1. MR.JEON

2026 Kata
Kim Taeri Aku tak tahu bagaimana mendeskripsikan hari ini. Terlalu mengejutkan sampai rasanya aku kehilangan akal. Jauh dari kesadaran dan perlahan mulai gila dengan apa yang telah aku lakukan. Pandanganku kosong ke depan dengan tubuh gemetar tak percaya—berusaha menyangkal. Kebingungan berusaha mencari jawaban tanpa mengetahui apa yang aku pertanyakan. Sungguh rasanya begitu menakutkan membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Tak pernah sekalipun untukku membayangkan bahwa akan berada di atas Kasur atasanku—anak pemilik perusahaan di mana aku bekerja. Telanjang tanpa sehelai benangpun yang berusaha menutupi. Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah menarik selimut sutra super mahal untuk menutupi tubuhku. Meremas ujungnya sambil mengatur napas perlahan. Ini bukan perkara aku wanita naif yang dibodoh-bodohi atau tak akan bercinta dengan atasanku sendiri dengan alasan pradigma umum yang religious. Pertama, aku adalah agnostic. Yang kedua, aku akan melakukan apapun yang aku inginkan dan siap atas apapun konsekuensi ataupun risikonya. Tetapi ini adalah tentang seseorang yang tidur bersamaku. Aku dan atasanku sama sekali tidak memiliki affair dengan ketertarikan seksual di mana kami diam-diam begitu manis dan sensual. Hubungan kami berdua jauh dari itu. Bisa dibilang bahkan tidak pernah sekalipun dia masuk dalam daftar kehidupanku. Aku berusaha mengingat-ingat apa saja yang terjadi sampai akhirnya aku bisa berakhir di sini. Apa saja yang kami lakukan hingga aku masuk ke dalam apartementnya dan berakhir di atas Kasur. Tetapi sebelum itu mungkin aku akan menariknya jauh sebelum ini. Beberapa alasan yang membuatku merasa ini mustahil karena—ya aku sangat tidak menyukai bosku. Atau bisa dibilang membencinya. Dia begitu menjengkelkan dan pantas diteriaki atas perilakunya yang semena-mena. Jarak antara bos dan karyawan memang tidak pernah dekat. Tapi tak pernah terbayangkan akan sebegitu sulit. Jeon Jeongoo itu seperti untouchable. Mungkin memang dia tipikal bos yang kerap menjaga jarak seperti orang kaya raya yang tidak boleh disentuh. Sungguh Jeongoo itu begitu dipuja di kantor yang tentu dimengerti kenapa alasannya. Dia tampan, seksi, manis dan juga cerdas. Tapi bahkan ketika berjalan melewati lorong dari pintu sampai ke ruangannya, sama sekali tidak menoleh saat disapa. Hanya memasukan tangan ke kantung dan berjalan lurus ditemani satu bodyguard yang tidak tahu apa tujuannya. Ini kantor, memangnya apa yang akan terjadi padanya? Kadang aku berpikir mungkin Jeongoo memiliki suatu rahasia besar yang dia tutupi. Mungkin dia adalah pembunuh bayaran atau mafia hingga harus selalu dijaga. Banyak orang yang mengincarnya. Menginginkan kematiannya. Aku tentu masuk dalam daftar mengingat betapa menyebalkannya dia. Bertemu atau sekadar besinggungan dengan kedua iris yang bersirobok saja kelewat sulit. Manusia itu mengendap di dalam ruangan tak keluar sama sekali. Bahkan aku sebagai sekertarisnyya saja, masuk ke ruangannya begitu sulit. Harus melalui banyak sekali pemeriksaan. Kalau tidak benar-benar harus mengantar sendiri, malahan aku harus memberikan pada sang tangan kanan—satu-satunya yang bisa masuk leluasa ke ruangan Jeongoo. Bagaimana ada rumor tentang Jeongoo yang sering tidur dengan wanita sementara dia mengabaikan semua karyawan cantik yang ada di kantor bahkan sekertarisnya sendiri. Satu-satunya yang dekat dengannya adalah pengawal dan tangan kanannya yang seorang pria berumur sekitar lima puluh tahun. Tetapi seperti yang aku katakan sebelumnya bahwa Jeon Jeongoo itu