istrinya, Ghulam merasa harga dirinya terinjak-injak karena prestasi Alana. Ghulam iri dengan Alana. Ya, itu hanya rumusanku, bisa saja memang seperti itulah yang terjadi dan itulah penyebabnya. Tapi masalah mereka sudah ada bahkan sejak Ghulam belum resign? Ya, kareba Ghulam tidak suka melihat Ala sukses, ia ingin Ala bergantung padanya. Bukankah permasalahan menjadi semakin meruncing ketika Ghulam keluar dari pekerjaan nya. Ya, mereka bilang mereka semakin jauh dari kata harmonis sejak Ghulam berhenti bekerja. Huftt...aku mengambil jeda untuk mengeliat dan meneguk sebotol air putih yang kuletakkan di meja dekat kasur. Kasus Ala dan Ghulam sebenarnya bukan masalah besar, tapi masalah kecil yang berkumpul dan bisa saja suatu saat meledak. Sebenarnya mereka saling cinta, mereka saling khawatir, tapi mereka masih mengutamakan ego masing-masing. Besok aku akan merumuskan bagaimana mengatur sesi konseling yang mindfullness untuk membuka kesadaran mereka. Aku tutup buku dan kuletakkan di meja, mataku sudah pedas karena waktu juga sudah menunjukkan lewat tengah malam. Tapi baru saja handphone mau kuaktifkan mode pesawat, sebuah pesan mendarat, dari Ghulam. "Biv, malam ini aku akan berangkat ke kota orangtua Alana. Tolong beri aku semangat agar aku berani. Jujur, aku sangat khawatir dan takut mendapatkan penolakan." Aku menghela nafas, memikir sejenak harus kubalas bagaimana pesan Ghulam. Sebenarnya aku sudah tidak bisa berpikir karena sudah sangat mengantuk. Tapi kucoba menulis pesan balasan sebisaku. "Ghulam, apapun yang akan terjadi, kamu akan jauh lebih menyesal jika tidak memperjuangkan pernikahan kalian. Berangkatlah ke sana dan rebut kembali hati mereka semua. Kamu pasti bisa!" Hanya itu yang kutulis, aku sudah tidak bisa berpikir yang lain lagi. Segera kukirim ke Ghulam, dan tanpa melihat apakah terkirim atau belum, apalagi terbalas atau tidak, langsung kuaktifkan mode pesawat. Aku tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN