IBu berlarian membuka pagar ketika mobilku baru merapat di depan rumah, aku sengaja tidak memencet klakson karena tidak mau merepotkan ibu, aku bawa kunci cadangan, aku bisa turun untuk membuka pagar sendiri, tapi yah namanya ibu.
Wajah ibu terlihat tidak sabar ketika mendorong pagar besi, aku melambaikan tangan ketika beliau melihat ke arahku, lalu beliau tertawa, aku juga.
"Ibu, aku bisa buka pagar sendiri."
"Bagaimana ibu bisa membiarkanmu membuka pagar, ibu sudah menunggumu dari semalam." Kata ibu, memelukku seolah aku baru saja pulang dari luar pulau yang lama sekali.
"Aah ibu, maafkan Bivi membuat ibu cemas." Kataku membalas pelukan ibu. Dan, betapa kagetnya aku ketika kulepas pelukan ibu, aku melihat ibu menangis.
Ibu memang seperti itu, mungkin karena kami hanya berdua, sejujurnya jika kemarin tidak bebarengan dengan dharmawisata ibu bersama teman-teman, belum tentu aku diijinkan pergi. Padahal ini baru satu hari, belum agenda di Yogyakarta yang rencananya akan digelar selama satu pekan.
Aku merangkul ibu masuk, lalu mengatakan kalau aku lapar dan menanyakan ibu masak apa. Biasanya ibu sangat girang ditanya begitu karena dengan begitu beliau merasavada alasan untuk menjelaskan masakan hari itu, resep baru apa yang beliau coba.
"Ibu masak ayam taliwang, kamu belum pernah makan kan? Kita belum pernah ke Lombok, tapi kita rasakan dulu wisata kuliner di sana." Benar dugaanku, emosi ibu segera berubah, keharuan di depan rumah sudah tak nampak lagi begitu kami sampai meja makan. "Ayo kamu ganti baju bersih, cuci muka dan cuci tangan dulu." Tambah ibu begitu melihatku langsung saja duduk di kursi makan.
"Siapp.." Kataku sambil berlarian menuju kamar. Aku cuci muka dan berganti baju dengan cepat kilat, tidak mau membuat ibu menunggu.
"Kita habiskan semua sekarang, nanti siang ibu masak yang lain?"
Aku terkejut dan melongo mendengar perkataan ibu, ayam satu ekor akan kita habiskan berdua? "Siapp.." kataku sambil tertawa. Kami mengambil sedikit nasi, lalu makan dengan tangan.
"Jadinya bayar denda besar ya?" Tanya ibu setelah mendengarkan ceritaku tentang kejadian kemarin, aku mengangguk.
"Tapi kami lega, denda itu memang yang seharusnya kami bayar, sesuai undang-undang, bukan asal palak dari korban, karena menurut penyelidikan temanku, korban sengaja minta ganti rugi besar, mereka keluarga preman."
Ibu menganga terkejut mendengar ceritaku.
"Di situlah mungkin letak masalahnya. Dan Kaizan sangat memperjuangkan ini, bagaimana citra baik perusahaan tetap terjaga tapi kami juga tidak mau dipermainkan korban."
"Kaizan turun tangan?" Tanya ibu.
"Iya dong, Bu. Dia kan pimpinan kami. Dan kemarin, aku melihat sendiri bagaimana dia memang layak menjadi seorang manajer di perusahaan sebesar Hizi. Karakternya sangat matang, caranya mengambil keputusan benar-benar terukur dan caranya mengendalikan emosi sangat baik. Aku hanya heran, bagaimana bisa ada orang sesempurna Kaizan, Bu?"
Ibu tertawa kecil mendengar kata-kataku. Beliau tidak langsung menanggapi, justru menawariku untuk diambilkan segelas air putih.
"Kamu hanya belum melihat kekurangannya, Biv." Jawab ibu kemudian. "Dia pasti punya kekurangan, tapi kamu tidak cukup mengenalnya untuk tahu itu."
Kami diam sejenak, memandangi piring dan wadah-wadah kotor di hadapan kami. "Dulu, ibu sebelum menikah dengan ayah, juga berpikir begitu."
"Ohya?" Aku selalu langsung tertarik dan merapat pada ibu ketika beliau mulai membicarakan ayah. Selalu seru, ekspresi ibu selalu penuh cinta dan bahagia ketika mengenang ayah. Dan cerita-cerita yang dikisahkan ibu tentang ayah semuanya indah. Ibu diam sebentar memandangiku yang mendekat padanya, lalu tersenyum, seperti senyum malu-malu kucing.
"Ayah, yang ibu lihat dulu adalah pria yang keren!" Pandangan ibu menerawang mengatakan itu, ibu selalu mulai cerita tentang ayah dengan mengatakan itu, tapi aku tetap semangat dan penasaran mendengar kelanjutannya.
"Dulu, ketika ada perkumpulan keluarga, kekekmu selalu mengajak ibu meskipun ibu sudah dewasa, dari perkumpulan itulah ibu mengenal ayah lebih dekat. Sebelumnya sudah kenal, karena kami sama-sama tinggal di perumahan dinas yang memang disediakan untuk pegawai kementrian agama. Ayahmu yang muda dan sangat santun, pandai berkomunikasi meskipun dengan orang tua, dan wawasannya sangat luas.
Ibu tahu semua itu dari cerita kakekmu. Itu dulu ibu belum menyangka jika ayahmu itu nantinya akan dijodohkan oleh kakekmu dengan ibu. Jujur, diam-diam ibu sudah suka."
Aku tertawa kecil untuk menggoda ibu, ibu hanya tersenyum.
"Seberapa lama ibu memendam perasaan itu?" Tanyaku kemudian, ibu menggeleng.
"Ibu tidak tahu pastinya, sepertinya sampai lulus kuliah."
"Jadi ibu tahu ayah sejak SMA dan memendam perasaan sampai kuliah? Tanyaku, ibu mengangguk. Lalu kami tertawa kecil.
"Lalu saat kakekmu hampir pensiun, tiba-tiba beliau mengundang ayah untuk datang ke rumah. Dan semua berlanjut setelah itu. Cepat sekalinya prosesnya, seperti mimpi."
Ibu berdiri lalu berjalan ke ruang tamu, mengambil buku album yang terletak di sebuah rak di ruang tamu dan kembali dengan menenteng dua buku album foto.
"Mungkin kamu sering lihat foto-foto di album ini, tapi ada cerita yang belum kamu tahu."
Saat mendengar itu, perasaanku seperti anak kecil yang mendapat sebuah kado, penasaran ingin segera tahu isinya.
"Sudah pernah lihat foto ini?" Ibu menunjuk sebuah foto lawas yang sudah sedikit buram, yang tampak di sana sebuah acara, seperti makan malam, beberapa orang, aku mengangguk setelah melihatnya. "Ini acara makan malam syukuran purna tugas kakek, tapi itu cuman pura-puranya, padahal acara itu biar ada alasan mengundang ayahmu ke rumah.
Di acara itu, secara to the point kakek bertanya kepada ayahmu di depan umum. Apakah ayahmu ada keinginan segera menikah. Saat itu usia ayah tiga puluh lima dan ibu dua puluh tiga. Jadi ayah dan ibu terpaut dua belas tahun. Kakekmu memang selugas itu orangnya, tentunya ayahmu gelagapan, tidak ada angin, tidak ad,,,a hujan ditanya begitu di depan umum.
Waktu kakekmu tanya begitu, perasaan ibu sudah tidak enak, jangan-jangan tujuannya kesana." Ibu berhenti bercerita, pandangannya menerawang sambil mengelus-elus foto itu. Aku masih merapat pada ibu siap mendengarkan.
"Masih ingin dengar lanjutannya?" Tanya ibu sambil memandangku, aku mengangguk kencang. Ibu tertawa kecil.
"Apa jawaban ayahmu?" Kata ibu.
"Apa, Bu?" Tanyaku.
"Ayahmu mengatakan, saya sebenarnya sudah lama ingin menikah." Ibu menirukan suara ayah. "Saya tak kunjung menikah karena menunggu seseorang menyelesaikan pendidikannya." Ibu diam sebentar.
"Ketika mendengar ayahmu berkata demikian waktu itu, hati ibu benar-benar berdegup-degup kencang sekali, bahkan ibu khawatir orang lain bisa mendengarkannya. Apalagi, semua orang yang hadir di sana, sedang khitmat mendengarkan ayahmu bicara."
