"Jalan di belakang gue aja... sembunyi di balik punggung gue kalo lo malu diliatin teman-teman lo!" Itu pesan Derry saat Karin terus menerus tertunduk diperhatikan setiap pasang mata yang berpapasan dengan mereka.
Ketika itu mereka tengah berjalan bersisian menuju toilet terdekat yang berlawanan arah dengan para siswa yang hendak masuk ke kelas masing-masing.
Karin mengangguk sekali dan mulai memosisikan tubuhnya di belakang Derry. Disentuhnya kedua bahu cowok itu dari belakang sementara ia sendiri kembali menunduk dalam-dalam.
Sebisa mungkin Karin berusaha menyembunyikan wajahnya dari para siswa yang diam-diam mencuri pandang ke arahnya. Hal itu tentunya membuat Karin mau tak mau mempercayakan Derry sebagai penunjuk jalannya. Ia ikuti saja ke mana cowok itu melangkah, tanpa perlu melihat jalan mana yang sedang ditempuhnya.
Berbeda dengan Karin yang tampak biasa saja, Derry mati-matian berusaha menahan debar jantungnya yang kian memburu dan makin tak stabil. Ia tak tahu apa yang sedang terjadi dengannya, ia pun tak tahu harus mensyukuri atau tidak sikap Karin yang menurut untuk berjalan di belakangnya.
Dan kini Derry benar-benar tegang karenanya. Karena tubuh Karin yang hanya berjarak beberapa senti dari punggungnya, karena hembusan napas Karin yang menembus kemeja putihnya dan menggelitik bagian bawah tengkuknya.
Derry menghentikan langkahnya mendadak saat gejolak dalam jiwanya seakan hendak meledak. Ditariknya napas dalam-dalam sebagai usahanya untuk menjadi lebih tenang dan kembali normal.
Namun usahanya benar-benar tak berguna, saat tindakannya itu malah berimbas pada Karin yang menabraknya dan tanpa sengaja menyentuhkan bibirnya di punggung Derry yang hanya terlapisi kemeja tipisnya.
"Aduh!" Karin memekik antara kaget dan sakit akibat Derry yang tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Ada apa sih, Kak?" tanya Karin dengan memberanikan diri untuk mengintip apa yang terjadi di depan sana melalui sisi kanan tubuh Derry.
Keningnya jadi berkerut saat dilihatnya tak ada apa pun yang terjadi di hadapan cowok itu saat ini. Koridor tampak lengang akibat jam pelajaran yang telah dimulai hingga tak ada lagi siswa yang berkeliaran di luar selain mereka berdua. Lantas apa yang membuat Derry berhenti mendadak?
"Udah nggak ada orang! Ngapain lo masih sembunyi di pungggung gue?" tanya Derry saat telah berhasil menguasai dirinya. "Suka banget lo ya deket-deket gue?" sindirnya kemudian dengan berusaha mencairkan suasana beku di antara mereka.
Karin memanyunkan bibirnya. Ia merasa Derry yang sesungguhnya telah kembali dan itu membuatnya merasa muak setengah mati. Tanpa berkata-kata Karin dengan cepat memindahkan posisinya ke depan Derry dan berjalan ke toilet dengan mendahuluinya.
Toilet perempuan itu kini sudah berada di depan mata. Tinggal melangkahkan kaki beberapa kali, dan cewek itu bisa menghapus riasan yang memeperburuk wajah cantiknya itu.
Satu langkah dari pintu masuk kawasan toilet perempuan, Karin berhenti akibat Derry yang masih terus mengekornya di belakang. "Kak... ini toilet cewek! Nggak bisa baca?" Karin bertanya sinis.
"Terus kenapa kalo toilet cewek?" Derry balik nanya dengan tampang sengaknya.
"Lo mau ikutan masuk? Emang lo cewek?" tanya Karin yang jelas sekali ingin menyindir sisi kejantanan Derry.
Derry terkekeh pelan. "Gue ini cowok sejati, Rin! Perlu bukti? Yuk gue liatin di dalem! Mumpung lagi sepi..." tambahnya sambil cengar-cengir m***m.