semena-mena. Membuat sulit sekali terjangkau namun hal berikutnya yang terjadi aku menemukan diriku sudah di sampingnya. Begitu dekat dan bisa dibilang mengekor seperti peliharaan karena begitulah dia memperlakukanku. KAlau orang lain mengatakan aku beruntung, sebaliknya berbeda sekali dengan apa yang aku pikirkan. Mana ada keberuntungan dengan harus menyejajarkan langkah tapi tidak boleh berada dalam satu baris sama dan ketika berbicara atau bertanya, dia hanya akan diam mengabaikan seperti aku adalah patung. Ah bukan patung, tetapi peliharaan. Karena ketika dia yang berbicara, aku harus menjawab ataupun mengikuti intruksinya. Aku bersumpah bahwa bekerja dengan Jeon Jeongoo adalah neraka sesungguhnya. Bos yang ternyata lebih muda dariku, kerap membuat kepala ingin meledak dengan semua tekanan yang dia berikan. Jeongoo bukan sekadar menetapkan target terbaik dalam pekerjaan, karena untuknya tepat waktu itu tidak cukup. Dia ingin yang lebih. Terlalu ketat. Belum lagi kegilaan lain yang semena-mena seperti saat ini, menyuruh menyelesaikan laporan yang padahal dibutuhkan tiga hari lagi, tetapi malah meminta ditemani makan padahal aku bukanlah asisten pribadinya. Tolong bedakan asisten pribadi dan sekertaris. Luar biasa. Kacamata menggantung sempurna di atas hidung seakan menunjukan kecerdasannya dengan turtle neck hitam pekat senada dengan jasnya—terlihat seperti model dengan tinggi tubuh dan wajah tampan itu. Tetapi dia memiliki aura cerdas dan milyuner—yang memang begitu adanya—hingga cocok menjadi pemimpin perusahaan ini. Kalau seandainya dia terlahir dari keluarga miskin atau tidak berhasil menjadi CEO, dia pasti akan terkenal menjadi model dengan wajah dan tubuhnya itu. "Jangan lupa kirim laporan yang akan dipresentasikan pada rapat nanti," ujarnya tegas. Perlu digaris bawahi 'nanti' yang dia katakan itu adalah empat hari lagi dan dia menginginkan laporan itu selesai sempurna hari ini. Sudah diberikan padanya untu diperiksa. Padahal banyak sekali yang perlu dipersiapkan. Aku benar-benar begadang tanpa henti—tidak tidur sama sekali sampai rasanya kantung mataku sudah membengkak seperti panda. "sekarang temani aku makan," katanya lagi seenaknya. Tak sempat menjawab apapun, dia sudah berjalan duluan dengan langkah kelewat cepat. Untuknya aku memiliki kebiasaan berjalan cepat juga, hingga tak masalah untuk mengikuti si Tuan Jeon yang semana-mena itu. Hanya saja memuakan setiap dia melakukan itu, memerintah seenaknya bahkan tak menunggu aku menjawab apapun untuk sesuatu yang tidak harus aku lakukan. Makan bersama itu di luar pekerjaan. Aku bukanlah anjing peliharaannya atau baby sister yang harus mengurusinya. Bahkan kedua klasifikasi itu mendapatkan benefit lebih baik. Satu-satunya yang dapat kusukai adalah bagaimana Jeon Jeongoo selalu memilih makanan lezat. Tentu saja mengingat dia kaya raya, maka restoran yang dia pilih juga mewah dengan makanan berkualitas. Kali ini kami makan berdua di restoran hotel-apartement. Pengawal Jeongoo seperti biasa tetap berdiri di sampingnya dengan tegap, bersiaga kalau sesuatu terjadi pada rajanya. Kadang aku merasa kasihan dan rasanya ingin memberikan makanan untuk mereka. Melihat saja dan mencium aromanya pastinya tidak enak. Atau mungkin memang aku sendiri yang merasa tak nyaman. "Pilihlah apapun yang kau inginkan. Tapi jangan sampai sisakan makanannya," ujar dia menatapku sekilas. Aku sekarang sedang merasa seperti diceramahi orang tua. Mungkin Jeongoo menyadari beberapa kali saat makan bersamanya, aku selalu menyisakan sayuran yang dia pesan. Aku tidak menyukainya, mau bagaimana