Part 8. Firasat : Misi Terakhir?

2324 Kata
Sepuluh minggu. Tujuh puluh hari sejak mereka menapakkan kaki di Aleppo demi sebuah kemanusiaan atau dua minggu jelang tugas mereka usai. Waktu di Aleppo tidak berjalan seperti jam dinding di Jakarta yang berdetak teratur. Di sini, waktu merangkak lambat di antara jeda ledakan mortir, atau berlari kencang saat ambulans datang membawa korban massal entah karena peluru atau mortir. Posko medis darurat itu kini menyerupai kapal pecah. Generator listrik batuk-batuk sekarat, kehabisan solar. Stok perban menipis. Bau amis darah yang tidak sempat dibersihkan menguar, bercampur dengan aroma keringat puluhan relawan yang sudah lupa rasanya kemewahan mandi dengan air bersih. Marco duduk di atas peti obat kosong, mengganti perban di betis kanannya. Lukanya mulai mengering, tapi denyutnya masih terasa setiap kali ia berdiri terlalu lama. Di sekitarnya, relawan lain tergeletak tidur di mana saja, di lantai tanah, di kursi plastik, bahkan bersandar di roda jip. Kelelahan telah mencabut rasa jijik dan malu mereka. Yang penting mata mereka terpejam dan mengistirahatkan tubuh mereka walau hanya sebentar. Namun, di sudut tenda komunikasi, ada satu orang yang masih terjaga. Rangga. Pria itu menggenggam gagang telepon satelit dengan dua tangan, seolah benda itu adalah jimat penyelamat hidupnya. Punggungnya membungkuk dalam, bukan karena lelah fisik, tapi karena beban rindu yang meremukkan tulang. "Halo? Ras? Suara kamu putus-putus..." Rangga setengah berteriak, matanya terpejam erat, berusaha menangkap sinyal suara istrinya di seberang benua. Marco yang duduk lima meter darinya tidak berniat menguping, tapi keheningan malam membuat setiap kata Rangga terdengar jelas di telinganya. "Iya, Ga... aku denger. Kamu... kapan pulang?" Suara Raras terdengar samar. "Dua minggu lagi, Sayang. Sesuai jadwal," jawab Rangga cepat. "Gimana kandungan kamu? Udah USG lagi? Anak kita... dia sehat, kan?" Hening sejenak. Lalu terdengar isak tangis tertahan dari seberang. "Sehat. Dia kuat banget, kayak Papanya. Cepat pulang ya, Ga. Firasatku nggak enak terus. Aku mimpi buruk tiap malem." Rangga menggigit bibirnya hingga berdarah. Dia menatap langit-langit tenda yang kotor. "Dengerin aku, Ras. Aku janji ini bakalan jadi misi terakhirku, gak akan adalagi misi. Sumpah. Begitu dua minggu ini selesai, aku pulang. Aku bakal resign dari tim relawan. Aku mau buka praktik di rumah aja, nemenin kamu, nemenin anak kita sampai tua. Aku nggak akan ninggalin kamu lagi." Suara Rangga bergetar saat berucap itu. Marco berhenti membalut lukanya. Tangannya terpaku di udara. Misi terakhir. Kalimat itu terdengar indah, tapi bagi telinga Marco yang peka, itu terdengar seperti lonceng kematian. Di film, di novel, bahkan di cerita para tentara veteran, orang yang berjanji "ini misi terakhir" biasanya tidak pernah pulang. "Aku cinta kamu, Ras. Tunggu aku ya, Sayang." Sambungan terputus. Rangga masih menempelkan gagang telepon itu di telinganya selama beberapa detik, enggan melepaskan sisa kehangatan suara istrinya. Saat Rangga berbalik, matanya bertemu dengan mata Marco. Ada genangan air mata yang