"Lalu gimana Bu kata-kata ayah?" Aku sudah sangat penasaran.
"Tapi sebenarnya, inilah waktu yang tepat itu, karena yang kutunggu baru saja lulus kuliahnya. Itu kata ayahmu, semua orang yang hadir langsung bersorak, mungkin banyak yang tidak menyangka ayahmu akan seberani itu.
Dari sana, kakekmu semakin terbakar semangatnya untuk memperjelas keadaan. Bertanyalah kakekmu, siapa gadis beruntung itu." Ibu senyum-senyum mempergakan percakapan itu, aku ikut senyum-senyum.
"Perempuan itu adalah adinda Ambarwati. Jawab ayahmu, semua hadirin bertepuk tangan. Sebenarnya kakekmu sudah membaca gelagat kalau kami saling suka, tapi kami sama-sama diam."
Aku berdiri lalu tepuk tangan mendengar cerita ibu, padahal cerita itu belum selesai, nada ibu masih menggantung. Tapi bagiku ini sudah happy ending.
"Tunggu." Kata ibu, "jangan senang dulu, lika liku menuju pernikahannya panjang." Aku kembali duduk dan merapat pada ibu.
"Ayahmu melanjutkan bicara, bahwa dia belum bisa memastikan apakah akan menikahi ibu atau tidak, karena belum mempertemukan ibu dengan nenekmu, ibunya ayah. Saat mendengar itu, tunas-tunas yang bunga di hati ibu yang sedang bermekaran, layu seketika. Bagaimana kalau nenekmu tidak suka ibu? Bagaimana kalau nenekmu sudah punya gadis lain? Apalagi ibu hanya mahasiswa muda yang baru lulus belum punya pengalaman apa-apa.
Kakekmu menyuruh ayahmu pulang kampung untuk menanyakan hal ini pada ibu. Dan benar, ayahmu pulang. Tapi saat ia kembali, ia tidak mendapat jawaban apa-apa karena nenekmu tidak mau menjawab kalau belum melihat ibu secara langsung.
Ayahmu lalu minta izin pada kakek untuk mengajak ibu pulang kampung. Itu pertama kalinya kami pergi berduaan, pergi jauh sejauh lebih dari dua ratus kilometer. Kami pergi berkali-kali ganti bus dan ojek. Dan kamu tahu, selama itu, kami tidak pernah mengobrol, kecuali ayahmu memberi tahu ibu kalau akan naik atau turun bis, menawari minum dan makan atau meminta izin ke kamar kecil." Ibu berhenti bercerita, mengambil nafas.
"Lucu sekali, Bu. Seperti drama korea." Kataku, ibu tertawa.
"Sesampainya di rumah nenekmu, ibu di sambut keluarga besar yang banyak sekali. Ibu jadi tontonan, ibu malu sekali. Parahnya lagi, ibu tidak bisa bahasa daerah mereka dan mereka tidak bisa bahasa Indonesia. Kami berkomunikasi dengan ayahmu sebagai penerjemah."
"Ibu seperti di luar negeri, sepeti bule?" Tanyaku lalu tertawa, ibu juga tertawa, mengangguk. "Lanjut Bu. Bagaimana tanggapan nenek tentang ibu." Tambahku.
"Nenek menolak ibu."
"Kok bisa?" Kataku kecewa.
Bukan melanjutkan cerita, ibu malah pergi ke dapur. "Ibu...ibu kemana, ceritanya belum selesai." Kataku sambil berteriak, ibu malah tertawa. "Sebentar, ibu bikin teh hangat sebentar."
Aku tidak sabar menunggu ibu membikin teh, akhirnya kususul ibu kedapur. "Mengapa nenek menolak ibu?" Kataku sambil berjalan ke dapur.
"Sebentar, kamu tunggu meja makan sana."
"Penasaran, Bu. Jangan menggantung. Ah ibu sengaja bikin penasaran." Aku memasang wajah manyun, ibu tertawa lagi. Aku senang sekali melihat ibu tertawa setelah tadi melihat ibu menangis.
Ibu menyelesaikan dua cangkir teh hangat, lalu berjalan ke arah meja makan bersama dua cangkir teh itu. Aku membuntuti beliau dari belakang.
