Deyana baru saja selesai pemotretan untuk majalah terbaru terbitan dari kantornya. Selain menjadi designer, ia dipercaya menjadi model untuk baju yang dirancangnya sendiri. Selain tubuhnya yang proporsional, kemampuannya pun tidak diragukan. Tak salah memang karena dia dulu adalah model untuk kampus tercintanya dulu—menjadi brand ambassador dari kampusnya sendiri. Hingga wajahnya dikenal seantero universitas. Juga banyak pria yang mencoba mendekatinya, walau saat itu hatinya hanya tertaut pada satu pria. Faris. “ Hari ini nggak ada jadwal lagi, kan?” tanya Deyana pada asisten pribadinya—Amel. Amel—wanita berambut sebahu dengan kacamata yang bertengger manis di wajahnya, menggelengkan kepalanya sembari memastikan lagi catatan yang berisi jadwal pekerjaan Deyana di tablet miliknya. “ Oh

