Karin membereskan buku-bukunya tanpa semangat. Belakangan ini, ia tak terlalu bahagia saat mendengar bel pulang sekolah dibunyikan. Bagaimana bisa bahagia ketika selama empat hari terakhir ini kepulangannya selalu disambut oleh Derry yang sudah siap dengan berjuta perintah mengesalkan yang mau tak mau harus dilaksanakannya.
Selama empat hari terakhir ini pula Karin tak pernah absen dari tugasnya membawakan barang-barang Derry serta memesankan makanan untuk cowok itu. Kadang waktu istirahat Karin pun tersita hanya untuk menunggui cowok itu bermain basket di lapangan, mengelap keringatnya saat ia lelah, dan bahkan memijatnya saat permainannya yang menguras tenaga itu berakhir.
"Lo nggak pulang, Rin?" tanya Luna yang duduk di sebelahnya. Cewek itu sudah hendak keluar kelas, namun sengaja menunda sejenak tujuannya itu saat dilihatnya Karin diam melamun di posisinya.
Karin tersenyum menanggapinya. Jenis senyuman yang jelas sekali terlihat dipaksakan. "Iya, duluan aja!" katanya pendek. "Sama tolong liatin dong, ada Derry nggak di luar?"
Luna mengembuskan napas beratnya. Ia sadar betul apa yang tengah menimpa Karin saat ini bukan lagi masalah kecil. Awalnya ia mengira Derry hanya menggoda Karin sebagaimana ia menggoda cewek-cewek lainnya, dan itu biasa. Namun saat aksi Derry ini masih berkelanjutan hingga ke hari-hari berikutnya, Luna merasa kasihan juga pada cewek yang duduk sebangku dengannya itu.
"Oke," jawab Luna dengan pandangan prihatinnya. Cewek manis dengan rambut sebahu itu kini mulai melangkah ke pintu. Belum sempat ia sampai di luar, ia langsung berbalik untuk kembali menemui Karin. "Ada, Rin..." ujar Luna dengan suara pelan.
Karin yang tak bersemangat jadi tambah tidak bersemangat lagi begitu mendengar jawaban Luna barusan. Hal itu tentu saja membuat Luna menjadi merasa semakin kasihan dan prihatin akan derita yang dialami cewek itu.
"Lo keluar lewat jendela aja, gih!" usul Luna tiba-tiba. "Gue kasian ngeliat lo dikerjain terus sama Kak Derry."
Karin tak merespon. Ia hanya memandang Luna dengan tatapan tak mengertinya akan ide gila Luna yang sepertinya patut dicoba itu.
"Soal Derry biar gue yang ngurus," tambah Luna dengan tampang meyakinkan.
"Tapi kalo sekarang gue kabur, besok dia bakal nyiksa gue lebih kejam lagi, Lun! Berkali-kali lipat lebih kejam..." elak Karin ragu-ragu.
"Udaaaah itu biar jadi urusan besok! Yang penting sekarang lo bisa pulang selamat aja dulu deh."
Karin terdiam. Ia berpikir matang-matang mengenai ide Luna itu serta risiko yang kemungkinan akan didapatkannya bila melaksanakan ide tersebut.
"Buruan, Rin!" desak Luna.
Dengan desakan itu, Karin pun akhirnya menyetujui ide ringan Luna itu. Dengan cepat ia membereskan buku-bukunya, lalu mulai memanjat kursinya sendiri yang tadi didudukinya. Di sampingnya memang terpasang jendela kaca berbingkai kayu yang cukup lebar, dan dengan segera ia membukanya lebar-lebar.
"Makasih ya, Lun!" ucap Karin dengan disertai senyuman tulusnya. Tanpa sempat menunggu respon Luna, Karin segera memanjat jendela itu dan melompat seketika.
Cewek itu berhasil mendarat dengan posisi jongkok di rerumputan yang tumbuh di lahan kosong antara bangunan kelas sepuluh dan perpustakaan. Lahan itu juga merupakan akses siswa kelas sebelas yang hendak menuju ke parkiran. Oleh sebab itu, area itu pun ramai oleh para siswa, apalagi di jam pulang sekolah seperti sekarang ini.
Karin berusaha berdiri dari jongkoknya, dan langsung terkesima begitu dilihatnya Rama berdiri tepat di hadapannya. Cowok itu sedang menatap Karin dengan ekspresi tak terbaca. Tatapan yang begitu intens yang membuat jantung Karin berdegup tak terkendali.
Bukan saja karena cowok itu merupakan cowok yang selama ini dikaguminya, tapi juga karena cowok itu teman Derry. Dan teman Derry yang baru saja memergokinya kabur lewat jendela, tentu saja sangat berbahaya bagi kelangsungan hidupnya di sekolah.
"Kak... Rama?" Karin menyapa takut-takut. Ini semua gara-gara Luna! Harusnya ia tak usah menuruti ide gila cewek itu tadi. Dengan begitu dia tak harus berada dalam posisi horor nan mencekam seperti sekarang ini.
"Lo pikir dengan lo pulang loncat jendela lo bisa kabur dari Derry?" tanya Rama dingin.
Karin tak menjawab. Cewek itu kini menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Lo dengar ya, Derry itu nggak bakal pernah ngelepasin lo!" ucap Rama kemudian. "Jadi saran gue, lebih baik lo terima nasib aja!"
Karin yang mengira Rama akan menyeret dan membawanya ke hadapan Derry ternyata salah besar. Setelah mengucapkan beberapa patah kata berupa saran yang sangat tidak membantu itu, cowok itu lantas pergi begitu saja, meninggalkan Karin dengan berjuta tanda tanya.
Karin baru sadar dari suasana horor yang tercipta di antara mereka berdua itu beberapa detik setelah kepergian Rama. Ia segera berlari ke arah pintu gerbang sekolah mereka secepat yang ia bisa. Dia telah berhasil melompati jendela, dia juga telah berhasil melewati masa horornya saat bertatap muka dengan Rama, dan kini dia juga harus berhasil keluar dari sekolah dengan selamat.
Karin sampai di luar gerbang dengan napas yang hampir habis. Namun ia sadar ia tak punya waktu untuk berleha-leha dan menikmati bagaimana indahnya bisa kembali menghirup udara bebas. Segera dikeluarkannya ponsel dalam saku roknya. Dipilihnya menu kontak dan langsung dipanggilnya nomor yang tersimpan dengan nama Yoyo itu segera.
"Halo, Yo! Gue hari ini pulang bareng lo! gue udah ada di gerbang selatan, lo buruan ke sini!" pintanya tanpa jeda begitu panggilan itu tersambung.
***
Makasih udah baca, semoga kalian tetap suka... Vote dan komennya juga jangan lupa
Sorry pendek, panjangnya di next chapter aja ya...
Ngomong-ngomong soal next chapter, kira-kira Karin bakal berhasil kabur dari Derry nggak ya?
So, SEE YOU GENGS, AND LOVE YOU ❤❤❤