"Nenek tidak suka dengan gadis yang tidak bisa bahasa daerah mereka, nenek takut tidak bisa berkomunikasi dengan ibu, nenek takut cucu-cucu nenek nanti tidak tahu adat istiadat leluhur mereka.
Nenek tidak langsung menolak ibu, karena nenek mengatakannya secara langsung pun, ibu mana paham. Tapi melihat dari tingkah laku nenek yang terlihat tidak suka ibu, ibu sudah bisa menduga.
Sepanjang perjalanan pulang, ibu tidak mau duduk dekat ayahmu, karena ibu tidak kuat menahan tangis, ibu ingin menangis. Sebenarnya ibu merasa kasihan pada ayahmu, pasti dia merasa bersalah, tapi ibu juga sibuk sendiri dengan perasaan sedih.
Setelah kejadian itu, beberapa saat kemudian, kakekmu meninggal. Bertambah-tambahlah kesedihan ibu. Setiap hari ibu menangis, nenekmu kebingungan, tapi kami tidak berdaya juga berbuat apapun.
Hingga suatu waktu, kira-kira beberapa bulan kemudian, saat ibu sudah mulai pulih dari sakit hati. Di suatu malam, tiba-tiba datang ke rumah sebuah rombongan orang-orang. Kami dalam keadaan tidak siap, tidak ada makanan di rumah, kami hanya punya kopi dan pisang untuk disuguhkan.
Rombongan itu adalah rombongan keluarga ayah, jauh-jauh dari kampung. Mereka ada sepuluh orang, termasuk nenek, ibunya ayah.
Kami benar-benar kaget, ibu memakai baju seadanya yang ada saat itu sudah disetrika. Mereka membawa banyak sekali oleh-oleh, seperti pisang, ikan asin, sayuran, kerupuk mentah, dan yang lain.
Ayahmu sebagai juru bicara menyampaikan maksud hendak melamar ibu. Saat itu rasanya ibu hampir pingsan tidak percaya. Ibu tidak menjawab apa-apa hanya menoleh pada nenek, ibunya ayah.
Nenek tampak berbicara dengan ibu dengan bahasanya, ibu memperhatikannya, ada raut muka ketulusan seperti permohonan maaf, lalu ayahmu menerjemahkan. Bahwa nenek meminta maaf atas kejadian beberapa bulan lalu ketika kami kesana, nenek hanya belum siap, namun sekarang yang diinginkan nenek hanya ayahmu segera menikah. Dan katanya nenek melihat ibu adalah perempuan dari keluarga baik-baik dan terpelajar.
Malam itu, sekaligus menjadi malam pengikat kami. Kami resmi bertunangan istilah jaman sekarangnya. Selanjutnya proses menuju pernikahan berjalan dengan lancar."
Ibu tersenyum-senyum mengakhiri cerita, lalu memeluk buku album yang kini sudah tertutuo di d**a beliau, aku ikut juga tersenyum melihat itu.
"Ibu rindu ayah?" Tanyaku beberapa saat kemudian.
"Setiap hari ibu rindu ayah." Jawab ibu, tapi sekarang ibu sudah bisa mengatasi rindu ini, karena ibu punya kamu. Semua yang ada pada dirimu, Biv. Adalah cerminan ayahmu. Kesukaan kalian, cara berpikir, cara menunjukkan kasih sayang, semua persis."
Kami lalu berpelukan, "Jangan lupa doakan ayah setiap sholatmy ya, Nak." Kata ibu mengelus-elus punggungku. Aku mengangguk menahan tangis.
Tidak banyak memori tentang ayah di ingatanku, ayah meninggal saat usiaku delapan tahun. Ayah meninggal saat sedang menunaikan ibadah haji. Jadi makam ayah tidak ada di Indonesia, kami belum pernah mengunjunginya, kami hanya mampu mendoakannya.
Sejak kecil, ibu merawatku sendirian dengan uang pensiunan ayah. Dalam ingatanku, ibu tidak pernah sekalipun terlihat merana sebagai orangtua tunggal, ibu selalu terlihat kuat di mataku, bahkan ketika harus membiayai ku keliah hingga profesi psikolog.
Ah ibuu, aku memeluk ibu semakin erat. Cerita tentang ayah sore ini sangat menyenangkan dalam pikiranku, tapi pasti membuka kenangan lama yang membuat ibu sedih.