"Tolong periksa dokumen-dokumen ini." Kata Kaizan menghampiri meja kerjaku, aku mengangguk tanpa mengatakan apapun kepadanya.
Ya, Tim Kemanusiaan Hizi Untuk Indonesia sekarang sudah memiliki kantor sekretariat resmi. Letaknya juga di bangunan utama kantor Hizi Corp. Tidak luas, hanya ruangan sekitar delapan kali delapan meter, hanya terisi beberapa pasang set meja kerja, sofa, televisi, rak, serta dispenser dan kulkas.
Pak Wayan menjanjikan, ini hanya sementara, suata saat kami akan dibangunkan bangunan tersendiri seiring berjalannya waktu.
Aku memeriksa dokumen yang diserahkan Kaizan. Dokumen itu berisi tentang beberapa proposal perjanjian kerjasama, berbagai surat perizinan, undangan, dan beberapa hal lain. Untuk yang bersifat administratif seperti ini, Kaizan memang sering kali menyerahkannya padaku.
Jam kerja di kantor bagian ini tidak terjadwal, kami berkerja sesuai keperluan, kami lembur ketika mendesak dan tidak masuk kerja ketika memang tidak ada yang bisa dikerjakan atau bisa dikerjakan dari mana saja, seperti aku.
Hari Jumat saat pulang dari lembaga pukul tiga sore, aku mampir kantor Hizi untuk menyelesaikan pekerjaan. Sabtu dan Minggu aku masuk dari pagi hingga siang. Seperti hari ini, Sabtu pagi yang cerah. Aku hanya berdua dengan Kaizan di kantor kesertariatan kami. Awalnya ada Siska, tapi dia bilang ada undangan pertunangan kawannya jadi dia harus pergi.
Aku dan Kaizan duduk di kursi dan menghadap meja kerja yang berjauhan, dari sudut yang berjauhan. Kami sibuk dengan laptop masing-masing. Entah dalam kondisi seperti itu, aku jadi teringat apa yang diceritakan ibu beberapa waktu lalu, tentu beliau yang pertama kali pergi berduaan dengan ayah, dan saling diam.
Tapi bedanya, mereka sudah jelas sama-sama memiliki perasaan, sedang aku dan Kaizan? Ah sudahlah, aku kembali berusaha konsentrasi dengan lembaran dokumen di hadapanku. Semuanya aku rasa sudah tepat, hanya sedikit sekali kesalahan, setelah ini aku akan mencetak ulang dan menyerahkannya pada Kaizan.
"Biv." Kaizan tiba-tiba memanggilku, aku menolehnya. Hampir saja aku berdiri dan berjalan menuju rak printer.
"Ya?" Jawabku
"Kerjakan di kafe aja yukk bisa sambil ngopi."
Aku diam sejenak mencerna kata-kata Kaizan sambil memastikan apa telingaku tidak salah dengar. "Dimana?" Akhirnya kata itulah yang keluar dari mulutku.
"Orange kafe aja yang dekat."
"Oke, sekarang?" Aku mengangguk dan mengiyakan tawaran Kaizan.
Kaizan sudah berdiri, dia menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Yukk."
Untuk pertama kalinya kami berjalan berdua, berjajar, beriringan. Jujur, rasanya aneh sekali rasanya, ada rasa canggung, salah tingkah, senang, ge-er, menjaga diri karena dia sudah ada yang punya, semua berdesakan menjadi satu. Entah kenapa pada saat itu aku merasa jelek, menyesali warna baju, dan menjadi tidak percaya diri.
Begitu sampai di tempat parkir, Kaizan berhenti. Aku sudah mau berjalan menuju mobilku, Kaizan berhenti. "Kita bawa mobil satu aja ya." Demi mendengar kata-kata itu jantungku seperti melompat dari tempatnya. Aku kikuk dan bingung mau menjawab apa.
"Pakai mobil kamu aja ya," Kata Kaizan sambil celingukan mencari dimana mobilku.
"Tapi nanti pulangnya." Jawaban bodoh yang kusesali kemudian.
"Gampang kan ada taksi online." Jawabnya santai, aku merasa tidak enak seolah menjadi orang pelit yang tak mau mengantar nya.
