Seperti biasa Karin berangkat sekolah bersama Mario yang tinggal dalam satu komplek perumahan yang sama dengannya. Seperti biasa pula ia membonceng sepeda cowok yang juga belajar dalam satu sekolah yang sama dengannya. Hari Karin pun masih berjalan biasa seperti hari-hari sebelumnya.
Bertemu Luna yang duduk sebangku dengannya. Belajar, ngobrol dan makan siang di kantin seperti yang sudah-sudah. Duduk di kelas, pindah ke teras, balik lagi ke kelas dengan tidak pentingnya. Dan kini ada satu lagi tambahan aktivitas yang jarang sekali dilakukannya, yakni menyaksikan kakak kelasnya yang biasa main basket di lapangan utama tak jauh dari pintu kelasnya.
Memang belum ada tanda-tanda akan hadirnya bencana di kehidupan Karin hari itu. Ia yang dipaksa bergabung oleh beberapa teman sekelasnya tengah menghabiskan jam istirahat keduanya dengan duduk-duduk di bangku semen tepi lapangan sambil menyaksikan segerombolan cowok kelas XII yang adu basket masih dalam balutan seragam putih abu-abu mereka. Seragam yang dipakai jauh dari kata rapi, dan kini bahkan mulai basah oleh keringat yang timbul akibat panasnya suasana serta permainan menyita tenaga yang sedang mereka lakukan.
Karin yang sebelumnya merasa enggan nongkrong-nongkrong sambil cekikikan nggak jelas di tepi lapangan mirip cewek-cewek keganjenan, langsung merasa sedikit girang begitu menyadari cowok itu ternyata ada di sana. Iya, cowok yang dikaguminya kini ada di antara kerumunan yang tengah asyik memperebutkan satu bola berwarna oranye untuk sesering mungkin dimasukkan ke dalam ring yang terpasang di tiang lawan.
Seketika itu, pandangan Karin tak dapat teralihkan darinya. Diamatinya terus cowok tinggi itu mulai dari gerakannya mendribel bola, mengoper serta melemparnya ke dalam ring dari luar garis tiga angka. Terus saja diperhatikannya saat cowok itu terlihat girang dan bertos ria bersama cowok lainnya, lalu kembali fokus ke pertandingan dengan berlari ke sisi lain lapangan demi mencoba menghadang cowok berambut cepak yang saat itu tampak sedang menguasai bola.
"Oooh, gue tau sekarang!" Luna yang duduk tepat di sebelah Karin bergumam sambil menyenggol siku cewek itu. "Cowok yang selama ini lo perhatiin itu Kak Rama kan?" tebaknya sambil cengar-cengir menatap Karin.
Karin seketika terkesiap dan mengalihkan pandangannya dari Rama yang saat itu hanya diam kelelahan sambil menarik napas dalam-dalam. "Apaan sih lo? Kak Rama yang mana aja gue nggak tau," elaknya.
"Yaelaaah, itu yang dari tadi lo liatin mulu!" tukas Luna. "Jangan kira gue nggak tau ya, dari tadi lo merhatiin siapa!"
"Ya... ya gue merhatiin bolanya lah!"
"Udalah, Rin... gue tuh tau banget! Orang dari tadi lo ngeliatin Kak Rama sampe nyureng gitu," sahut Luna seakan tak mau kalah. "Naksir Kak Rama juga nggak papa kali, asal kalo mau selamat yaaa diem-diem aja!"
"Udah ah, gue mau ke toilet! Rese nih, nonton basket sama lo!" dusta Karin, lalu segera beranjak dari posisinya. Ia terpaksa menghentikan aktivitas cuci matanya demi mencegah Luna mengetahui lebih banyak lagi tentang apa yang dirasakannya terhadap Rama.
"Woy! Toilet bukan ke arah sono, Non!" cegah Luna saat melihat Karin yang berjalan ke arah berlawanan dengan toilet terdekat dari lokasi mereka. "Lo sebenarnya mau ke toilet apa mau ngelapin keringatnya Kak Rama?" goda Luna kemudian, disusul dengan cekikikannya.
