Alam bawah sadar

1296 Kata
Raas terdiam ketika pintu ruangan tersebut telah kembali di tutup oleh Adam yang baru saja ia perintahkan untuk meninggalkannya sendiri di dalam ruangan itu. “Hh…” Raas menghembuskan napasnya saat sudah tidak terdapat siapapun berada di dalam ruangan itu. Ia kemudian menatap pada buku yang ada di atas mejanya itu yang sebelumnya sudah sempat ia baca lembar pertamanya. Tangan berkulit pucat itu terulur untuk mengambil buku yang sangat usang namun masih terawat tersebut. “Jika ini adalah sebuah jalan yang di buat untukku… Maka isinya pasti dapat membuatku merasa yakin!” Ucap Raas pada dirinya sendiri dan kembali membuka buku tersebut, membacanya perlahan dan lembar demi lembar. Hingga dirinya melupakan waktu dan suasana sekitarnya. Raas terlalu masuk ke dalam seluruh hal yang tertuang di dalam buku itu. Waktu tanpa terasa sudah beralih menjadi malam, di mana api yang menjadi sumber penerangan di dalam istana tersebut menyala hampir di seluruh pojok ruangan. Tidak terkecuali api yang menjadi sumber penerangan di dalam ruangan Raas yang juga menjadi sebuah lampu untuk menerangi buku yang kini sedang di baca oleh Raas. Raja dengan takhta tertinggi itu kini telah sampai di lembar paling akhir dari buku tersebut, ia juga membaca hal yang sama yang telah di baca oleh Adam, Jiwoo dan Mart sebelumnya. Kemudian hal tersebut lah yang sukses membuat Raas terkejut seraya terdiam. Ia menatapi buku tersebut dengan seksama setelah ia menutupnya. Ia membolak-balikkan buku itu dan memperhatikan seluruh sampul juga tulisan tangan yang ada di dalamnya. “Ini bukan sebuah tulisan yang di tulis oleh Raja Ronce…” Gumam Raas yang memang sudah mengenali tulisan tangan dari mendiang Raja Ronce. Karena beberapa buku dari Raja tersebut telah di berikan padanya sebagai hadiah. Tentu saja hadiah yang juga dangat Raas sukai, karena dirinya gemar membaca. Keyakinan dirinya itu di perkuat dengan fakta bahwa sampul yang di gunakan oleh buku tersebut adalah kulit kayu pohon ek yang terlihat sudah sangat tua yang mungkin berusia ratusan tahun. Karena hanya dengan melihatnya pun Raas dapat membedakan mana kayu yang sudah sangat tua dan kayu yang baru. Raas menyandarkan punggungnya ke sandaran takhta miliknya, ia kemudian menoleh ke arah luar jendela di mana langit sudah gelap di temani ribuan gugusan bintang yang bertaburan. Raas menyimpan buku itu kembali ke atas meja dan berdiri dari duduknya, ia kemudian merapikan jubah miliknya dan keluar dari ruangan tersebut. Karena dirinya merasa jika ia membutuhkan sebuah saran dari sang Ibunda malam ini. Namun kepergian Raas saat itu bukanlah hal yang tepat, karena tak lama dari kepergiannya. Seseorang berjalan dengan tidak bersuara memasuki ruangan Raas itu dan berjalan ke arah meja, menyentuh buku yang telah Adam berikan padanya sore tadi untuk meyakinkan dirinya akan kesempatan yang tersedia.   “Apakah menurut anda, Paduka Raas akan benar-benar mendengarkan nasehat anda, Raja Steven?” Pertanyaan itu di tujukan pada seorang Raja yang kini sedang tenangnya meminum secangkir teh di ruang tengah Kerajaannya. Raja tersebut pun menghentikan pergerakkannya itu dan melirik pada orang yang baru saja bertanya padanya dan menatap padanya dengan rasa tidak bersalah. “Entahlah, Raja Guam! Saya tidak bisa memastikan mana yang akan Raas ambil. Apakah dirinya akan mengikuti nasehat dariku, atau tetap pada pendirian serta keegoisannya itu!” Jawab Steven dengan tidak terlalu begitu berharap lebih. Jawaban yang sukses membuat Raja Guam mengerutkan dahinya dan melirik pada Sagiso yang kini memasukkan sebuah balok gula yang di sediakan di hadapannya. Raja Sagiso yang mendapatkan tatapan itu pun segera berkata, “Hm… Anda benar Steven. Tetapi tidakkah anda dapat melihat bagaimana keputusannya mencondong?” Tanya Sagiso yang kini menoleh ke arah Steven dan Guam seraya mengaduk gelas minumannya tersebut. “Hh… Saya bukanlah seorang peramal dan saya tidak terlalu mengerti dengan sifat Raas. Saya tidak bisa menilainya hanya dengan melihat ekspresi yang ia berikan pada saya tadi. Jikapun kalian melihat ekspresi yang di berikannya tadi, kalian akan merasa bingung!” Jawab Steven yang kembali menjawab pertanyaan kedua temannya itu dan mengaku jika dirinya belum sanggup membaca apa yang Raas pikirkan atau apa yang akan Raas lakukan, karena ia tahu jika Raas memiliki sebuah sikap yang tidak mudah di tebak. “Kalau begitu, untuk saat ini kita hanya bisa menunggu? Manakah yang akan Raas putuskan? Apakah dirinya akan tetap membuang tiga Raja itu ataukah memberikan mereka kesempatan? Itukah yang harus kita tunggu saat ini?” Tanya Raja Guam yang duduk dengan gagahnya di takhta megahnya tersebut. Raja Steven dan Raja Sagiso secara bersamaan menganggukkan kepala mereka, membenarkan apa yang baru saja Guam katakan.   “Tiga orang… Tiga Raja, Tiga pengkhianat, Tiga Ancaman!” Gumam Ea di dalam kamarnya ketika ia mengingat-ingat apa yang di jelaskan oleh Raja Adam, Raja Jiwoo, dan Raja Mart pada sang kakak ketika mereka membela dirinya saat sebelum mereka di usir dari wilayah Istana Kerajaan Monitum. Sang pangeran yang paling di lindungi oleh hampir seluruh Kerajaan itu kini sedang berbaring di atas ranjang tidurnya dengan kedua mata yang masih terbuka dan menatap pada langit-langit kamar miliknya itu. “Jika ini semua di akibatkan oleh Tiga pengkhianat… Maka tidak salah lagi jika Haris, Sebastian dan Josh lah yang melakukan hal ini. Namun jika tiga orang yang di maksud oleh Raja Find itu adalah Raja… Apakah itu berarti hal yang Kakak curigai mengenai Adam, adalah benar?” Gumam Ea yang merasa takut dan terkejut dengan hipotesis dari dirinya sendiri itu. Ia pun segera menggelengkan kepalanya dan berbalik menyamping menatap ke arah luar. “Lalu apa yang di maksud dengan ramalan suci itu?” Tanya Ea pada dirinya sendiri, atau dirinya sebenarnya bertanya pada Crown Imperial yang bersemayam di dalam dirinya yang pasti mengetahui hal itu. Karena ia pun merasa jika sosok di dalam dirinya itu menyembunyikan sesuatu baik darinya maupun dari sang Kakak yang pernah bertanya tempo hari. Sang Pangeran menghembuskan napasnya dan memilih untuk memejamkan matanya dan beristirahat dari segala aktivitas dan hal-hal yang mengganggu pikirannya di hari ini. Ia secara perlahan masuk ke dalam alam bawah sadarnya, melihat sebuah cahaya terang di mana di ujung cahaya itu terdapat sebuah taman yang di hiasi dengan banyaknya bunga mawar.  Langkah Ea terhenti saat dirinya dapat mengetahui jika saat ini ia sedang bermimpi. Hal yang sangat jarang dapat ia sadari ketika tertidur, bahkan ia merasa yakin jika banyak orang yang tidak akan sadar jika diri mereka sedang berada di dalam mimpi. “Tidak, Ea! Kau tidak sedang bermimpi saat ini!” Ucapan itu sukses membuat Ea yang sedang kebingungan itu terkejut dan segera menoleh ke arah kanannya di mana suara tadi berasal. Ketika itu ia melihat seorang lelaki sedang berdiri menatap padanya dan berjalan mendahuluinya ke arah taman itu dan duduk di sebuah kursi yang tersedia di sana. “S-siapa kau?” Tanya Ea dengan terbata-bata karena merasa kebingungan dengan keberadaan dirinya saat ini. Ia menatap pada lelaki yang kini tersenyum di depannya dan menjawab, “Aku Crown Imperial!” Jawabnya membuat Ea terdiam dan tak dapat berkutik mengetahui jika lelaki yang memiliki paras wajah nyaris sempurna itu adalah Crown Imperial yang bersemayam di dalam tubuhnya. “J-jadi maksudmu… Kita…” “Ya… Kita berada di dalam alam bawah sadarmu, tetapi ini bukan sebuah mimpi.” Jawab Crown Imperial yang memang sudah mengetahui apa yang ingin di tanyakan oleh sang Pangeran padanya. Ea pun menghembuskan napasnya guna menenangkan dirinya di hadapan lelaki itu, kemudian sang pangeran itu kembali bertanya, “Untuk apa kita bertemu di alam bawah sadar? Tidakkah kita bicarakan ini seperti saat dulu anda menampakkan wujud anda pada saya untuk pertama kalinya?” Ucap Ea yang merasa sedikit keberatan karena harus kembali terkejut bertemu dengan sosok Crown Imperial yang berwujud berbeda dari sebelumnya. Lelaki tampan itu tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya, ia pun menjawab, “Karena pembicaraan kita ini hanya kita berdua yang boleh mengetahuinya, dan tidak ada siapapun yang di izinkan untuk mengetahuinya, Pangeran!” Jelas Crown Imperial yang berhasil membuat Ea terdiam menatap padanya.  To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN