"...menjauhlah dari Raras," * Marco tertegun mendengar permintaan itu. "Kehadiranmu mengingatkannya pada Rangga. Itu membuat lukanya terus-menerus berdarah. Biarkan dia sembuh dulu. Jangan datang ke sini sampai dia siap." Marco mengangguk pelan. Dia mengerti. Dia adalah garam di atas luka Raras. "Baik, Om, saya bisa pahami itu. Titip Raras. Saya akan minta mama untuk memberi cuti panjang enam bulan agar Raras bisa fokus pada penyembuhannya. Saya permisi, Om,” Marco menyalami tangan Pak Damar, lalu berbalik badan. Dia berjalan menuju mobilnya di bawah gerimis yang semakin deras, meninggalkan rumah yang dulu adalah rumah keduanya. Marco tersenyum getir, dia diusir bukan karena dibenci, tapi karena kehadirannya terlalu menyakitkan untuk wanita yang sangat dia cintai. Tiga hari kemudian

