8 [Asisten Pribadi Lo? Mati Aja Lo!]

1678 Kata
"Rin," panggil Mario hati-hati. Lima menit berlalu semenjak cowok itu mulai mengayuh sepedanya menjauh dari area sekolah. "Hmmm?" gumam Karin dengan mengangkat alisnya, walau ia tahu Mario takkan bisa melihatnya karena posisi cowok itu yang membelakanginya. "Kayaknya Derry udah tau siapa lo deh..." ujar Mario, mengemukakan dugaan yang belakangan ini bergejolak dalam jiwanya. Karin jelas mendengar itu, namun perlu waktu baginya untuk berpikir dan kemudian merespon dugaan Mario barusan. Dengan Karin yang masih diam, Mariolah yang kembali angkat bicara. "Soalnya kalo dipikir-pikir... ini semua udah kelewatan, Rin!" tambah Mario yang terus didengarkan oleh Karin, cewek yang saat itu sedang diboncengnya. "Kalo Derry ngisengin lo cuma sebatas dia ngisengin adek kelas doang, sekarang dia pasti udah berhenti dan ganti target lain. Tapi ini, masa lo diisengin, dikerjain, disuruh-suruh terus tiap hari..." "Gue juga sempat mikir gitu sih, Yo!" Karin megangguk-angguk setuju. "Tapi moga aja nggak deh..." lanjutnya seraya berani sedikit beharap. Ketika Mario hendak mengamini harapan cewek itu, Karin lebih dulu berujar, "Besok kan sekolah libur nih... kita lihat hari Senin aja deh. Kalo Derry masih terus gangguin gue, itu fix nggak wajar. Fix juga kayaknya dia udah tau siapa gue." "Terus kalo dia emang udah tau siapa lo sebenarnya, apa tindakan lo selanjutnya?" Karin menggeleng. Selain tak tahu apa yang akan ia perbuat, cewek itu agak merasa ngeri juga bila kenyataannya identitas dirinya telah terbongkar dan diketahui oleh senior-seniornya. "Nggak tau gue, Yo... belum kepikiran sampe situ..." Mario diam saja. jujur dirinya juga tak berani membayangkan bila Karin, sahabat serta tetangganya itu harus menjalani empat bulan terakhir masa-masa kelas sepuluhnya dengan penuh tekanan, gangguan, serta siksaan kakak kelasnya. Sebenarnya semua siswa kelas sepuluh juga pasti mengalami tekanan oleh senior-seniornya di sekolah, namun yang dialami Karin ini jelas berbeda. Dan itulah yang membuat Mario lagi-lagi mengamini harapan Karin yang tadi. Semoga segalanya masih sama. Semoga idenditas Karin dapat terus terjaga setidaknya hingga kenaikan kelas nanti. "Tapi, Yo..." Karin menyela seakan dirinya baru ingat akan sesuatu. "Mas Danar katanya pulang hari ini. Kalo lo entar ketemu dia, gue minta tolong lo jangan cerita-cerita masalah ini dulu yaaaa?!" "Lho kenapa emang?" tanya Mario dengan kening berkerut. Mario tahu betul, Danar sangat menyayangi satu-satunya adik perempuannya itu. Dan Mario juga sangat dekat dengan kakak Karin itu. Dulu sebelum Danar kuliah di luar kota, mereka bertiga sering sekali menghabiskan waktu bersama. Entah itu di rumahnya, di rumah Karin, atau bahkan di tempat-tempat lainnya. Entah itu sekedar ngobrol bersama, makan bersama, atau kegiatan-kegiatan tak penting lainnya. "Bukannya apa-apa sih, Yo... gue pengen cerita sendiri aja, nanti kalo waktunya udah tepat..." jawab Karin. "Jadi lo jangan cerita apa-apa ke Mas danar dulu ya, Yo? Ya Yo yaaa? Yoooo!" seru Karin kemudian, terkesan memaksa. Dengan tingkah Karin yang seperti itu, membuat Mario jadi senyum-senyum sendiri. "Iya Mbak Ayin yang cantiiiik," jawab Mario kemudian, sengaja diimut-imutkan sebagaimana cara dia menyapa Karin dulu saat keduanya masih kanak-kanak. Karin lantas menoyor kepala cowok itu dari belakang. "Apaan sih lo? Jijik ih! Lo tuh udah nggak pantes ngomong kayak gitu ke gue, Yo!" canda Karin dengan gaya mengomelnya. "Mbak Ayin, Mbak Ayin... sok imut lo!" tambahnya lalu ia sendiri pun tertawa. Tawa Karin berhenti saat dilihatnya Range Rover hitam itu menyalip dan berhenti mendadak tepat di depan lintasan sepeda Mario. Karin jelas tahu siapa pemilik mobil mewah itu, dan hal itu kontan membuat cewek itu mengembuskan napas kecewanya. Tak ada rasa kaget ataupun takut sama sekali, yang ada hanyalah rasa sesal akan keadaan yang tak pernah berpihak padanya. Apa boleh buat, dia memang benar-benar apes. Mario yang mendapati sebuah mobil mendadak berhenti di depannya, buru-buru mengerem sepedanya. Hal itu membuat tubuh Karin terdorong ke depan dan tanpa sengaja membenturkan wajahnya ke punggung cowok itu. Sementara itu Mario yang punggungnya terbentur kepala Karin, tampaknya tidak terlalu peduli karena seluruh fokusnya telah tersita oleh mobil di depannya itu. Dari balik pintu kemudi mobil mewah itu, keluarlah Derry dengan aura berkuasanya. Masih dibalut seragam putih abu-abunya, Derry lantas berjalan santai menghampiri Karin yang masih duduk di boncengan sepeda dan tanpa berkedip memandanginya. Ditariknya tangan cewek itu hingga ia turun dari sepeda dan kini berdiri berdampingan dengannya. "Gue tadi nyamperin kelas lo, tapi gue telat. Katanya lo udah pulang duluan," ujar Derry. "Padahal gue udah di depan kelas lo sebelum bel bunyi, jadi yang jadi pertanyaan adalah... lo keluar lewat mana?" lanjutnya yang seakan tengah menginterogasi cewek dengan rambut dikuncir tinggi itu. Tatapan matanya tepat menghunjam manik mata Karin, dan Derry menangkap tak ada sedikit pun binar ketakutan di sana. Sama seperti sebelum-sebelumnya. Mendapat pertanyaan itu, Karin hanya mendengus pelan. Ia tahu Derry curiga. Ia tahu kini Derry juga takkan melepaskannya. Jujur, Karin tak tahu harus menjawab apa. Namun satu yang diketahui dan harus dilakukannya, ikuti saja mau cowok itu. Membantah tak ada gunanya. Melawan tentu hanya buang-buang teaga. "Gue tanya, lo tadi coba kabur dari gue? Lo kira lo bakalan bisa kabur dari gue?" tanya Derry semakin mengintimidasi. "Udah deh, Kak! Yang penting aku udah ketemu. Sekarang mau Kakak apa?" sahut Karin yang malas berbasa-basi. Sementara Mario yang juga telah turun dari sepeda dan kini berdiri memegangi kendaraan roda dua itu sama sekali tak mengeluarkan suara. Ia hanya menyaksikan percakapan keduanya dalam dilema. Dilema antara membela Karin yang berarti membawa petaka, atau memilih selamat dengan tak usah ikut campur urusan mereka. "Masuk mobil gue sekarang!" perintah Derry tegas dan menakutkan. Seperti biasa, Karin tahu itu jenis perintah yang tak ingin dibantah ataupun hanya sekedar didebat. Setelah sebelumnya melontarkan sejenak tatapan memohon pengertiannya pada Mario, Karin berjalan malas ke arah mobil Derry yang berhenti hanya semeter dari posisinya saat ini. Ia melangkah ke sisi kiri mobil, membuka pintu penumpang bagian depan dan segera duduk manis di sana. Ia kembali mendengus kecewa. Benar kata Rama, dirinya memang takkan mungkin bisa kabur dari jeratan kakak kelas s****n itu. Melihat Karin yang telah masuk ke dalam mobilnya dan baru saja menutup pintunya dengan bantingan kekesalan, Derry tak langsung berbalik dan pergi. Terlebih dulu ditatapnya Mario, cowok yang tak berani menatap balik dirinya dan lebih memilih memandangi Karin walaupun cewek itu sudah tak terlihat akibat kaca mobil yang memang cukup gelap sehingga tak memungkinkan bagi orang luar untuk melihat ke dalam. "Nama lo?" tanya Derry dengan tatapan bersorot melumpuhkannya. Mario kontan beralih dari mobil Derry yang tadi menjadi fokus pandangannya ke si pemilik yang tampak begitu songong hari itu. "Mario, Kak," jawabnya pendek, namun sesuai fakta. "Karin itu cewek lo?" tanya Derry lagi, semakin intens menatap cowok yang mulai disergap aura penindasan Derry itu. "Bukan, Kak," jawab Mario hati-hati. Cowok itu lebih memilih berlagak ketakutan dan tunduk patuh pada setiap tindak tanduk Derry daripada sok berani yang nantinya pasti bakal berimbas pada kelangsungan hidupnya di sekolah. "Saya tetangganya Karin." Derry menggut-manggut akan fakta yang sebenarnya sudah diketahuinya sejak lama itu. "Oke, sekarang lo balik sendiri! Biar gue yang nganterin Karin pulang hari ini." Tanpa menunggu respon Mario, Derry langsung berbalik badan dan memasuki mobilnya melalui pintu pengemudi. Segera dijalankannya mobil