Raas terdiam memikirkan apa yang harus ia lakukan saat ini, ia memang merasa jika kabar yang di berikan ketiga Raja itu adalah sebuah harapan baginya. Tetapi di dalam hatinya, Raas masih merasa ragu apakah dirinya harus kembali mempercayai ketiga Raja itu ataukah ia tetap mengikuti egonya yang masih sedikit merasa kecewa pada ketiga Raja tersebut.
“Baginda… Apa yang akan anda lakukan?” Jiwoo yang melihat sikap diam Raas saat dirinya telah membaca halaman pertama dari buku itu pun memilih bertanya pada sang Raja tertinggi. Ia sengaja melakukan hal tersebut agar Raas yang tenggelam dalam pertimbangannya itu tersadar dan dapat mengambil sebuah keputusan dengan sadar.
Jiwoo tahu, saat ini Raas pasti sedang mempertimbangkan mana yang harus di pilih antara kesempatan ini, ataupun ego yang di milikinya. Tetapi Jiwoo tidak ingin jika Raas mengikuti egonya yang akan membuat mereka kembali di usir dari Kerajaan dan membuat Raas membuang kesempatan ini yang mungkin saja dapat menjadi sebuah kesempatan yang tepat bagi mereka.
Raas yang mendengar panggilan dari Jiwoo itu akhirnya sadar dari lamunannya dan mengangkat kepalanya kembali menatap pada Adam di hadapannya juga Jiwoo dan Mart yang ada di belakang Adam yang kini menatap padanya.
Raas menghembuskan napasnya dengan pelan, kemudian ia menutup buku itu dan bersandar pada takhtanya. Sebelum berkata, ia pun menatapi satu per satu dari mereka. “Aku akan memikirkan ini terlebih dahulu…” Ucap Raas yang terdengar ragu dengan ucapannya sendiri.
“Raas… Saya tahu, saat ini kau merasa jika apa yang kita temukan adalah sebuah kesempatan yang baik! Maka saya mohon jangan mengikuti ego mu! Kami meminta maaf atas apa yang terjadi sebelum ini, namun semua yang kami lakukan kemarin itu semata-mata karena kami ingin mencari tahu, dan membantumu.” Ucap Mart yang nekat berkata demikian kepada Raas. Sama seperti apa yang Jiwoo pikirkan, Mart tidak ingin mereka kalah hanya karena ego yang di miliki oleh Raas, yang memang sangat mereka kenal.
Raas kembali terdiam dan menatap pada sahabatnya sekaligus Kerajaan terdekat yang memang berada tak jauh dari wilayah Artemisia ini. Raas kemudian menatap pada Mart dengan sedikit menyipit dan menajamkan tatapannya, “Aku tetap membutuhkan waktu untuk memikirkan semua ini, Mart! Tolong jangan membuatku kembali merasa marah padamu!” Ucap Raas yang kini berdiri dari duduknya dan menghadap pada Mart yang ada di depannya itu.
“Hhh…” Mart menghembuskan napasnya dan mengangguk pelan, ia pun kembali beekata, “Baiklah, tapi saya harap kau tidak terlalu lama memikirkan hal ini, Raas….” Ucap Mart.
Raas mengangguk pelan, kemudian melihat pada Jiwoo dan Adam secara bergantian yang akhirnya membuat mereka pun ikut menganggukkan kepalanya. Mart kemudian berbalik untuk keluar dari ruangan tersebut karena ia sudah mengetahui jika Raas ingin di tinggalkan sendiri di ruangannya.
“Selamat sore, Baginda! Kami permisi.” Ucap Jiwoo yang kemudian membungkukkan tubuhnya dan berjalan mengikuti langkah Mart yang sudah membuka pintu tersebut. Sementara Adam yang masih di ruangan itu tidak mengikuti langkah Jiwoo maupun Mart, ia tetap bertahan di ruangan itu dan menatap pada Raas yang kini melirik padanya.
“Ada apa, Adam?” Tanya Raas yang akhirnya bertanya pada Adam yang masih berdiri di sana, saat Raas sudah secara jelas meminta agar mereka meninggalkannya sendirian dan memberikan ruang padanya untuk memikirkan keputusan mana yang akan ia ambil.
Adam yang mendengar pertanyaan Raas itu pun menghembuskan napasnya dan berdiri dengan tegap di hadapan sang Raja, kemudian ia berkata. “Baginda, saya adalah orang yang mengajak Raja Jiwoo dan Raja Mart untuk pergi ke dalam tahanan Raja Aruba dan Find. Jika anda ingin membenci dan tidak mempercayai saya, saya akan menerimanya. Tetapi saya mohon pada anda, jangan membawa mereka berdua ke dalam hal ini. Karena mereka adalah Raja yang paling setia pada anda.” Ucap Adam yang menjelaskan pada Raas jika Jiwoo dan Mart tidak salah, dan ia mengakui jika semua permasalahan itu berawal darinya.
Raas terdiam menatap pada Adam sebelum akhirnya ia kembali berkata, “Lalu? Haruskan aku tidak mempercayaimu? Apakah kau memiliki niat untuk mengkhianatiku, Adam?!” Tanya Raas dengan tegas pada Adam. Lelaki yang memiliki umur yang sama dengan Raas itu segera menggelengkan kepalanya mengatakan tidak pada pertanyaan tersebut.
“Lalu mengapa kau memintaku untuk membencimu jika dirimu sendiri tidak memiliki niat untuk berkhianat, Adam?” Tanya Raas kembali yang akhirnya membuat Adam bungkam, kemudian menundukkan kepalanya di hadapan Raas.
“Keluarlah Adam! Aku akan memikirkan hal ini, dan tunggulah hingga aku memutuskannya!” Ucapan yang di ucapkan oleh Raas pada Adam itu bagaikan sebuah sindiran untuk Adam yang tidak begitu sabaran dengan kata menunggu. Seperti apa yang Raas katakan sebelumnya pada mereka semua untuk menunggu langkah selanjutnya yang justru membuatnya nekat melanggar sebuah larangan yang Raas berikan yang pada akhirnya membuat Raas merasa ragu untuk kembali mempercayai Adam.
Mendengar ucapan tersebut, Adam pun menahan napasnya dan membungkukkan tubuhnya di hadapan Raas. Ia kemudian mengatakan, “Baiklah Baginda… Maafkan saya!” Itulah yang ia ucapkan. Setelahnya ia berjalan keluar dari ruangan itu dan kembali menutup pintu ruangan tersebut.
“Apa yang anda bicarakan dengannya?” Pertanyaan itulah yang Adam dapatkan ketika ia keluar dari ruangan tersebut, dan berbalik menghadap pada Jiwoo juga Mart yang sedari tadi menungguinya di balik pintu itu.
Adam mengehembuskan napas dan menggelengkan kepalanya seraya berjalan meninggalkan tempat tersebut tanpa menjawab pertanyaan dari dua orang Raja yang memiliki umur lebih tua darinya tersebut.
Mart dan Jiwoo yang memang merasa penasaran pun segera mengikuti langkah Adam dan kembali menanyainya, “Jadi, Adam! Apa yang tadi kalian bicarakan?” Tanya Mart kembali yang kini telah berhasil mengejar langkah Adam dan berjalan di sampingnya, sama seperti Jiwoo yang kini telah berjalan di samping kanan Adam.
“Dia hanya membutuhkan waktu! Itu yang ia katakan, Raja!” Ucap Adam menjelaskan pada Mart dan Jiwoo yang kini terdiam dan menganggukkan kepala mereka. Ketiga Raja tersebut akhirnya berjalan keluar dari Istana Kerajaan Monitum untuk kembali ke Kerajaan Nasturtium, Kerajaan di bawah pimpinan Mart tersebut.
“Saya harap kali ini Raas tidak memakan waktu yang lama untuk mempertimbangkannya!” Ucap Mart bergumam ketika ia menaiki kuda hitam miliknya. Adam dan Jiwoo mengangguk di saat yang hampir bersamaan setelah mereka juga berhasil menaiki kuda mereka.
“Sementara kita harus bersabar, dan jangan mengulang kesalahan yang sama!” Ucap Jiwoo yang kini menatap pada Adam yang kembali mengangguk dengan mengerti, mengerti jika ucapan itu di tujukan padanya.
Ketiga kuda milik Raja dari tiga Kerajaan itu pun pergi dari wilayah Istana Kerajaan Monitum, sementara di balkon lantai dua Istana tersebut seorang lelaki yang menggunakan sebuah pakaian yang sangat rapi itu melihati kepergian ketiganya dalam diam. Lelaki itu kemudian menatap ke arah langit yang perlahan mengeluarkan warna jingga yang indah di atas.
To be continued