lagi? Kalau aku yang memasan, tentu aku tak akan memilih itu. Dan senang hari ini dia mengatakan itu. Sebenarnya tipe pria seperti Jeongoo ini di kehidupan pasti disukai banyak orang. Pekerja keras dan tidak banyak berbicara. Kalau dibilang dia menjadi pemimpin perusahaan karena statusnya sebagai anak pemilik, benar juga. Tapi yang membawa perusahaan kami sampai ke tahap sukses dan disegani seperti sekarang adalah dirinya. Dia benar-benar berbakat, cerdas dan pekerja keras. Tentu ditambah bagaimana dia membuat target gila untuk karyawannya. Kalau membicarakan gaji yang kami terima, tentu memang besar sekali. Jauh berbeda dengan perusahaan lain di bidang sama. Pun untuk bekerja di sini membutuhkan seleksi yang sangat rumit. Hal lain yang aku sukai saat makan bersama Tuan Jeon adalah bagaimana kami saling tidak berbicara. Hening dan hanya sibuk mengunyah. Kadang makan bersama teman kantor membuatku kelelahan di mana mereka saling berbincang dan aku tentu harus mengikuti alur yang kadang aku tak mengerti. Belum lagi humor candaan mereka yang kelewat berbeda denganku. Sangat melelahkan. Aku tersedak karena berusaha makan dengan cepat. Makanku itu cukup lama dan ketika bersama orang lain, aku berusaha menyamakan mereka agar tidak membuat menunggu. sering sekali mereka sudah selesai makan sementara aku belum. Aku menjadi tidak enak apalagi saat ini sedang bersama Jeongoo. "Minum ini cepat," ujar Jeongoo sambil memberikan gelas berisi air mineral padaku. Aku segera mengambilnya dan meneguk. Ketika selesai dan meletakan kembali gelas tersebut, dia masih menatapku. Aku menjadi merasa aneh dan tidak nyaman. "Kau tidak perlu makan cepat-cepat," ujarnya lagi. Aku hanya mengangguk kikuk. Jeongoo telah selesai dengan makanannya dan sedang membersihkan mulutnya dengan telaten. "Apakah aku harus memberikan intruksi untukmu terus-menerus? Memilih makanan sendiri dan sekarang tidak perlu cepat-cepat? Kau ini sudah dewasa dan memiliki otak kan?" Aku melongo mendengar itu. Gila. Dia gila. Menyebalkan sekali. Padahal selama ini itu yang dia lakukan. Dia sendiri yang memperlakukanku seperti itu. Memerintah ini dan itu. Untung saja makananku sudah habis, jadi aku bisa segera pergi dari sini. Enyah dari hadapannya. Melihat wajahnya membuatku kesal. "Baiklah sekarang ayo kita ke atas," ujarnya sambil melihat jam tangan roleks yang harganya sangat mahal. Keningku berkerut. "Atas?" Tentu aku kebingungan melihat ini adalah hotel. "Apartementku. Aku memiliki unit di sini." Pikiranku semakin meliar ke mana-mana. "Jangan berpikir aneh-aneh, kita hanya akan mengambil berkas untuk proyek selanjutnya dan membicarakan beberapa strategi," jelasnya seolah dapat membaca pikiranku. Wajahku memerah seketika. "Ah ya, meeting." Apa yang aku pikirkan dari Jeon Jungkok si workaholic itu. Dia tidak akan tertarik dengan romansa semacam itu. Jikalau memang rumor itu benar, tentu dia akan melakukannya dengan hati-hati. Bersama wanita di luar ruang lingkup pekerjaannya. Mungkin bersama model atau artis papan atas. Dia pasti tidak tertarik untuk hubungan jangka panjang seperti kencan apalagi seperti pernikahan. Hidupnya hanya untuk bekerja dan bekerja. Kami masuk ke dalam lift diikuti beberapa pengawal. Tapi ketika mereka ingin ikut masuk, Jeongoo mengangkat satu tangan mengintruksikan. "Tidak perlu. Aku hanya akan ke atas berdua dengan Nona Kim," ujarnya dan langsung dipatuhi seraya pintu lift tertutup. Hening kembali menyelimuti di antara kami. Jantungku entah mengapa berdegup seolah sedang berada di sebuah permainan yang menguji adrenalin. Aneh. Lift berhenti di lantai