siap tumpah di sana. "Gue mau pulang, Mark," bisik Rangga, “gue mau pulang ketemu Raras." * Tengah malam, situasi berubah drastis. Koordinator posko, pria paruh baya berkebangsaan Turki bernama Dr. Yudgar, mengumpulkan semua relawan yang tersisa. Wajahnya tegang di bawah sorotan lampu senter. "Kemas barang-barang penting kalian di satu tempat. Paspor, ID card, obat-obatan pribadi," perintahnya dengan suara tegas, khas relawan berpengalaman. "Intelijen melaporkan garis depan bergeser. Pasukan pemberontak bergerak mendekat ke arah sini. Eskalasi pertempuran meningkat ke level merah." Suara desing peluru yang biasanya terdengar jauh, kini terdengar lebih nyaring. Zwing... Zwing... disusul suara dentuman artileri berat yang menggetarkan tanah tempat mereka berpijak. Debu halus jatuh dari atap tenda. "Tidur dengan sepatu kalian terpasang. Jika sirine berbunyi, kita evakuasi dalam tiga menit. Bubar." Ketegangan itu sangat nyata. Rangga dan Marco kembali ke velbed mereka. Namun, tidak ada yang bisa memejamkan mata dan tidur dengan pulas. Setiap kali ada suara ledakan, tubuh Rangga tersentak kaget. Rangga berbalik menghadap Marco. "Mark," panggilnya dalam gelap. "Tidur, Ga. Hemat energi lo," jawab Marco dingin, matanya menatap kegelapan, tidak ada yang dapat dia lihat. "Gue nggak bisa tidur. Suara peluru itu... kayak manggil nama gue." "Itu sugesti. Otak lo lagi fight or flight mode. Tarik napas." Rangga terdiam sebentar, lalu ia duduk. Siluet tubuhnya terlihat gelisah. "Marco, soal omongan gue di bandara..." Marco menggeram marah, “demi Tuhan, Rangga. Jangan mulai lagi di saat genting seperti ini!” "Justru itu! Gue serius!" Rangga mendesis, suaranya sedikit histeris. Dia mencengkeram lengan Marco, “berani nggak lo sumpah? Kalau besok atau lusa gue mati kena mortir sialan itu, lo bakal nikahin Raras? Lo bakal jadi bapak buat anak gue?" "DIAM!" Marco membentak, menepis tangan Rangga kasar. Dia ikut bangun, menatap tajam sahabatnya dalam kegelapan. Napasnya memburu karena amarah. "Lo itu kenapa sih? Lo mau nyerah? Lo mau mati? Lo yang niat banget jadi relawan ke sini, Ga! Inget Raras, b**o! Dia nunggu lo pulang, bukan nungguin mayat lo!" "Gue realistis, Marco! Kita di neraka!" "Dan gue di sini buat mastiin lo keluar dari neraka ini hidup-hidup! Jadi berhenti titip-titip Raras ke gue seolah gue ini ban cadangan lo!" “Gue ragu bakal pulang dengan kondisi hidup, Mark. Gue mimpi buruk terus seminggu ini.” Kata Rangga, suaranya antara sedih juga nelangsa, “tapi gue gak nyesel udah baktiin apa yang gue bisa buat misi kemanusiaan di sini.” Marco menarik kerah baju Rangga, "darah Vescari dan Taysir nggak punya kamus 'gagal', Ga," lanjut Marco, matanya menyala mengerikan. "Nyokap gue pernah ngejahit luka tembak di tengah badai pasir waktu misi di Somalia. Bokap gue pernah nyeret temannya yang patah kaki, jalan selama tiga hari untuk keluar dari hutan Kalimantan. Dan gue anak mereka." Marco mendekatkan wajahnya, “gue udah janji sama Raras buat bawa lo pulang utuh. Dan gue nggak pernah ingkar janji. Jadi berhenti ngomong kayak orang yang mau mati. Itu bikin gue muak." Rangga menatap sahabatnya itu. Ia melihat api yang berkobar di mata Marco. Api tekad yang membakar habis segala keraguan. Perlahan, senyum miring muncul di bibir Rangga. "Sori," gumam Rangga, "gue cuma... paranoid." "Simpen paranoid lo. Kita butuh fokus," Marco menyandarkan punggungnya kasar ke kursi. "Lo bakal pulang, Ga. Lo bakal liat Raras lagi. Gue yang jamin. Kalau malaikat maut mau ambil lo, dia harus ngelangkahin malaikat maut gue dulu." Entah itu sebuah lelucon atau serius, tapi Marco katakan itu dengan wajah tegang. Marco hendak membalikkan badan, muak dengan percakapan ini. Hatinya sakit. Dia lelah harus terus-menerus diingatkan bahwa posisinya hanyalah "penjaga" bagi wanita yang ia cintai. Karena jika firasat itu benar... jika Marco benar-benar harus "menjaga" Raras karena Rangga tiada saat menjadi relawan kemanusiaan di Aleppo, Marco tahu dia tidak akan sanggup menanggung rasa bersalahnya seumur hidup. "Gue titipin dia ke lo..." suara Rangga tiba-tiba berubah tenang dan sedih. "...karena gue tahu cinta lo tulus ke Raras." Gerakan Marco terhenti total. Dunia seolah berhenti berputar. Suara ledakan di luar tenda mendadak senyap di telinga Marco. Tubuhnya membeku, darahnya berdesir dingin dari ujung kaki hingga ke kepala. Rangga memang sudah berkata dia tahu bahwa Marco menyukai Raras, tapi tidak berkata tahu betapa tulus perasaannya pada Raras. Rangga menunduk, memainkan jari-jarinya sendiri. Dia tidak berani menatap wajah Marco, "gue liat tatapan lo pas gue ngelamar dia. Gue liat cara lo ngorbanin kaki lo kemarin." Rangga mengangkat wajahnya, menatap Marco dengan mata yang basah oleh air mata dan rasa bersalah, "sekali lagi maafin gue, Mark," Rangga tersenyum getir, air mata menetes di pipinya yang kusam karena debu, "maafin gue karena gue ngerebut Raras dari lo. Dan maaf... karena gue egois, gue tetep minta lo jagain Raras kalau gue pergi. Karena gue tahu, nggak ada laki-laki lain di dunia ini yang bisa mencintai Raras sebesar lo mencintai dia." * “Kamu sudah terima paket yang Mama kirim?” tanya Loiusa melalui sat-phone. Karena sedang berbicara dengan seorang Vescari, Marco sudah paham apa yang dimaksud mamanya. “Sudah Mah, full loaded.” “Kakekmu juga mengirim dua orang tentara terbaiknya. Mama sudah bilang untuk selalu ada di dekatmu.” “Mah, itu berlebihan. Aku bisa jaga diri.” “Tidak ada yang berlebihan jika menyangkut nyawa seorang Vescari, Marco!” Jawab Lui tegas, tidak mau dibantah, “nih adikmu mau bicara.” Terdengar suara kresek-kresek kemudian suara Alessia yang lembut, “Mas Marco harus pulang dengan selamat, kalau enggak, kakek akan mengirim pasukan ke situ untuk menghabisi mereka. Jangan sampai terjadi perang dunia gegara pemberontak itu melukai seorang Vescari!” Gerutu Alessia, membuat Marco tersenyum kecil. “Iya, Dek. Doain ya.” Kemudian terdengar kresek-kresek lagi menandakan perpindahan tangan, Marco tahu kali ini sang ayah yang berbicara. “Marco,” tuh benar saja, suara dingin berwibawa ayahnya terdengar. “Kamu memang seorang Vescari tapi setengahnya lagi ada darah Taysir mengalir di tubuhmu. Biasakan wudhu dalam kondisi apa pun, tayamum saja dan banyak istighfar.” Kata Rayan tegas. Marco tersenyum, terbiasa mendengar saran sang ayah agar tidak melupakan Sang Pemberi Hidup. “Iya, Yah.” * Dua hari jelang kepulangan ke Indonesia Jam di pergelangan tangan Marco menunjukkan pukul 04.45. Hening. Keheningan yang tidak wajar. Tidak ada suara angin, bahkan jangkrik gurun pun membisu. Di dalam tenda medis, Rangga duduk di tepi velbed. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk kalender saku yang sudah lecek. Tinta merah melingkari tanggal lusa. "Dua hari, Co," bisik Rangga, matanya berbinar menatap foto USG Raras yang ia tempel di dinding tenda dengan selotip medis. "Dua kali matahari terbit lagi, gue bisa cium perut Raras sepuas gue." Kata Rangga, berharap mimpi buruknya hayanlah sekadar bunga tidur. DUa hari lagi mereka akan pulang ke Indonesia! Marco tidak menjawab. Instingnya, sebuah warisan darah Vescari, mendesis ribut di kepalanya sejak satu jam lalu. Bulu kuduknya meremang bukan karena dingin subuh, tapi karena udara terasa berbeda. "Simpan fotonya baik-baik, Ga. Kita harus siap-siap briefing pagi," kata Marco datar, memasukkan pisau lipat ke dalam sepatu botnya. Rangga tertawa kecil, melipat foto itu hati-hati. "Tegang amat sih. Kopi mana? Gue butuh kafei..." Zzzzzzzzzzwiiiiiiiing... Suara itu terdengar seperti kain sutra raksasa yang dirobek paksa di angkasa. Lembut, namun mematikan. Mata Marco membelalak. Ia tahu itu suara apa. "TIARAP!" BLAAAARRRR! Dunia terjungkir balik. Hantaman itu tidak hanya terdengar, tapi terasa. Tanah tempat mereka berpijak melompat naik. Gelombang kejut menghantam d**a Marco seperti pukulan palu raksasa, melemparnya hingga punggungnya menabrak peti logistik. Ada dua lelaki berbadan kekar yang segera membantu dan melindunginya. Tenda medis robek. Cahaya oranye menyilaukan menyeruak masuk, diikuti gulungan asap hitam pekat yang berbau belerang dan daging hangus. "Rangga!" teriak Marco, panik. Suaranya sendiri terdengar jauh, tenggelam oleh denging tinnitus yang menyakitkan di telinganya. Nguuuung... Rangga terbatuk-batuk di tanah, wajahnya tertutup debu putih reruntuhan. Dia merangkak, tampak bingung, darah segar mengucur dari pelipisnya yang tergores tiang tenda. "Serangan mortir! Sektor empat jebol!" Teriakan Dr. Ibrahim, koordinator tim medis dari Indonesia, terdengar dari luar, sebelum terpotong oleh rentetan suara kering yang khas. Tak-tak-tak-tak-tak! AK-47*. Jarak dekat. Marco menyambar kerah baju Rangga, menyeretnya bangun. "Bangun! Mereka masuk! Perimeter jebol!" Mereka berlari secepatnya keluar tenda dengan dua pengawal yang paling depan. Pemandangan di luar adalah definisi neraka bagi orang Indonesia yang negerinya damai tanpa perang terbuka seperti ini. Posko relawan yang kemarin masih berdiri tegak, kini tinggal puing. Satu jip Land Rover terbakar hebat di gerbang utama, bannya meleleh, memuntahkan asap hitam membubung tinggi ke langit. Di kejauhan, sosok-sosok dengan penutup wajah berlarian melompati pagar beton, menembak membabi buta ke segala arah. DOR! DOR! Seorang perawat jatuh tersungkur tiga meter di depan mereka, nampan obatnya berhamburan ke tanah bercampur darah. Pengawal kiriman kakek Marco segera membalas tembakan itu tidak kalah sengit. "Ya Tuhan..." Rangga mematung. Kakinya beku ketakutan. "Jangan dilihat! Lari ke bunker belakang! LARI!" Marco mendorong punggung Rangga kasar. Mereka berlari membungkuk di antara parit-parit perlindungan. Desingan peluru terdengar fweeeet... fweeeet... di atas kepala mereka, memecahkan kaca jendela gedung tua di sebelah kiri. Debu beterbangan, ada yang masuk ke mata, membuat perih dan buta sesaat. Tiba-tiba terdengar suara jeritan anak-anak tidak jauh dari posisi mereka sekarang. "Pasien! Marco, pasien anak-anak di bangsal B!" Rangga tiba-tiba berhenti, menoleh ke arah tenda besar yang kini mulai dimakan api di bagian atapnya. "Udah ada tim evakuasi! Urus nyawa lo sendiri!" bentak Marco, menarik lengan Rangga sekuat tenaga. Tapi Rangga menepisnya. Matanya liar menatap tenda yang terbakar itu. Di sana, di tengah kepulan asap, terdengar jeritan anak kecil memanggil ibunya. Itu suara Yusuf. Pasien anak yang dijahit Marco kemarin. "Dia kejebak, Marco! Kakinya kan juga digips, dia nggak bisa lari!" Rangga nekat hendak berlari ke tenda itu tapi dicegah Marco. "Rangga! Jangan gila!" Marco mencengkeram rompi medis Rangga. "Itu kill zone! Liat arah tembakan! Sniper di jam dua belas!" BUUMM! Granat meledak di menara air, menghujani mereka dengan kerikil tajam dan air kotor. Cipratan lumpur menutupi wajah Rangga, tapi tidak menutupi tekad gila di matanya. Tekad seorang dokter yang sumpahnya sudah mendarah daging, lebih tebal dari rasa takut matinya. Rangga menatap Marco. Tatapan itu aneh. Bukan tatapan takut, tapi tatapan pamit. Dia tepis tangan Marco, “lo lari duluan, siapin mobil di jalur evakuasi," teriak Rangga, suaranya serak karena asap. "Gue ambil Yusuf. Cuma dua menit!" "JANGAN! RANGGA, BALIK!" Sebelum Marco sempat menahannya, Rangga sudah berbalik arah. Dia berlari sekencang yang dia bisa, bukan menjauhi bahaya, tapi justru menerjang masuk ke dalam kepulan asap tebal menuju tenda yang terbakar. Punggungnya yang berbalut rompi "MEDICAL" terlihat samar-samar ditelan abu. Marco terpaku sejenak, kakinya yang masih diperban berdenyut gila-gilaan. Sisi kiri hatinya berteriak, Tinggalkan dia. Itu bunuh diri. Selamatkan dirimu dan kamu bisa dapatkan Raras! Tapi sisi hati kanannya berteriak lebih keras, Dasar setan penghasut! Itu saudaramu, Marco, bantu dia! "Aarghh! Sialan!" umpat Marco. Ia mencabut pistol dari sarungnya, paket dari mamanya, benda haram bagi relawan medis tapi wajib bagi seorang Vescari dan berlari menyusul Rangga ke dalam neraka diikuti dua pengawalnya. Namun, baru lima langkah Marco berlari, sebuah bayangan hitam muncul di atas reruntuhan tembok di depannya. Moncong peluncur roket RPG** mengarah lurus ke jalur yang baru saja dilewati Rangga. Waktu melambat. Marco melihat jari penembak itu menekan pelatuk. "RANGGAAAAA!!!" Teriakan Marco hilang ditelan ledakan yang memutihkan pandangannya. Langit subuh Aleppo yang kelabu seketika berubah menjadi merah darah. Di tengah merah itu, Marco merasakan dunianya, dan dunia Raras, hancur tak bersisa menjadi debu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN