#35 Surat Alana

1859 Kata
Aku sedang menikmati kopi s**u buatanku sendiri saat Laila mengantarkan sebuah surat ke ruang kerjaku. "Tulisannya sih pengirimnya Bu Ala, Mbak. Memang kasusnya belum clear ya?" Tanya Laila duduk di hadapanku, aku menoleh pada surat itu dan membaca sekilas, sedikit kaget karena aku sudah cukup lama tidak berurusan dengan Alana, sekitar hampir satu bulan. Dia sudah tidak menghubungiku lagi. Aku pikir masalahnya sudah usai, surat apalagi ini? Mengapa mengirim surat? "Iya, aku juga tidak tahu, makasih ya La." Kataku pada Laila, Laila mengangguk dan pamit pergi. Kutaruh kopiku sebentar dan kubuka surat dari Alana. Eh, tapi setelah meneliti alamat pengirim, ternyata surat ini dikirim bukan dari alamat Alana, tapi dari luar kota, apa mungkin mereka pindah? Dear Bivi, apa kabar? Semoga kamu dan ibu dalam keadaan sehat ya.. maaf aku lama tak berkabar, dan sekalinya berkabar, aku membawa kabar yang selalu saja kurang menyenangkan. Mengapa ya Biv, kalau ada masalah aku mencarimu, tapi ketika masalahku mereda aku seperti melupakanmu. Sungguh, aku sedih menyadari hal ini, tapi aku sendiri juga tidak tahu mengapa bisa seperti ini. Biv, sejak Ghulam resign dari pekerjaan. Kukira kehidupan kami akan lebih damai, nyatanya kedamaian itu hanya kami rasakan beberapa hari saja. Sisanya, kami kembali banyak bertengkar, dan kemarin pertengkaran lebih dahsyat terjadi. Sekarang, aku sedang di rumah ibuku. Ya, aku memilih pulang ke rumah ibu. Aku tahu, pulang ke rumah ibu hanya akan menambah masalah. Tapi aku tidak ada pilihan lain. Aku tidak mungkin kan tiba-tiba pergi ke rumahmu, atau harus bersembunyi di hotel. Aku lebih aman dan tenang di rumah ibuku. Mungkin kamu lelah untuk tahu tentang ini Biv. Sungguh aku juga, aku berpikir apakah aku harus meneruskan proses perceraian yang sempat kita rencanakan. Aku tidak tahu letak masalahnya dimana, perbedaan kami semakin runcing, pertengkaran kami semakin sering dan perlahan cinta dalam diri kami bergeser dengan kebencian. Setelah Ghulam resign, dan aku tetap bekerja. Ghulam tak berpenghasilan tetap lagi. Sedang aku, pemasukan ku memang terus ada, Bisnisku masih berjalan dengan baik. Tapi ini tak masalah bagiku, entah mengapa ini justru masalah bagi Ghulam. Dia sensitif sekali, pernah sekali kami makan di luar, kalau biasanya yang membayar aku itu sudah biasa, entah mengapa dia keukeuh bayar. Aku heran mengapa dia sebegitunya. Suatu waktu, dia pernah sangat tersinggung karena perkataanku yang kurasa biasa saja. "Sayang, aku pergi dulu ya, maaf aku harus pulang telat nanti karena bertemu beberapa supplier." "Kamu pikir kamu saja yang sibuk, aku juga sibuk, aku punya proyek dengan temanku, aku juga tidak di rumah saja." Dia menjawab dengan kesal dan marah-marah. Aku bingung menghadapinya. Biasanya dia mengirimi untuk orangtuanya, meskipun tidak diminta, sekarang aku menawarinya mengirim dengan uangku, aku tulus tanpa menghina, tapi dia juga marah-marah di pikirnya aku sengaja mengejeknya bahwa dia tak mampu lagi. Aku pikir, dia tertekan karena banyak menganggur. Kau tahu kan sedah ribuan kali aku memintanya membantu usahaku, tapi dia enggan. Dan ketiaka pernah di perusahaan salah satu temanku sedang membuka lowongan. Padahal posisi yang ditawarkan juga bagus, dia juga tersinggung. Bahkan dia mengolok-olok bahwa aku menjelekkan suamiku di hadapan teman-temanku. Apa mungkin aku melakukan itu, Biv? Biv, kamu mau tahu moment puncak yang akhirnya membuatku sangat marah dan memilih pergi ke rumah ibu? Aku sedih harus menceritakan ini, tapi surat ini menjadi tidak lengkap dan menggantung jika kejadian itu tidak kuceritakan. Jadi, hari itu aku sangat lelah. Seharian aku ikut Kavya kegiatan di sekolahnya. Ohya, Ghulam meskipun di rumah, dia menolak mengantar dan menemani Kavya kegiatan sekolah, dia tetap memintaku sekalipun aku sibuk. Selepas itu, bahkan aku memintanya menjemput Kavya, dia meminta Mak Semi yang menjemput. Selepas kegiatan sekolah Kavya, aku harus memantau pemotretan, bekerja sama dengan tim jahit untuk produk baru kami yang akan launching yang seharusnya pekan depan, tapi entahlah jadi atau tidak, semoga saja jadi meskipun aku sedang tidak di sana. Selepas rapat dengan tim jahit aku bertemu tim administrasi mengecek beberapa kerjasama endorsement, sistem open order dan promosi. Aku sampai rumah kira-kira pukul sepuluh malam, aku sudah mengirim pesan pada Mak Semi untuk menidurkan Kavya dulu. Dan benar, ketika aku datang, Kavya sudah tidur. Aku pikir Ghulam juga sudah tidur, karena lampu ruang tengah sudah padam. Aku melangkah pelan-pelan karena khawatir membangunkan banyak orang. Tapi begitu aku melangkah menuju kamar, suara Ghulam berdeham. "Kamu kerja boleh, jadi b***k perkerjaanmu jangan!" Katanya dengan kalimat sarkas, saat itu kondisiku sedang capek sekali, aku ingin segera merebah di kasur, aku sedang tidak ingin bertengkar. Aku diam saja, dan mencoba terus berjalan mengabaikan Ghulam, tapi dia mengejarku. "Mempunyai uang banyak tak lantas membuatmu bahagia jika anak dan suami kau telantarkan?" Dari situ, aku sudah mulai ikut tersulut emosi. Dia bilang aku menelantarkan anak, aku ikut kegiatan Kavya di sekolah hingga siang, menunda seluruh jadwal pekerjaan, aku bangun pagi sekali menyiapkan makanan untuk mereka dengan tanganku sendiri, aku memandikan Kavya, aku menyuapinya. Mana bagian aku menelantarkan anakku. Aku berteriak di depan muka Ghulam kencang sekali, "BAGIAN MANA AKU MENELANTARKAN ANAKKU??" Aku marah, Biv. Aku tidak peduli waktu itu sudah malam. Tapi aku bersyukur, sepertinya Kavya tidur nyenyak, atau hanya pura-pura tidak mendengar, yang jelas dia tidak bangun. Saat itu, kesabaran yang selalu kukumpulkan kutata di hati, kutekan agar tidak keluar rasa-rasanya sudah sangat tidak mungkin kubendung agar tidak meledak. Aku marah, Biv! Aku lelah! Melihatku berteriak, Ghulam semakin menjadi kemarahannya. "Dunia luar membuatmu bersuara keras membentak suamimu?" Dia juga balas membentak ku, aku sampai menutup mata karena keras sekali. "Bukan dunia luar yang membuat aku begini, tapi kamu!" Air mataku akhirnya tumpah. "Kamu menyalahkan ku, kamu memarahiku, kami memakiku. Seolah kamu suami sempurna. Aku lelah dengan suami ini, apa maumu, Ghulam?" Aku meraung-raung tak terkendali. Ghulam menatapku dengan tatapan setajam silet. "Aku berhenti bekerja karena mu, tapi kamu masih menuntut ku menjadi suami sempurna?" "Aku tak menyuruhmu berhenti bekerja, itu bukan keinginanku. Kamu juga bisa bekerja di tempat lain, kan?" Ghulam diam saja ketika mengatakan itu, dia tetap menatapku dengan melotot. "Karena di tempat yang baru tidak ada Farisha?" Tambahku. Plakk. Kali itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, Ghulam menamparku, dengan lirik tapi rasanya sakit, bukan di pipi tapi di hati yang sakit. Aku memegangi pipiku, sambil menatap Ghulam tidak percaya dia melakukan itu. Untuk pertama kali, ia gunakan tangannya memukulku. Cahaya di ruang tengah temaram, aku diuntungkan hal itu, wajahku yang mewek carut marut tidak karuan jadi tersamarkan. Hatiku hancur, aku menangis tergugu. Aku terduduk di lantai. Ghulam melihatku, lalu melihati tangannya yang ia gunakan memukulku, mungkin dia sendiri tidak percaya telah melakukan itu. "Maafkan aku, Ala." Ghulam berjongkok di depanku, berusaha memegang pundak ku tapi tangannya segera kutepis, "jangan sentuh aku." Kataku sambil menangis. Saat itu, dalam kegelapan kusadari, Ghulam juga menangis meski tanpa bersuara. Aku berlari masuk kamar dan menguncinya dari dalam. Aku berlari di atas kasur dan membenamkan wajahku di bantal hingga tertidur entah jam berapa aku tidak tahu. Besoknya, aku keluar kamar sudah lumayan siang, matahari sudah lumayan tinggi. Kira-kira pukul sembilan. Aku bangun kesiangan. Aku tidak mandi, aku kembali mengeluarkan koper yang kupakai ke rumahmu. Aku memasukkan baju-baju dengan asal, juga baju milik Kavya. Lumayan banyak. Aku akan pergi dari rumah, aku masih sakit hati atas perlakuan Ghulam semalam, aku akan pergi entah kemana. Aku menarik koper keluar, semua orang sedang makan di meja makan. Kavya berlarian ke arahku begitu melihatku menarik koper, Mak Semi juga. Ghulam hanya menunduk. "Bu, Bu Ala mau kemana lagi?" Tanya Mak Semi, aku menggeleng. Aku terus berjalan dan Mak Semi menyegatku. "Tunggu Bu, saya ikut." Tanpa menunggu persetujuan dariku Mak Semi berlarian ke kamarnya. Secepat kilat beliau kembali tergopoh-gopoh, sudah berganti baju dan menjinjing sebuah tas. "Saya ikut kemana pun Bu Ala pergi, tolong izinkan Bu." Mak Semi memohon, aku tak kuasa menolaknya. Ghulam masih saja menunduk, dia tidak mencegahku. Aku berjalan keluar menuju mobil dengan menggandeng tangan Kavya dengan tangan kiri dan tangan kanan menarik koper. Ghulam masih belum mengejarku. Kalau dia tidak mencegahku, aku akan benar-benar pergi. Aku menata koper dan tas Mak Semi di bagasi belakang dan Mak Semi sudah duduk di dalam mobil memangku Kavya. Hatiku masih menunggu Ghulam mengejarku, tapi nyatanya sepertinya dia belum bergerak satu sentimeter pun dari meja makan. Akhirnya kami pergi. Aku membawa mobil berputar-putar mengelilingi kota. Suasana dalam mobil senyap, Mak Semi mungkin takut hendak bertanya-tanya, padahal aku yakin hatinya pasti bertanya-tanya hendak kemana ini. Aku sendiri tidak tahu tujuanku. Kami berputar-putar di dalam kota lama sekali. Akhirnya Mak Semi bertanya apakah kami akan menginap di hotel, aku berkata tidak karena bisa saja kami akan menginap dalam waktu yang lama, sayang uangnya Biv. Aku sempat ingin ke rumah mu, Biv. Tapi segera keenyahkan. Itu terlalu mudah terbaca oleh Ghulam dan aku tidak enak denganmu dan ibumu sering merepotkan. Aku harus pergi ke tempat yang tidak biasa. Ya, aku pun akhirnya memutuskan pulang ke rumah ibu. Apapun resikonya. Dan benar, ibuku kaget bukan main melihat aku pulang, ayahku apalagi. Lebih kaget lagi ketika tidak melihat Ghulam bersama kami. Ibu senang melihat kami datang tapi tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Sehari dua hari, aku masih bisa diam, ibu dan bapak masih bisa tahan. Hari ketiga, aku disidang dihadapan ibu dan bapakku untuk berterus terang mengatakan apa yang terjadi. Apalagi selama ini, sepengetahuan mereka, rumah tangga kami baik-baik saja. Tentu saja aku tidak sepenuhnya jujur, dalam sakit hati pun aku masih menjaga nama baik suamiku. Aku hanya mengatakan ada masalah dengan Ghulam dan aku ingin pergi darinya beberapa saat, aku ingin menenangkan diri. Bapakku memastikan berkali-kali apakah aku jujur, tentu saja aku bilang iya. Dan aku meminta mereka untuk tidak menghubungi Ghulam karena aku butuh ketenangan beberapa saat. Jadi, sekarang sudah hampir sepekan aku tinggal di rumah ibu. Sudah sepekan aku tak berkirim kabar dengan Ghulam. Sudah sepekan Kavya tak berangkat sekolah. Dan sekarang, kondisiku jauh lebih tenang. Aku tidak tahu kondisi Ghulam Meskipun marah, terkadang aku merasa khawatir terhadap Ghulam. Aku meminta tolong salah seorang tetangga kami untuk mengecek kondisi dia, mengiriminya makan, sesekali aku memesan makanan online dan kukirimkan padanya. Aku peduli padanya, Biv. Sekalipun aku dalam keadaan marah. Sekarang, Biv. Aku ingin meminta pendapatmu. Apa yang harus aku lakukan. Tentu saja, aku tidak mungkin berlama-lama di sini. Di depanku, ibu pasti menunjukkan rasa senang dengan keberadaan kami, tapi di sisi lain, pasti merasa bingung juga kenapa lama sekali tinggal di sini, dan para tetangga pasti juga bertanya-tanya. Dan Kavya pun, sudah menanyakan kapan dia bisa sekolah. Apa langkah yang harus kuambil, Biv. Kamu tidak harus membalas surat ini, Biv. Karena tentunya, kamu mana sempat. Tapi beri tahu aku bagaimana pun caranya, apa yang harus aku lakukan. Ohya Biv, tolong hubungi Ghulam ya. Aku takut juga terjadi apa-apa dengannya. Sekarang, dia sudah tidak memiliki siapa-siapa bersamanya. Tolong ajak dia bertemu untuk bicara denganmu, barangkali dia butuh seseorang untuk bicara. Terimakasih, Biv. Sudah mau membaca surat ini. Maaf jika terlalu panjang dan bertele-tele. Maaf jika isinya masalah-masalah ini lagi yang membuatmu mungkin bosan. Aku berhutang banyak atas kebaikanmu. Hanya Tuhan yang mampu membalasnya. Alana. Aku menutup surat Ala yang berlembar-lembar itu, di beberapa bagian kertas, tampaak bercak-bercak bekas air. Mungkin Ala menulisnya sambil menangis. Aku menghela nafas. Ini masih pagi, kopiku belum sampai separuh cangkir ku teguk. Dan aku menemukan suatu kenyataan, permasalahan Ghulam dan Alana belum selesai, justru baru dimulai babak baru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN