Raas terdiam dengan tubuh yang kaku, dirinya merasa jika ia tak dapat bergerak ketika mendengar sebuah suara yang sangat amat ia kenali saat itu memanggil namanya. “A-ayah?!” Ucapnya yang kemudian berbalik menatap pada sosok lelaki gagah dengan tubuh yang lebih besar darinya serta sebuah mahkota di kepalanya. Antara mimpi dan tidak, percaya dan tidak percaya… Kini Raas menyaksikan jika sang Ayah yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu itu berdiri di hadapannya dan menatapnya dengan sebuah senyuman khas di wajah itu. “Aku merindukanmu, anakku!” Ucapan itu kembali terdengar di telinga Raas, membuatnya semakin tidak mempercayai apa yang sedang terjadi saat ini. Raas melangkah mundur dan menggelengkan kepalanya berulang kali seraya berkata, “I-ini tidak mungkin! Bagaimana bisa, Aya

