4 [Nggak Ada Takut-takutnya]

1865 Kata
Bunyi bel kembali terdengar nyaring di seluruh area SMAN 111 Jakarta. Kali ini merupakan bel tanda berakhirnya jam pelajaran yang menciptakan sorak sorai serta hembusan napas lega dari balik pintu-pintu kelas yang menyimpan puluhan siswa. Secara ajaib, bunyi bel itu juga ternyata mampu menyulap wajah kusut Karin yang duduk di barisan paling depan menjadi kembali berseri-seri. Dengan segera cewek itu merapikan buku-bukunya lalu memasukkannya ke dalam tas. Dengan segera pula ia menyampirkan tali tasnya yang bersimpul pita itu ke bahu kanannya. Setelah sejenak ber-goodbye ria dengan Luna, Karin pun beranjak dari tempat duduknya. Khusus untuk siang ini, ia harus buru-buru keluar dari area sekolah sebelum Derry menemukannya. Khusus untuk siang ini pula, ia harus cepat-cepat sampai di rumah agar bisa terbebas dari segala macam bencana. Tapi ternyata semuanya sudah terlambat. Karin benar-benar shock begitu ia keluar kelas dan mendapati Derry yang ternyata sudah di sana. Menantinya, memandangnya dengan sorot mata yang sulit diartikan, serta menyeringai menyambut kehadirannya. Karin kini benar-benar merasa ini mungkin hari sialnya. Bagaimana tidak, orang yang sangat tidak ingin ditemuinya malah jadi orang pertama yang dilihatnya begitu melangkah keluar dari kelas. Karin berdiri membatu selangkah dari ambang pintu kelas seraya menatap Derry dengan perasaan ngeri. Sementara Derry yang membawa setumpuk kertas di satu tangannya kini perlahan mulai melangkah menghampirinya. "Karin Ayudya Putri Nugraha," sapa Derry dengan sengaja menyebutkan nama Karin selengkap-lengkapnya. Ia lantas berjalan memutari tubuh gadis yang tiba-tiba menjelma menjadi arca batu itu. "Atau... perlu gue panggil elo 'Melly'?" Karin hanya menelan ludahnya dengan susah payah mendengar pertanyaan sinis Derry barusan. Ia tak mampu melakukan apa-apa, ia tak tahu harus berbuat apa, dan ia pun tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena hadirnya Derry di depan kelas X-3 siang itu, tepat saat bubaran sekolah pula, sudah menjadi barang pasti jika hal itu disaksikan banyak orang. Bahkan teman-teman Karin yang masih berada di dalam kelas jadi tak berani keluar, karena Derry yang tampaknya memortal area pintu ruangan. Anak-anak kelas sebelah yang tujuannya ingin pulang pun jadi mampir sebentar karena penasaran dengan kunjungan tak terduga Derry siang itu. Kembali pada Karin. Cewek itu ternyata masih belum berkutik sama sekali, namun siapa saja bisa melihat wajah putih bersih bagai bidadari milik cewek itu kini mulai memerah disaksikan para siswa yang semakin lama semakin bertambah banyak. Sadar cewek itu takkan bersuara, Derry pun akhirnya kembali membuka mulut demi memancingnya berbicara. "Karin... Karin..." panggil Derry sambil geleng-geleng kepala. Ia sudah berhenti memutari tubuh Karin dan kini tengah mnyenderkan siku kirinya ke bahu kanan cewek itu. "Lo sadar nggak lo lagi berurusan sama siapa? Sadar nggak lo habis bohongin siapa?" tanyanya dengan suara keras yang serasa akan memecahkan gendang telinga Karin akibat posisi mulut Derry yang begitu dekat dengan telinga kanan cewek itu. "Tapi jujur, gue akuin lo berani juga!" ujar Derry kembali, namun kali ini dengan suara normal disertai anggukan beberapa kali. Derry kini beralih menghadap cewek yang masih berdiri dengan kedua kaki bergetar itu. Dan semua mata yang menyaksikan mereka dari segala sudut seakan enggan berkedip hingga terus mengikuti inchi demi inchi gerakan yang Derry ciptakan. Semua bertanya-tanya akan masalah apa yang menimpa mereka berdua. Semua penasaran akan apa yang Derry hendak lakukan pada cewek dengan body sekelas model papan atas di hadapannya. "Dan gue suka cewek berani!" seru Derry yang menatap lekat-lekat wajah Karin tanpa mempedulikan puluhan siswa yang sedang menonton mereka secara blak-blakan. "Berani... cantik lagi! Lo jadi cewek gue aja deh, mau nggak?" tembak Derry seketika, yang langsung membuat mata Karin membulat tak percaya. Sebagian siswa benar-benar melongo menyaksikannya, namun sebagian lagi yang sudah memahami betul watak Derry tampak biasa saja. Mereka yang sudah sering menyaksikan Derry menggoda lusinan cewek papan atas Netrisa jelas yakin seyakin-yakinnya bahwa cowok itu sama sekali tak serius dengan ucapannya. Begitu pula dengan Karin yang juga meyakini bahwa kalimat yang keluar dari mulut Derry barusan hanyalah sekedar sensasi belaka yang sengaja diciptakannya. Sadar Karin takkan membuka mulut di tengah puluhan mata yang menyaksikannya, Derry lantas menarik cewek itu menjauh dari kerumunan. Ia sendiri merasa sudah cukup mempermalukan Karin yang berimbas pada wajah yang berubah menjadi semerah kepiting rebus, hingga segera diakhirinya drama pendek yang saat itu tengah dimainkannya. Namun sebelum Derry benar-benar membawa Karin menjauh, terlebih dahulu dipandanginya wajah-wajah yang menatap penasaran ke arahnya. Dengan sikap sok galaknya, Derry lantas berteriak kepada mereka. "Lo ngapain pada masih di sini? Balik lo sana! Nggak dengar apa udah bel dari tadi?" Para siswa yang tak menyangka akan mendapat bentakan semacam itu, sedikit terlonjak di posisi mereka. Namun mendapati tatapan murka Derry, mereka pun sadar bahwa inilah saatnya bagi mereka untuk menyudahi peran mereka sebagai penonton drama gratisan siang itu. Tanpa berani menyahut bentakan Derry barusan, satu persatu dari mereka mulai berbalik badan dan pergi. Hal itu seakan sudah terprogram di otak mereka bahwa jika mereka tak kunjung pergi ataupun mencoba membantah perintah Derry, maka itu berarti cari mati. Bersamaan dengan para siswa yang tidak ikhlas membubarkan diri, Derry menyeret lengan Karin menjauh dari ruang kelasnya. Dengan tarikan kuat tangan Derry di satu lengannya, tentu saja Karin tak dapat menolak hingga mau tak mau ia ikuti saja ke mana Derry akan membawanya. Keduanya baru berhenti di lorong antara gudang olahraga dan sekretariat ekskul Pramuka yang kebetulan sedang sangat sepi. Derry kini menatap lekat-lekat mata Karin yang lama-lama membuat cewek itu merasa jengah hingga akhirnya memilih untuk membuang muka. Dengan satu tangan yang masih mencengkeram erat satu lengan cewek itu, Derry semakin berusaha memojokkan Karin ke tembok sisi koridor. Tanpa berbasa-basi lagi, Derry langsung menyatakan sesuai dengan tujuannya menemui Karin siang itu. "Mana satu lagi kertas gue?" Karin yang masih membuang muka ke arah lain menjawab dengan ogah-ogahan, "Nggak ada!" Derry mendekatkan wajahnya ke wajah Karin yang tampaknya tak sudi untuk menatap balik tatapannya. "Nggak ada apa nggak lo cari?" bentak Derry kemudian. Karin lantas menjawab pelan, seakan ia tengah berbicara pada dirinya sendiri. "Ya percuma cari juga, orang semua kertasnya udah ada di lo semua!" Namun walaupun pelan, Derry yang dengan jelas mendengar kalimat itu dapat merasakan gejolak emosi berupa kekesalan serta rasa muak yang mendalam di balik ungkapannya. Dari situ Derry mulai mengerti, cewek di depannya ini bukanlah tipe cewek yang mudah ditakut-takuti. Dari situ pula Derry sadar bahwa cewek yang kini hanya berdiri dua puluh senti di hadapannya ini merupakan cewek pembangkang yang tangguh dan berani. Derry kini menyentuh dagu Karin demi memaksa wajah cewek itu untuk menghadapnya. "Heh! Kalo lagi ngomong sama gue, liat gue!" Tak ada respon dari Karin. Kini cewek itu memang sepenuhnya menatap mata Derry, namun tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Derry hanya menerima tatapan kebencian, kekesalan, serta sekali lagi rasa muak dalam diri cewek itu. Untuk beberapa saat mereka hanya saling tatap-menatap. Dibiarkannya kesunyian menyergap dan menelan segala rasa yang tak terungkap. Dibiarkannya pandangan menyiratkan berbagai bentuk pengakuan, hingga akhirnya Derry yang memilih untuk mengakhiri keterdiaman di antara mereka berdua. "Oke," seru Derry. Bahkan ia sendiri pun heran kenapa kini segalanya terasa canggung. Mungkin karena cewek cantik itu terus-menerus menatapnya tanpa berkedip bisa menjadi satu alasan, namun saat itu juga Derry menepiskan alasan tak masuk akal yang mendadak melintas di pikirannya itu. "Biar gue perjelas... pertama, lo udah bohongin gue, ngasih identitas palsu ke gue, dan sekarang lo ngilangin satu kertas berharga gue!" Derry berujar santai, namun santai yang tetap dikategorikan sebagai perbincangan antara penguasa dan rakyat jelata. Santai yang tetap memiliki kesan tak terbantah dan merendahkan. "Lo tau, tindakan lo ini sama aja kayak lo lagi cari masalah sama gue... dan kalo lo udah cari masalah sama gue, jangan harap hidup lo di sekolah bakal sama! Jangan harap lo bisa ngisi jam istirahat di kantin sambil makan dan ketawa-tawa! Jangan harap lo bisa pulang bareng temen-temen lo seperti biasa!" Panjang lebar Derry mengungkapkan semua itu dengan nada mengancam, sementara Karin tampak biasa-biasa saja di posisinya yang sudah sangat terpojokkan oleh tubuh Derry yang semakin maju dan mendekat ke tubuhnya. Derry lalu menyentuh tangan Karin dan menengadahkannya. Namun sebelum cowok itu sempat memindahkan setumpuk kertas yang dibawanya ke tangan Karin, cewek itu mendadak memasukkan tangannya ke saku roknya. Dari sana, dikeluarkannya ponsel yang ternyata sedang bergetar tanda adanya panggilan masuk ke nomornya. Karin menatap Derry sejenak seraya berkata penuh penekanan, "Bentar, ini penting!" Setelah itu dengan wajah tanpa dosa, Karin mendekatkan ponsel itu ke salah satu teliganya. What the hell? Beneran nggak ada takut-takutnya ya ini cewek! maki Derry dalam hati sambil masih menatap tak percaya kelakuan adik kelasnya ini. Karin sendiri tampak tak peduli akan tatapan Derry dan malah fokus pada orang yang kini tengah berbicara dengannya melalui telepon. "Iya, kenapa, Yo? ... Iya, lo balik duluan aja, gue masih ada urusan... Nggak, gue nggak kenapa-napa... Nggak usah, nggak usah! Nggak usah cari masalah deh! ... Ya paling nanti gue naik angkot... Iya... Oke, daaah..." Selesai itu, Karin kembali memasukkan ponsel itu ke saku roknya. Selanjutnya, ditatapnya Derry yang masih menatap tak percaya akan tingkahnya barusan. Bagi Derry, seumur-umur baru pertama kali ini ada adik kelas yang berani mengabaikannya demi panggilan tak penting seseorang di ponselnya. Dan menurut Derry itu sudah benar-benar keterlaluan. Tindakan Karin ini bukan saja tak menghormatinya sebagai kakak kelas yang notabene memiliki kekuasaan penuh di sekolah, tapi juga sudah benar-benar menjatuhkan harga dirinya. Dan oleh sebab itulah sejak tadi Derry hanya diam tercengang menyaksikan Karin yang berbicara ngalor-ngidul dengan ponselnya, karena pada dasarnya cowok itu benar-benar kaget sekaget-kagetnya akan perlakuan Karin yang tak termaafkan itu. "Gimana jadi?" tanya Karin tanpa semangat. "Kakak maunya saya cari kertas itu lagi?" Karin bertanya kembali. Derry yang baru tersadar dari keterpukauannya akan sikap kurang ajar Karin, langsung melanjutkan rencananya. Kembali disentuhnya satu tangan Karin lalu ditengadahkannya. Dengan cepat diletakkannya setumpuk kertas yang dibawanya ke telapak tangan cewek itu. "Nggak usah!" jawab Derry. "Untuk sekarang, gue mau lo tempel semua kertas-kertas ini di seluruh area sekolah." Karin menerima tumpukan kertas berisi pengumuman seputar ekskul fotografi itu diikuti dengan anggukan malasnya. "Oke," katanya pendek, lalu melangkah ogah-ogahan ke sisi lorong lain yang dijadikannya tempat pertama untuk menempelkan satu dari puluhan kertas di tangannya. "Mana lemnya?" tanya Karin setelah disadarinya Derry hanya menyerahkan murni setumpuk kertas saja padanya. Derry tak menjawab. Mungkin cowok itu tak mendengar pertanyaan Karin akibat terlalu serius memikirkan kembali tingkah keterlaluan Karin barusan. Selain itu, tanpa sepengetahuan Karin, Derry juga tengah memikirkan tindakan apa saja yang akan dilakukannya ke depan untuk membalaskan dendamnya, serta tak lupa juga untuk membayar sikap kurang ajar cewek itu hari ini terhadapnya. Melihat Derry yang diam tanpa fokus pandangan, Karin sadar cowok itu tengah banyak pikiran. Alih-alih mengulang pertanyaannya yang belum terjawab, Karin mendadak ingat bahwa dia masih menyimpan double tape di dalam tasnya. Tanpa memedulikan Derry yang masih diam terpaku di posisinya, Karin membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah double tape dari sana. Dengan bermodalkan setumpuk kertas pengumuman dan double tape kepemilikan pribadinya, Karin lekas menempelkan kertas itu di tembok di hadapannya. Ia lantas beralih ke lokasi lainnya dengan sedikit berlari, berharap penindasan yang dilakukan Derry terhadap dirinya hari ini segera berakhir. Ya, benar-benar tak ada hal lain di dunia ini yang diinginkannya selain lepas dari jeratan Derry, cowok yang dianggapnya tak lebih dari sekedar kakak kelas sok kecakepan, sok berkuasa, serta berjuta sok-sok yang lainnya. *** Segitu dulu yaaa, semoga kalian suka dan nggak bosan bacanya. Makasih buat kalian yang udah ngasih love dan komentar di chapter-chapter sebelumnya, tinggalin komentar juga di sini yaaa Jangan lupa ajak juga teman-temannya buat baca Crazy Seniority 2. So, SEE YOU ON THE NEXT CHAPTER, AND LOVE YOU ❤❤❤
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN