Di Aleppo, dunia tidak menjadi gelap seperti di film-film perang dari Holywood. Ddi situ, dunia justru menjadi terlalu terang dan terlalu merah.
Ledakan RPG itu menghantam pilar beton di sisi kiri, hanya berjarak empat meter dari tempat Rangga berdiri. Gelombang kejutnya mampu melemparkan tubuh Rangga seperti boneka kain, membenturkannya ke sisa tembok utuh sebelum tubuh Rangga merosot jatuh ke tanah berdebu.
Yusuf, bocah kecil yang didekapnya, terlempar ke sisi lain dan menangis kencang. Ajaibnya dia tetap hidup. Tapi Rangga tidak bangun.
"RANGGA!" Marco berteriak hingga pita suaranya hampir pecah.
Suara Marco terdengar penuh sakit dan panik. Kakinya yang cedera seolah kehilangan rasa sakit. Adrenalinnya mengambil alih, mengubah darahnya menjadi bahan bakar jet. Marco berlari, dilindungi oleh tembakan balasan dari dua pengawalnya, menerjang hujan kerikil dan peluru, menjatuhkan diri di samping tubuh sahabatnya. Satu pengawal Marco balas menembak orang yang menembakkan RPG, satu lagi menuju Yusuf dan diberikan kepada petugas evakuasi. Kemudian pengawal itu bergegas ke arah Marco.
"Ga! Rangga! Buka mata lo!"
Marco menepuk pipi Rangga dengan kasar. Mata itu terbuka, tapi tidak fokus. Pandangannya liar menatap langit Aleppo yang penuh asap.
Di d**a kiri Rangga, tepat di bawah logo Doctors Without Borders, sebuah lubang sebesar peluru menganga. Darah segar menyembur keluar seirama dengan detak jantung. Darah Rangga merah, pekat dan berbusa.
Sucking chest wound. Paru-parunya bocor.
"Sialan! Sialan!" umpat Marco dengan suara bergetar. Selama ini dia terbiasa menghadapi kematian, tapi tidak dengan kematian sang sahabat di depan matanya.
Dengan kekuatan yang entah datang dari mana, Marco mencengkeram rompi taktis Rangga, menyeret tubuh seberat 75 kilogram itu menjauh dari zona terbuka, masuk ke balik reruntuhan beton yang lebih aman. Kedua pengawal Marco tanpa bicara melindungi sang tuan dengan balas menembak ke arah pemberontak. Napas Marco kembang kempis saat akhirnya bisa duduk setelah ada di tempat aman. Matanya melihat jejak darah panjang dan lebar tertinggal di tanah berpasir, layaknya kuas bercat merah yang melukis takdir buruk.
"Tahan, Ga. Tahan napas lo!" Marco merobek seragam Rangga hingga kancing-kancingnya berhamburan.
Dada Rangga naik turun tidak beraturan. Dia terengah-engah, seperti ikan yang ditarik dari air. Udara terperangkap di rongga pleura, mendesak jantung dan paru-parunya yang sehat.
"Tas medis! Mana tas medis gue?!" Marco berteriak pada udara kosong. Dia menoleh ke belakang. Tas medisnya tertimbun reruntuhan pilar yang tadi meledak. Matanya nyalang saat melihat tas medisnya hancur, tidak ada yang bisa diselamatkan.
Tidak ada chest seal. Tidak ada perban oklusif.
Tangan Marco gemetar hebat saat ia menempelkan telapak tangannya sendiri langsung ke lubang luka itu, mencoba menjadi sumbatan hidup agar udara tidak terus masuk. Darah Rangga yang hangat dan lengket merembes di sela-sela jarinya.
"Mar-co..." suara Rangga terdengar lemah tapi dia tersenyum sangat tipis. Darah mulai keluar dari sudut bibirnya.
"Diem! Hemat oksigen lo!" bentak Marco, matanya memindai sekeliling dengan panik. Dia butuh plastik, butuh selotip untuk menutup luka Rangga. Dia menyambar bungkus perban kosong dari saku celananya, menempelkannya di atas luka, merekatkannya dengan sisa plester yang ada.
Tapi d**a Rangga semakin sesak. Vena di lehernya menonjol keluar seperti kabel yang tegang. Trakeanya bergeser ke kanan.
Paru-parunya kolaps total. Jantungnya terhimpit.
"Epinephrine! Gue butuh Epi! Clamp arteri! Siapa aja! Tolong gue," teriak Marco, berteriak sangat keras hingga menjadi raungan putus asa.
Tidak ada yang menjawab, bahkan dua orang pengawalnya juga hanya diam. Hanya desingan peluru AK-47 yang menyahut di kejauhan. Relawan lain sibuk menyelamatkan diri atau pasien lain, meninggalkan Marco sendirian.
Wajah Rangga mulai membiru karena kurangnya oksigen dalam darah. Sianosis.
"Nggak... nggak boleh..." Marco meraba saku celana kargonya dengan tangan yang licin oleh darah. Dia menemukan satu jarum infus ukuran besar yang masih tersegel.
"Maafin gue, Ga. Ini bakal sakit."
Tanpa bius, tanpa sterilisasi yang layak, Marco menusukkan jarum besar itu ke sela iga kedua di d**a kiri Rangga. Needle Decompression untuk mengeluarkan udara yang menumpuk di rongga d**a dengan mengurangi tekanan dan memperbaiki pernapasan.
Pssssshhh...
Terdengar suara udara yang terperangkap keluar, mendesis. d**a Rangga sedikit mengempis. Ada harapan, setitik harapan membuat Marco bersemangat.
Tapi dua detik kemudian, mata Rangga mendelik ke atas. Tubuhnya mengejang satu kali, lalu lemas.
Jantungnya berhenti.
"Nggak! Bangun, b******k! Jangan tidur! Rangga, sialan, banguuun kata gue!"
Marco membuang jarum itu, menumpuk kedua tangannya di tengah d**a Rangga dan mulai memompa.
Satu, dua, tiga, empat...
Dia menekan keras. Tulang rusuk Rangga yang mungkin sudah retak berbunyi kreek keras di bawah tekanan tangannya. Marco tidak peduli. Dia harus memeras jantung itu agar darah tetap mengalir ke otak Rangga.
"Ayo, Rangga! Jangan nyerah! Raras nunggu lo! Anak lo nunggu lo!" Marco berteriak di sela-sela napasnya yang memburu. Keringat dingin bercampur debu menetes dari dahinya, jatuh ke wajah Rangga yang kini pucat pasi.
Satu, dua, tiga, empat...
"Lusa kita pulang, Ga! Lo udah janji mau pulang! Lo udah janji mau beli mangga muda buat Raras!" teriak Marco tapi tetap tidak ada respon dari Rangga.
Marco melakukan napas buatan. Rasa asin darah Rangga menempel di bibirnya. Marco meniupkan sebagian nyawanya sendiri ke dalam paru-paru sahabatnya, berharap itu cukup untuk membuat sang sahabat selamat.
Satu menit berlalu. Dua menit berlalu.
Tidak ada respon.
Tangan Marco mulai kram, tapi dia tidak berhenti. Pikirannya sama sekali kosong, hanya ada ritme. Tekan. Lepas. Tekan. Lepas. Begitu terus beberapa kali, Marco bahkan tidak menyadari ada air matanya menetes jatuh ke pipi Rangga.
Tiba-tiba, sebuah tangan dingin penuh darah menyentuh pergelangan tangan Marco yang sedang memompa.
Tangan Rangga!
Gerakan Marco terhenti. Dia menatap wajah sahabatnya. Mata Rangga sedikit terbuka, menatap lurus ke arah Marco. Nampaknya tidak ada rasa sakit di sana. Hanya ada ketenangan yang menakutkan Marco. Jemari Rangga menunjuk tas medisnya, Marco paham itu. Dia tahu Rangga meletakkan buku diary-nya di tas itu.
Bibir Rangga bergerak tanpa suara. Membentuk satu kata yang terbaca jelas oleh Marco.
"Terima kasih.”
Lalu tangan itu jatuh terkulai ke tanah.
Hening.
Bagi Marco, dunia seketika menjadi bisu di antara riuh suara tembakan, teriakan panik, ledakan, semuanya lenyap.
Dengan tangan gemetaran yang tidak terkendali, Marco merogoh saku bajunya, mengeluarkan penlight kecil. Dia menyalakan senter itu, mengarahkannya ke mata Rangga.
Pupil itu melebar penuh, hitam pekat. Midriasis total. Tidak mengecil saat terkena cahaya. Marco mematikan penlight itu. Jari telunjuk dan tengahnya meraba leher Rangga mencari arteri karotis.
Marco menunggu. Satu detik. Lima detik. Sepuluh detik. Tidak ada denyut. Hanya kehangatan yang perlahan-lahan menguap diambil udara dingin gurun.
"Ga?" panggil Marco lirih. "Rangga?"
Tidak ada jawaban, tidak ada gerakan dari sang sahabat. Matahari Rangga telah padam.
Marco tidak berteriak lagi bahkan dia tidak terisak. Dia menarik tangannya perlahan dari tubuh Rangga. Marco duduk bersimpuh di samping jasad sahabatnya. Dia mengangkat kedua tangannya sendiri ke depan wajah. Kedua telapak tangannya berwarna merah tua. Darah Rangga melumuri setiap garis nasib di telapak tangan Marco. Darah orang yang dia janjikan untuk pulang dengan selamat demi bisa bertemu lagi dengan wanita yang sama-sama mereka cintai.
Rahang Marco mengeras. Otot-otot di pipinya menegang kaku. Gigi-geliginya beradu keras, kriett, menimbulkan bunyi gemeretak yang ngilu, menahan jeritan yang tertahan di tenggorokan.
Di belakangnya, Yusuf, anak kecil yang tadi diselamatkan Rangga, merangkak mendekat. Bocah itu memegang tangan Rangga yang terkulai, meletakkan sebuah mainan mobil-mobilan kayu di telapak tangan dokter yang sudah tak bernyawa itu.
"Dokter?" panggil Yusuf polos.
Pemandangan itu meruntuhkan pertahanan terakhir logika Marco. Dia menatap langit yang penuh asap hitam. Tidak ada doa yang terucap. Karena bagi Marco, Tuhan baru saja pergi meninggalkan Aleppo, membawa serta satu-satunya alasan Marco untuk menjadi manusia baik.
Hari ini, Rangga pulang, kembali pada Sang Pencipta. Tapi Marco, dia tertinggal di neraka dunia yang bernama Aleppo.
*
Truk pikap Toyota Hilux tua itu melaju gila-gilaan menembus jalanan gurun yang berlubang bekas mortir. Debu kuning mengepul tinggi di belakangnya, bercampur dengan asap hitam sisa pertempuran.
Di bak belakang yang terbuka, Marco duduk bersila. Dia tidak memedulikan guncangan keras yang membuat tubuhnya terlempar ke sana-sini. Kedua lengannya terkunci rapat, mendekap tubuh kaku Rangga di pelukannya, seperti seorang ibu yang memeluk erat anaknya.
Kepala Rangga terkulai di lengan Marco. Jika dilihat dari jauh oleh pesawat mata-mata, mereka mungkin terlihat seperti dua sahabat yang sedang tertidur lelah dalam perjalanan pulang. Bedanya, satu dari mereka tidak lagi bernapas.
"Tahan, Ga. Sebentar lagi kita sampai posko pusat," bisik Marco. Suaranya datar tanpa intonasi. Matanya menatap lurus ke cakrawala yang semakin kabur, tidak berkedip meski angin gurun menampar wajahnya dengan pasir tajam dan membuat matanya perih.
Ingatan Marco melompat mundur ke sepuluh menit lalu.
Di antara puing reruntuhan, Dr. Ibrahim menarik lengan Marco kasar.
"Tinggalkan dia, Marco! Kita harus lari! Helikopter musuh mendekat!" teriak pria seumuran ayahnya itu. "Dia sudah pergi! Kau tidak bisa menghidupkan orang yang sudah mati!"
Waktu itu, Marco menepis tangan Ibrahim dengan kasar. Dia tidak berteriak balik, hanya menatap Dr. Ibrahim dengan sorot mata tajam yang membuat sang koordinator medis mundur selangkah karena aura mematikan, khas sorot mata dingin seorang Vescari.
"Kalau dia ditinggal, aku juga akan tinggal," desis Marco marah, "kalian pergi saja. Biar aku dan dia jadi abu di sini."
Ancaman itu bukan hanya gertakan. Ibrahim melihatnya. Dia melihat kenekatan di mata Marco. Akhirnya, dengan mengumpat panik, Ibrahim memerintahkan relawan lain untuk menyiapkan mobil yang bisa dipakai untuk mengangkut jasad Rangga ke zona aman.
Sekarang, di atas truk yang melaju kencang, ditemani oleh dua pengawalnya, Marco menunduk. Dia menggunakan telapak tangan kirinya untuk menutupi wajah Rangga dari terpaan debu agar wajah tampan yang dingin itu tetap bersih.
Sebuah gerakan kecil yang sia-sia, namun menyayat hati. Marco berpikir seolah debu itu masih bisa menyakiti Rangga. Seolah-olah Rangga hanya sedang tidur siang dan Marco tidak ingin tidurnya terganggu oleh debu sekalipun.
Tiba di Posko Pusat Komando di perbatasan zona aman, suasana semakin chaos. Para tenaga medis berlarian menurunkan korban luka. Tandu-tandu berdarah berseliweran, benar-benar seperti adegan film yang nampak di depan mata.
Namun, ada satu area yang mendadak senyap. Marco turun dari truk dengan lunglai tapi dia menolak tandu. Dia ingin membopong jasad Rangga sendiri, tubuh setinggi 178 cm itu terasa ringan di lengan Marco yang dipacu adrenalin dan duka mendalam. Marco berjalan pelan melewati kerumunan, langkahnya sedikit pincang karena luka di betisnya yang kembali berdarah, tapi dia tidak berhenti sampai menemukan sudut tenda yang sunyi.
Marco membaringkan Rangga di atas meja periksa yang kosong dengan sangat hati-hati.
Seorang perawat datang membawa kain kafan darurat dan air, "Dokter Marco, biar saya saja yang bersihkan... Anda juga perlu dijahit..."
Marco mengangkat tangan, memberi sebuah gestur "berhenti".
"Jangan sentuh dia," suara Marco terdengar parau. Dia berdiri di samping jasad itu seperti anjing penjaga neraka, "dan jangan sentuh saya."
"Tapi Dok, prosedurnya..."
"Saya mau bawa dia pulang," potong Marco. Tatapannya kosong menatap dinding tenda, tapi tangannya terus menggenggam tangan dingin Rangga. "Cariin pesawat. Kargo. Jet pribadi. Apa aja. Dia harus pulang ke Indonesia. Istrinya menunggu."
Raras....
"Itu mustahil, Marco," Dr. Ibrahim datang, wajahnya penuh jelaga. "Bandara Damaskus ditutup total. Zona udara dikunci. Kita tidak bisa menerbangkan jenazah keluar. Listrik untuk kamar pendingin juga mati karena terkena bom. Kita harus menguburkannya di sini, secepatnya. Di pemakaman massal darurat."
Pemakaman massal. Satu lubang untuk ditumpuk bersama puluhan orang asing tak dikenal.
Rahang Marco mengeras, melihat tajam pada dr. Ibrahim. Otot di pelipisnya berdenyut liar, "nggak," Marco menggeleng pelan, “dia bukan barang rongsokan yang bisa lo tumpuk gitu aja. Dia Rangga Pradipta. Dia pahlawan yang juga punya nama."
“Gak bisa Marco, ini bukan di Indonesia. Kita akan mengubur Rangga bersama dengan jenazah lainnya.”
Tangan Marco terangkat sebagai tanda agar dr. Ibrahim sebaiknya diam. Marco merogoh saku celananya yang robek. Ia mengeluarkan telepon satelit yang layarnya retak. Dengan tangan gemetar yang masih berlumuran darah kering Rangga, darah yang dia tolak untuk dicuci, Marco menekan satu nomor yang ia hapal di luar kepala.
Bukan nomor ibunya. Tapi nomor Kakeknya, Don Vescari, "Nonno," suara Marco terisak untuk pertama kalinya. "Aku butuh bantuan. Sekarang."
Sore itu, matahari terbenam di ufuk barat dengan warna merah darah yang menyala. Perang hanyalah sebuah kesia-siaan saja.
Tidak ada penerbangan pulang untuk Rangga. Bahkan uang dan kekuasaan mafia Vescari tidak bisa menembus blokade zona perang hanya dalam hitungan jam. Tapi, mereka bisa membeli tanah di situ yang akan dijadikan pemakamam Rangga.
Berkat koneksi "bawah tanah" kakeknya yang menekan pejabat lokal, Rangga tidak akan dikubur ke pemakamam massal. Sebuah liang lahat pribadi digali di Pemakaman Umum Al-Bab, sebuah area pemakaman tua di pinggiran kota yang relatif aman, di bawah naungan pohon zaitun yang kekuningan karena mati suri.
Marco berdiri di bibir liang. Dia sudah mandi, tapi matanya masih merah dan bengkak meski kering tanpa air mata. Dia mengenakan kemeja hitam pinjaman yang kekecilan, entah milik siapa.
Di tangannya, ia memegang stetoskop milik Rangga.
Saat jenazah yang dibungkus kain putih sederhana itu diturunkan perlahan oleh penggali kubur, tubuh Marco terhuyung ke depan satu langkah. Seolah ada tali tak kasat mata yang menariknya untuk ikut masuk.
Dr. Ibrahim menahan bahu Marco. Cengkeraman Marco pada stetoskop itu menguat hingga selangnya terlipat patah. Bibir Marco terkatup rapat, membentuk garis tipis. Dia tidak mengucapkan pidato perpisahan juga tidak ada kata-kata mutiara untuk sang sahabat.
Tapi bahasa tubuhnya mengatakan segalanya, bahu yang merosot, kepalanya yang menunduk dalam dan tangannya yang gemetar saat melempar gumpalan tanah pertama ke atas jasad sahabatnya. Ekspresi itu bukan sekadar kesedihan melainkan ekspresi seseorang yang baru saja kehilangan separuh nyawanya sendiri.
Saat tanah menutup sempurna makam itu, Marco menancapkan sebuah kayu nisan sederhana yang ia tulis sendiri dengan spidol permanen.
dr. Rangga Pradipta Sp.B (K) Trauma. Sahabat. Suami. Pahlawan.
Marco berlutut, meletakkan keningnya di atas gundukan tanah yang masih basah itu. Walau betisnya masih saja merembes darah, dia tidak peduli. Di tengah desing peluru yang masih terdengar sayup-sayup, Marco membisikkan satu kalimat yang menghancurkan pertahanannya.
"Gue harus bilang apa sama Raras, Ga? Gue harus bilang apa?"
Angin gurun bertiup, menerbangkan debu, tapi tidak membawa jawaban. Hanya keheningan panjang yang menandai dimulainya neraka baru bagi Marco, hidup sendirian dengan janji yang terlalu berat untuk dipanggul seorang diri.