bc

Kembalinya Malikah Si Ratu Perawan

book_age16+
529
IKUTI
1.9K
BACA
revenge
HE
drama
mystery
office/work place
kingdom building
like
intro-logo
Uraian

Malikah Thomson harus melayani tiga pria mabuk, setelah dicampakkan di malam pernikahan oleh cinta pertamanya yaitu suaminya, Jason.

“Duduklah dipangkuanku. Aku siap menghangatkanmu,” sesumbar pria tanpa cambang. Hasratnya sudah memuncak. Ia butuh penyaluran saat itu juga.

“Buktikan kalau kalian memang peminum tangguh. Aku akan bergilir melayani, tanpa paksaan, asal kita habiskan semua minuman terlebih dahulu.”

“Kamu memang nakal, Manis. Aku suka.”

“Tersisa empat botol dalam kotak,” lapor pria peminum.

“Dibagi rata untuk kalian berdua. Siapa yang selesai dahulu, dapatkan layanan pertama. Aku masih suci.”

“Sungguh?” sambut kedua pria.

Pria tanpa cambang semakin bersemangat membayangkan tubuh Malikah yang sintal, masih bersegel, akan segera menyatu dengannya

Akankah Malikah sanggup bertahan melewati masa kelamnya, meraih cintanya dan jadi ratu di akhir hidupnya?

Foto Sampul dari Studio Negarin di Pexels, desain di Canva

chap-preview
Pratinjau gratis
Kejutan Malam Pertama
Lambaian tangan dari para tamu mengiringi kepergian dari pengantin baru yang sudah selesai mengikat janji dalam jamuan sederhana. Acara resepsi akan dilanjutkan setelah mereka kembali dari bulan madu. Mobil tanpa kap itu melaju pelan membawa senyum sumringah dari Malikah Thomson dan Jason Deed. Sama-sama muda dan enerjik. Pasangan yang amat serasi. Sepasang mata menatap dari kejauhan. Ia juga menyaksikan pernikahan pasangan muda dari awal. Saat ini, membiarkan mobil pengantin melaju terlebih dahulu sebelum ia mengikuti dari jarak aman. “Terima kasih sudah mau jadi istriku,” bisik Jason sambil mengecup punggung tangan istrinya yang ia genggam erat. Malikah menjawab dengan melesakkan tubuhnya agar masuk dalam dekapan dari Jason. Ia masih tidak menyangka kalau mereka akhirnya bisa menikah juga. Kurang dari dua bulan perkenalan mereka. Memang singkat. Namun, itulah kekuatan dari jatuh cinta pada pandangan pertama. ‘Papa, aku sudah menikah. Meski kamu tak bisa hadir, tapi aku sangat bahagia. Aku akan perkenalkan suamiku nanti setelah kami selesai berbulan madu. Doakan aku agar pernikahan ini langgeng seperti papa dan mama. Hanya maut yang akan memisahkan kami seperti cinta kalian. Jason akan jadi pengganti papa,’ doa Malikah dalam diam. “Kita mau ke mana?” “Menikmati malam pertama kita. Sebuah kamar yang sudah aku pesan di tengah kota. Lain waktu, kita akan ke luar negeri,” sahut Jason mempererat dekapannya. ‘Jangan pernah bermimpi Malikah. Kamu akan dapat kejutan, karena ini akan jadi malam yang akan tak terlupakan seumur hidupmu. Persis sakitnya derita yang kurasakan karena kepergian ayah,’ batin Jason. Mobil sedan metalik dengan label Just Married itu memasuki parkiran sebuah hotel mewah. Waktu sudah hampir pukul delapan malam. Mereka sudah dijamu makan malam tadi bersama penghulu dan para tamu sehingga Jason hanya memesan beragam cemilan untuk disuguhkan di dalam kamar. Istrinya juga sangat hati-hati dengan dietnya jadi, untuk sementara tidak ada banyak makanan berat yang ia siapkan untuk malam indah mereka ini. Malikah sendiri begitu takjub dengan interior hotel yang mereka masuki sekarang. Ia menanti dengan sabar sembari duduk di sofa ruang lobi. Di luar hotel, salah satu penggemar pengantin memarkir mobilnya di tempat yang bisa melihat keadaan lobi dengan leluasa. Ia cukup menanti pengantin masuk dan tugasnya berakhir hari ini. Nampak pengantin wanita sedang duduk menunggu kekasihnya berinteraksi dengan petugas hotel. Sementara Malikah akui, sekaligus bangga karena suaminya begitu mandiri. Semua ia siapkan sendiri tanpa libatkan orang lain. Malikah jadi gugup sendiri. Ia masih penasaran dengan dekorasi kamar pengantin mereka. Juga ada rasa malu. Akan seperti apa nanti saat Jason menatapnya dalam keadaan polos.   Pertama kalinya mereka saling bersentuhan mesra. Selama ini mereka masih canggung. Tepatnya, Malikah yang masih menjaga kehormatannya karena ia ingin membuat suaminya bangga dengan kesempurnaan dirinya. Setiap detik yang berlalu membuat jantung Malikah berdebar semakin tak karuan. ‘Aku tidak boleh gagal. Aku harus lakukan seperti apa yang pernah aku baca. Aku harus santai. Percaya pada suamiku dengan semua sentuhannya. Meski sakit di awal, aku harus menikmatinya. Pasrah. Biarkan dia yang berkuasa atas diriku. Oh, akankah dia memujiku nanti atau sebaliknya?’ batin Malikah di tengah rasa gelisahnya. “Ayo, Sayang!” ajak Jason sambil menggoyangkan dua kartu yang berfungsi sebagai kunci kamar yang ia sudah pegang. Malikah bangkit dan masuk dalam gandengan tangan Jason dan bersama menaiki lift menuju kamar spesial mereka di lantai tujuh. Malikah masih bergelayut manja dalam gandengan Jason begitu mereka keluar dari ambang pintu lift. Tapi matanya awas mengamati. Hal yang selalu Malikah lakukan setiap masuk ke dalam hotel adalah mencari tanda exit dan petunjuk ke arah tangga darurat. Letak kamar 7015 sekitar lima ratus meter dari tanda menuju tangga darurat. Pintu kamar terbuka otomatis setelah kartu dipindai. Jason memasukkan salah satu kartu pada slotnya di dinding, untuk mengaktifkan listrik dalam kamar dan mengantongi kartu yang lainnya dalam saku jasnya. “Ini indah, Sayang. Terima kasih,” seru Malikah sudah berlari mendorong pintu kaca menuju ranjang ukuran sangat besar. Saat masuk, ia sudah lihat taburan bunga di atas seprai berwarna putih. Ada bantal dengan tulisan I Love You yang terpajang sebagai sambutan untuk mereka berdua. Jason lihat istrinya berputar di dalam kamar yang luas dan tersenyum bahagia. Ia tersenyum sinis dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sambil membatin, ‘Show time!’ “Malikah, aku lupa sesuatu di lobi. Aku akan kembali nanti.” “Iya, Sayang. Jangan lama-lama!” balas Malikah sibuk meraup bunga di atas kasur dan menyiram dirinya sendiri. Ia ingin meresapi aroma yang ia harap bisa menenangkan degupan dalam dirinya.  ‘Bukankah ia harus tinggalkan kecupan sebelum pergi? Itu yang biasa kulihat pada pasangan yang baru menikah. Mungkin dia sama gugupnya denganku,’ pikir Malikah setelah beberapa menit sadar betapa kamar yang wangi itu ternyata begitu hening. Malikah masih diliputi berbagai rasa, campur aduk jadi satu. Bahagia, cemas, tak sabar, mendamba, ingin tahu dan masih banyak lagi. Ia pandang tubuhnya di depan cermin. Hentakan debaran jantungnya seolah bisa ia lihat pada balutan baju pengantin nuansa warna kulit, berbahan satin yang melekat sempurna mengukir lekukan tubuhnya. Ia ingin nampak sempurna bagi cinta pertamanya, yang sudah ia miliki sebagai suami. Kata teman-temannya, ia memiliki tubuh seperti biola dengan setiap organ dipahat sempurna pada tempatnya dengan ukuran yang melebihi standar. Sahabat wanita terbaiknya, bahkan iri dengan bentuk tubuhnya yang padat dan sintal. Kebanggaan terbesar Malikah adalah ia masih suci dan ia akan persembahkan pada suami tercintanya malam ini. Malikah mengelus pinggangnya dan sadar kalau ia belum bisa mengganti gaunnya. Itu akan jadi tugas pertama Jason, sebagai suaminya. Ia peluk dirinya sendiri dengan menyilangkan lengan di bagian tubuhnya, untuk menenangkan hatinya. Di saat yang sama, ia dengar bunyi kunci elektrik yang berputar. ‘Dia sudah datang. Aku bingung harus bagaimana. Mungkin aku diam saja sampai dia mendekatiku,’ batin Malikah meletakkan tangannya di atas meja rias. Wajahnya memerah karena malu. Ia pejamkan matanya, masih tetap di depan cermin. Ia menantikan dengan penuh tanda tanya, seperti apa Jason akan memperlakukannya malam ini. Ia menunggu sentuhan dari suaminya itu. Entah di bagian yang mana, ia masih tak tahu. Mungkin di bahu lebarnya yang terpapar atau kecupan lembut di tengkuknya. Harusnya ada pelukan erat pada pinggangnya agar ia bisa bersandar manja di bahu bidang dari suaminya itu. Lalu, mereka akan saling memagut sebagai pemanasan awal. Angan Malikah melambung tinggi dan dibuyarkan dengan sebuah seruan, “Well! Well! Well! She’s gorgeous!” Lalu kilatan kamera beberapa kali terjadi, buat Malikah membuka matanya dan membeliak lebar seperti orang melihat hantu. Semua khayalan indah penuh warna yang ia nikmati beberapa menit sebelumnya, berganti dengan tayangan film hitam putih dengan latar belakang lagu kematian. Dari cermin ia melihat pantulan seorang asing yang sedang membidikkan kamera ke arahnya. Ia menghalau dengan tangannya seolah ingin mengusir cahaya yang memenuhi kamar itu. Namun, sia-sia. Bahunya menegang. Wajahnya memucat. Buku-buku jarinya memutih karena ia tadi mencengkeram pinggiran meja rias dengan begitu kuatnya. Syaraf Malikah yang terhubung dengan batang otak reptil, memberikan sinyal padanya untuk waspada, karena bahaya mengancam.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.7K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.0K
bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.1K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.3K
bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.3K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.1K
bc

Silakan Menikah Lagi, Mas!

read
13.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook