Dua roda sepeda itu berputar cepat di atas aspal jalan komplek perumahan Golden Harmony Regency yang diteduhi pepohonan besar, melewati serta dilewati kendaraan lain yang lebih canggih dan melaju lebih cepat darinya.
Si pengemudi yang memakai seragam putih abu-abu tampak memandang lurus-lurus dan terus mengayuh sepedanya secara santai, sadar bahwa matahari masih belum terlalu tinggi.
Gadis yang duduk di boncengannya pun tampak santai-santai saja sambil memandangi ponsel di tangannya yang menyala menampakkan gambar-gambar sepatu kets koleksi salah satu situs jual beli online ternama di Indonesia. Gadis yang juga mengenakan seragam putih abu-abu, Gadis yang baru saja naik ke boncengannya beberapa saat yang lalu.
"Rin, semalam gue ke rumah lo tau nggak?!" ujar cowok si pengemudi sepeda.
"Oh ya? Kok gue nggak tau?" sahut Karin yang sejenak mendongakkan kepalanya dari layar ponselnya.
Cowok bernama Mario, atau yang lebih sering dipanggil Yoyo oleh Karin itu merespon tanpa menoleh ke belakang. "Ya nggak taulah! Orang pas gue ke situ lonya udah tidur..."
"Oh iya... sori Yo, semalam gue berasa capek banget, jadi belum nyampe jam delapan aja gue udah tidur pulas banget. Kenapa emang lo ke rumah gue?"
"Ya gue pengen tau aja lo kemaren pulangnya gimana... secara kan lo nyuruh gue balik duluan tuuuh," jawab Mario sambil menghentikan sejenak sepedanya yang hendak menyeberangi jalan besar di hadapan mereka. Saat itu keduanya baru saja melewati gapura depan komplek perumahan mereka.
"Uuuuuh perhatian banget sih Yoyo dede gue yang cakep iniiiii," puji Karin dengan nada suara yang dibuat seimut mungkin dan cukup berhasil, meskipun 'imut' bukan merupakan karakter suara yang dimilikinya.
Karin yang satu angkatan dengan Mario telah terbiasa menganggap cowok itu sebagai adik laki-lakinya, hanya karena dia yang lahir di bulan Januari sementara Mario baru lahir sepuluh bulan kemudian. Keduanya telah berteman dan hidup bertetangga sejak masih sama-sama balita dan tetap bertahan hingga kini saat usia mereka hampir beranjak dewasa.
"Mulai deh, mulai deh..." sungut Mario yang tak pernah suka saat Karin berusaha menjadi orang lain dengan tingkah manja dan sok imutnya barusan. Ia lantas mengalihkan topik pembicaraan. "Lo diapain sama Derry kemaren? Gue denger katanya dia nyamperin lo pas pulang sekolah?" tanyanya begitu telah berhasil menyeberang hingga kini cowok itu dapat kembali mengayuh sepedanya dengan nyaman.
Karin tampak biasa-biasa saja menanggapinya. "Oooh Derry? Nggak papa kok gue... lo kayak nggak tau itu senior satu aja. Biasalaaah dia ngegodain cewek-cewek, dan kemaren kebetulan giliran gue yang jadi target dia!"
"Lo diapain aja emang?" tanya Mario lagi seakan belum mendapatkan informasi yang ingin diketahuinya dari jawaban Karin barusan.
Kalau boleh jujur, Karin sebenarnya malas mengungkit kembali masalah ini. Namun sadar Mario takkan berhenti bertanya bila ia tak menjawab, akhirnya Karin memilih jawaban aman walaupun perlu adanya bumbu-bumbu kebohongan di sana.
"Gue nggak diapa-apain, Yooo. Kalem aja deh! Gue cuma di suruh nempelin pengumuman ekskul fotografi di mading-mading, abis itu gue diajakin ketemu teman-temannya, abis itu udah gue pulang."
"Lo pulangnya gimana?"
"Naik angkot," jawab Karin pendek.
Mario ber-oh panjang, lalu kesenyapan kembali terjadi di antara mereka. Senyap yang terjadi akibat mereka tak saling bicara. Senyap yang menyergap sebab keduanya kembali disibukkan oleh aktivitasnya sendiri-sendiri.
Mario sibuk memfokuskan diri pada jalanan di hadapannya yang mulai semakin padat, sementara Karin sibuk memandangi layar ponselnya yang masih belum beralih dari koleksi sepatu milik situs jual beli online ternama di Indonesia itu.
Hal itu berlanjut hingga sepuluh menit kemudian saat gerbang depan sekolah mereka telah tampak di depan mata. Seperti biasa Karin turun begitu sampai di sana, sementara Mario terus mengayuh sepedanya menuju ke parkiran seorang diri.
Karin baru saja hendak menginjakkan kakinya di teras bangunan kelas sepuluh yang berada di deretan gedung terdepan ketika tanpa sepengetahuannya seorang cowok meninggalkan tas ranselnya di hadapan cewek itu.
Si cowok tak mengatakan apa-apa, namun ia menghentikan langkahnya. Ia berdiri menghadap Karin, namun tidak memandang cewek itu sepenuhnya.
Kemudian cowok yang datang dari belakang Karin juga melemparkan tasnya ke arah cewek itu begitu berjalan melewatinya dan kini berdiri di sebelah cowok yang tadi.
Refleks, Karin mengulurkan tangannya untuk menangkap tas yang dilemparkan ke arahnya itu. Mendapat perlakuan tidak menyenangkan, satu u*****n pun secera refleks keluar dari mulutnya.
"What the—" u*****n itu belum terselesaikan ketika Derry muncul di hadapan mata Karin dan membuat cewek itu seketika menutup mulutnya.
"Jadi adek kelas yang baik ya hari ini!" seru Derry ambigu, sementara di bibirnya tersungging senyuman tipis untuk cewek itu. Ia pun bahkan menyempatkan untuk sejenak mengacak rambut di puncak kepala Karin pada awal pertemuan mereka kali ini.
"Mulai dengan bawain tas gue ke kelas, sama tas-tas teman gue juga sekalian," lanjut Derry lembut bersamaan dengan disodorkannya tas punggungnya pada Karin yang masih tercengang memandanginya. Cewek itu merasa kembali terlempar ke dalam mimpi burukanya begitu melihat wajah Derry pagi ini.
"Tapi Kak, kelas kita kan beda arah..." protes Karin walau ia sendiri pun tahu hal itu tak akan memberi efek apa pun. Dengan mood yang mendadak jelek, kekesalan pun tak dapat disembunyikan lagi dari wajah cantik cewek itu.
Derry tampak mengembuskan napas. "Lo pilih bawa tas-tas itu ke kelas gue, atau... lo lebih suka jadi pusat perhatian?" Seperti biasa, Derry enggan menerima penolakan. Dan ancaman itulah yang akhirnya dikeluarkan.
"Mau kejadian kemaren sore terulang lagi? Mau gue tunjukin ke'seksi'an lo di depan teman-teman gue?" tanyanya kemudian dengan tatapan nakal yang membuat Karin mati-matian mengenyahkan bayangan di otaknya mengenai insiden di basecamp sore tadi.
Karin menghentakkan sebelah kakinya, kesal. "Oke, oke!" kata cewek itu akhirnya. Masih dengan wajah cemberutnya, Karin mengangkat ketiga tas punggung milik Derry dan dua temannya yang kini entah menghilang ke mana.
Dengan susah payah menahan beratnya, Karin berjalan kesal meninggalkan Derry di belakangnya. Cewek yang hampir sampai di pintu kelasnya itu kini terpaksa harus berjalan memutar menuju kelas Derry dulu untuk membawakan ketiga tas hitam s****n itu.
Dalam setiap langkahnya Karin mencoba untuk sabar setengah mati dan menahan segala emosi, sementara Derry berjalan di belakangnya dengan senyum yang belum juga pudar dari wajahnya yang hari ini tampak begitu cerah.
Dalam hati ia berujar, ini belum seberapa, Karin Ayudya Putri Nugraha! Siap-siap dan tunggu aja aksi gue selanjutnya!
***
Derry sepertinya sama sekali tak membiarkan Karin menikmati waktunya di sekolah. Derry sebisa mungkin membuat hari-hari Karin di sekolah tak lagi sama seperti biasa.
Setelah tadi pagi menahan Karin untuk terus duduk di sebelahnya—yang mengundang tatapan dengki dan tak suka dari cewek-cewek teman sekelas Derry—hingga bel tanda masuk berbunyi, kini saat bel istirahat pertama berbunyi Derry kembali memanggil cewek itu untuk kembali dimanfaatkannya.
Saat itu Derry baru saja sampai di lapangan depan kelas Karin untuk bermain bola melawan kelas sebelah. Saat itu pula dilihatnya Karin keluar dari kelas bersama beberapa cewek lainnya.
"KARIN!" Derry berteriak dari tengah lapangan. Teriakan yang langsung menyita perhatian puluhan pasang mata di sekitar lapangan, namun tak memberikan efek apa pun pada cewek si pemilik nama.
Entah Karin hanya pura-pura budeg atau benar-benar tak mendengar teriakan Derry barusan, yang jelas cewek itu masih berjalan dengan santainya menuju ke kantin untuk makan siang walaupun teman-teman serombongannya kini mulai tertinggal di belakang akibat ikut curi-curi pandang ke arah Derry yang masih berdiri di tengah lapangan.
Mereka tentu saja mendengar teriakan itu dan saling berbisik satu sama lain menanggapinya. Berbagai tanggapan serta opini muncul di benak mereka mengenai alasan Derry yang meneriakkan nama Karin di tengah keramaian seperti sekarang ini.
"KARIN!" teriak Derry sekali lagi dan kali ini lebih keras dari yang tadi, hingga membuat semakin banyak mata yang mengarah padanya. Namun tetap saja, si pemilik nama terlihat tak peduli dalam langkahnya yang kini sudah benar-benar jauh di depan teman-teman serombongannya.
Derry lantas berlari mengejar cewek itu sebelum ia benar-benar menjauh dan hilang dari jangkauan. Dalam sekejap, Derry pun sampai di depan Karin yang membuat cewek itu terkesiap dan otomatis menghentikan langkahnya.
"Ternyata lo emang suka nyari perhatian ya," ujar Derry yang menatap lekat-lekat manik mata kecoklatan cewek itu. "Oke!" sergah Derry sambil mengangguk, lalu ia alihkan pandangannya ke teman-temannya yang berkumpul di tepi lapangan tak jauh dari posisi mereka. Ditariknya napas panjang seakan tengah menyiapkan tenaga untuk kembali berteriak.
Dan benar saja, Derry pun berteriak ke arah teman-temannya yang hendak memulai permainan bola mereka. "WOY! INI KARIN NIH, ADA YANG MAU LIAT—"
Kalimat Derry itu terpotong akibat Karin yang membekap mulut cowok itu menggunakan kedua tangannya sebelum ia semakin mengundang banyak perhatian. "Mau lo apa sekarang?" tanya Karin, pelan tapi sarat akan kekesalan.
Derry sudah menatap Karin kembali, dan menyadari bahwa cewek itu bukan hanya tak mudah ditakut-takuti, tapi juga tak suka basa-basi. Disentuhnya kedua tangan cewek itu, lalu diturunkannya dari mulutnya hingga kini Derry dapat kembali berbicara.
"Gue mau lo datang tiap kali gue panggil... gue mau lo nurut tiap kali gue suruh... dan gue mau lo liat gue tiap kali gue lagi ngumong sama lo!" jawab Derry dengan bentakan di satu kalimat terakhirnya. Segera direngkuhnya wajah Karin menggunakan kedua telapak tangannya, dan dipaksanya cewek yang tadi membuang mukanya itu untuk menatap balik dirinya.
Karin mencoba bersabar dengan tingkah kakak kelasnya ini. Karin membekap mulut cowok itu untuk tidak semakin banyak mengundang perhatian, tapi perlakuannya barusan benar-benar menggagaltotalkan usaha Karin sebelumnya.
Semua mata yang melintas bahkan kini menyempatkan untuk memandang mereka yang tentu terlihat begitu mesra bila dilihat dari sisi mana pun.
Kini Karin sudah benar-benar pasrah. Lelah dengan segala macam bentuk protes dan usaha yang tak pernah berhasil. Lelah dengan berbagai bentuk pertahanan harga diri yang selalu berakhir tanpa hasil. Ia tak lagi mengeluarkan suara dan hanya menatap balik mata Derry lekat-lekat sesuai dengan yang diinginkan cowok itu.
"Oke, lo ikut gue sekarang!" kata Derry akhirnya. Setelah Karin sudah dapat di'jinak'kan, Derry lantas menyeret cewek itu ke teman-temannya yang belum juga memulai permainan karena masih menunggu kehadirannya. "Keluarin hape lo sekarang!"
Tanpa bertanya untuk apa, Karin menurut saja. Segera dikeluarkannya ponsel di saku roknya, lalu menunggu perintah Derry selanjutnya.
"Lo catat baik-baik!" pinta Derry kemudian, tak terbantah. "Gue nasi goreng pedes, banyakin sosis tapi tanpa bawang goreng. Jangan lupa kasih timun, tomat, sama telor ceplok setengah mateng. Itu pesannya di kantin Mang Jaja. Minumnya teh manis aja, tapi di kantin Mbak Yati. Ngerti?"
Karin akhirnya mengerti maksud Derry meneriakkan namanya sejak tadi itu ternyata untuk ini. Untuk kembali menjadikannya sebagai pembantu yang seenaknya disuruh-suruh. Pembantu masih mending dikasih duit, nah dia? Boro-boro dikasih duit, dibikin malu iya!
Karin mengangguk patuh walau dalam hati memaki-maki cowok b******k di hadapannya ini. Ia pun mulai mengetik perintah Derry itu dalam ponselnya secepat yang ia bisa. "Oke, tunggu bentar!" ujar Karin, kemudian beranjak meninggalkan Derry dan teman-temannya.
"Eits, tunggu dulu!" cegah Derry dengan mencekal satu lengan cewek itu. "Itu kan baru pesanan gue, pesanan teman-teman gue kan belum lo catat..." sambungnya yang membuat Karin melongo memandanginya dengan tatapan tak percaya.
Ini cowok bener-bener ya! batin Karin kesal setengah mati. Sabar Karin, sabaaaar... ucapnya dalam hati, sadar tak ada yang bisa dilakukannya saat ini selain mengikuti saja apa mau cowok b******k yang satu itu.
***
Minta semangatnya buat Karin dong, gengs... Kasian banget tuh, dianiaya mulu sama Derry...
Anyway makasih udah baca part ini, semoga kalian masih tetap suka ❤
So, SEE YOU ON THE NEXT CHAPTER AND LOVE YOU ❤❤❤❤