Part 7. T E R L A M B A T

2215 Kata
Di tenda triase darurat, Marco baru saja selesai menjahit luka robek di dahi seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun. Hebatnya, anak itu tidak menangis sama sekali, dia malah menatap Marco tajam. Di Aleppo, air mata adalah kemewahan yang sudah lama habis. Sungguh, Aleppo tidak mengenal waktu. Pagi hari di zona perang ini, ditandai dengan debu yang beterbangan dan malam yang ditandai dengan gemuruh mortir di kejauhan. Sudah dua bulan lebih mereka di sini. Dua bulan menghirup udara yang berbau amis darah dan mesiu. "Selesai, Jagoan," Marco menepuk bahu anak itu, memberikan satu-satunya permen lolipop yang tersisa di sakunya. Bocah lelaki itu akhirnya tersenyum kemudian melambaikan tangan pada Marco dan bergegas menuju ke teman-temannya, seolah perang ini adalah latar belakang kehidupan mereka sehari-hari tanpa perlu ditakuti. Di sekeliling Marco, puluhan relawan lain bergerak seperti robot yang diprogram oleh nurani. Tampak sekali mereka kurang tidur, kurang makan dan mandi hanya dengan tisu basah. Namun hebatnya, tidak ada satu pun yang mengeluh. Perawat Sarah tetap mengganti infus sambil tersenyum meski kakinya bengkak karena berdiri 18 jam. Dokter Hamzah membagikan jatah rotinya sendiri untuk pasien lansia yang kekurangan makanan. Mereka adalah malaikat-malaikat kumal yang menantang maut demi satu nyawa asing, yang sama sekali tidak mereka kenal, hanya berdasar kemanusiaan saja. Tapi hari ini, ada satu malaikat yang tingkahnya aneh. Rangga. Sejak pagi, Rangga bersenandung kecil. Di tengah bangsal yang penuh rintihan kesakitan, Rangga berjalan dengan langkah ringan, seolah sedang berdansa di ladang ranjau. Senyumnya lebar, matanya menerawang jauh. Marco memperhatikan sahabatnya itu dengan kening berkerut sambil membasuh tangannya yang penuh darah kering dengan alkohol. "Dia kenapa?" tanya Marco pada Dokter Hamzah. "Entahlah. Semalam dia dapat telepon dari istrinya lewat sat-phone. Habis itu dia senyum-senyum sendiri sampai subuh kayak orang gila," jawab Hamzah sambil geleng-geleng kepala namun ikut tersenyum kecil. Marco terdiam. Telepon dari Raras, hufft... Ingatan Marco melayang ke kejadian tadi malam. Dia rebahkan tubuhnya di velbed sebelah Rangga, pura-pura terlelap saat Rangga menerima giliran menggunakan telepon satelit di luar tenda. Saat Rangga kembali masuk, wajahnya basah bukan oleh keringat, tapi air mata bahagia. Rangga mengguncang bahu Marco yang "tidur", berbisik dengan suara bergetar. ‘Marco... yaah, lo tidur ya? Ah, sial. Gue harus cerita sama siapa nih? Gue bakal jadi ayah, Co. Raras hamil. Gak sabar gue buat nyium perut dia! Gue pingin cepat pulang!’ Marco mendengar itu semua. Di balik selimut tipisnya, tangan Marco mengepal. Rasa familiar yang dia jaga selama ini, datang lagi. Perasaan aneh antara ikut bahagia untuk dua sahabatnya bercampur rasa perih karena sadar bahwa Raras kini benar-benar terikat selamanya dengan Rangga. Benang merah itu telah berubah menjadi rantai baja! Selamat, Ga. Gue ikut bahagia untuk kalian. Hanya itu yang bisa Marco ucapkan walau dalam hati, terlalu sakit rasanya untuk menyampaikan secara langsung. * Sore harinya, situasi memanas. Ada laporan baku tembak di sektor utara, dekat reruntuhan pasar lama. Tim medis diminta bersiaga di perbatasan zona aman untuk mengevakuasi korban sipil yang terjebak. Rangga dan Marco turun dari jip Land Rover usang dengan rompi anti-peluru bertuliskan "MEDICAL". Debu tebal menyelimuti pandangan, membatasi jarak pandang mereka. "Fokus, Ga!" teriak Marco, suaranya bersaing dengan deru angin dan peluru, "jangan keluar dari garis perlindungan beton!" Marco yang terbiasa menjadi relawan internasional di zona perang sekaligus memang sering berlatih dengan Vescari di Italia, memeringatkan Rangga. Rangga mengangguk, tapi matanya tidak waspada. Pikirannya melayang ke Jakarta. Ke perut Raras yang mungkin mulai membuncit. Ke nama-nama bayi yang sudah ia susun di kepalanya sejak semalam. Nanti kalau pulang, aku mau belikan Raras mangga muda ah, batin Rangga sambil tersenyum simpul. Tanpa sadar, Rangga melangkah terlalu jauh dari balik dinding beton, sedikit menjauh dari tim relawan medis. Di suatu titik, dia melihat seorang ibu tua yang kesulitan berjalan menyeret karung gandum di area terbuka. Naluri kemanusiaannya, yang kini bercampur dengan euforia menjadi calon ayah, membuatnya lupa pada prosedur keamanan. Rangga berlari kecil menghampiri ibu itu. Di kejauhan, dari balik reruntuhan gedung lantai dua, ada kilatan cahaya matahari yang memantul pada lensa teleskopik. Mata Marco yang tajam menangkap kilatan itu. Insting Taysir dan Vescari di dalam darahnya menjerit bersamaan. Sniper. Marco menoleh ke arah Rangga dan arah sniper berada, terlihat mengarahkan ke Rangga. "RANGGA! BALIK!" Teriakan Marco kalah cepat dengan suara letusan senapan laras panjang. DOR! Waktu seolah melambat. Marco tidak berpikir lagi. Tubuhnya bergerak mendahului logikanya. Dia melesat keluar dari tempat perlindungan, berlari secepat cheetah dan menerjang tubuh Rangga hingga berdebum menimbulkan debu beterbangan. "TIARAP!" Marco menabrak Rangga sekeras yang dia bisa, menjatuhkan sahabatnya itu ke tanah berdebu tepat sepersekian detik sebelum peluru menghantam tempat Rangga berdiri tadi. Mereka berguling di tanah keras. Debu mengepul menambah tegang suasana, seperti di film-film perang. CRAAAK! Suara peluru yang meleset itu menghantam aspal, menciptakan percikan api. Tapi ada suara lain. Suara daging yang terkoyak dan sedikit bau gosong. "Arggh!" Marco mengerang pendek, menggigit bibirnya menahan teriak hingga berdarah. Rangga yang masih syok karena dijatuhkan paksa, menatap bingung ke arah Marco yang kini menindih tubuhnya sebagai tameng hidup. "Lo gila?!" teriak Rangga. "Diam bodoh! Merayap balik ke beton! SEKARANG!" bentak Marco, wajahnya merah padam menahan sakit, tapi matanya tetap nyalang, waspada memindai lokasi penembak. Mereka merayap mundur dengan susah payah dibantu tembakan perlindungan dari tentara penjaga perdamaian. Sesampainya di balik dinding beton yang aman, Rangga baru menyadari jika Marco terluka. Celana kargo Marco di bagian betis kanan robek. Darah segar mengalir deras, merembes membasahi sepatu botnya. Peluru itu sempat menyerempet betis Marco menimbulkan luka parut yang cukup dalam dan memanjang. Jika Marco terlambat sedetik saja melompat, peluru itu tidak akan mengenai kakinya, tapi menembus d**a Rangga! "Marco… kaki lo..." wajah Rangga pucat pasi, euforianya lenyap seketika digantikan horor. "Marco, kaki lo kena!" Marco duduk bersandar di dinding, napasnya memburu. Dia merobek celananya, melihat luka itu. Sakitnya luar biasa, terasa panas seperti disulut besi membara. Tapi untungnya, tidak mengenai tulang atau arteri utama. Hanya daging yang terkoyak dan dia sudah terlatih akan hal ini. "Nggak apa-apa. Cuma sedikit goresan," desis Marco sambil mengambil perban tekan dari tas medisnya. "Goresan apanya! Itu dalem banget, Marco!" Rangga panik, tangannya gemetaran mencoba membantu membalut luka Marco. "M-maafin gue... gue... gue tadi nggak liat..." Marco menepis tangan Rangga kasar. Ia menatap sahabatnya dengan tatapan berang. "Lo mau mati konyol, Ga?!" bentak Marco di depan relawan lain. "Lo punya istri lagi hamil di rumah, Rangga! Pake otak lo! Kalau lo kena peluru tadi, anak lo bakal jadi yatim bahkan sebelum dia lahir!" Rangga terdiam, tertohok telak. Rasa bersalah membebaninya, “g-gue... gue kepikiran Raras..." "Simpen Raras di hati lo, jangan di mata lo pas lagi di zona perang!" Marco mengikat perbannya dengan simpul mati yang sangat kencang, membuatnya meringis kesakitan menahan nyeri, “gue udah janji sama Raras buat bawa lo pulang hidup. Jangan bikin gue jadi pembohong, Rangga!” Marco mencoba berdiri. Kakinya pincang, tapi ia menolak dipapah. Bagi seorang Vescari, ini seperti gigitan nyamuk! Mamanya bisa mengomelinya tujuh hari tujuh malam jika dia bersikap cengeng hanya karena tergores. "Kita balik ke posko. Obatin luka gue di sana. Ingat, jangan berani-berani lo cerita soal ini ke Raras," ancam Marco dingin. Rangga mengangguk lemah, mengekor di belakang Marco seperti anak kecil yang baru dimarahi ibunya. Dia menatap punggung tegap sahabatnya yang kini berjalan terpincang-pincang karena menyelamatkannya. Hari itu, Rangga selamat karena satu alasan, ada seorang lelaki yang rela menukar kakinya sendiri demi menjaga senyum seorang wanita yang sedang mengandung anak sahabatnya. Dedikasi Marco Vescari Taysir bukan lagi sekadar sumpah dokter. Itu adalah sumpah cinta yang berdarah. * Malam itu, di dalam tenda barak yang hanya diterangi lampu minyak temaram, Rangga duduk bersila di atas velbed-nya. Di tangannya, sebuah buku harian kecil bersampul kulit imitasi yang sudah terkelupas di sana-sini terbuka lebar. Dia selalu menulis di buku hariannya, bercerita apa yang terjadi selama dia Aleppo agar kelak istri dan anak-anaknya bisa tersenyum bangga padanya, mengetahui apa yang telah dia lakukan pada kemanusiaan. Rangga menatap halaman kosong itu lama. Tangannya yang memegang pulpen bergetar, bukan karena dinginnya malam gurun, tapi karena sisa adrenalin yang digantikan rasa takut yang mulai menyergapnya. Dia nyaris mati hari ini. Dia nyaris tidak akan pernah melihat wajah anaknya. Dengan napas berat, ia mulai menulis. Aleppa, Hari ke-60. Ras, hari ini aku hampir mati konyol. Gara-gara aku terlalu sibuk membayangkan wajahmu dan calon anak kita, aku lupa kalau di sini nyawa tidak ada harganya. Maafin aku, Sayang. Kamu benar. Aku egois. Seharusnya aku tidak pernah meninggalkan kamu sendirian dalam kondisi hamil. Tadi sore, kalau bukan karena Marco, mungkin surat ini sudah jadi surat wasiat. Marco..., hufft, tadi dia marah besar. Dia menyelamatkanku dengan kakinya sendiri. Ras, dia benar-benar menepati janjinya sama kamu. Dia melompat ke arah peluru seolah-olah nyawanya nggak ada harganya dibanding nyawaku. Aku merasa berdosa. Aku merasa kecil sekali di hadapan ketulusannya. Tuhan, tolong izinkan aku pulang. Aku ingin minta maaf sama Raras. Aku ingin berterima kasih sama Marco dengan cara yang pantas. Aku ingin menggendong anakku. Tolong, jangan ambil nyawaku di sini. Rangga menutup buku itu, mengusap sampulnya pelan seolah itu adalah pipi Raras, lalu menyelipkannya ke bawah bantal. Dia menoleh ke velbed sebelah. Kosong. Marco belum kembali. * Sementara itu, di belakang tenda logistik, Marco duduk di atas tumpukan peti kayu. Sat-phone menempel di telinganya. Kakinya yang diperban diselonjorkan lurus, berdenyut nyeri setiap kali angin malam berhembus. "Kau melambat, Marco?" Suara di ujung telepon itu bukan suara ibu-ibu yang panik menangis. Itu suara Louisa Vescari yang tegas, dingin dan penuh analisa terutama tentang senjata. Marco meringis, menjauhkan telepon sedikit dari telinganya, “aku tidak melambat, Ma. Situasinya chaos. Ada warga sipil." "Seorang Vescari tidak menjadikan chaos sebagai alasan, Marco," potong Louisa tajam. "Kalau kakimu sampai tertembak, artinya kalkulasi posisimu salah. Kau terlalu emosional. Kau membiarkan fokusmu terpecah. Apa yang ayahmu ajarkan tentang situational awareness di hutan, hah? Hilang semua? Gak ada yang keinget?" Marco memijat pelipisnya. Ia membayangkan mamanya di Italia sana, mungkin sedang duduk di sofa kulit sambil memegang sebuah pistol, wajahnya datar tanpa air mata sedikit pun meski mendengar anak sulungnya tertembak. Darah Sisilia di nadi ibunya memang membuat wanita itu sekeras berlian. Rayan Taysir, ayahnya, seorang naturalis dan petualang gila yang pernah memetakan hutan sss sendirian bahkan ditangkap oleh kartel n*****a. Sedangkan Louisa Vescari, mamanya, merupakan dokter spesialis anestesi berdarah Italia, putri dari keluarga Vescari yang konon punya sejarah kelam sebagai mafia Sisilia sebelum Louisa memutuskan "bertobat" menjadi relawan medis. Kombinasi genetik itu menciptakan Marco, seorang pria dengan ketahanan fisik ayahnya dan ketenangan mematikan ibunya. "Ma, aku baik-baik saja. Cuma butuh sepuluh jahitan. Jangan marahin aku terus dong," Marco merengek pelan, suaranya tiba-tiba berubah menjadi anak laki-laki yang manja, sisi yang hanya ia tunjukkan pada keluarganya. "Huh, untung cuma betis. Kalau kena arteri femoralis, kau pulang tinggal nama. Sudah, bicaralah dengan adikmu. Dia dari tadi mondar-mandir depan Mama, bikin Mama pusing." Terdengar suara kresek-kresek, lalu suara lembut yang sangat kontras mengambil alih. "Mas Marco?" Suara Alessia, adiknya yang mewarisi mata teduh dan hati lembut Rayan Taysir, serta darah Jawa yang kental. "Hei, dek," suara Marco seketika melembut, "Mas baik-baik aja. Jangan dengerin Mama." "Gimana bisa nggak dengerin, Mama ngomel pakai bahasa Italia dari tadi, udah nembak papan target berapa kali nunggu Mas Marco nelpon," suara Alessia terdengar cemas, ada getar menahan tangis di sana, “sakit banget pasti ya?" Sebenarnya sang adik juga memiliki kemampuan tidak kalah darinya berkat didikan kakek buyut mereka, tapi sebagai cucu kesayangan, kakek mereka tidak mau ambil risiko sehingga menempatkan banyak bodyguard tanpa Alessia tahu. "Nggak, Dek. Kayak digigit semut doang kok. Semut mutan raksasa dan jumlahnya ribuan tapi." Ringis Marco sembari terkekeh kecil. Alessia tidak tertawa. Hening sejenak di sambungan telepon. "Mas..." panggil Alessia, “pasti nyelamatin mas Rangga lagi ya?" Marco terdiam. Adiknya ini selalu punya intuisi tajam, persis Papa mereka yang bisa merasakan perubahan arah angin di hutan. "Itu refleks, Sia." "Bukan refleks, Mas. Itu karena Mbak Raras, kan?" tembak Alessia tepat sasaran. "Mas Marco udah janji jagain suaminya Mbak Raras, sampai Mas rela badan Mas sendiri yang rusak. Iya, kan? Waktu aku anterin mbak Raras pulang, dia cerita kalau lebih yakin melepas mas Rangga karena ada Mas Marco yang menemani.” Marco menghela napas panjang, menatap langit Aleppo yang berbintang namun suram karena tertutup debu dan misil beterbangan, "kalau Rangga kenapa-napa, Raras hancur, Sia. Mas nggak bisa liat dia hancur." "Tapi yang hancur itu Mas Marco," bisik Alessia, suaranya penuh keprihatinan tulus seorang adik. "Mas, tolong... jadi pahlawan itu boleh. Tapi jangan jadi pahlawan kesiangan, jangan sampai Mas Marco lupa kalau Mas juga manusia. Mas juga berhak pulang dengan utuh. Bukan cuma demi Mas Rangga, tapi demi Mama, demi ayah, demi aku juga..." Marco merasakan matanya memanas. Omelan mamanya tadi hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan karena terbiasa diomeli, tapi kelembutan adiknya meruntuhkan pertahanan dirinya. Tiba-tiba dia jadi teringat eyangnya di kampung. "Iya, Sia. Mas janji bakal lebih hati-hati. Sepulangnya dari sini, kita ke rumah eyang di Solo, yuk..." ajak Marco. "Janji ya, Mas?" Alessia berubah ceria, "Mas, ikhlas itu baik. Tapi jangan sampai Mas Marco mengorbankan nyawa buat kebahagiaan orang lain yang bahkan nggak sadar dengan pengorbanan yang Mas Marco lakukan." Sambungan terputus. Marco menurunkan telepon satelit itu perlahan. Kalimat adiknya terngiang-ngiang di kepala, bersaing dengan rasa nyeri di betisnya. Jangan sampai Mas Marco mengorbankan nyawa buat kebahagiaan orang lain.  Marco tersenyum getir menatap perban di kakinya. "Terlambat, Dek," bisiknya pada angin malam. "Mas udah lakuin itu sejak hari pertama Mas jatuh cinta sama dia."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN