Part 5. Panggilan Kematian

1915 Kata
"Uggh.. hoeek..." Raras membekap mulutnya, berlari kecil menuju wastafel dapur dan memuntahkan cairan bening, napasnya memburu dan bulir keringat sebesar jagung muncul di keningnya. Sepasang tangan kekar yang hangat melingkar di pinggangnya dari belakang, diikuti usapan lembut di tengkuknya. "Masuk angin lagi?" tanya Rangga cemas. Dia memutar tubuh Raras untuk melihat wajah sang istri tercinta, menempelkan punggung tangannya ke dahi istrinya, “Ras, badan kamu nggak panas, tapi wajahmu pucat banget. Aku bilang juga apa, jangan sering-sering lembur di lab yang AC-nya dingin buanget kayak kutub utara itu." Raras tersenyum lemah, menyandarkan kepalanya di d**a bidang Rangga. Ia bisa mendengar detak jantung suaminya, sebuah irama yang enam bulan terakhir ini menjadi musik pengantar tidurnya, membuatnya terlelap nyaman. "Cuma mual dikit, Ga. Mungkin karena kemarin telat makan," gumam Raras. Rangga tidak menjawab. Ia justru mengangkat tubuh Raras dengan mudah, mendudukkannya di atas meja pantri marmer. Tanpa kata, Rangga mengambil segelas air hangat, lalu menempelkan gelas itu ke bibir Raras. "Minum dulu," katanya lembut. Tatapannya, tatapan itu yang selalu membuat lutut Raras lemas. Mata tajam Rangga menatapnya bukan seperti melihat istri, tapi seperti melihat satu-satunya bintang yang tersisa di langit gelap. Penuh pemujaan dan cinta. "Hari ini baiknya ijin aja, Ras, jangan paksakan masuk. Aku gak mau kamu tepar karena sakit. Nanti aku sedih, loh.” Bisik Rangga penuh manja, seolah anak TK yang takut ditinggal ibunya, “euum atau kita ke dokter ya?" bujuk Rangga, merapikan anak rambut Raras ke belakang telinga. “Kamu kan dokter, Ga…,” jawab Raras gemas. “Haha iyaa juga. Eh Ras, atau aku panggil Marco ke sini? Dia kan paling jago diagnosa." Mendengar nama Marco, senyum Raras sedikit memudar. "Kamu iih, mentang-mentang bestie jadi manfaatin ya? Lagian Marco sibuk banget akhir-akhir ini, Ga," kata Raras pelan. Matanya melirik kursi makan ketiga yang kosong. Dulu, kursi itu adalah singgasana Marco setiap akhir pekan. Tapi sejak pernikahan mereka, kursi itu lebih sering dingin, “kamu ngerasa gak sih, dia tuh ditelepon nggak diangkat, dichat balesnya singkat banget. Apa dia ngejauh dari kita ya?" Jujur, ada sedikit perih saat Raras menyadari Marco menghindari mereka. Rangga tertawa, mencium puncak hidung Raras, “jangan suudzon ah. Dia lagi sibuk ngurusin bisnis keluarganya di Italia sono kalik. Di rumah sakit juga aku jarang ketemu. Atau lagi pdkt sama cewek lain? Biarin aja dia napas, Sayang. Masa mau jadi nyamuk kita terus? Kasian ah dia.” Raras mengangguk ragu. Sesaat tadi, jauh di lubuk hatinya, entah kenapa dia merindukan kehadiran Marco. Kehangatan Rangga memang membakar dan b*******h, tapi ketenangan Marco bak jangkar kokoh yang menyeimbangkan hidupnya. Tanpa Marco, rasanya seperti berjalan hanya dengan satu sepatu. * Raras mengikuti saran Rangga untuk mengambil cuti hari ini dan bermalas-malasan di rumah. Sore harinya, langit Jakarta berubah warna menjadi abu-abu pekat. Awan kumulus menggantung rendah seperti kembang kol raksasa yang berwarna abu-abu yang menandakan hujan akan turun lebat. Angin bertiup kencang dan memukul jendela kaca rumah mungil mereka, membawa butiran air yang kian lama kian deras. Sebelum Isya, Rangga pulang membawa amplop cokelat besar dengan kop surat resmi sebuah NGO internasional. Wajahnya basah oleh air hujan, tapi matanya menyala-nyala seperti kembang api. "Ras, ingat aplikasi relawan yang aku kirim iseng sebelum kita nikah?" Rangga mengguncang amplop itu di udara, suaranya bergetar antusias, “finally, mereka setuju! Doctors Without Borders! Misi medis darurat ke Aleppo! Yeaay!” Dhuaarr! Petir menyambar tepat saat Rangga menyelesaikan kalimatnya. Cahaya kilat memutihkan wajah Raras yang seketika darahnya surut mendengar pekikan Rangga. "Aleppo? Seriusan, Ga? Harus ke Suriah banget?" Raras berdiri dari sofa, baju yang sedang dia lipat jatuh ke lantai, “itu zona perang, Rangga. Berita pagi ini bilang gencatan senjata batal. Ada bom di pasar sipil. Kamu gila, Ga?" Raras mendekati Rangga, mengguncang lengan suaminya berharap tersadar dari kegilaannya itu. "Itu panggilanku, Ras," Rangga mendekat, ganti balas memegang kedua bahu Raras, mencoba mentransfer semangatnya. "Mereka butuh dokter bedah. Rumah sakit di sana lumpuh. Bayangin, Ras, ada ribuan orang yang nggak punya akses medis. Aku bisa bantu mereka. Kamu tahu aku sangat ingin bisa menjadi relawan medis internasional, Ras, tidak hanya di Indonesia saja tapi aku juga bisa berguna bagi dunia!” Rangga masih antusias bercerita pada Raras, tidak bisa menyadari kegelisahan sang istri. "Tapi kita baru nikah enam bulan, Ga," cici Raras, kalah oleh suara hujan yang menghantam genting bertalu-talu seolah drum raksasa dipukul, "sekarang kamu punya aku. Kamu punya rumah ini." Raras ingin berteriak ‘Tidak!’. Dia ingin egois. Tapi melihat api di mata suaminya, api yang membuatnya jatuh cinta dulu. Raras mengangguk lemah. "Ras, aku cuma pergi tiga bulan. Cuma tiga bulan aja, kok." Masih saja Rangga abai pada protes Raras. Rangga meraih ponselnya, “bentar, aku harus kasih tahu Marco, kami kan daftar bareng waktu itu dan sama-sama masuk daftar tunggu. Kalau Marco ikut, kamu bisa jadi lebih tenang, kan? Dia jimat keberuntungan kita." Tanpa melihat lagi ke Raras, Rangga melakukan panggilan video. Wajah Marco muncul di layar ponsel. Suasananya gelap, sepertinya di dalam mobil. Wajah Marco terlihat lelah, kantung matanya menggelap. "Apa?" tanya Marco tanpa basa-basi, matanya fokus ke jalanan di depannya. "Kita berangkat, Mark! Aleppo memanggil!" seru Rangga dengan wajah berseri. Di layar, Raras bisa melihat rahang Marco mengeras. Mata biru tajam Marco tidak menatap Rangga, melainkan menatap Raras yang berdiri di belakang Rangga dengan wajah pucat ketakutan. Raras menggeleng lemah. Marco bisa melihat tangan Raras yang meremas ujung bajunya, sebuah tanda kecemasan yang hanya dipahami oleh Marco. "Ga, lo yakin mau ninggalin Raras?" suara Marco terdengar tajam. "Dia wanita kuat. Lagian ada asuransi, ada tabungan, ada lo juga," Rangga bicara cepat. "Please, Bro. Gue butuh lo. Kita tim terbaik. Gue yakin kita bisa berikan yang terbaik untuk misi kemanusiaan ini di sono. Lo udah ahli jadi relawan medis di medan perang, gue butuh lo, Marco, ajari gue.” “Ga, gue tanya sekali lagi, lo yakin mau ninggalin Raras?” tanya Marco tegas. Dia sampai menepikan mobil di pinggir jalan agar bisa lebih konsentrasi ke pembicaraan mereka. Rangga masih saja mengangguk antusias, bahkan menarik tubuh Raras ke pelukannya. Ditumpukannya dagu di atas pucuk kepala Raras, “Raras bakalan kasih ijin kalau lo juga ikut.” Marco mendesah lelah, mengusap wajahnya kasar, “Ga, lo sekarang udah punya istri, punya tanggung jawab. Gue masih bujangan. Kita beda status, Rangga. Lo gak boleh egois gitu.” “Justru gue akan jadi manusia egois kalau mikirin diri sendiri sementara banyak korban di sono yang butuh keahlian gue. Lagian cuma tiga bulan aja. Raras bisa nunggu gue, wong cuma sebentar,” Rangga melihat ke Raras, “iya kan, Ras?” Hening di seberang sana, Raras tidak menjawab. Dia hanya berikan senyum kecil dengan bibir bergetar. Marco tampak bergulat dengan batinnya sendiri. Matanya menatap lurus ke arah Raras lewat kamera ponsel. Tatapannya seperti menanyakan kepastian pada Raras, ‘Lo yakin ngasih ijin, Ras? Kalau iya, gue bakal jaga Rangga.’ Raras mengangguk samar, seolah tahu Marco bertanya itu. Tapi Marco bisa lihat ada bulir air mata menetes di pipi Raras. Marco tahu, Raras mengandalkannya. Jika Rangga harus pergi, setidaknya ada Marco karena Marco tidak akan membiarkan Rangga lecet sedikitpun. Marco menghela napas panjang, seolah membuang seluruh ego dan kelelahannya. "Oke," kata Marco akhirnya, "gue ikut. Tapi satu syarat, Ga, lo harus nurut sama setiap instruksi keamanan gue. Kita ke sana bukan untuk mati konyol, tapi untuk memberikan keahlian kita, gue nggak mau bawa pulang mayat lo ke Raras." "Deal!" Rangga bersorak senang, karena dengan Marco juga ikut, artinya Raras akan lebih tenang dan mengijinkan. * Malam Sebelum Keberangkatan Sore itu, dua koper besar sudah berjejer di sebelah ranjang. Rangga sedang di kamar mandi, bernyanyi kecil sambil mencukur kumisnya, sepertinya dia terlalu bersemangat hingga susah tidur. Raras duduk di tepi ranjang. Tangannya gemetaran memegang sebuah benda plastik kecil berwarna putih. Dia baru saja membelinya diam-diam di apotek online karena mualnya tidak juga kunjung mereda. Dua garis biru! Sangat jelas. Jantung Raras sesaat berhenti berdetak, lalu berpacu gila-gilaan. Dia hamil! Ada nyawa di dalam rahimnya, buah cintanya dengan Rangga. Raras berdiri, kakinya lemas. Dengan langkah goyah, dia berjalan menuju pintu kamar mandi. Dia membayangkan reaksi Rangga, suaminya itu pasti akan berteriak gembira, menggendongnya berputar-putar, menangis terharu. Bahkan mungkin, Rangga akan membatalkan kepergiannya demi menjaga kehamilan ini. Itu harapan Raras, kehamilannya akan mampu membatalkan kepergian Rangga. Tangan Raras sudah menyentuh gagang pintu kamar mandi saat dia mendengar suara Rangga dari dalam, "tunggu aku, Aleppo! Dokter Rangga comes to the rescue, yeeay!" Rangga berbicara pada cermin, lalu tertawa lepas, “ini mimpi gue dari dulu. Akhirnya... akhirnya gue bisa berguna buat dunia." Tangan Raras terhenti. Dia bisa melihat siluet Rangga dari celah pintu yang sedikit terbuka. Wajah itu bersinar terang bak purnama penuh. Penuh tujuan, penuh hidup. Baru kali ini Raras melihat Rangga seantusias ini. Bahkan wajah seperti itu tidak pernah ditunjukkan Rangga saat menjadi tim relawan medis di dalam negeri. Raras meragu, jika dia memberitahu Rangga sekarang, maka dia akan memadamkan cahaya itu. Yah, Rangga mungkin akan tinggal sesuai harapannya, tapi hatinya akan mati. Rangga akan hidup dalam penyesalan karena melewatkan panggilan hidupnya. Rangga mungkin akan hidup bak zombie dan memelototi layar ponsel melihat kondisi di Aleppo. Raras mundur perlahan, menunda apa pun yang ada di pikirannya saat ini. Ia kembali duduk di tepi ranjang. Matanya menatap testpack di tangannya, lalu beralih ke koper Rangga yang sudah tertutup rapi. "Tiga bulan," bisik Raras, mengusap perutnya yang masih rata, “kita tunggu papa tiga bulan lagi ya, Nak? Biar papa jadi pahlawan dulu. Kamu pasti akan bangga karena punya papa yang pahlawan. Kamu akan jadi kejutan terindah untuk papamu, Nak.” Pintu kamar mandi terbuka. Rangga keluar dengan handuk melilit pinggang, rambutnya basah meneteskan air. "Ras, tolong ambilin... eh, kamu kenapa nangis?" Rangga buru-buru menghampiri, wajahnya panik. "Hei, hei... jangan nangis dong. Aku cuma pergi sebentar aja, kok. Janji deh bakal sering telepon, video call juga.” Raras menatap suaminya. Kalimat 'Aku hamil, Mas' sudah siap di ujung lidah, sungguh ingin dia teriakkan. Tapi kemudian Raras melihat seragam rompi relawan yang tergantung di lemari. Seragam itu terlihat gagah. Dia membayangkan jika nekat memberitahu Rangga sekarang, konsentrasi suaminya akan pecah di sana. Rangga pasti akan khawatir berlebihan. Rangga akan bekerja dengan hati yang tertinggal di Jakarta. Di medan perang, satu detik ketidakfokusaan bisa berakibat fatal, nyawa taruhannya! "Nggak apa-apa," Raras berbohong, mengusap air matanya kasar, "aku cuma bakalan kangen banget sama kamu, Ga.” Rangga tersenyum lega, mencium kening istrinya lama sekali, “aku juga, Sayang. Jaga diri baik-baik ya. Tunggu aku pulang." "Pasti." “Nah, biar kangen kita terlepaskan malam ini, gimana kalau kita panasin malam ini, heuum? Aku akan membuatmu menjeritkan namaku berkali-kali, Ras!” kata Rangga dengan senyum iseng menggoda. Raras seketika terkekeh melihat keusilan suaminya. Usai malam panas mereka, dengan gerakan hati-hati, Raras membuka pelan laci nakas di samping tempat tidur dan meletakkan alat tes kehamilan itu di bagian paling dalam, di bawah tumpukan novel romansa favoritnya. Lalu menutup laci itu perlahan. Nanti saja, batin Raras. Aku akan kasih tahu Rangga lewat video call pas dia mau pulang, biar jadi kejutan. Raras tidak tahu, bahwa "nanti" itu tidak akan pernah ada. Dia tidak tahu bahwa malam itu adalah kali terakhir dia bisa memanaskan malam bersama Rangga dan rahasia di dalam laci itu akan menjadi penyesalan terbesar yang menghantuinya seumur hidup, bahwa Rangga Pradipta pergi meninggalkan dunia ini tanpa pernah menyentuh perut Raras, membaluri perut itu dengan doa-doa. Raras tidak tahu, bahwa kunci itu tidak akan pernah bisa dibuka lagi. Kejutan yang sengaja dia simpan untuk kepulangan suaminya, kelak hanya akan menjadi rahasia yang ia tangisi di atas tanah merah yang basah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN