Pengakuan Ibunda Ratu

1429 Kata
Crown Imperial mengabaikan tatapan keempat orang yang kini sedang menatapinya dengan cukup tajam itu. Ia justru melanjutkan ceritanya mengenai kisah kematian dari Pangeran Find yang di katakan pernah mengalami kematian sebelum kematiannya saat ini. Crown Imperial kembali menatap pada para pemimpin Kerajaan bawahan Monitum yang kini sedang memperhatikannya. Ia pun mulai bercerita, “Saat Pangeran Unauth Find berumur sepuluh tahun, dirinya memang menyukai pertualangan dan gemar berpetualang seorang diri, menelusuri hutan di wilayah selatan dari negeri Sage. Wilayah yang cukup berbahaya bagi siapapun yang menginjaknya…” Saat itu di tengah hutan wilayah Selatan, Pangeran kecil itu mendapati seorang wanita yang berada di dalam bahaya. Find melihat beberapa lelaki dewasa membawa senjata di tangan mereka dan mengepung wanita tak berdaya itu. Dan tanpa dia ketahui sebenarnya wanita itu adalah seorang Clairvoyant Enchatress. Pangeran Find yang polos itu tidak memandang bulu untuk menolong sesama nya, sehingga tanpa berpikir panjang dirinya mengambil sebuah batu yang ada di dekat kakinya dan segera melemparkan batu itu ke arah para lelaki tersebut. Tentu saja hal itu membuat para lelaki dewasa itu merasa geram dan akhirnya bersiap untuk menghajar pangeran tersebut. Namun sebuah hal tak terduga terjadi, saat dimana Pangeran Find yang berusia sepuluh tahun itu dengan mudahnya mengalahkan seluruh lelaki dewasa yang berjumlah sembilan orang. Delapan orang dari lelaki itu tewas di tempat, sementara satu yang tersisa berada dalam kondisi kritis. Namun itulah kesalahan yang Find lakukan, ia tidak memastikan jika orang terakhir itu telah meninggal dunia. Sehingga saat ada kesempatan terakhir yang di miliki lelaki dewasa itu, ia menggunakannya untuk melesatkan sebuah anak panah yang ia tujukan pada wanita itu. Namun Naas, lagi-lagi Pangeran Find berusaha untuk melindungi wanita itu dari serangan tersebut dan mengorbankan dirinya yang akhirnya terpanah tepat di kepalanya. Panah itu menembus kepala dari Pangeran Find dan membuatnya terjatuh dengan bersimbah darah. Crown Imperial menghentikan ceritanya mengenai pangeran Find sampai di sana, membuat seluruh pemimpin serta Raas bertanya-tanya apa yang terjadi selanjutnya. “Lalu, apa yang terjadi selanjutnya tuan?” Tanya Adam yang merasa tidak percaya terhadap cerita itu namun yakin jika memang itulah yang terjadi dan menimpa sahabatnya tersebut. Crown Imperial yang melihat beberapa orang dari mereka tidak mempercayai ceritanya itu pun hanya berdehem pelan dan berdiri dari duduknya untuk berjalan ke arah Raas. “Jika kalian tidak mempercayai ceritaku ini… Kita semua bisa langsung menanyakan kebenarannya pada wanita yang dulu di selamatkan oleh Pangeran Find kecil itu…” Ucap Crown Imperial yang berjalan hendak melewati Raas. Namun Raas yang tahu kemana arah tujuan Crown Imperial itu segera menahan lengan Crown Imperial dan menatapnya dengan sangat tajam. Membuat seisi ruangan menjadi hening saat melihat betapa tajamnya tatapan Raas pada Crown Imperial. Mengundang sebuah pertanyaan di benak mereka semua. Tak sampai di sana, mereka semua semakin terkejut saat sang Raja tertinggi mereka dengan cepat mengeluarkan pedang yang bertengger di pinggang kirinya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya masih menggenggam lengan Crown Imperial. Suara desingan pedang pun terdengar memenuhi ruangan yang hening itu, dan suasan menegangkan akhirnya muncul beriringan dengan hal tersebut. Crown Imperial melirik pada Raas yang menatapnya dengan sangat tajam itu dengan tatapan santai miliknya seolah dirinya tidak takut dengan kibasan pedang yang akan Raas kibaskan padanya. Ziona yang melihat kedua anaknya itu saling menatap dengan tajam, meskipun kini yang di hadapi Raas bukanlah Ea melainkan Crown Imperial, tetapi tetap saja dirinya melihat tubuh Ea di hadapannya saat ini. Maka ia pun segera menghentikan aksi Raas dengan berucap, “Hentikan Raas!” teriaknya. Raas pun melirik ke arah sang Ibu yang kini berdiri dari duduknya dan menatap padanya dengan penuh harap, “Aku pun sudah mengetahui jika saat ini akan terjadi!” Itulah yang kembali Ziona ucapkan pada Raas yang sempat terkejut namun pada akhirnya membuat Raas menurunkan pedangnya dan melepaskan genggaman tangannya pada lengan Crown Imperial. Sementara Zuella yang mendengar ucapan sang Ibu itu segera berkata, “Tunggu Bunda! Apakah Bunda ingin—” “Tak apa Zuella… Aku memang ingin mengatakan hal ini sedari tadi, karena ada beberapa hal yang juga harus ku katakan pada kalian semua.” Ucap Ziona yang memotong ucapan sang anak perempuannya itu, yang merupakan satu-satunya Putri di kerajaan Monitum. “Aku akan membiarkan Bunda melakukan apa yang