Bu Ratih dan Fikri pamit pulang ke Jakarta setelah keduanya menghabiskan akhir pekan di rumah Dimas. Sayangnya, Dimas dan Miko tak bisa mengantarnya. "Maaf ya Mi, kami tak bisa antar Mami ke bandara." Dimas bukannya tak ingin namun ia kurang enak badan. Akhir-akhir ini kondisi tubuhnya sering melemah bahkan sering merasa mual dan pusing tiba-tiba. Beberapa kali dirinya nyaris pingsan di kantornya. "Tidak apa-apa, lagipula sudah ada Fikri dan Gusti. Kamu urusi saja istri-istri kamu." Bu Ratih melirik ke arah Miko dan Ida. "Mami dan Mas Fikri hati-hati ya. Salam untuk Papi." Miko menyampaikan pesannya. "Iya, kalian juga baik-baik di sini. Kalian bertiga harus rukun. Mami tak ingin mendengar terjadi keributan di antara kalian." Bu Ratih pun memberikan amanatnya. Ia berasa mimpi melihat an