Karin hanya melemparkan tatapan judesnya pada Luna yang masih duduk bersama cewek teman sekelas lainnya, sementara dirinya yang hendak masuk kelas terpaksa harus memutar arah menuju toilet karena telah terlanjur mengucapkan satu kata tak terencana itu. Dan saat itulah bencana di hidup Karin bermula. Bencana yang bahkan tidak disadarinya. Bencana yang sama sekali tak diharapkannya.
Karin tengah melangkahkan kakinya di tanah berumput menuju ke toilet perempuan ketika tiba-tiba seseorang menabraknya dari samping. Tabrakan itu cukup keras hingga membuatnya terduduk dengan pinggul kiri yang menghantam tanah terlebih dulu. "Aduh! Apa-apaan sih, sakit tau!" gumam Karin refleks ketika dirasakannya nyeri mendalam di bagian pinggulnya.
Si penabrak yang ternyata cowok itu nampaknya baik-baik saja, namun tumpukan kertas yang tadi dibawanya kini berhamburan ke segala arah akibat tabrakannya dengan Karin barusan. Melihat puluhan kertas yang tadi terkumpul di tangannya kini menyebar ke mana-mana, membuatnya langsung menatap murka Karin yang tengah berusaha bangun di posisinya.
"Lo punya mata nggak sih?" tanya cowok itu ngotot, membuat Karin yang merasa menjadi pihak yang tak bersalah dalam insiden itu kontan mendongak. Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika melihat siapa cowok yang barusan menabraknya dan kini tengah menatap murka dirinya.
Itu Derry! Kakak kelasnya yang sok berkuasa dan terkenal suka mengganggu serta menggoda cewek-cewek yang ada di sekolah. Dan Karin sangat tidak ingin berurusan dengannya.
Selama ia bersekolah di sini, ia selalu berusaha menghindar dari hal-hal sekecil apa pun yang berhubungan dengan kelas XII, termasuk tuduhan Luna barusan. Namun untuk saat ini hal itu tampaknya tak dapat terhindarkan lagi.
"Lain kali kalo jalan pake mata!" bentak Derry yang segera disahut Karin dari dalam hati, jalan ya pake kaki, gimana bisa jalan pake mata?!
"Iya, Kak! Maaf, maaf!" ucap Karin sambil menundukkan wajahnya, lalu segera pergi walau dengan pinggul yang terasa nyeri setiap kali kakinya berusaha melangkah.
Baru selangkah menjauh, Derry langsung mencekal lengannya. "Mau ke mana lo?" tanya Derry yang kini beralih mencengkeram erat kedua pundak Karin. "Pungutin dulu kertas-kertas gue, baru lo boleh pergi!" tambahnya dengan nada tinggi.
Mendengar perintah semena-mena itu, Karin yang sejak tadi menunduk kontan mendongak menantang tatapan tajam Derry yang tepat tertuju di wajahnya. "Lho kok saya? Kan Kakak sendiri yang nabrak saya..."
"Oooh, ngejawab lo ya?" potong Derry disertai dengan seringaiannya. Dengan cepat ia mendorong Karin ke tembok laboratorium satu meter di belakangnya. "Berani lo sama gue?" bentaknya dengan mengunci kepala Karin di antara kedua tangannya yang ditempelkan ke tembok di kanan dan kiri kepala Karin.
Kepala Karin yang hanya empat senti lebih rendah dari wajah Derry otomatis menunduk mendapatkan perlakuan seperti itu, sementara ia sendiri langsung menyesali ucapannya tadi.
Ada debar jantung yang bergemuruh, ada rasa takut yang menerkam, serta ada pula rasa muak dan kebencian dalam jiwa Karin pada cowok berparas idaman kaum hawa tersebut.
"Lo ternyata cantik juga!" puji Derry kemudian. Suaranya kini mulai sedikit memelan. "Lo tau apa yang bisa gue lakuin ke wajah cantik lo ini kalo lo berani ngelawan?" lanjutnya kali ini dengan bisikan yang tepat diarahkan ke salah satu telinga Karin.
Ia lantas menyentuh sehelai rambut Karin dan menyelipkannya ke belakang telinga. Perlahan dielusnya sebelah pipi mulus Karin seraya mengatakan, "Lo tau apa yang bakal terjadi sama wajah cantik lo ini kalo lo nggak nurutin perintah gue?"
Karin yang tak mampu menatap balik tatapan Derry itu dalam hati semakin muak mendengar gertakan dan ancaman cowok itu barusan. Jujur, dia sendiri takut berada di posisi itu dengan tubuh Derry yang menempel di tubuhnya, serta hembusan napas Derry yang bisa dirasakannya. Namun Karin pada dasarnya bukanlah cewek yang bisa dibohongi ataupun ditakut-takuti.
Di luar semua itu, dia paham betul Derry takkan berani berbuat lebih jauh lagi dari ini. Di luar semua itu, dia juga sadar sepenuhnya bahwa Derry tidak benar-benar ingin mengancam atau menyakitinya. Dia tahu dan yakin bahwa Derry hanya ingin perintahnya dituruti, sehingga wibawa serta eksistensinya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di antara siswa lainnya dapat terus terjaga dan tetap diakui oleh siapa saja.
Karin hanya diam tanpa mengatakan suatu apa pun, hingga Derry dapat menyimpulkan bahwa cewek itu telah berhasil ditaklukkan. Sesuai dengan dugaan Karin, cowok itu tidak bertindak lebih jauh lagi dan akhirnya memutuskan untuk memberi jarak antara mereka dengan mundur selangkah dari posisinya.
"Gitu kek dari tadi," ujar Derry datar. "Cewek cantik tuh harusnya nurut aja! Nggak usah sok-sokan ngelawan!" lanjutnya dengan tatapan yang tetap tak teralihkan dari wajah Karin yang masih tertunduk. "Sekarang buruan pungutin kertas-kertas gue! lo ambil satu persatu terus kasihin ke gue! Semuanya ada lima puluh!" kata Derry lagi dengan nada memerintah dan tak terbantah.
Karin mengangguk beberapa kali, dan tanpa melirik Derry sekilas pun ia langsung bergerak memunguti kertas-kertas yang ternyata berisi pengumuman seputar ekskul fotografi itu satu persatu. Sementara itu Derry hanya berdiri bersandar pada tembok samping laboratorium dengan kedua tangan yang disilangkan di depan d**a, mengamati baik-baik setiap gerak-gerik cewek bernama Karin itu.
Bel tanda waktu istirahat berakhir tiba-tiba berdering menandakan semua siswa harus kembali ke kelas mereka secepatnya. Karin yang melihat masih ada puluhan kertas lagi yang belum dipungutnya kini menoleh ke arah Derry dengan tatapan penuh tanya mengenai bel yang baru saja berdering itu.
Namun Derry tampak mengacuhkannya, walaupun ia mengerti betul maksud tatapan Karin barusan. Akhirnya Karin pun memutuskan untuk mempercepat aktivitasnya memunguti kertas-kertas itu, agar ia juga bisa cepat kembali ke kelas. Namun bagaimana bisa cepat bila Derry menginginkan cewek itu untuk memungut serta menyerahkan kertasnya satu persatu?
"Tiga puluh delapan," tukas Derry saat Karin datang membawa kertas ke sekian padanya. Ia segera menerimanya dan Karin pun berlari mengambil satu kertas selanjutnya. "Buruan ah! Lelet banget sih lo, nggak dengar apa tadi udah bel?" komentar Derry seenaknya.
Karin kembali dengan wajah yang sudah basah oleh keringat akibat mondar-mondir dari posisi Derry ke kertas-kertas berserakan yang berjarak lebih dari lima meter itu. "Tiga puluh sembilan." Kali ini Karin yang mengatakan dengan desah napas yang terlihat ngos-ngosan. "Kalo mau cepet, biar gue bawa sekalian aja semua kertas-kertasnya ya, Kak?" Karin lalu memohon penuh harap.
"Lo b***k apa b**o sih?" hardik Derry kejam. "Kalo gue bilang satu-satu ya satu-satu!"
Karin kembali cemberut dan segera mengambil kertas selanjutnya. Ia pun tak berani berkomentar lagi hingga semua kertas telah tak tersisa. Dengan sisa-sisa tenaganya, Karin menyerahkan kertas terakhir itu pada Derry yang masih asyik menyaksikan penderitaannya dari dekat tembok laboratorium.
"Empat puluh Sembilan!" ujar Derry tanpa ekspresi.
"HAH?" Karin bertanya kaget, karena ia yakin betul yang dibawanya kali ini ialah kertas terakhir. "Udah abis Kak, itu kertas yang ke lima puluh! Kertas terakhir..." protes Karin seraya menyeka keringat di dahinya menggunakan punggung tangannya.
"Kurang satu!" jawab Derry tegas. "Cari buruan!"
"Nggak adaaaa," Karin menjawab frustasi. "Kakak salah ngitung kali, coba deh hitung ulang!"
"Eh, lo pikir gue anak SD yang ngitung sampe lima puluh doang kagak becus?!" semprot Derry. "Kalo gue bilang empat puluh sembilan, ya semuanya ada empat puluh sembilan!" Derry makin ngotot. "Dan itu artinya kertasnya kurang satu! Gue nggak mau tau gimana caranya, pokoknya lo kudu temuin kertas itu!"
Karin berdecak kesal menanggapinya. "Tapi gue mau masuk kelas, Kak! Udah bel dari tadiiii," ujar Karin dengan tampang hopeless-nya.
"Apaan lo nyuri-nyuri kalimat gue?! Harusnya gue yang ngomong kayak gitu!" sahut Derry makin ngeselin. "Gue mau masuk kelas, udah bel dari tadi! Pokoknya lo cari tuh kertas sampe dapet, sepulang sekolah gue bakal samperin lo! Kalo sampe tu kertas belum ketemu juga, atau lo coba-coba kabur... awas aja lo!"
Karin benar-benar tak habis pikir dengan tingkah cowok yang satu itu. Kayaknya itu cowok emang benar-benar pengen ngerjain dia habis-habisan deh. Dan itu masih berlanjut hingga pulang sekolah nanti. Come oooon, yang bener aja deeeh? Belum cukup apa dia bikin gue mandi keringat kayak gini? batin Karin seakan berteriak meronta-ronta.
Derry yang tadi sempat melangkah meninggalkan Karin, tiba-tiba berbalik dan kembali menghampirinya. "Oh ya, siapa nama lo?" tanya Derry pendek.
"Melly, Kak!" jawab Karin asal, berharap ini menjadi usaha terakhir namun berhasil membuatnya terbebas dari jeratan kakak kelas s****n itu.
"Melly?" Derry mengangkat alisnya, bertanya dengan tampang tak yakin.
Karin mengangguk mantap.
"Anak kelas mana?"
"X-8, Kak!"
Derry manggut-manggut. "Melly... X-8!" Ia bergumam lalu diam sesaat. "Oke, jangan coba-coba kabur dari gue lo!" lanjutnya dengan sekali lagi melemparkan tatapan membunuhnya ke mata Karin lalu melangkah pergi dari hadapannya dengan membawa setumpuk kertas penyiksa jiwa raga Karin hari itu.
***
Derry ngeselin ya? EMANG!
Gimana chapter ini?
Gimana pendapat kalian tentang pertemuan pertama mereka?
Semoga kalian suka deh
Tunggu juga chapter selanjutnya.
Bocorannya Karin sama Derry bakal ketemu lagi.
Soal Karin yang mengaku bernama Melly bakal ketahuan nggak ya? Derry marah nggak ya nantinya?
Pokoknya, SEE YOU ON THE NEXT CHAPTER GUYS, AND LOVE YOU ❤❤❤