Aku menunjuk letak mobilku dan kami masuk. Aku menawarinya untuk menyetir, tapi dia bilang aku saja.
"Sejak kapan bisa menyetir? Tanya Kaizan saat mulai melajukan mobil.
"SMA kayaknya, aku nekat belajar karena kasihan dengan ibu." Jawabku ringan.
"Kasihan dengan ibu?"
"Iya, jika kemana-mana harus kubonceng naik motor. Aku sedih ketika melihat ibu kehujanan atau kepanasan."
"Sorry, ayah kamu?"
"Kami hanya berdua, ayah sudah tiada sejak aku kecil."
Kaizan mangut-mangut.
"Kamu berapa bersaudara, Zan?" Tanyaku setelah beberapa saat kami terdiam kehabisan topik pembicaraan. Pertanyaan ini sungguh tidak kurencanakan, basa-basi saja.
"Dua, aku dan adikku. Adik perempuan, jadi di rumah kami tinggal bertiga. Aku, ibu, dan adik perempuanku."
"Ayah?"
"Mereka sudah lama divorce. Ayah sudah lama menikah lagi, beliau sudah memiliki kehidupan sendiri yang berbeda."
Aku mangut-mangut mendengar Kaizan, aku tidak menyangka, laki-laki sekuat Kaizan tumbuh dari keluarga yang tidak lengkap.
"Kamu belajar ilmu human resource darimana? Tidak mungkin kan hanya dari bangku kuliah?"
"Aku memang kuliah sampai mendapat gelar doktor, tapi sebagian besar ilmu yang kuterapkan tentang terutama manajerial, aku belajar dari ibu. Ya, beliau seorang pemilik sebuah usaha kecil yang cukup berkembang. Sejak kecil, aku melihat bagaimana ibu memperlakukan orang, karyawan, konsumen, dan supplier. Jadi ibukku pemilik sebuah toko roti. Roti Joyo kalau kamu tahu."
"Roti Joyo?" Aku setengah menjerit, tentu aku tahu sekali roti Joyo. Hampir setiap hari memakan roti itu. Itusih bukan usaha kecil, roti Joyo meskipun industri rumahan tapi sudah berkembang maju dan sudah legendaris.
"Kenapa?" Tanya Kaizan.
"Aku tahu roti Joyo. Kami setiao hari memakannya, kami sangat menyukainya. Maksudku, aku dan ibukku. Aku paling suka roti semirnya, roti sisirnya, roti selai kacang, semua enak." Kataku, Kaizan tertawa. Baru kali ini kami mengobrol santai, ringan dan mengalir.
Pantas sekali jika Kaizan seperti ini, ibunya pasti mendidiknya dengan baik. Ibunya seorang pebisnis yang legendaris.
"Ya, aku belajar dari ibu, selama sebelum masuk Hizi, kira-kira empat tahun lalu, aku ikut ibu bekerja. Jadi, aku jadi karyawan ibu. Dan, karyawan lain tidak ada yang tahu tentang itu. Aku digaji dan diperlakukan sama seperti yang lain, mungkin ibu ingin aku tumbuh mandiri. Dan benar, ibu ingin aku lebih konsen dan fokus dengan passion ku yaitu human resource. Sehingga, beliau menitipkan aku pada Pak Wayan, jadi Pak Wayan adalah teman kuliah ibu." Kaizan tertawa mengakhiri ceritanya, aku ikut tertawa.
Tanpa terasa, mobilku sudah memasuki tempat parkir orange kafe. Di kafe inilah dulu aku pernah membuat janji bertemu dengan Ghulam.
Kami duduk mencari tempat sepi karena kami ingin mengerjakan tugas dengan konsentrasi. Kaizan memesan kopi Toraja sedang aku es kopi s**u Italia. Lalu kami tenggelam dalam layar laptop kami masing-masing.
Saat sedang serius dan konsentrasi, handphone ku bergetar. Nama Zahra berkedip-kedip. Ada apa Zahra menelpon? Tapi ketika kuangkat langsung di matikan. Tapi setelah itu Zahra langsung mengirim pesan.
"Wow! Jadi ini acara yang bikin kamu nolak aku?"
Aku celingukan mencari Zahra, tapi tidak menemukannya. Sepertinya Zahra melihat aku sedang bersama Kaizan. Tadi pagi sebelum aku berangkat ke kantor Hizi, Zahra menelpon mengajakku ke salon. Karena sudah terlanjur mengadendakan ke kantor Hizi, aku menolaknya. Lagian, baru pekan kemarin aku ke salon bersama ibu.
"Kamu dimana?" Kubalas pesan Zahra masih sambil celingukan mencari sosok Zahra. Kaizan di hadapanku saking konsentrasi nya tidak terganggu sama sekali.
"Aku di luar, aku melihatmu ketika baru datang tadi. Heyy kamu berduaan dengan tunangan orang lain."
Aku tertawa ngakak membaca pesan Zahra. Aku izin sebentar pada Kaizan untuk menemui Zahra.
Aku mencari Zahra di bagian luar kafe. Di bagian teras kafe ini memang terdapat bangku-bangku kayu yang eksotik untuk duduk-duduk mengobrol. Aku dan Kaizan tidak memilihnya karena di sana lumayan ramai.
Aku menemukan Zahra duduk berduaan dengan Arif, pacarnya. Mereka tertawa ngakak ketika melihatku datang.
"Woi, aku kerja woi, kalian pacaran." Kataku menjawab tertawaan mereka.
"Mana ada kerja berduaan, kerja di kantor dong, masa di kafe." Kata Zahra semakin menggodaku, sekilas kulihat meja mereka penuh dengan bermacam makanan dan minuman.
"Eh, kamu nggak lihat kita ngadep laptop masing-masing." Kataku jengkel.
Tawa mereka semakin menjadi ketika kukatakan itu. "Baik-baik, tidak usah dijelasin, paham-paham." Tawa Zahra akhirnya mereda. "Boleh nggak, aku jadi paparazi, ku foto kalian dari jauh lalu kukirimkan ke tunangan Kaizan." Zahra ngakak lagi.
"Woii, ngawur." Kutonjok lengan Zahra sampai dia mengaduh, lalu kutinggalkan mereka yang tertawa. Berbicara dengan Zahra memang sulit untuk bisa serius.
Aku kembali duduk di kursiku, di hadapan Kaizan. Kulihat ke arah Zahra, dia berdiri menghadap kami sambil mengacungkan handphone nya, seperti memberi isyarat hendak memotret kami. Ku kepalkan tanganku ke arahnya, dan pada saat itu Kaizan yang sedari tadi menghadap laptop tiba-tiba melihatku.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Eh, enggak." Aku salah tingkah menjawab.
"Biv, kayaknya kita perlu merombak latar belakang yang bagian ini, ini Siska menulisnya terlalu berlebihan, bagus sih, tapi tidak sesuai kenyataan." Kaizan menghadapkan layar laptopnya ke arahku.
Kulihat sebentar tulisan di dalam layar laptop lalu mangut-mangut setuju. Dia lalu memintaku memperbaikinya. Dia selalu begitu, dia yang menemukan kesalahan, dan aku yang diminta memperbaiki.
Hampir dua jam kami berjibaku di depan laptop, kepalaku sudah pening dan kataku pedas. Bukan karena terlalu lama, tapi ini hari Sabtu, hari dimana seharusnya kugunakan berleha-leha. Layar laptopku sudah kututup setengah jam lebih awal dari Kaizan. Aku heran, kuat sekali Kaizan dalam bekerja, seperti tidak ada rasa jenuh.
Setelah mematikan laptop, aku berdiri hendak menuju counter gelato di salah satu satu sudut kafe, aku ingin yang dingin-dingin, kutawari Kaizan tapi dia menolak, akhirnya aku pergi untuk mengambilkan diriku sendiri dan kembali bersama satu cup penuh gelato rasa taro dan coklat.
"Mengapa kamu seperti tidak punya rasa capek?" Kataku begitu Kaizan menutup laptopnya. Dia tersenyum, senyum yang selanjutnya sulit sekali kuenyahkan dari pikiran. Ia menyeruput secangkir kopi yang tentu sudah tidak hangat lagi.
"Aku tidak tahu, hanya saja, aku khawatir menyesal kalau aku tidak segera menyelesaikannya." Jawab Kaizan.
"Selalu seperti itu?" Tanyaku lagi, dia mengangguk.
"Aku pernah gagal, Biv." Kata Kaizan kemudian, "aku pernah tidak masuk sekolah favoritku karena tidak belajar, aku belajar, tapi hanya ketika mendekati ujian, dan itu tidak cukup, banyak materi yang kupelajari. Ketika itu, ibu masih dengan ayah. Ayah luar biasa marah, katanya aku memalukan keluarga, tidak bisa dibanggakan, tidak bisa memberi contoh yang baik untuk adik. Ayah memaki-maki di depan muka, ibuku menangis melihat itu. Aku terpuruk bukan main. Sejak itu, aku berjanji untuk melakukan sesuatu dengan semaksimal kemampuanku, bukan untuk membuat ayah bangga, tapi agar tidak melihat ibu menangis."
Kaizan tersenyum getir menceritakan itu, dari nada suaranya, masih tersisa emosi negatif yang tersembunyi dan kesedihan yang ia tekan.
"Di rumah, Biv." Kaizan masih melanjuty ceritanya, aku mengangguk-angguk menyimak. "Aku sering tidak tidur sama sekali untuk meraih kesempurnaan karya apapun. Aku tahu ini tidak baik, tapi aku seperti sangat takut hasilnya tidak sempurna. Apakah aku OCD?" Kaizan menyebut salah satu nama penyakit psikologis.
"Bisa iya, bisa tidak. Tapi kalau itu dampaknya baik, apakah itu penyakit? Tapi jika dampaknya hingga tidak tidur lantas membuatmu sakit fisik, nah itu perlu diwaspadai."
"Kamu benar. Sejauh ini, hampir-hampir aku belum pernah menemui kegagalan. Aku takut, jika sesuatu yang kuupayakan ternyata gagal, aku bisa gila."
"Berarti kamu harus belajar menerima itu."
"Bagaimana caranya?" Tanya Kaizan.
"Healing." Jawabku, "Ada bagian dari hidup yang harus kamu ikhlaskan, kamu lepaskan dengan rela. Ada yang masih kaku tahan di hati kamu, nah, itu yang harus kamu biarkan mengalir."
"Apa itu, Biv?"
"Aku tidak tahu. Mungkin kebencian yang lama mengendap, penyesalan, dendam, atau bisa yang lain. Kamu yang harus mencari-cari."
Kaizan tertawa kecil, ia menyeruput lagi kopinya, lalu mengalihkan pandangan ke arah luar. Di luar gerimis mulai berjatuhan.
Saat kami serius, handphone Kaizan berbunyi. Karena handphone itu di letakkan di meja, aku bisa melihat sekilas foto perempuan yang sedang menelpon. Apakah itu Avyne? Kaizan meminta izin mengangkatnya, aku mengangguk.
Pada saat itu, aku tidak tahu kenapa hatiku rasanya sakit sekali. Apakah ini yang dinamakan cemburu? Mengapa aku harus cemburu, bukan kah aku sudah mewanti-wanti hatiku agar tahu diri bahwa Kaizan memang sudah memiliki tunangan. Nyatanya rasanya tetap sakit. Apalagi, ketika melihat sangat asyik mengobrol dengan perempuan itu ditelepon, dadaku semakin sesak.
"Siapa?" Aku merutuki pertanyaanku yang begitu berani begitu Kaizan kembali dari menelpon. Aku tidak tahu, itu spontan saja kukatakan. Aku menyesalinya karena merasa, apakah aku berhak bertanya seperti itu?
Tapi ternyata Kaizan menanggapinya santai, ia tersenyum lalu mengatakan, "Kayla, adikku." Demi mendengar itu, rasanya hatiku bersorai lega sekali.
"Dia sedang kuliah di Sydney, dia kadang-kadang menelponku untuk membicarakan hal yang tidak penting." Kaizan terkekeh.
Di Sydney? Apakah adik Kaizan kuliah bersama Avyne, tunangannya. Rasa penasaranku ingin kutanyakan langsung pada Kaizan tapi kutahan, aku harus tahu diri.