paling atas. Ini bukan sekadar apartement atau hotel, tetapi pent house. Aku merasa takjub karena satu-satunya yang ada di sana adalah milik Jeongoo sendiri. Satu lantai adalah miliknya. Membayangkan sekaya apa dia sebenarnya. Aku mengikuti dari belakang sambil berpikir berapa wanita yang sudah datang ke sini. Kalau orang-orang di kantor mengetahui aku berada di tempat Jeongoo, mereka pasti tidak akan percaya. Tetapi aku juga tak akan menceritakannya kecuali pada Eunbyul—satu-satunya orang yang dapat kusebut teman. Dan reaksinya pasti berteriak histeris "Buat dirimu senyaman mungkin, Nona Kim. Aku akan mengambil minuman untukmu." katanya dengan sopan. Jeongoo itu memang benar-benar professional. Duduk di sofa empuk dengan kaki menginjak karpet sutra yang membuatku merasa berdosa. Mataku meliar memandang sekeliling bagaimana terlihat begitu mewah dan artistik. Sangat tipe Jeon Jeongoo karena tetap ada kesan simple. "Kau ingin apa Nona Kim? Bourbon atau champagne?" teriaknya dari dapur yang rasanya lebih besar dari apartementku sendiri. "Bourbon," ujarku membuat Jeongoo menoleh terlihat terkejut. Aku bertanya-tanya apa yang membuatnya terlihat kaget seperti itu. "Ku kira kau akan menjawab air putih saja," ujarnya sambil tersenyum asimetris. Sekilas terlihat licik. Aku sempat merinding beberapa saat sebelum dia kembali tersenyum seperti biasa. Datang membawa dua gelas yang segera diletakan di meja. "Minumlah dan aku akan mengambil dokumennya," katanya dan aku kembali mengangguk. Benar bukan? Intruksi. Perintah. Dia sendiri yang melakukan itu. Selagi dia pergi ke kamar, aku segera menegak minumannya untuk mengurangi rasa canggungku. Lagipula aku cukup suka minum. Aku memiliki toleransi alkohol yang tinggi. Tetapi baru satu tegukan aku merasa ada yang aneh dengan diriku. Kepalaku pusing dan tenggorokanku seperti terbakar. Tubuhku terasa memanas. Ini gila, aku tak mungkin mabuk hanya karena satu tegukan. Satu botol saja tak akan membuatku mabuk dan ini bahkan belum satu gelas. Ada yang salah dengan diriku ketika sekeliling mulai terasa berputar. Bersyukur Jeongoo segera datang. Aku bisa meminta obat darinya. dia berdiri menatapku yang sedang memegang kepala. Pusing sekali. Tunggu, aku menyadari bahwa dia tak membawa dokumen sama sekali. tangannya kosong. "T-tuan Jeon?" lirihku. Panas. Rasanya panas sekali. Padahal jelas pendingin ruangan menyala dengan baik. Aku membuka baju luaranku menyisakan kamisol. Jeongoo perlahan mendekat. Dia berdiri di depanku dan lalu membungkuk. Aku tak bsia berpikir apapun lagi karena merasa tidak seperti diriku sendiri. Jemarinya perlahan menyusuri bahuku. Menyentuh kulitku yang menggelitik membuat aku tersentak seketika. Reaksinya luar biasa karena seluruh tubuhku pilu. Rasanya seperti... Aku ingin dia terus menyentuhku. "Nona Kim, kau tahu kalau kau cantik sekali? Di kantor banyak sekali pria b******k yang ingin menidurimu. Aku mendengar fantasi mereka tentang mendominasimu di atas kasur. b******n itu bermimpi saja." Apa yang dikatakan Jeongoo? Apa maksudnya? Siapa? Fantasi apa? Mengapa dia mengatakan itu padaku? Aku benar-benar tidak dapat berpikir jernih. Kurapatkan kedua pahaku karena merasa begitu aneh. "T-tuan Jeon aku—" "Tenang, aku akan membantumu menuntaskannya. Aku tahu apa yang kau butuhkan saat ini," ujarnya dan tiba-tiba membungkam mulutku dengan bibirnya. Aku terkesiap. Ingin berontak—harusnya. Tetapi malah menemukan diriku sendiri membalas ciumannya. Rasanya seperti aku menginginkan itu. Pasti ada yang salah di sini. []   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN