19 [Karin Milik Gue!]

1017 Kata
"CUKUP!" Satu kata itu berasal dari barisan paling belakang kerumunan. Satu kata yang terucap dari mulut Derry yang sejak tadi terus memperhatikan adegan demi adegan yang telah terjadi. Satu kata yang membuat semua mata seketika menoleh ke arahnya. Satu kata yang mampu membungkam semua kata hingga keheningan tercipta dengan sendirinya. Cewek-cewek di barisan paling belakang kontan menahan napas saat menyadari Derry berdiri di dekat mereka. Ada sebagian yang merasa ketakutan dan terancam, namun tak sedikit pula yang berdebar-debar menikamti momen di mana sang idola berdiri begitu dekat dengan mereka. Derry sendiri bersikap santai dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana meskipun kedua matanya menyorot setajam elang ke arah Nada dan teman-temannya. Cowok itu lantas mulai melangkah perlahan hingga kerumunan cewek-cewek itu terbelah dua, memberi celah sempit bagi Derry untuk menghampiri si pemeran utama dalam drama gratisan pagi ini. "Udah cukup, Nad," ujar Derry kalem tapi penuh penekanan. "Seharian gue bebasin lo buat nyuruh-nyuruh dia ternyata masih kurang?" Dengan memicingkan matanya, Derry bertanya sinis. "Belum puas lo merintah-merintah dia di hari ulang tahun lo kemaren? Kayaknya sekarang lo jadi ketagihan ya buat nyiksa dia..." tanya Derry lagi, tetap pada Nada yang masih diam terpana akan kemunculannya. "Ma... maksud lo apa sih, Derr?" Nada tergagap akibat Derry yang semakin berjalan mendekat padanya lengkap dengan tatapan intens yang sama sekali tak teralihkan. Derry menghentikan langkahnya saat telah berdiri tepat di hadapan Nada. Ia kemudian menyentuh kedua bahu cewek itu, dan menatap kedua lensa mata indah Nada dengan sorot melumpuhkan. "Karin milik gue," tandasnya. "Jadi cuma gue yang berhak merintah dia..." sambung cowok itu dengan nada menggantung. "BUKAN LO!" bentaknya kemudian yang membuat Nada agak terlonjak tak percaya dengan perlakuan Derry yang baru saja diterimanya. "Mi... milik lo maksudnya?" tanya Nada seakan menuntut penjelasan, namun ia sendiri tak kuasa bila harus berhadapan dengan Derry yang berapi-api seperti sekarang ini. "Karin itu milik gue!" ulang Derry sekali lagi, mengabaikan begitu saja tampang Nada yang haus akan klarifikasi. "Dan gue peringatin sama lo, jangan pernah ngerusak apa yang jadi milik gue!" Setelahnya, tak ada satu pun dari mereka yang bicara. Semua seakan terhipnotis oleh Derry dengan aura mengancam yang muncul dari dalam dirinya dengan begitu kuatnya. Bahkan Vivi yang biasanya tak pernah gentar melawan siapa pun kini ikut mematung tak jauh dari mereka berdua. Tak ada pergerakan sedikit pun dari tubuh ala Miss Universe-nya, serta tak ada satu pun suara yang keluar dari mulut ala jalapeno pepper-nya. "Karin lo ikut gue!" pinta Derry kemudian. Dilepaskannya kedua tangannya dari pundak Nada, dan kini dialihkannya pandangannya dari wajah Nada ke wajah Karin yang masih terbengong-bengong di antara Rasty dan Alya. Karin yang udah jelek gara-gara kerjaan Vivi jadi makin jelek dengan tampang bloonnya saat ini. "RIN!" panggil Derry dengan teriakan yang ternyata berhasil mengusir mantra sihir di sekitarnya hingga semua patung-patung bernyawa itu kembali tersadar dan perlahan mulai dapat bersikap normal. Refleks, Karin merespon dengan setengah kaget. "Iya, Kak!" "Sini lo!" pinta Derry lagi, masih dengan bentakan. Karin tak bereaksi. Kini ia tak tahu harus menurut pada siapa. Bila menghampiri Derry, itu tak mungkin karena kedua lengannya masih ditahan oleh Rasty dan Alya. Dan sepertinya Derry juga menyadari hal itu. Ia sendiri yang akhirnya berjalan menghampiri Karin dan degan kasar melepaskan cengkeraman Alya dan Rasti di kedua lengan cewek itu. Selanjutnya, digandengnya Karin menjauh dari arena yang menjadi tontonan menyenangkan bagi sebagian siswa kelas sepuluh itu. "Gue cuma kasih pelajaran biar dia nggak songong dan sok kecakepan! Gue juga cuma peringatin dia biar dia sadar serendah apa posisinya di sekolah ini! Dia cuma anak kelas sepuluh, Derr..." teriak Nada tepat sebelum Derry menerobos siswa yang memagar di sisi kiri kerumunan. Teriakan Nada membuat Derry menghentikan langkah dan sejenak berbalik menghadap cewek itu. "Lo nggak denger gue barusan ngomong apa?" tantang Derry dengan wajah mengerikan. "Ini cewek milik gue! Gue nggak peduli dia anak kelas sepuluh, songong atau sok kecakepan... yang jelas gue nggak bakal biarain lo nyentuh apa yang udah jadi milik gue! Gue udah peringatin lo, dan lo pasti tau kalo mulai sekarang gue nggak bakal tinggal diam!" Wajah Nada memucat seiring terlontarnya kalimat demi kalimat ancaman yang keluar dari mulut Derry. Bibirnya sendiri terbuka seakan hendak mengeluarkan sanggahan ataupun pembelaan, namun kata-katanya seakan menguap begitu saja, tertelan betapa horornya perasaan Nada mendapat pelototan menikam dari cowok yang diincarnya sejak berbulan-bulan yang lalu. Mendapatkan itu semua, tak dapat dipungkiri Nada bahwa hatinya juga ikut tercabik-cabik dan terluka. Bagaimana tidak, selama ini Derry selalu terlihat memberinya harapan dan angan-angan kebahagiaan, namun detik ini cowok itu dengan mudah menghancurkan segalanya. Selama ini Derry selalu bersikap manis hingga menerbangkannya ke awan, namun kini Derry menjatuhkannya begitu saja. Derry dengan sesuka hatinya menghancurkan mimpi-mimpi Nada, mempermalukannya di hadapan semua orang, dan pergi meninggalkannya hanya demi Karin yang jelas tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan dirinya. Cowok memang begitu. Setelah satu persatu harapan palsu diberikan, setelah satu persatu kata manis diucapkan, selalu ada titik di mana ia mendatangkan kehancuran. Kehancuran yang menyakitkan, kehancuran yang melukai hati dan pikiran, serta kehancuran yang pasti akan membekas dan sulit untuk dilupakan. Kriiing... kriiiing... Bel tanda dimulainya jam pelajaran pun berbunyi nyaring, memecah keheningan yang semakin terasa mencekam, melelehkan suasana kebekuan yang tercipta di antara mereka semua. Derry yang masih memegangi satu tangan Karin segera menarik cewek itu menjauh dari Nada dan teman-temannya. Dengan diiringi tatapan dengki dari kubu Nada, Karin mengikuti saja ke mana cowok itu menyeretnya. Satu persatu dari para penonton pun mulai membubarkan diri. Bel yang baru saja dibunyikan itu bagaikan penanda bagi mereka untuk segera kembali ke kelas masing-masing dan mengakhiri keterpanaan mereka akan drama murahan yang tercipta antara para penguasa sekolah dan korban yang dianiayanya. Begitu pula dengan Nada, Vivi, Rasty dan Alya. Mereka kompak membubarkan diri meskipun rasa dongkol itu masih bersemayam di dalam d**a. Meskipun tak ada komunikasi yang terjalin di antara mereka, keempat-empatnya tahu yang terjadi hari ini bukanlah akhir dari segalanya. Tentu masih akan ada chapter-chapter berikutnya yang akan memunculkan kembali kejayaan mereka. Jadi tunggu saja tanggal mainnya! *** Sorry pendek Di sini Derry posesif banget ya sama Karin? Tapi tenang aja, cerita ini nggak bakal ganti judul jadi My Possessive Senior kok Intinya, makasih udah baca. Semoga kalian makin suka. Comment jangan lupa, and... tunggu terus next chapternya! SEE YOU GUYS, LOVE YOU ❤❤❤
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN