Prajurit yang tadi memberikan informasi itu pun menganggukkan kepalanya dan kembali melangkah keluar dari ruangan Raas, meninggalkan Raas yang menghembuskan napasnya dan menaruh kepalanya ke atas kepalan tangan yang ia tumpukkan di atas meja di depan takhtanya. “Untuk apa mereka kembali kemari? Apakah mereka tidak jera setelah ku usir dari sini?” Gumam Raas pada dirinya sendiri seraya memikirkan sebuah alasan yang tidak ia ketahui.
“Berikanlah mereka kesempatan.” Raas yang sedang berpikir itu tiba-tiba tediam ketika dirinya mendengar sebuah ucapan yang entah siapa yang mengucapkannya. Ucapan tersebut terdengar bagaikan sebuah bisikan yang sangat pelan namun lembut yang Raas yakini milik seorang perempuan.
“Bunda?” Tanya Raas pada dirinya sendiri, merasa tidak begitu yakin. Namun tetap berdiri dari duduknya dan berjalan dengan cepat keluar dari ruangan itu untuk pergi ke area depan Istana, mencegah agar Prajurit tadi mengusir ketiga Raja yang datang itu.
Raas yang telah sampai di pintu Istana yang sangat megah itu melihat ke arah pagar Kerajaan dimana Prajurit tadi sedang mengusir ketiga Raja yang datang dan ingin menemuinya di hari itu. “Tunggu!” Raas berteriak dengan sangat kencang, membuat seluruh Prajurit yang sedang berjaga di pintu gerbang, serta ketiga Raja yang berdiri di sana pun menoleh ke arahnya.
Raas berjalan dengan sangat cepat menuruni anak tangga balkon Istana dan melangkah menuju gerbang. “Baginda!” Panggil beberapa Prajurit yang cukup terkejut saat melihat kedatangan Raas di tempat itu, padahal Raas sendiri yang sebelumnya mengatakan jika mereka harus mencegah ketiga Raja tersebut untuk masuk ke wilayah Istana Monitum.
“Bukakan pintu gerbang, dan biarkan mereka masuk! Aku ingin berbicara dengan mereka!” Ucap Raas pada para Prajurit yang sempat bingung namun tetap mengikuti perintah dari sang Raja tersebut.
Sementara Raja Jiwoo, Raja Mart, dan Raja Adam yang mendengar jika mereka di berikan sebuah kesempatan oleh Raas itu, merasa bersyukur. Sebab mereka tahu jika sebenarnya Raas memiliki sebuah karakter yang sulit dan keras kepala, sehingga pada awalnya mereka pun tidak berharap lebih jika pada akhirnya mereka akan di usir dari Kerajaan Monitum.
Ketika pintu gerbang itu di bukakan oleh salah satu Prajurit untuk ketiga Raja tersebut, Raas yang berdiri menghadap ketiganya itu mengambil napas dalam-dalam dan mengangguk pada mereka, kemudian berjalan kembali ke arah Istana. Menyisakan sebuah pertanyaan ‘Mengapa?’ di dalam benak semua orang termasuk ketiga Raja yang berdiri di tempat itu. Namun Jiwoo yang merasa jika itu adalah sebuah isyarat yang di berikan Raas pada mereka, segera mengajak kedua Raja lainnya untuk mengikuti langkah dari Raas.
“Ayo!” Ajaknya pada Raja Mart dan Raja Adam. Sedangkan para Prajurit kembali menutup pintu gerbang setelah ketiga Raja itu berjalan masuk ke dalam lingkungan Istana dan mengikuti langkah Raas.
Raas berjalan ke arah sebuah ruangan yang tidak sebesar ruang perundingan kemarin. Ruangan ini berukuran lebih kecil namun lebih nyaman dengan sofa Kerajaan yang ada sebagai sarana untuk duduk di ruangan itu.
Raas duduk di sebuah sofa single dan menatap pada ketiga Raja yang kini berdiri menatap padanya dengan sangat serius. Raas kemudian menghembuskan napasnya dan mempersilahkan mereka untuk duduk di hadapannya, meski dengan suara yang masih terdengar enggan untuk berbicara dengan mereka. “Duduklah!” Hanya sebuah kata itu yang ia ucapkan pada Jiwoo, Adam dan Mart.
Namunn ketiganya tidak cukup berani untuk mengikuti ucapan dari Raas itu karena masih ada rasa bersalah pada “Baginda, kami…”
“Kami ingin meminta maaf atas apa yang telah kami lakukan kemarin, Baginda! Kami mengakui jika hal itu adalah sebuah kesalahan terbesar yang kami lakukan.” Ucap Jiwoo yang langsung memotong ucapan Adam, sebelum Raja muda tersebut memberitahu niat mereka kemari.
Raas yang mendengar permintaan maaf dari Raja Jiwoo yang juga mewakili dua Raja lainnya itu pun hanya menyipitkan matanya dan menegakkan duduknya di hadapan ketiga Raja itu. Kemudian Raas bertanya, “Jadi… Kalian kemari hanya karena kalian sadar jika apa yang kalian lakukan itu adalah sebuah kesalahan terbesar? Kalian kemari hanya untuk meminta maaf?” Itulah pertanyaan yang di tanyakan oleh Raas pada tiga Raja tersebut yang dengan cepat menggelengkan kepala mereka.
“Tidak Raas! Saya, Jiwoo dan Adam tidak hanya ingin meminta maaf padamu. Kami datang kemari karena kami mendapatkan sebuah hal yang harus kau ketahui, yang mungkin saja bisa menjadi sebuah jalan keluar untuk permasalahan yang kita hadapi ini, Raas!” Mart yang juga terseret ke dalam permasalahan para Raja Kerajaan Jajahan Raas itu akhirnya berucap dan menjelaskan apa tujuannya serta dua Raja lainnya itu datang menemuinya hari ini.
Raas pun terdiam menatap mata Mart yang penuh dengan keseriusan saat mengatakan penjelasan itu padanya, yang akhirnya membuat Raas menganggukan kepalanya dan berkata, “Baiklah... Aku akan memberikan sebuah kesempatan untuk kalian menjelaskan apa yang kalian temukan ini. Maka selanjutkan akan ku pertimbangkan lagi apakah aku harus kembali mempercayai kalian atau tidak!” Itulah jawaban yang di berikan oleh Raas pada ketiganya.
Adam yang menjadi satu-satunya Raja termuda di antara kedua Raja lainnya itu tersenyum dan melangkah agar berdiri lebih dekat dengan Raas meskipun memang jarak mereka terbilang cukup jauh karena terhalang oleh sebuah meja di hadapan Raas tersebut.
“Kami menemukan sebuah buku yang ada di Kerajaan Shamrock. Pada awalnya kami hanya ingin mencaritahu mengenai sihir ini, dan meyakini jika mendiang Raja Ronce mempunyai sebuah keterangan mengenai hal ini. Namun ketika kami berada di sana, kami mendapatkan hal yang lain…” Ucap Adam yang menjadi wakil dari kedua raja lainnya untuk menceritakan bagaimana kejadian yang telah mereka alami dan apa yang mereka temukan sehingga mereka berniat untuk memberitahu Raas mengenai hal itu.
“Apa?” Tanya Raas yang penasaran, ia menatapi Adam yang kini mengeluarkan sebuah buku dari dalam sebuah tas yang ia bawa di balik jubahnya itu. Mata Raas menyipit ketika ia melihat buku tersebut yang mempunyai sampul terbuat dari kulit kayu pohon ek yang sangat terkenal dengan kekuatannya. Raas pun dapat membaca dengan jelas judul dari buku tersebut yang tertulis dengan tulisan tangan yang sangat rapi, The last Clairvoyant Eight.
Raas kemudian kembali menatap pada Adam dan dua Raja lainnya di belakang Adam, dan bertanya pada mereka, “Ada apa dengan buku ini?” Tanya Raas yang sepertinya enggan untuk membaca buku tersebut dan lebih ingin mendengar penjelasan dari Adam, ataupun dua Raja lainnya.
Adam menarik napasnya dengan dalam kemudian menjaskan sebuah isi yang membuat mereka merasa yakin jika itu sebuah jalan bagi mereka untuk menyelesaikan permasalahan yang di akibatkan oleh Sihir Renascent ini. “Kami telah membacanya Baginda, dan kami menemukan dengan fakta bahwa ada sebuah ramuan yang dapat memberikan satu permintaan bagi siapapun yang meminumnya. Jadi kami rasa ini adalah sebuah jalan keluar terbaik untuk kita semua, Baginda!” Ucap Adam pada Raas yang kini merasa tidak percaya dengan ucapan tersebut. Raas pun memajukan dirinya dan mengambil buku tersebut, kemudian ia membuka halaman pertama buku itu yang bertuliskan.
Ini adalah kisah yang ku alami, yang menjadikan diriku menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Aku juga ingin mengatakan terimakasih kepada Faikar yang membuatku dapat melihat seluruh permasalah dari banyak sisi. Tenanglah di sana…
Raas terdiam saat membaca paragraf pertama dari buku tersebut.
To be continued