Karin jelas tahu ini sebuah pancingan. Mana mungkin Derry punya nyali untuk melakukan apa yang baru saja dikatakannya. Dan sadar akan hal itu, Karin tetap menanggapi omongan ngaco Derry itu dengan santai. "Nggak usah! Gue percaya, Kak..."
Derry tersenyum menggoda, mengangkat bahu sejenak dan melangkah masuk ke dalam kawasan toilet itu mendahului Karin dengan wajah tanpa dosa.
"Kak, lo beneran udah gila ya? Kalo sampe ada yang liat—"
"Kalo ada yang liat malah bagus!" potong Derry. "Derry berduaan sama cewek di dalam toilet... bakalan jadi gosip heboh tuh! Lo jadi makin terkenal, dan gue juga bakal makin populer. Oke nggak?" tanyanya dengan menaikturunkan kedua alisnya beberapa kali.
Karin mendengus pelan, harusnya dia tahu Derry itu cowok seperti apa. Ia hanya mengejar popularitas, tapi memang itu membuat Karin dapat sedikit merasa lega. Kini cewek itu yakin akan tetap aman meskipun Derry mengikutinya masuk ke dalam.
Dan di sanalah Karin sekarang. Berdiri menghadap cermin memanjang, menatap tak percaya akan betapa buruk dan konyol pantulan wajahnya saat ini. Namun entah kenapa, cewek itu malah tertawa.
"Kenapa lo? Suka didandanin kayak gitu?" Derry bertanya heran dengan sikap aneh Karin. Cowok itu tengah menghadap Karin, duduk santai di atas celah kosong antara satu wastafel dengan wastafel yang lainnya.
Karin mulai menarik tisu gulung dan membasahinya dengan air yang keluar dari keran yang baru saja dinyalakannya. "Enggak... lucu aja gitu ngeliat muka gue ancur banget kayak gitu," jawabnya sambil mengoleskan tisu basah itu ke salah satu kelopak matanya. "Teman-teman cewek lo emang k*****t ya, Kak!"
Derry tertawa menanggapinya. "Salah lo sendiri, ke sekolah aja pake dandan segala. Ngapain sih? Sengaja lo ya, biar bikin gue jatuh cinta? Iya?" cerocos Derry dengan pedenya. Terus diperhatikannya gerakan demi gerakan yang Karin lakukan demi menghapus semua riasan konyol yang menempel di wajahnya.
Karin hanya memelototi Derry sekilas. Ya kali dia bela-belain dandan cuma buat bikin Derry jatuh cinta? Sumpah, nggak penting banget! Emang terkadang kadar kepercayaan diri Derry yang terlalu over itu mempengaruhi kemampuan nalar dan logikanya.
"Lo kemaren ke mana sih, Kak? Kok seharian gue nggak liat lo," ujar Karin yang mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Fokus pandangannya tetap tak teralihkan dari pantulan wajahnya yang kini tak lagi seburuk sebelumnya.
Lebih dari lima puluh persen dari riasan di wajahnya telah berhasil dibersihkan, dan kini Karin hanya perlu menghapus lipstik tebal yang dioleskan Vivi hingga ke bagian pipi segala.
"Kenapa? Kangen?" goda Derry sambil tersenyum menyeringai.
Mendengar itu, mood Karin yang sempat antusias atas obrolan dengan topik barunya bersama Derry jadi rusak seketika. "Nggak jadi! Udah nggak jadi nanya... nggak usah dijawab!" putus Karin sebal.
Dilemparnya tisu yang sudah berubah warna menjadi merah menyala itu ke tempat sampah terdekat, lalu segera ia menarik ulang gulungan tisu baru tanpa mempedulikan Derry yang masih senyam-senyum nggak jelas di posisinya.
"Udah deh, Rin... gue tau lo kangen gue... ngaku aja deh!" pinta Derry semakin gencar menggoda Karin, meskipun tak ada respon berarti dari cewek itu.
"Nggak!" potong Karin tegas. Ia pandangi wajahnya yang kini sudah bersih sepenuhnya, tersenyum sekilas pada cermin di depannya, dan barulah ia mulai mengalihkan pandangan ke arah Derry yang masih duduk santai membelakangi cermin memanjang itu. "Balik badan lo buruan!" suruh Karin kemudian.
Derry menautkan alisnya, tanda tak mengerti akan perintah Karin itu.
Karena Derry tak langsung menuruti keinginannya, Karinlah yang akhirnya melongok ke balik punggung Derry demi mengecek seberapa parah noda lipstik yang menempel di kemeja putihnya akibat tabrakan mereka beberapa saat yang lalu.
"Ngapain sih lo?" tanya Derry tak mengerti akan sikap Karin saat itu.
"Ada... lipstik gue di baju lo, sini biar gue bersihin..." tawarnya, lalu tanpa menunggu persetujuan Derry, Karin langsung mengambil tisu dan membasahinya.
Ditariknya lengan Derry untuk membuat cowok itu turun dari meja yang dipasangi ubin warna coklat tempat ia duduk, lalu segera Karin berdiri di belakangnya hingga noda lipstik di bawah kerah baju Derry itu terekspos dengan sempurna.
Diperlakukan seperti itu, Derry tak dapat menahan senyuman di wajah tampannya hingga satu ide untuk menggoda Karin itu kembali muncul di otak mesumnya.
"Perlu gue buka baju... biar lo lebih gampang ngebersihinnya?" Derry bertanya pelan sambil menampakkan seringai nakalnya meski ia tahu Karin takkan dapat melihat karena posisinya yang membelakangi cewek itu.
Karin mendesah pelan. Minta ampun ya kelakuan ini cowok satu! "Boleh..." jawab Karin di luar dugaan Derry.
Sebelumnya cowok itu mengira bahwa kali ini Karin akan terpancing emosi untuk memarahinya, namun Derry benar-benar salut dengan penguasaan diri cewek itu yang begitu luar biasa.
"Kalo Kak Derry mau gosip yang menimpa gue jadi makin hot, buka aja bajunya nggak papa!" lanjut Karin seakan-akan memberikan Derry tantangan.
"Yakin lo mau liat gue buka baju?" Derry menoleh ke belakang sejenak demi memastikan sendiri seperti apa ekspresi Karin saat ini. Namun Derry agak kecewa juga begitu melihat tampang Karin yang kalem dan biasa saja.
Tak ada kegugupan, ketakutan, atau rasa terancam sama sekali. Cewek itu malah tampak lebih manis bila dilihat dari sudut pandang Derry saat ini yang harus memutar kepalanya lebih dari seratus derajat ke kiri.
"Yakin Kak Derry berani buka baju di depan gue?" sindir Karin yang membuat Derry semakin merasa tertantang. Saat itu ia masih belum berhenti membersihkan noda lipstik di baju Derry yang agak susah hilang walaupun telah ditetesi air beberapa kali.
Yang ada di pikiran Karin tetaplah sama bahwa Derry tak lebih dari cowok sok kejam, sok berkuasa, dan kali ini sok nakut-nakutin. Padahal Karin meyakini Derry luar dalam bahwa omongan cowok itu hanya bentuk gertakan tanpa diiringi tindakan.
Ini cewek emang nggak ada takut-takutnya! Derry membatin. Kayaknya butuh gue kasih sedikit kejutan nih... putusnya masih dari dalam hati.
Setelah itu Derry mulai membuka kancing bajunya. Namun baru sampai di urutan kancing ke empat, mereka dikejutkan oleh kehadiran orang lain di ruangan khusus perempuan itu.
***
Siapa tuh yang datang?
Aku mah no komen deh ya, intinya makasih udah baca, semoga kalian makin suka.
Kasih love sama comment jangan lupa, dan tunggu terus next chapternya...
SO GUYS, SEE YOU ON THE NEXT CHAPTER, LOVE YOU ❤❤❤