Dua cowok penuh kharisma itu kini menjadi pusat perhatian Karin. Mereka tampak berbincang serius sambil berdiri berhadapan di salah satu sudut terbuka lantai dua bangunan ini. Cowok yang berdiri di sebelah kiri, si preman sekolah bernama Gara dengan postur tubuh tinggi menjulangnya yang mungkin hampir mencapai angka 180 cm melipat tangannya di depan d**a sambil tersenyum memandang lawan bicaranya.
Cowok yang satu lagi merupakan cowok yang sempat hadir dalam fantasi serta hayalan indah sebelum tidur Karin. Cowok bernama Rama, dan nama itu selalu memiliki ruang tersendiri dalam relung hati Karin. Rama yang tubuhnya hanya empat senti lebih rendah dari Gara tampak memandang frustasi cowok di depannya itu. Ia terus mengeluarkan kalimat-kalimat yang tak dapat Karin dengar dengan jelas. Dan itulah yang membuat Karin tak dapat memahami apa yang saat ini tengah mereka perdebatkan.
"Ckckck..." Decakan Derry itu seketika mengagetkan Karin yang langsung mendongak dan menatap terpana dirinya yang hadir secara tiba-tiba. "Rin, gue kasih tau nih yaaa, kalo lo ngarepin satu dari mereka berdua... lo cuma buang-buang waktu!" ucap Derry sinis dengan sorot mata yang terarah pada dua sohibnya di depan sana.
"Bagi Gara, Sabrina itu segalanya. Biar lo secakep Maudy Ayunda, atau lo seimut Prilly Latuconsina, tetep aja... di mata Gara, Sabrina itu lebih dari segala-galanya. Apalagi Rama! Tu anak udah punya cewek! Cakep lagi ceweknya, kuliah di Australi, keren nggak tuh? Cewek kayak lo gini, udah pasti lewatlaaaah. Nggak ada apa-apanya lo buat dia!" ungkap Derry panjang lebar entah dengan tujuan apa.
Lagi-lagi Karin tak bersuara. Dalam hati ia bertanya-tanya mengenai apa yang tadi dikatakan Derry itu benar. Kak Rama udah punya pacar? Dan pacarnya itu lagi kuliah di Australi? Sejenak ada perih yang menyergap Karin dari dalam dirinya dan menjalari sekujur tubuhnya.
"Jadi saran gue nih yaaa, mending lo ganti target aja! Ganti nih pikirin gue, harepin gue, yang udah jelas-jelas lebih cakep dari mereka, dan yang pasti seratus persen masih jomblo!" tutur Derry kemudian dengan gaya ala sales yang tengah mempromosikan produk unggulan dari perusahaannya.
Namun siapa sangka itu ternyata malah berhasil mengusir perih yang dialami Karin. Rasa mual itu pun hadir seiring dengan perkataan Derry yang mengandung unsur kepercayaan diri tingkat tinggi dan yang dianggap Karin malah terlalu berlebihan dan membuat cewek itu ingin muntah saat itu juga.
"WOY! Lo denger gue nggak?" bentak Derry dengan melambai-lambaikan satu tangannya tepat di depan wajah Karin yang sejak beberapa detik tadi hanya bisa melongo menyaksikan Derry mempromosikan dirinya sendiri.
Karin mengangguk. "Denger, Kak... kuping gue masih normal!" jawabnya cuek.
"Ya udah! Tunggu apa lagi? Selesain kerjaan lo!" Derry mendadak kembali marah-marah dengan kejam, sangat kontras dengan ungkapan panjang lebar seputar kejombloan dirinya tadi. "Kalo sampe gue nemuin lo masih terpesona ngeliatin mereka dengan nggak pentingnya... gue nggak bakal pulangin lo sampe besok pagi!" ancam Derry.
Karin yang saat itu telah selesai membereskan lantai dua yang baru saja digunakan untuk pertemuan Derry dan puluhan teman-teman kelas dua belasnya otomatis menyanggah, "Udah selesai kok, Kak! Nggak liat apa segitu udah beresnya?"
Derry mengamati sekeliling, dan sepertinya memang area ini sudah lebih rapi dari ketika cowok itu memerintahkan Karin beberapa saat yang lalu. "Liatlah! Mata gue masih normal!" balas Derry seakan mengikuti gaya Karin sebelumnya.
"Ya udah kalo gitu gue mau pulang," sahut Karin sambil meletakkan begitu saja kain lap yang tadi digunakannya untuk mengelap meja terakhir di area itu.
"Pulang aja sendiri sana! Gue masih ada urusan!" jawab Derry tak peduli.
Sebuah senyum tersungging di bibir Karin yang tak menyangka Derry akan membiarkannya pulang semudah itu. "Makasih, Kak!" ucapnya semangat, lalu segera berlari menuruni tangga sebelum Derry berubah pikiran. Dan senyuman itu masih terus bertahta indah di wajahnya seiring dengan kepergiannya.
Mendadak Derry sadar apa yang secara refleks keluar dari mulutnya barusan. Membiarkan cewek itu pulang sendirian, sama saja dengan membiarkannya bebas merdeka. Dan pada akhirnya, meskipun ia harus repot-repot mengantarkan Karin pulang, setidaknya Derry masih merasa menang karena dengan itu dia masih bisa sejenak menggoda cewek itu, dan yang terpenting, membuat cewek itu merasa terus terkekang dalam kekuasaannya.
Derry pun berlari turun mengejar Karin. Ia segera mencekal lengan cewek itu saat keduanya sampai di teras depan. "Gue berubah pikiran! Biar gue yang anterin lo pulang!"
Wajah semangat Karin langsung hilang seketika. Senyuman yang tadi sempat bertahta indah di bibirnya kini memudar begitu saja. Apa yang ditakutkannya ternyata terwujud dengan begitu cepatnya.
"Lo kok jadi cemberut gitu?" tanya Derry, padahal ia sendiri tahu pasti penyebab Karin jadi cemberut seperti itu. "Lo tuh harusnya bersyukur punya bos sebaik gue... gue udah bela-belain ninggalin urusan-urusan penting gue cuma buat nganterin lo pulang... kurang apa lagi coba gue?" Dengan tampang songong dan seakan dia ini manusia paling mulia di dunia, Derry menceramahi Karin yang malah jadi semakin kesal karenanya.
Karin menghela napas berat, mencoba bersabar menyikapi kakak kelasnya itu. Lalu dengan kaki yang sengaja dihentakkan keras-keras, ia melangkah ke mobil hitam Derry yang diparkir beberapa langkah dari posisi mereka.
Derry hanya tersenyum sekilas begitu berhasil menggoda Karin dan membuatnya kembali merasa kesal. Entah mengapa, melihat kekesalan di wajah cewek itu kini bagaikan fenomena luar biasa yang difavoritkannya.
Masih dengan memandangi punggung cewek itu, Derry lantas berjalan di belakangnya. Satu menit kemudian, keduanya telah berada di jalan raya menuju ke rumah Karin, duduk bersebelahan di dalam satu mobil yang sama namun dengan ekspresi wajah yang jelas sangat berbeda.
***
Lelah menunggu Karin yang tak kunjung pulang dari sekolah, Danar akhirnya memutuskan untuk pergi seorang diri. Diliriknya sesaat jam dinding yang telah menunjukkan pukul tiga lewat beberapa menit, lalu segera dimatikannya televisi yang sejak setengah jam yang lalu menjadi pusat perhatiannya.
Cowok bertubuh tegap itu lantas bangkit dari sofa dan melangkah meninggalkan ruang keluarga yang merupakan ruangan terluas di rumah itu. Ia melangkah santai melewati ruang tamu bernuansa vintage yang terasa hangat dan keluar melalui pintu utama rumahnya. Pintu ganda dari kayu berpelitur yang diapit oleh dua jendela dengan petak-petak kaca khas bangunan bergaya kolonialisme.
Dari posisinya saat ini, Danar bisa melihat sebuah mobil mewah tengah berhenti di depan gerbang rumahnya. Detik berikutnya, seorang cewek berseragam putih abu-abu keluar dari salah satu pintu depannya. Baru disadarinya ternyata cewek itu Karin ketika pintu gerbang dibuka dan Karin berjalan memasukinya. Tak lama setelah itu, mobil hitam itu pun berlalu pergi. Hilang dari pandangan akibat tertutupi tembok tinggi di sisi kiri halaman rumahnya.
Dari wajah Karin yang tertunduk lesu seiring langkahnya, Danar tahu ada yang tidak beres dengan gadis itu. Ia pun maju dan bersandar pada salah satu pilar besar rumahnya, siap menyambut adik perempuannya itu. "Nggak balik sama Yoyo?" tanya Danar dengan suara bas yang seksi, tipe suara yang dikagumi para cewek.
Mendengar itu, Karin yang tadi tertunduk lesu langsung mengangkat kepalanya dan mendapati Danar dengan sorot mata menyelidiknya. Segera saja dihampirinya lelaki itu dan buru-buru dipasangnya wajah baik-baik saja, lengkap dengan senyuman termanisnya.
"Nggak," Karin menggeleng. "Tadi aku abis ngerjain tugas dulu bareng sama Luna, makanya si Yoyo aku suruh balik duluan," jawabnya dengan wajah biasa saja.
Danar manggut-manggut namun tidak berhenti sampai di situ. "Terus tadi balik dianterin siapa?"
"Itu tadi kakaknya Luna, Mas," jawab Karin.
"Oooh, terus kenapa tuh tadi muka lo ditekuk gitu?" tanya Danar lagi, seakan memerlukan klarifikasi adiknya itu dengan sedetail-detailnya. "Lo diapa-apain sama abangnya si Luna?" tanya Danar curiga.
Karin sedikit kaget dengan pertanyaan kakaknya itu. Apa segitu jelasnya kekesalan di balik wajahnya saat ini? Namun Karin buru-buru mengelak sebelum Danar semakin merasa curiga. "Nggaklah! Orang itu kakaknya si Luna cewek juga!"
"Cewek pake mobil item gede gitu?"
Deg! Karin semakin takut kebohongannya akan terbongkar karena satu fakta mengenai mobil Derry yang memang nggak ada kesan feminimnya sama sekali. Namun lagi-lagi, Karin berusaha mengelak. "Emang kenapa kalo cewek pake mobil kayak gitu? Bukannya keren banget ya?!"
"Nah itu! Keren banget!" sergah Danar antusias yang sangat jauh dengan dugaan Karin. "Kapan-kapan kenalin gue ke dia ya?" lanjutnya dengan menaikturunkan alisnya beberapa kali. Dasar Danar! Tadi nakutin, sekarang malah jadi sok genit...
Karin diam-diam mengembuskan napas leganya. "Kenalin, kenalin... emangnya di Bandung nggak ada cewek ya?" tanya Karin dengan senyuman. "Oh iya, nyampe rumah kapan, Mas?"
"Tadi, jam sebelas..." jawab Danar kalem. "Eh, makan bakso Om Cipto yuk? Gue lagi kangen berat sama Om Cipto nih..." ajaknya dengan menyebutkan nama pemilik kedai bakso dan mie ayam yang cukup terkenal dan terletak di seberang gapura kompleks perumahan mereka.
Dengan kondisi perutnya yang juga keroncongan, Karin langsung tersenyum lebar dan mengangguk mengiyakan. "Boleh, boleh!" Karin menjawab cepat-cepat. "Bentar, gue taro tas dulu ya?" Cewek itu lantas berlalu masuk ke dalam rumahnya.
Dengan masuknya Karin, Danar tak beranjak dari posisinya. Pikirannya sibuk pada wajah cemberut Karin yang diperlihatkannya saat keluar dari mobil mewah yang tadi mengantarkannya. Jelas ia tahu semua pengakuan Karin itu hanya kebohongan belaka, jelas ia juga tahu bahwa pemilik mobil hitam itu bukanlah seorang wanita, namun dengan alasan tak ingin membuat Karin tertekan, akhirnya cowok itu memilih untuk percaya saja dan menunda sementara rasa curiganya.
Hanya butuh waktu kurang dari lima menit bagi Karin untuk kembali keluar dengan telah mengganti seragamnya menjadi celana abu-abu tiga perempat dan kaos putih bergambar pulau Bali yang dibelinya saat liburan ke sana beberapa bulan yang lalu. Sebuah dompet warna tosca gelap pun kini ditentengnya.
"Mama ke mana?" tanya Karin saat keduanya sedang berjalan menyusuri paving block yang mengarah ke pagar rumah mereka.
"Ke Tante Nur paling," jawab Danar tak yakin dengan menyebutkan satu nama tetangga sebelah mereka. "Eh, ajakin Yoyo sekalian yuk! Biar rame..."
Karin mengangguk dan tak berkomentar lebih jauh. Tanpa sepengetahuan kakaknya, dalam hati Karin berharap bahwa Mario akan dapat bekerjasama dengannya untuk tidak melaporkan dulu pada Danar mengenai masalah yang terjadi di sekolahnya. Ia pun tersenyum dan menggandeng tangan kakaknya.
"Pengen ke Bandung lagi nih, Mas..." desah Karin, memulai obrolan di antara mereka. Dan obrolan itu berlanjut seiring dengan langkah mereka yang mengarah ke rumah Mario dan berlanjut ke warung bakso Om Cipto di seberang jalan kompleks perumahan mereka.
***
Makasih udah baca, semoga kalian makin suka ❤❤
Love sama komentar jangan lupa... Ajak juga teman-teman kalian buat baca Crazy Seniority 2
SEE YOU ON THE NEXT CHAPTER, AND LOVE YOU ❤❤❤