Agnes nampak tidak tenang. Ia berjalan mondar mandir di depan ruang kerja Jason. Sesekali ia melirik ke arah lift menunggu pintunya terbuka dan atasannya muncul. Satu jam lagi pertemuan penting akan berlangsung. Jason harus hadir untuk bisa dapat dukungan bulat dari semua anggota sebagai ketua partai. Kalau tidak hadir, maka posisi itu akan diberikan pada rekannya yang lain. Agnes sudah tidak sabar lagi. Ponsel Jason sama sekali tidak bisa dihubungi. Wanita itu menyambar tas dan blazernya untuk mencari Jason. Lima belas menit kemudian Agnes sudah ada di hotel yang ia duga tempat pemberhentian Jason malam sebelumnya. “Saya harus masuk ke kamar ini. Dia adalah atasan saya. Saya takut terjadi sesuatu padanya karena ponselnya tidak bisa dijangkau.” Agnes jelaskan pada manejer hotel ya