Bunda inginkan. Tetapi sebelum itu aku membutuhkan sebuah jaminan agar tak ada yang membocorkan rahasia ini!” Ucap Raas yang langsung menatap pada Crown Imperial. Ucapan yang tidak di mengerti oleh para pemimpin Kerajaaan Bawahan Monitum yang lain, namun di mengerti oleh Crown Imperial dan Keluarga Kerajaan Monitum. Crown Imperial tersenyum simpul dan menganggukkan kepalanya, kemudian ia menatap ke arah seluruh orang yang ada di dalam ruangan itu dan mengangkat kedua tangannya seraya membacakan sebuah kalimat yang tidak di mengerti oleh mereka semua. Crown Imperial menurunkan tangannya setelah selesai membacakan kalimat yang ia ucapkan tadi, dan seiringan dengan tangannya yang turun ke bawah itu, sebuah tanda seperti tato tiba-tiba muncul di lengan mereka semua, tanda yang terlihat seperti huruf CG itu terpampang di kulit lengan mereka semua kecuali beberapa orang. “Apa ini… Baginda?” Tanya salah satu Raja muda di antara enam Raja muda Valerian itu yang merasa janggal dengan tanda di lengannya itu. Ia pun mendongak dan menatap pada Raas, meminta sebuah penjelasan dari Raja mereka itu. Raas kembali duduk di tahktanya dan menjawab dengan sangat santai, “Tanda… Itu adalah sebuah tanda bahwa kalian semua telah terikat dengan kutukan Guillotine!” Dan jawaban yang keluar dari mulut Raja tertinggi itu sontak membuat mereka semua terkejut sekaligus ketakutan. Ratu Rwanda yang mendengar kata itu pun segera berdiri dari duduknya, karena ia tahu jika Guillotine adalah kalimat yang pernah Raas ucapkan pada Raja Bodhi sebagai hukuman mati. “Paduka, Apa salah saya sehingga anda mengutuk saya dengan ini?” Itulah pertanyaan yang di tanyakan oleh Ratu Rwanda dengan suara yang parau karena panik. “Baginda, Apa maksud dari ini?!” Tanya Adam yang juga terkejut saat melihat lengan kananya itu, dan mendapati tanda yang sama seperti semua orang yang ada di sana yang sedang panik saat ini. “Baginda maafkan saya tetapi saja…” “Baginda saya mohon jangan hukum saya seperti ini…” “Baginda saya…” “Baginda…” Mereka semua berbicara di saat yang bersamaan dan membuat ruang perundingan itu menjadi riuh, bukan hanya para pemimpin, bahkan para prajurit yang ada di dalam ruanga itu pun ikut berkata dan menyampaikan maaf mereka pada Raas. Suara-suara itu pun mengganggu kepala Raas sehingga ia dengan cepat berteriak pada mereka semua, “Cukup!” Teriakan itu mampu membuat kekacauan yang terjadi di dalam ruangan perundingan itu berhenti dan semua orang kini menatap pada sang pemimpin tertinggi mereka yang berdiri dengan wajah geramnya. “Tidak akan ada seorangpun dari kalian yang mati, jika kalian dapat menjaga rahasia yang akan kami berikan pada kalian saat ini!” Ucap Raas, menjelaskan fungsi dari kutukan mengerikan tersebut pada mereka semua. Sehingga mereka semua kini terdiam di tempat mereka, berusaha untuk menenangkan diri mereka dan meyakinkan diri mereka sendiri jika apa yang di katakan oleh Raas adalah hal yang dapat mereka percayai seratus persen. “Duduklah kalian, dan tidak perlu terlalu khawatir dengan kutukan itu!” Ucap Raas pada mereka semua yang kemudian menuruti ucapan sang Raja dan kembali duduk di tempat mereka. Dan setelah ruangan itu kembali tenang, Raas pun akhirnya duduk kembali ke atas takhtanya dan berkata, “Dengarlah kalian semua… Bunda akan mengakui sebuah pengakuan, dan aku harap kalian bisa menjaga rahasia ini demi nyawa kalian sendiri!” Ucap Raas, membuat mereka semua menganggukkan kepala mereka dan mengerti dengan apa yang harus mereka lakukan dan mengetahui tentang apa yang tidak boleh mereka lakukan. Di saat yang bersamaan dengan itu, Crown Imperial memilih untuk pergi dari ruangan tersebut dan mengembalikan kesadaran Ea. Namun karena keseimbangan dan belum biasanya Ea terhadap apa yang di lakukan Crown Imperial itu, akhirnya membuat tubuhnya jatuh ke atas meja. Sehingga seluruh pemimpin Kerajaan dan Raas dengan cepat menoleh padanya dan terkejut. Raas segera berdiri dari duduknya dan menghampiri Ea yang sedang di bantu Adam untuk duduk kembali ke atas kursinya. “Ea, apa kau baik-baik saja?” Tanya Raas dengan khawatir. Namun sang pangeran yang merasa baik-baik saja itu segera menjawab dengan menganggukkan kepalanya meskipun dirinya merasa sedikit pening. “Lanjutkan saja, Kak!” Ucap Ea yang meminta agar Raas melanjutkan pembahasan mereka dan mengabaikan dirinya yang tidak begitu kesakitan. Raas pun menoleh ke arah sang Bunda dan memintanya untuk segera menjelaskan pada mereka semua mengenai rahasia yang akan mereka katakan. “Bunda…” panggilnya. Ziona pun mengambil napas dan berdiri dari duduknya untuk menatap semua orang yang ada di dalam ruangan itu. “Baiklah… Dengarkan ucapanku, kalian semua!” To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN