Semilir angin membelai wajah pria bernetra abu-abu yang sedang melangkah dengan gontai sambil membawa sebuket bunga di genggamannya. Perlahan pria itu menelusuri padang persinggahan yang terhampar hijau. Pandangan pria itu tertuju pada satu kavling di mana sang terkasihnya berada. Ia menekuk kedua kakinya berjongkok—di depan kavling itu. Ditaruhnya bunga segar yang ia bawa dan menyiramkan air sepanjang padang persinggahan itu. "Assalamu'alaikum, bidadariku," sapa pria itu sambil mengecup batu nisan yang mengukirkan nama sang pujaan hati. Dengan susah payah ia tarik kedua sudut bibirnya untuk bisa tersenyum. Namun apa daya, sekuat tenaga yang ia coba, tapi tangis lebih bisa memenangkan. Pria itu tak kuasa menahan kristal bening yang lolos dari pelupuk matanya tanpa permisi. "Maaf." Pria

