5 [Karin Seksi? Seriously?]

1585 Kata
Dugaan Karin mengenai dirinya bisa dibebaskan setelah selesai menempelkan lima puluh lembar kertas pengumuman di seantereo sekolah ternyata salah besar. Setelah dirinya merasa lelah mengelilingi seluruh area sekolah yang luas, setelah semua kertas telah habis disebarkan ke mading-mading, kantin, serta berbagai tempat potensial lainnya, setelah tugas yang diperintahkan Derry telah terlaksana, Karin akhirnya kembali ke Derry dengan menenteng botol air mineral yang tadi sempat dibelinya ketika mampir ke kantin. Saat itu, Karin berharap besar bahwa Derry akan membiarkannya pulang dan berhenti menyulitkan hidupnya hari ini. Namun harapan tinggal harapan, karena nyatanya Derry malah menyeret paksa cewek itu untuk masuk ke mobilnya, hingga kini sampailah mereka di halaman gedung lantai dua dengan desain interior mirip sebuah kafe yang merupakan basecamp anak-anak kelas XII penguasa Netrisa. Derry baru saja mematikan mesin mobilnya, dan Karin hanya memandang sebal bangunan di depannya dari balik kaca depan mobil mewah itu. Derry kini membuka pintu untuk segera keluar dari dalam mobilnya, dan Karin hanya diam tanpa ada niatan untuk ikut keluar juga. Derry melangkah menghampiri pintu depan mobilnya di sisi yang lain demi membukanya agar Karin segera keluar, dan Karin sama sekali tak mempedulikannya. Ia terus memandang lurus ke depan, seakan tak menyadari keberadaan Derry. Ia terus memandang lurus ke depan, ke arah belasan kakak kelasnya yang sedang duduk-duduk di teras bangunan. "Keluar lo buruan!" pinta Derry, sambil menahan pintu mobilnya agar tetap terbuka. Karin bergeming. Ia tak bersuara, tak juga bergerak seinchi pun dari posisinya. Tak sabar dengan tingkah cewek itu, Derry pun kembali berlaku kasar terhadapnya. Diraihnya satu lengan Karin, lalu dengan paksa ditariknya cewek itu hingga turun dari mobilnya. Derry lantas membanting pintu mobilnya begitu Karin telah keluar dan seketika itu mereka berdua pun berhasil menyita perhatian. Semua teman Derry yang berada di teras depan kini memandang mereka, walaupun Karin jelas lebih banyak menerima pandangan daripada cowok yang kini berdiri di sebelahnya. Karin dengan bibir tanpa senyumnya, diam saja dengan perlakuan Derry yang kini menyeretnya ke tempat di mana teman-temannya berkumpul. Karin sadar dia tak sepatutnya melawan bila memang masalah ini tak ingin diperpanjang. Karin tahu dia hanya perlu sedikit lebih bersabar untuk dapat keluar dari jeratan Derry si kakak kelas s****n. Dari jauh, Karin dapat mendengar siulan serta sorakan antusias teman-teman Derry yang menyambut kehadirannya. Begitu mereka semakin berjalan mendekat, barulah Karin sadari bahwa tak ada satu pun perempuan di antara kerumunan teman-teman Derry yang tak henti mengarahkan pandangannya ke arah cewek itu. Dari semua cowok-cowok yang ada di sana, pandangan Karin akhirrnya menemukan sosok cowok yang dikaguminya. Rama ternyata ada di sana, duduk santai dengan kamera yang dikalungkan ke lehernya, menyambut kedatangannya dengan tatapan hangat dan senyum tipis di bibirnya. Karin seketika menjadi salah tingkah. Ia yang tadinya cemberut, mendadak jadi gugup dalam cengkeraman tangan Derry yang masih belum terlepas dari lengan sebelah kirinya. "Wiiih, cewek baru lagi, Derr?" Juno menjadi cowok pertama yang bersuara di antara semua teman-teman Derry. Pandangannya tak pernah lepas dari tubuh tinggi nan ramping milik gadis yang berjalan di sebelah Derry. "Cakep tuh! Anak kelas sepuluh?" sahut Bagas yang tengah memegang gitar sambil sesekali melemparkan senyum tebar pesonanya ke arah Karin yang sedang bingung menerka-nerka tujuan Derry membawanya ke tempat ini. Derry dan Karin berhenti begitu sampai di tengah-tengah kerumunan yang tengah duduk dalam kursi dengan formasi tak karuan. Untuk kedua pertanyaan sobatnya barusan, Derry hanya tersenyum lebar. Namun kini cowok itu berniat untuk memperkenalkan Karin secara official. Sebelumnya, disentuhnya kedua bahu cewek dengan tinggi badan yang hampir setara dengannya itu, lalu diarahkannya fokus pandangannya ke semua teman-temannya. "Guys, kenalin... ini Karin!" ujar Derry seakan merasa begitu puas karena telah menghadirkan cewek sesempurna Karin di hadapan kaum pemuja para wanita di depannya itu. Ia lantas menatap Gara yang duduk di kursi paling belakang. "Gimana, Gar?" tanya Derry dengan sebelah alis terangkat. Karin berdiri di sebelah Derry dengan kikuk. Ia benar-benar tak tahu apa rencana yang ada di kepala Derry saat ini dengan mengenalkan dirinya di hadapan seluruh teman-temannya. Karin juga tak tahu ekspresi apa yang harus diperlihatkannya kepada teman-teman Derry itu, terutama kepada Rama yang sejak tadi tak pernah mengalihkan Karin dari fokus pandangannya. Haruskah ia pura-pura tersenyum ramah, ataukah ia harus menunjukkan kembali tampang cemberutnya seperti saat di perjalannya menuju ke sini? "Yaaa bolehlah..." Jawaban Gara yang disertai anggukan samar itu sedikit berhasil membuat Karin kembali ke kesadaran. Dari tiga belas cowok yang hadir di tempat itu, mungkin hanya separuh yang namanya telah diketahui Karin, dan Gara termasuk salah satunya. Kepopuleran Gara di sekolah memang tiada tandingannya. Hampir semua cewek di sekolah pastinya pernah membicarakan Gara dalam obrolan gosip mereka. Gara yang kejam tapi super tampan, Gara yang tajir tapi menakutkan, Gara yang sering berantem serta bikin onar, Gara yang suka menindas adik kelas, serta ribuan topik menarik mengenai Gara yang lainnya. Bagi Karin yang siswa biasa di sekolah, Gara menduduki puncak teratas sebagai siswa paling dikenal di sekolah. Satu tingkat di bawahnya, Derry menduduki posisinya. Derry ini dikenal sebagai salah satu senior paling berkuasa dengan wajah yang lebih tepat dibilang manis daripada tampan. Bila diibaratkan dalam sebuah film, Gara akan cocok memerankan film-film action Hollywood dengan modal kesangaran dibalik wajah tampannya, sementara Derry malah lebih cocok berperan dalam serial drama Disney remaja seperti Hannah Montana, High School Musical dan lain sebagainya. Keduanya memang sama-sama mempesona namun dengan karakter yang berbeda. Derry juga dikenal sangat percaya diri dan memanfaatkan kelebihan parasnya itu dengan menggoda dan mempermainkan cewek-cewek di sekolah, terutama para siswa kelas sepuluh yang mudah sekali dibuat bertekuklutut oleh pesonanya. Selanjutnya, Rama menyusul di urutan ketiga. Semua tahu, Rama itu memiliki pesonanya sendiri. Dengan sikapnya yang dingin dan tak peduli akan keadaan sekitar, dengan dia yang jarang sekali ngomong panjang lebar, Rama jadi terkesan misterius dan membangkitkan rasa penasaran. Di balik wajah kalem yang dipercaya menyimpan amukan badai serta sorot mata setajam elang yang dimiliki Rama, cowok itu juga sama sadisnya dengan senior-senior yang lainnya. "Boleh gimana maksud lo?" sela Derry. "Cantik? Seksi? Putih? Tinggi?" cecar Derry setelahnya. Dirinya sangat yakin bahwa Gara akan mengangguk mengiyakan. Gara diam sejenak. Terlebih dahulu diamatinya tubuh Karin dari ujung rambut sampai ujung kaki yang tentu saja membuat cewek itu merasa risih. Gara lantas mengangguk perlahan, sementara Derry tersenyum lebar menunggu kata 'ya' keluar dari mulut sohibnya itu. "Cantik sih cantik," komentar Gara dengan nada menggantung. "Kalo putih tinggi emang fakta sih..." lanjutnya lalu kembali terdiam. "Tapi kalo seksi... kayaknya kurang deh! Coba... coba, lo naikin dikit itu rok lo!" perintah Gara seenaknya, yang membuat Karin langsung terlonjak di posisinya. Cewek itu bahkan kini mulai memelototi Gara atas ucapannya barusan. Derry lantas menawarkan diri dengan berujar, "Biar gue aja! Ini cewek kayaknya nggak bakalan dengan senang hati ngangkat roknya tinggi-tinggi," yang membuat Karin semakin merasa terancam. Ditambah lagi Derry mulai berani menyentuhkan tangannya di rok abu-abu Karin. Entah Derry akan benar-benar mengangkatnya atau tidak, yang jelas Karin kini menepak keras-keras punggung tangan Derry yang secara otomatis membuat cowok itu kembali menjauhkan tangannya dari rok selutut yang dipakai Karin. Aksi Karin itu disambut gelak tawa oleh teman-teman Derry yang menyaksikannya. "Wiiiiih s***s juga cewek lo, Derr..." Bahkan ada salah satu di antara mereka yang sampai berkomentar seperti itu. "Atau kalo nggak, coba deh satu lagi kancing atas bajunya dibuka," ralat Gara yang semakin membuat Karin melotot tak percaya akan perintahnya. "Pasti deh seksinya bakal keliatan." Kata-kata kurang ajar Gara itu lantas disambut sorakan setuju teman-temannya. Sementara itu Derry menatap Gara dengan pandangan salut akan caranya yang berhasil membuat Karin merasa semakin terpojokkan. Derry akui, untuk urusan seperti ini, Gara memang tak tertandingi. Segera kini Derry mengikuti permainan yang Gara mulai itu dengan menyentuhkan tangannya di kerah baju Karin sebagai upayanya menggertak cewek itu. Namun belum sempat tangannya turun ke bawah untuk menyentuh urutan kedua kancing baju Karin, sebuah tamparan keras sarat akan emosi mendarat di pipi Derry tanpa terduga. "Jangan pernah coba macem-macem sama gue!" desis Karin tajam yang kembali disambut sorakan heboh teman-teman Derry. Detak jantung Karin kini sudah benar-benar tak beraturan. Mukanya pun berubah pucat karena ketakutan, dan dengan sisa-sisa harga diri yang dimilikinya, cewek itu berlari sekuat tenaga dari hadapan Derry dan teman-temannya. Berlari secepat-cepatnya, berlari sejauh-jauhnya, berlari semampu yang dia bisa. Sepeninggal Karin, berbagai desahan kecewa muncul dari cowok-cowok kesepian itu. Tanpa berniat mengejar, Derry hanya memandang kepergian Karin hingga cewek itu menghilang ditelan jarak. Ia lantas mengalihkan pandangannya pada Gara dengan ekspresi nggak jelas. "Gara-gara lo sih, Gar! Niatnya kan gue mau nyuruh-nyuruh dia dulu, sekarang dia jadi kabur gitu... tanggung jawab lo!" "Lha? Gue?" tanya Gara dengan ekspresi super b**o, namun sama sekali tak mengurangi kadar ketampanannya satu persen pun. "Kan tadi lo sendiri yang grepe-grepe tuh cewek!" "Ya itu kan karna lo yang nyuruh! Lo yang udah mancing-mancing gue..." "Emang tadi lo beneran mau ngebuka kancing tuh cewek?" Juno tak dapat menahan rasa penasarannya, hingga pertanyaan itu terlontar begitu saja. "Ya maulaaaah!" jawab Derry tanpa perlu berpikir. "Tapi nggak di depan lo-lo pada!" sambungnya lengkap dengan tangan yang menunjuk-nunjuk, lalu tertawa. "KAMPREEEEET!" maki semua cowok yang ada di situ, kecuali Rama yang tetap tampak kalem di posisinya semula. "Terus lo maunya di mana, Derr?" pancing Rama. "Ya di atas tempat tidur guelah!" jawab Derry enteng, bahkan tanpa perlu berpikir sama sekali. "ANJIIIIIIRRR!!!" *** Ayoooo pada suka nggak sama part iniiiiii? Kalo suka, jangan lupa tinggalin love dan komentar juga yaaa  Anyway, itu aku bikin Karinnya suka sama Rama ya, sama kayak Sabrina. Kenapa? Kenapa? Kenapa? Karena biar makin ngebangun image Rama aja. Rama yang misterius tapi banyak yang diam-diam suka sama dia. Termasuk authornya *Eh? Jujur, nggak tau kenapa, biarpun di sini tokoh utamanya Derry, aku tuh kayak belum bisa move on gitu dari Rama. Kayak masih pengen bagus-bagusin dia teruuuuus. Aaaah Ayang Ramaaaa.. *Tolong abaikan author yang mulai gila So guys, lanjut next chapter apa nggak nih? Dapet sepuluh jawaban yes aja, aku update lagi!!! See you, dadaaah ❤❤❤
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN