Masuklah, Marco. Gantiin dia, sekarang. Kamu gak akan bisa menghadapi Raras kalau pulang sendiri.
*
Aleppo, 24 jam yang lalu
Suara tanah yang mengenai kain kafan itu terdengar seperti ledakan di telinga Marco. Bum. Bum. Bum. Sedikit demi sedikit mulai menimbuni Rangga.
Marco berdiri kaku di bibir liang lahat. Otot-otot di seluruh tubuhnya menegang hingga terasa sakit. Mata Marco nyalang menatap tanah di bawahnya, tidak berkedip. Dia menatap tanah yang perlahan menutupi tubuh kaku sahabatnya. Di dalam kepalanya, ada sebuah suruhan gila yang berteriak nyaring, memerintahkannya untuk melompat.
Kaki kanan Marco bergeser satu inci ke depan, ujung sepatunya sudah menggantung di bibir lubang. Tangannya mengepal di samping paha, kuku-kukunya menancap dalam ke telapak tangan hingga menembus kulit, menciptakan luka yang berdarah.
Rasa sakit di telapak tangan itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya tetap berpijak di atas tanah.
Dia menahan napas, menahan raungan yang ingin meledak. Rahangnya mengeras begitu kuat hingga gigi gerahamnya berbunyi gemeretak.
Gue yang harusnya di situ, Ga. Bukan lo.
*
Raras menunggu dengan tidak sabar di terminal kedatangan internasional Bandara Sukarno Hatta. Matanya menyipit, senyum gelisah tercetak demi melihat rombongan orang-orang melewatinya.
Entah kenapa dua hari ini dia merasa perasaan aneh,khawatir dan cemas berlebihan. Bahkan dia mimpi buruk, tapi dia menyangka itu karena euforia akan bertemu Rangga, suaminya, setelah tiga bulan berpisah.
Terakhir mereka melakukan panggilan telepon via Sat-phone itu tiga malam lalu. Raras tersenyum kecil kembali membayangkan betapa Rangga bersemagat mereka akan segera bertemu lagi.
Rangga bilang dia sudah tidak sabar ingin mengusap, ingin mencium, membaluri doa dan ngobrol dengan bayi mereka di perut Raras. Raras sampai tertawa bahagia mendengar itu.
Tak lupa, Raras minta pada Rangga ini akan menjadi misi terakhirnya, jangan pergi lagi meninggalkan mereka seorang diri karena dia tidak akan mampu berpisah dari Rangga dan betapa bahagianya Raras karena Rangga menyanggupi itu.
Beberapa kali tangannya tanpa sadar mengusap perutnya yang masih terlihat rata. Tiga bulan. Usia janin di rahimnya sudah menginjak tiga bulan dan hari ini akhirnya ayahnya pulang.
Raras tersenyum kecil, membayangkan betapa hebohnya Rangga saat melihat hasil USG terbaru yang ia selipkan di saku kardigannya. Rangga pasti akan menangis haru, mengangkat tubuhnya dan menciumnya penuh sayang. Yaah, suaminya itu punya hati selembut kapas meski berprofesi sebagai dokter bedah yang terbiasa melihat darah.
Pintu otomatis terbuka. Rombongan relawan medis dengan rompi khaki bertuliskan "Humanitarian Aid" mulai bermunculan dengan wajah lelah.
Jantung Raras berdegup kencang. Dia berjinjit, matanya menyisir rombongan mencari Rangga.
Satu per satu wajah lelah namun terlihat lega itu berjalan melewatinya. Ada Dr. Ibrahim yang langsung memeluk istrinya. Ada Perawat Siska yang langsung bersujud syukur di lantai.
Lalu, dia melihatnya.
Marco.
Sahabatnya itu berjalan paling belakang. Langkah kakinya diseret dan tertatih, seolah ada beban ribuan ton yang menggelayut di kakinya. Pakaiannya kusut, wajahnya yang biasa bersih kini dipenuhi cambang kasar tak terawat. Tatapan matanya kosong, menatap lantai seolah takut melihat dunia.
Raras melambaikan tangan antusias, meski keningnya berkerut bingung, "Marco!" panggilnya, karena Marco belum juga melihatnya, Raras berteriak sekali lagi dan melambaikan tangannya, "Marco!"
Marco berhenti. Tubuhnya menegang mendengar suara itu. Perlahan, dia mengangkat wajahnya. Saat mata mereka bertemu, Raras merasakan udara di sekelilingnya mendadak dingin.
Itu bukan tatapan Marco yang ia kenal. Itu adalah tatapan orang yang jiwanya telah mati.
Raras memiringkan kepalanya, mencari sosok lain di belakang Marco. "Marco, kenapa kakimu? Kamu terluka ya?” tanyanya, perhatiannya teralihkan melihat Marco berjalan dengan pincang.
Marco tidak menjawab, matanya yang biasa tajam tampak redup. Raras kembali melihat ke belakang Marco, “Mark, mana Rangga? Apa dia di toilet?" tanyanya sambil tertawa kecil, mencoba mengusir firasat buruk yang mulai merayap naik dari perut ke tenggorokannya, "dia nggak ketinggalan pesawat, kan?"
Marco tidak menjawab pertanyaan itu. Dia berjalan mendekati Raras. Setiap langkah yang diambil Marco terasa membingungkan bagi Raras yang melihatnya. Saat jarak mereka hanya tersisa satu meter, Marco tidak memeluknya layaknya sahabat yang lama tak jumpa.
Tapi di detik berikutnya, Marco Vescari Taysir, lelaki yang berjanji menjadi pelindung, lelaki yang darah mafianya tidak pernah membuatnya berlutut pada siapa pun, tapi saat ini jatuh bersimpuh di lantai bandara yang dingin.
Dia berlutut di kaki Raras. Tidak memedulikan luka di betisnya yang terhimpit lantai keras. Rasa sakit fisik itu tidak ada artinya dibandingkan rasa sakit melihat harapan di mata Raras yang akan padam.
Di tengah keramaian bandara, di atas lantai yang dingin, Marco bersimpuh di kaki Raras. Bahunya berguncang hebat. Isak tangis yang dia tahan selama perjalanan panjang itu akhirnya pecah juga. Suara raungan yang menyayat hati, membuat orang-orang di sekitar mereka berhenti dan menoleh, sekadar penasaran dengan apa yang terjadi.
"Marco...? Hei, ada apa? Bangun dong, malu jadi tontonan orang nih," dua tangan Raras berusaha mengangkat bahu Marco yang malah menggeleng.
Marco bergeming, senyum Raras lenyap, ketakutan mulai melandanya. Tangannya gemetar hebat, “Mark, bangun. Malu dilihat orang. Rangga mana? Jangan bercanda." Katanya, kembali dia celingukan mencari keberadaan Rangga.
Marco mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. Dia menyodorkan sebuah tas ransel kanvas berwarna hijau lumut. Tas kesayangan Rangga. Tas yang dipakai suaminya saat berangkat tiga bulan lalu.
Di resleting tas itu, masih tergantung gantungan kunci boneka beruang kecil yang Raras berikan. Tapi kini, ada bercak merah gelap yang mengering di kain kanvasnya.
Bercak darah. Mata Raras terpaku pada ransel hijau lumut itu. Dunianya menyempit, hanya menyisakan objek itu dalam fokusnya. Tangannya yang gemetar terulur perlahan, bukan untuk mengambil tas itu, melainkan menyentuh gantungan kunci boneka beruang yang menggantung lemah di sana. Boneka itu tak lagi putih bersih. Bulu halusnya kusam, lengket, dan mengeras oleh noda cokelat pekat.
Aroma itu bukan aroma parfum citrus khas Rangga yang biasa dia hidu. Melainkan aroma logam berkarat.
"Ras..." Suara Marco parau, nyaris hilang. "Maafin aku... Maafin aku, Ras..."
"Rangga mana?" Raras mundur selangkah, menolak mengambil tas itu. "Aku tanya suamiku mana, Marco! Kalian nge-prank aku ya? Ini gak lucu, Marco! Mana Rangga?” Raras menjadi tidak sabar.
"Ras,... kami nggak bisa bawa dia pulang," bisik Marco, setiap kata terasa seperti menelan paku di tenggorokannya.
“Maksudmu apa gak bisa bawa Rangga pulang? Hentikan Marco, becandamu gak lucu!” bentak Raras, gusar.
Marco menarik napas sebelum berkata, "dua hari lalu, ada serangan di posko. Rangga... d-dia mencoba melindungi pasien anak-anak..."
Dunia Raras berhenti berputar. Suara bising bandara seketika lenyap dari pendengarannya. Yang terdengar hanya detak jantungnya sendiri yang yang menyakitkan.
"Bohong," Raras menggeleng, air mata mulai menggenang tanpa ia sadari. "Dia janji mau pulang. Dia mau lihat anaknya. Aku lagi hamil, Marco! Dia nggak mungkin ninggalin aku!" lirih Raras, sendu.
"Dia dimakamkan di sana, Ras. Di Aleppo," Marco mencengkeram ujung dress Raras, menunduk dalam-dalam seolah siap menerima hukuman mati, “aku ada di sana. Aku memegang tangannya saat... saat dia pergi. Maafin aku karena aku yang pulang, bukan dia. Maafin aku karena gagal menjaga Rangga. Maafin aku, Ras…”
“BOHONG!!” pekik Raras.
"Ras..." Marco mencoba meraih tangan Raras, tapi wanita itu menepisnya kasar.
"JANGAN SENTUH AKU!"
"RANGGAAAAA!" teriak Raras menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.
Tas kanvas itu jatuh dari tangan Marco ke lantai.
Kaki Raras kehilangan tulangnya. Dia ambruk mendengar kenyataan tentang Rangga.
Marco tidak berdiri. Ia masih berlutut dan dengan refleks putus asa, dia melemparkan tubuhnya ke depan. Lengan Marco menangkap tubuh Raras tepat satu inci sebelum kepalanya menghantam kerasnya lantai.
Benturan itu terjadi, tapi bukan antara Raras dan lantai, melainkan antara tubuh Raras dan d**a Marco, membuat Marco meringis. Dia mendekap Raras sangat erat, posesif sekaligus ketakutan setengah mati.
Di dalam pelukan itu, tubuh Raras terkulai lemas. Tangannya yang tadi meremas saku kardigannya kini jatuh terkulai, menyentuh dinginnya lantai. Kertas USG yang lecek itu menyembul keluar sedikit, memerlihatkan gambar janin hitam putih yang kini yatim sebelum sempat melihat cahaya. Yang tidak pernah tahu wajah ayahnya bahkan dari sebelum dia lahir.
Marco menunduk, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Raras yang pingsan. Bahu pria itu berguncang hebat, bukan lagi isakan tertahan, melainkan tangisan tanpa suara. Di tengah kerumunan orang asing yang mulai panik dan mendekat, Marco merasa sendirian karena dia yang selamat, sementara Rangga tidak, meninggalkan Raras menjadi janda di usia sangat muda.