itu, lalu sesaat diliriknya Karin. Cewek yang duduk tepat di sampingnya itu kini tengah memandang lurus-lurus ke depan. Tentu dia menyadari kehadiran Derry, namun ia lebih memilih untuk mengabaikannya. "Setelah gue pikir-pikir lagi..." Derry memulai dialognya dengan nada suara yang seakan-akan telah memikirkan hal yang akan diungkapkannya ini matang-matang. Bahkan dari kalimat awalnya saja terkesan bahwa waktu sehari semalam tidaklah cukup untuk mempertimbangkan keputusan yang akan segera dikemukakannya pada Karin itu. "Lo kayaknya nggak cocok deh jadi cewek gue!" Karin langsung mendongak. Menoleh ke arah Derry dengan takjub, namun tak bermaksud menyela. "Lo itu lebih cocok jadi asisten pribadi gue!" tambah Derry dengan seringai mengerikannya. "Selama beberapa hari ini... gue akuin, kerja lo oke banget! Lo bawain barang-barang gue tanpa protes, lo bawain gue makanan sesuai dengan yang gue pesan, lo kerjain tugas-tugas gue dengan sempurna... jadi mulai hari ini dan seterusnya, lo resmi jadi asisten pribadi gue!" ucap Derry seenaknya. Karin melongo memandangi cowok yang mengoceh dengan tampang tak berdosa di sebelahnya itu. Namun lagi-lagi, ia tak ingin berkomentar. Ia sudah benar-benar muak dengan berbagai tingkah cowok sok berkuasa di sekolahnya itu. "Sebagai gantinya, lo bakal gue anter jemput ke sekolah!" sergah Derry, tak peduli akan tatapan Karin yang seakan ingin sekali mengikat cowok itu di rel kereta atau bahkan menguburnya hidup-hidup saat itu juga. "Jadi mulai besok... lo nggak usah deh tuh, panas-panasan ke sekolah naik sepeda sama... siapa tuh cowok tetangga lo itu..." lanjut Derry semakin songong. "Gimana, gimana? Keren kan bayaran gue? Udah dikasih naik mobil gue yang mewah ini... belum lagi di sekolah entar lo bakal jadi terkenal karena ke mana-mana bareng gue..." "Udah ya, Kak... gue pusing denger lo ngoceh mulu dari tadi," Karin akhirnya berkomentar juga. Itu juga terpaksa hanya untuk membuat Derry berhenti bicara. "Oke gue jadi asisten lo, terserah apa kata lo!" Dalam hati Karin kini membenarkan dugaan Mario barusan. Dengan Derry menjadikannya pembantu, asisten, atau apalah itu sebutannya, sudah sangat jelas sekali ini tidaklah wajar. Dan satu kesimpulan pun ditariknya dengan penuh rasa kecewa. Bagaimana tidak, selama satu semester lebih dia berhasil menjaga identitasnya, namun kini saat hanya dalam hitungan minggu Derry dan teman seangkatannya itu enyah dari sekolah, identitasnya malah terbongkar. Sungguh bencana yang benar-benar bencana! Sungguh derita di atas derita! Derry tertawa dengan kemenangannya. Benar-benar tak disangkanya Karin akan langsung mengiyakan ini semua. Ia lantas menemukan kekesalan yang mendalam di wajah cewek itu, dan itu tentu saja membuatnya senang bukan main. Inilah saatnya untuk kembali menggoda Karin, asisten pribadinya. "Oke, kalo gitu... peraturan pertama buat lo, jangan pernah tunjukin muka kesal lo itu di depan gue!" perintah Derry sambil berusaha mati-matian menahan diri uintuk tidak tertawa. "Beri gue senyuman termanis lo sekarang!" Karin semakin tak habis pikir dengan cowok itu. Sumpah ya, kalau saja pelaku kriminal itu tidak dipenjara, ingin sekali dirinya meracuni cowok itu dengan kopi sianida atau menyiramkan air keras ke wajahnya yang super ngeselin itu. Dasar Derry sialaaaan! Namun pada akhirnya ditunjukkannya juga satu senyuman di bibirnya untuk Derry yang walaupun tengah menyetir namun lebih menilih wajah Karin untuk dijadikan fokus pandangannya. Senyuman itu benar-benar jauh sekali dari kata manis. Senyuman yang amat sangat dipaksakan, namun berefek pada Derry yang segera memandang lurus-lurus jalanan di depannya dan tertawa sejadi-jadinya. *** Makasih udah baca, semoga kalian tetap suka ❤❤ Tinggalkan love dan komentar juga yaaa, ajak juga teman-temannya buat baca Crazy Seniority 2 SEE YOU ON THE NEXT CHAPTER GENGS, LOVE YOU ❤❤❤
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN