Part 6. Marco's Dark Wishes

1619 Kata
"Pesawatnya bakal boarding bentar lagi, Ga," suara Raras bergetar, meski ia berusaha tersenyum. Rangga tidak menjawab. Dia hanya menatap wajah istrinya, merekam setiap inchi detailnya, lengkung alisnya, t**i lalat kecil di dagunya, hingga mata sembap yang berusaha tegar itu. Rangga membetulkan letak syal di leher Raras, jarinya menyentuh kulit leher itu lama, seolah enggan melepaskan kehangatan yang harus ia tinggalkan. "Tiga bulan itu sebentar, Sayang," Rangga berbisik, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri daripada Raras. Matanya berkilat antusias membayangkan misi kemanusiaan yang menantinya, tapi bahunya merosot berat menanggung rasa bersalah meninggalkan wanita yang paling dicintainya. "Pas aku pulang nanti, kamu mungkin udah gendutan dikit karena kebanyakan makan cokelat. Kamu kalau stress kan suka kalap makan." Raras tertawa kecil, satu bulir air mata lolos dari sudut matanya. Tangannya secara refleks bergerak melindungi perutnya, gerakan yang luput dari perhatian Rangga yang sedang sibuk menghapus air mata di pipi istrinya. Di belakang mereka, Marco Vescari Taysir berdiri dengan tangan terlipat di d**a. Ia memutar-mutar paspor di tangannya dengan gelisah. Marco melihat adegan di depannya seperti menonton film yang sudah dia hafal ending-nya, tapi tetap menyakitkan untuk ditonton ulang. Dia melihat cara Rangga menatap Raras, sebuah tatapan memuja yang membuat Marco merasa seperti penyusup di momen sakral orang lain. Kenapa gue harus ada di sini? batin Marco berteriak lelah. Kakinya ingin melangkah pergi, masuk ke gate duluan, meninggalkan drama perpisahan ini. Tapi kakinya terpaku. Dia adalah bodyguard tak resmi. Dia adalah ban serep yang harus siap sedia jika ban utamanya pecah. "Marco!" panggil Rangga. Marco menegakkan tubuhnya, kembali memasang topeng datarnya. Dia berjalan mendekat saat Rangga melepaskan pelukan Raras. "Jagain dia sampai gue masuk gate," kata Rangga pada Marco, lalu beralih lagi ke Raras. Satu ciuman terakhir mendarat di kening Raras. Lamaaa dan dalam. "Dah, Sayang. Doain aku." Rangga berbalik, menarik koper kabinnya dengan langkah cepat, seolah takut jika dia menoleh sekali lagi, maka dia akan membatalkan misinya. Marco mengangguk singkat pada Raras., “lo balik bareng adik gue. Tuh Sia udah nungguin. Jangan pulang sendiri." Raras mengangguk, "hati-hati," Raras menatap Marco dengan mata basah. "Bawa dia pulang utuh. Please." "Hmm." Marco berbalik, menyusul langkah lebar Rangga. Mereka berjalan bersisian menuju pemeriksaan imigrasi, menembus kerumunan penumpang. Saat mereka duduk di ruang tunggu Gate 9, menunggu panggilan terakhir, Rangga tiba-tiba menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, menatap langit-langit bandara yang tinggi. "Bro," "Apa?" Marco sibuk membalas pesan dari ibunya di Italia yang menanyakan apakah dia membawa cukup peralatan. Padahal Lui bertanya senjata tapi Marco mengira alat bedah. "Perasaan gue nggak enak," gumam Rangga. Suaranya kehilangan nada riang yang tadi ia tunjukkan di depan Raras. Marco melirik dari sudut mata, “kita belum terbang, Ga, mabuk udara belum mulai. Jangan manja." "Bukan itu," Rangga menoleh, menatap Marco dengan tatapan yang aneh. "Gue serius. Kalau..., kalau misal di sana situasinya chaos, kalau terjadi sesuatu sama gue..." Rangga menelan ludah, jakunnya bergerak naik turun, "gue titip Raras. Pastiin dia nggak sendirian. Pastiin dia bahagia. Kalau perlu, lo yang gantiin gue. Lo yang paling ngertiin dia." Jari Marco yang sedang mengetik di layar ponsel berhenti. Darahnya berdesir naik ke kepala. Kalimat itu. Sebuah kalimat klise dari sinetron murahan keluar dari mulut sahabatnya sendiri. Marco menoleh. Tatapannya dingin dan tajam. "Tarik ucapan lo," desis Marco. "Gue cuma jaga-jaga." "Gue bilang tarik!" Marco mencengkeram lengan kursi besi itu hingga buku-buku jarinya memutih. "Lo pikir gue ikut lo ke neraka itu buat apa? Buat dengerin wasiat lo? Gue ikut buat nyeret lo pulang hidup-hidup, b**o! Tarik kata gue!” "Gue nggak bisa tarik, Mark. Karena gue tahu..." Rangga memotong kalimatnya sendiri. Suaranya berubah lirih, sarat akan penyesalan, “gue tahu lo orang yang tepat." Marco menatap Rangga dengan kening berkerut. "Maksud lo?" Rangga tersenyum getir. Ia menunduk menatap sepatunya, seolah tak sanggup menatap mata sahabatnya. "Gue tahu itu. Gue tahu lo udah suka sama Raras jauh sebelum gue kenal dia. Gue liat tatapan lo ke dia selama tujuh tahun ini." Tubuh Marco membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Rahasianya, kotak pandora yang ia jaga dengan nyawanya, kini terbuka lebar sesaat sebelum mereka menuju daerah perang. "G-gue..." Marco tergagap, lidahnya mendadak kelu. Suaranya hilang ditelan kepanikan, "Ga, itu... lo salah paham..." "Nggak usah disangkal," potong Rangga lembut. Ia mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca. "Justru gue yang harus minta maaf ke lo. Maafin gue. Gue sahabat yang jahat. Gue tahu perasaan lo, tapi gue tetep maju. Gue egois karena gue cinta mati sama Raras. Dan sekarang, gue malah minta lo jagain wanita yang harusnya jadi milik lo kalau bukan karena gue nyerobot masuk." Marco ternganga. Tidak ada kata-kata cerdas atau sarkas yang bisa keluar. Ia merasa marah. Selama ini Rangga tahu dan membiarkannya? "Gue cuma percaya sama lo, Mark," Rangga menepuk lutut Marco yang kaku. "Karena gue tahu, cinta lo ke Raras itu tulus. Lebih tulus dari siapa pun." Panggilan boarding terdengar. Rangga berdiri, menarik napas panjang seolah sebuah beban berat sudah terlepas. "Ayo," ajak Rangga, mencoba tersenyum normal meski matanya masih basah. Marco masih duduk terpaku. Otaknya seketika konslet. Rasa bersalah, rasa malu, dan rasa marah bercampur aduk menjadi racun. Rangga menepuk bahu Marco sekali lagi, lalu berjalan duluan menuju garbarata. Marco menatap punggung itu. Punggung pria yang baru saja mengaku "mencuri" Raras darinya, namun sekaligus memercayakan Raras padanya. Di detik itu, di tengah kekalutan mentalnya, sebuah suara berbisik di sudut tergelap hati Marco. Suara iblis yang merayap keluar dari celah kelelahannya. Hei, man, dia tahu lo cinta Raras. Dia merasa bersalah. Kalau dia benar-benar gak balik…, itu bukan salah lo, kan? Itu karma buat dia yang egois? Kalau Rangga pergi selamanya, Raras akan butuh sandaran. Rangga sendiri yang barusan minta lo yang jadi gantinya dia. Pikiran itu melintas secepat kilat, namun efeknya seperti racun sianida. Manis, wangi seperti almond tapi sangat mematikan. Jantung Marco berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena secercah harapan terlarang yang menjijikkan. Harapan bahwa jika Rangga tidak pernah kembali, maka gilirannya akan tiba. Marco tersentak. Napasnya tercekat. Ia menampar pipinya sendiri pelan. Gila lo, Marco! Itu sahabat lo! Dia baru aja minta maaf sama lo! Rasa mual menghantam ulu hatinya. Dia merasa jijik pada dirinya sendiri. Jijik menyadari bahwa di balik jas putih dokter dan label "sahabat setia", ada seorang pria oportunis yang diam-diam menghitung peluang di atas kemungkinan kematian sahabatnya sendiri. Marco bangkit berdiri dengan kaki gemetar. Ia menatap punggung Rangga yang hampir hilang di belokan garbarata. Gue bukan malaikat, Ga, batin Marco, melangkah berat mengejar takdirnya. Malaikat nggak akan pernah berharap lo mati supaya bisa memiliki istri lo. Dengan membawa dosa dalam pikiran itu, Marco melangkah masuk ke dalam pesawat, menuju Aleppo yang mungkin akan menjadi tempat di mana doa kotornya dikabulkan Tuhan dengan cara yang paling kejam. Marco berjalan di lorong sempit di belakang Rangga. Langkahnya berat, seolah ada besi pemberat yang diikatkan di pergelangan kakinya. “Sial, gue iblis. Gue sempat berharap dia mati.” Kalimat itu masih berdengung di telinganya, lebih nyaring dari deru mesin jet yang mulai dipanaskan. Marco menatap punggung Rangga di depannya. Punggung itu tegap, lebar, dan familiar. Lengan yang pernah memapahnya saat Marco keseleo waktu naik gunung di Semeru. Marco berhenti mendadak di baris kursi 14. Ia mencengkeram sandaran kursi di sampingnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Misi, Mas? Boleh lewat?" Seorang penumpang di belakangnya menegur. Marco tersentak kaget. Ia menyingkir, membiarkan orang itu lewat, lalu menarik napas panjang dan tajam lewat hidung. Lo gila, Marco, batin sisi warasnya berteriak, suaranya terdengar seperti bentakan ibunya, istighfar! Tarik keinginan lo tadi! Gak perlu! Marco pejamkan mata untuk mengusir pertengkaran suara hatinya. Kali ini sisi baiknya yang menang karena dia beristigfar dalam hati. Saat membuka mata, dia melihat Rangga sedang bersusah payah menaikkan koper-koper kabin ke kompartemen atas. Wajah Rangga terlihat lelah, tapi saat menoleh ke Marco, ia menyengir lebar. "Woy, bengong aja! Bantuin napa, berat inih!" seru Rangga. Melihat cengiran tulus itu, d**a Marco serasa dipukul palu Thor. Bagaimana bisa dia mengharapkan keburukan pada wajah sepolos itu? Dengan gerakan cepat, Marco maju. Dia menyambar koper itu dari tangan Rangga, mendorongnya masuk ke kompartemen dengan satu hentakan kasar yang bertenaga. BRAK! Pintu kompartemen tertutup keras. "Wusss, santai Bro. Tenaga kuli banget tuh," kekeh Rangga, lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi dekat jendela. Marco duduk di sebelahnya dan langsung menyibukkan diri. Dia menarik sabuk pengaman, menguncinya dengan bunyi klik yang tegas, lalu menarik talinya sekuat mungkin. Marco mengeluarkan botol air mineral, meneguknya rakus sampai habis setengah, mencoba membilas rasa pahit 'dosa' di lidahnya. "Lo pucet, Co," Rangga menatapnya khawatir. "Lo sakit?" Marco menoleh. Ia menatap wajah Rangga lekat-lekat berusaha mencari bayangan iblis di sana, tapi yang dia temukan di mata Rangga adalah dirinya sendiri, seorang pria pengecut yang bersembunyi di balik topeng sahabat. Marco menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan. "Gue nggak sakit," suara Marco serak. Dia memalingkan wajah ke arah kanan, tidak sanggup menatap ketulusan Rangga lebih lama lagi, “gue cuma benci sama diri gue sendiri hari ini." "Hah? Kenapa?" tanya Rangga, memiringkan tubuhnya ke kanan. "Udah ah, diem. Istirahat, Rangga, gue mau tidur," Marco memotong cepat, lalu menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata rapat-rapat. Di balik kelopak matanya yang tertutup, Marco merapalkan doa—doa yang tulus kali ini, untuk menebus keinginan tergelapnya tadi. Tuhan, abaikan doa gue yang tadi. Itu bukan gue. Itu setan. Selamatkan kami, lindungi kami. Bawa Rangga pulang ke Raras. Ambil nyawa gue kalau perlu, sebagai gantinya. Kenapa lo nyalahin gue? Teriak protes sisi hati gelapnya. Gak gitu juga konsep doanya, woy! Ambil lo, terus mommi Lui gimana? Doa itu yang bener dong! Istighfar, Marco, makanya perbanyak istighfar! Kembali terdengar celotehan sisi hati putihnya. Tangan Marco meremas sandaran tangan kursi. Ia bersumpah, mulai detik ini, ia akan menjadi tameng hidup Rangga. Ia akan membuktikan pada Tuhan dan pada dirinya sendiri bahwa persahabatan mereka lebih kuat daripada egonya yang busuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN