Agna Sang Api Hitam! (Bag. 2)

2325 Kata
(Beberapa waktu lalu.) Iwan bergegas menghampiri tiga orang mahasiswa dan tiga orang pelajar SMA yang masih tergeletak tak sadarkan diri. Matanya tertuju pada siswi SMA yang telah tergores benda tajam di bagian lengan – Diana.“Hey! Hey! Bangun!” serunya menggoyang-goyangkan badan Diana. “Woy! Kalian! Ayo, cepat sadar!” teriaknya lagi sembari mencoba melepas ikatan tambang yang cukup erat pada tiang kayu. “Wildan!” jeritnya setelah ikatan tambang nan usang terlepas. Netra gadis bermata jeli tersebut lebar terbuka, mengamati wajah Iwan yang ia kenali. “E-eh, Kak... Kak Iwan?” “Lukamu, kau tidak mengalami pendarahan, kan?” Pemuda jangkung berambut ikal memandang baik-baik luka gores di lengan kiri Diana. Gadis mancung berbadan mungil menggeleng lirih. “T-tidak, Kak.” “Bagus!” Segera beralih pada lelaki rambut keriting di samping Diana, Iwan menoleh kecil pada gadis tersebut. “Bantu lepaskan ikatan mereka! Cepat!” Berhasil melepas ikatan tambang yang menjerat Alif dari pasak kayu, Iwan melompat mendekati pemuda gempal beralmamater kampus. “Waktu kita tidak banyak! Cepat bantu lepas ikatan mereka semua!” “Di mana dukun tadi!” Alif mendelik memeriksa lingkungan sekitar. Selain api unggun yang masih menyala tanpa berkurangnya kayu di sana, tak ada hal ganjil lain yang mana ia temukan. “Sudah! Cepat bantu lepas ikatan mereka saja!” pintanya tegas. “Ada seseorang yang membantuku sampai lagi di sini,” imbuhnya lirih. Alif yang tengah melepas ikatan tali dari seorang mahasiswa, menoleh kecil pada Iwan. “Siapa? Apa pihak berwenang?” “Tim SAR beserta tentara dan polisi sepertinya memang tak akan bisa sampai kemari. Karena sekarang, kita ada di alam lain,” jelasnya. Alif berdengkus. “Lalu siapa orang yang membawamu kemari, dan di mana dia?” “Pemuda bernama Wildan Alfatih,” jawab Iwan. Mendengar nama yang sang panitia perkemahan sebut, Diana dan Alif saling memandang dalam ketakjuban – tak percaya pada sosok yang dimaksudkan. * Sayf melaporkan situasi pada Wildan yang sudah siaga dalam kuda-kuda al Karate-ka, ‘Lelaki bernama Iwan sepertinya berhasil membawa orang-orang di sana kembali ke dunia manusia! Sebaiknya mundur segera, Wildan! Kita tak bisa melawan orang ini!’ Pemuda berjaket serta celana jeans, tampak puas melihat wajah sang musuh lama yang sekarang. “Wildan Alfatih. Sekarang kita berada di dimensi gaib, yang artinya... kau tak akan bisa menghentikan waktu di sini.” Agna kembali mengenakan topi biru gelap ke kepala. “Ngomong-omong, aku cukup terkejut bisa melihat usia remajamu. Padahal, terakhir kali kita bertemu, wajahmu itu ditumbuhi berewok lebat, loh!” ledeknya berjalan maju. ‘Sayf? Siapa sebenarnya orang ini? Apa dia benar mengenalku di kehidupan lalu?’ tanya Wildan lewat batin tanpa mengalihkan pandangan. ‘Akan aku jelaskan nanti, Wildan! Untuk sekarang, segeralah pergi dari sini! Aku sempat merasakan kehadiran kekasihmu tak jauh dari sini.’ “Diana!” Wildan melirik ke kanan bawah. “Apa Diana juga sudah selamat?” tanyanya berbisik. ‘Ya. Sepertinya Iwan berhasil membawa pergi kekasihmu dan beberapa orang lainnya keluar dari sini,’ jelas sang khodam tanpa wujud. “Bagus!” Pemuda beralis lebat menghela napas lega. “Artinya kita hanya harus pergi saja!” gumamnya melesat menerjang lawan. Sarung Tangan Gadil Pajajaran bersinar terang. “Hyaaaah!” ‘Pusaka itu! Lagi-lagi Sadewa jujur!’ Agna mengambil kuda-kuda silat bersiap bertahan. Matanya terbelalak saat pemuda berkaos putih penuh noda tanah, justru mendaratkan tinju pada tanah di bawahnya. ‘Apa? Kenapa dia-’ Braalll! Akibat tinju keras Wildan yang menghantam bumi, debu dan serpihan tanah beterbangan sejenak. Agna melompat – mendarat di dahan pohon terdekat. ‘Cahaya pada pusaka di tangannya menyala sebelum menghantam, dan redup setelah benturan terjadi? Tapi lebih bodohnya, kenapa dia mengincar tanah?’ Laki-laki bertopi biru tersenyum skeptis saat dilihatnya sosok lawan yang justru berlari menjauh. “Hey! Apa yang kau-” Deg! Senyumnya terhapus – berganti raut geram tatkala keberadaan beberapa manusia yang seharusnya jadi tumbalnya, menghilang dari tempat seharusnya. ‘Siapa? Dia datang bersama orang lain? Apa si harimau bermata bintang? Makhluk itu memang tidak terlihat sedari tadi!’ Dlap! Agna melompat dari dahan pohon satu ke pohon yang lain guna mengejar Wildan dari belakang. ‘Bukan! Aku sama sekali tidak merasakan getaran sukma orang yang satunya lagi!’ Pembuluh darah dan otot di sekitar wajah pemuda mancung berjaket jeans tersebut mulai menonjol seiring kemarahan yang tersulut. “Bisa-bisanya manusia biasa malah mempermainkanku begini!” gerutunya jengkel seraya menyampingkan tangan kanan-kiri. Blaar! Api kemerahan muncul secara tiba-tiba, menyulut kedua tangan lelaki tersebut. “Haaaagh!” Ia melempar api yang ada di tangan pada sasaran. Setiap api yang terlempar, semuanya berubah bentuk jadi bola api nan panas. Blamm! Blaamm! Blaamm! Blaamm! Blamm! ‘Wildan! Percepat lajumu!’ Wildan menelan ludah. ‘Sayf! Yang benar saja! Orang itu bisa melempar api?’ ‘Agna Sang Api Hitam. Jika pria misterius yang kita temui di daerah sunda saat itu adalah penjaga Buto Angkoro terkuat pertama, maka orang yang sedang mengejarmu ini adalah penjaga Buto Angkoro yang terkuat kedua.’ Blaam! Wildan melakukan roll depan saat sebuah bola api nyaris mengenai punggungnya dari belakang. “Sayf!” Setelah berdiri, ia lanjut berlari. “Apa kelemahan orang ini!” ‘Di kehidupan yang dulu, empat penjaga Buto Angkoro tidak akan berani menghadapimu seorang diri. Mereka jauh dibawah kemampuanmu yang dulu.’ “Ck!” Wildan berdecak kesal. “Aku tak tahu sesakti apa diriku di masa lalu! Yang aku tanyakan, bagaimana agar aku bisa mengalahkannya!” Wildan dengan mudahnya mampu melihat jelas dalam kegelapan hutan sebab sepasang pupil matanya yang seperti harimau. ‘Ajian Raga Separuh, adalah ajian di mana kau akan mendapat sedikit kekuatanku. Meski itu akan menghambatku memulihkan kekuatan dan membantumu secara langsung, tapi hanya itu pilihannya kalau kau mau menghadapinya,’ jelas Sayf. “Tidak!” Wildan terus berlari seraya menggelengkan kepala. “Cara lain!” ‘Terus lari dan keluar dari sini, Wildan.’ Blam! Blam! Blam! Blam! Blam! Bola-bola api yang Agna lemparkan, sebagian mengenai pepohonan sekitar. Nyala jingga nan panas mendominasi suasana – memudarkan kegelapan malam di sana. Makhluk-makhluk halus berbagai jenis, memilih jaga jarak dan memantau keributan tersebut dari kejauhan. Sebab api yang lelaki bertopi munculkan, benar-benar bisa melukai atau bahkan membunuh mereka. Cet! “Tunggu!” Wildan berhenti mendadak. “Tunggu, Sayf!” ‘Apa yang kau lakukan! Wildan!’ Blaaammm! “Huugh!” Wildan lagi-lagi terlempar akibat daya ledakan bola api yang menghantam tanah – nyaris mengenai anggota tubuhnya. “Bukankah justru berbahaya kalau-kalau dia mengikuti kita saat bertemu dengan yang lain!” Dlap! Agna melompat jauh di awang-awang – melalui pemuda bercelana hitam. Ia memunggungi lawan seraya bertanya, “apa kau berubah pikiran untuk melawanku, wahai Sang Titisan Cahaya?” ‘Kalau begitu, gunakan Ajian Raga Separuh, Wildan!’ tawar Sayf dari dalam badan. Di tengah kebimbangan sang pemuda bermata harimau, Agna menghela napas. “Sang Titisan Cahaya. Seorang pendekar yang berbeda dari kebanyakan pendekar pada masanya. Dia lebih sering mengorbankan diri, demi menyelamatkan orang-orang lain yang bahkan tak dikenalinya! Hahahah!” Api pada kedua tangannya padam. “Biarku tebak! Kau tadi berpikir bisa lari dariku, kemudian ingin pergi mencari gerbang keluar menuju dimensi manusia. Tetapi, akhirnya kau menyadari bila itu terjadi, maka aku akan tetap mengejarmu dan bahkan bisa-bisa aku melukai orang-orang yang kau kenal itu? Benar begitu?” tanyanya tersenyum lebar. “K-kau!” Wildan memutar otak, mencari argumen yang tepat. “Kau musuhku di masa lalu, artinya ini antara aku dan kau! Tidak ada kaitannya dengan mereka!” Prok... prok... prok... “Ahahahah!” Pria bertopi biru bertepuk tangan. “Lagi-lagi Sadewa jujur padaku! Dia bilang, meski kau lebih muda, tapi kau benar-benar lebih mempedulikan nyawa manusia lainnya! Ahahah! Kau masih saja bodoh seperti dulu, hai Titisan Cahaya!” Dlap! Agna tertawa puas seraya melesat maju meninggalkan Wildan seorang diri. “Yah... sepaling tidak, akan kupastikan kau menangis darah setelah keluar dari sini! Hahhahah!” Wildan terbelalak. ‘Celaka! Diana!’ * (Beberapa menit setelah Wildan berpindah ke alam gaib.) Tok... tok... tok.... Irma mengetuk pintu kamar salah satu pendaki yang terluka. “Mbak? Mbak?” panggilnya lirih. Pada kedua tangan gadis berkerudung tersebut, sebuah nampan berisikan makanan sudah siap disantap. ‘Simbah bilang, Mbak ini sudah siuman, kan? Kok ndak keluar-keluar kamar dari tadi? Atau jangan-jangan pingsan lagi, ya?’ terkanya ragu. “Nduk, Mas Wildan sama Mas Iwan jadi pergi buat cari mereka?” Sesosok nenek sepuh dengan punggung yang agaknya bungkuk, mendekati gadis bercelana training dari samping. “S-sudah, Mbah.” Irma mengangguk mengiyakan. Meski begitu, ia ragu untuk menyampaikan kalau sosok siluman buaya besar, mengantar Wildan dan Iwan untuk mencari keberadaan para pendaki yang hilang. “Hmmm, mugi-mugi cepet ketemu,” gumam si nenek lirih. Matanya kini tertuju pada pintu. “Nduk, lah itu si Mbaknya belum keluar kamar?” “Eh, Mbah... belum, Mbah. Apa ndak kita periksa saja, Mbah? Anu, takutnya kenapa-kenapa,” anjurnya cemas. Menghela napas, perempuan berkemben abu-abu memegang handle pintu, lanjut membukanya pelan. “Mbak, makan dulu....” Setelah daun pintu kayu lebar dibuka oleh sang Nenek, Irma terkejut – tak mendapati sosok perempuan yang seharusnya berada di sana. “Loh? Mbah?” Matanya segera tertuju pada jendela kamar yang melompong. “Walah, Mbah? Si Mbaknya... ilang?” Raut wajah sang nenek sepuh jadi panik. “Loh, itu Mbaknya pergi ke mana?” Pada meja dekat jendela, secarik kertas berisi sebuah tulisan – memancing perhatian gadis bernampan hijau. “I-ini...” Ia mulai membaca tulisan pada secarik kertas tersebut dalam hati, ‘Mbah... kalau ada perwakilan keluarga saya yang datang menjemput, atau pihak terkait yang datang mencari saya, tolong sampaikan kalau saya sudah menyusul untuk mencari keberadaan teman-teman saya di atas gunung. Kalau-kalau saya berhasil menemukan mereka, saya akan datang lagi ke sini, atau setidaknya saya akan beri kabar pada Simbah. Terima kasih.’ * (Hutan Gunung Lawu, Jawa Timur.) Alif memapah Anis si gadis berkaca mata. Sementara Iwan masih saja memaksakan badan sembari menggendong Diana. Beberapa menit sudah mereka lalui – menyusuri hutan nan gelap, hanya bermodalkan cahaya terang sang rembulan dan bintang-bintang. “Bunyi jangkrik dan burung hantu?” Barulah setelah hitungan kilometer terlampaui, Iwan memperlambat langkah sembari menyepitkan sepasang mata. “Lalu itu... garis polisi?” gumamnya lirih disusul merekahnya senyuman. “Alhamdulillah! Kita sudah kembali!” ujarnya keras. Ia mempercepat laju langkah. “Tunggu! Kak! Kak Iwan!” Wajah galau Diana menjadi panik mendengar ucapan lelaki jangkung berambut ikal. “Woy! Jangan tinggal!” Celetuk Alif kesal seraya memapah Anisa. Anto si siswa SMA terus mengekor bersama para mahasiswa di belakangnya. “Kak Iwan! Tunggu! Wildan masih belum kelihatan!” rengek Diana. Iwan berhenti mendadak, ia menoleh kecil ke belakang. Lelaki berkulit kuning langsat tersebut bukan berhenti karena kalimat yang gadis berkerudung lontarkan – melainkan karena sesuatu rasa tak terjelaskan, mengusiknya hebat. Alif memutuskan menggendong Anisa, mendekati Iwan yang mendadak diam mematung. “Hey! Jangan asal ting-” Blaaaammmmm! Alif, Anisa, Diana, dan Iwan, terpental oleh daya ledak misterius dari belakang mereka. Empat orang tersebut menjerit, tak kuasa mengendalikan badan mereka yang terguling di antara semak belukar hutan. Anisa yang terlampau kaget, berakhir pingsan. Sisanya berdiri, terbelalak melihat gelora api hitam yang melalap pepohonan di belakang. Anto, serta mahasiswa yang sempat tertinggal di belakang, berakhir tragis tanpa menyadari kematian. Tubuh mereka hancur terbakar oleh api hitam yang tak lazim disaksikan. Iwan dan Alif yang tak percaya pada mata kepala mereka, mengusap-usap wajah beberapa kali. “Apa yang terjadi?” gumam Alif kaget. “Yah, sayang sekali... sepertinya seranganku meleset, ya?” Agna sang lelaki misterius bertopi biru, muncul di dekat pohon beringin yang dilalap api hitam. Ia melangkah maju, menginjak badan Anto yang separuh terbakar. “Satu... Dua... Tiga... Empat....” Ia manggut-manggut usai menghitung jumlah mereka. “Yah, mungkin aku bisa melakukan ritual lagi di tempat lain,” gumamnya terkekeh. “Ngomong-omong, apa kalian berempat kenal dengan... bocah harimau tadi?” Alif menyipitkan sepasang mata, memunggungi Anisa yang tergeletak tak sadarkan diri. ‘Bocah harimau katanya? Siapa yang dia maksud? Siapa juga orang aneh ini? Dan... dari mana api hitam ini berasal?’ “Hmmm....” Agna berhenti melangkah, memamerkan kedua tangan yang seketika berselimut api merah. “Titisan Cahaya? Apa kalian juga tidak kenal dia?” “Kyaaaa!” gadis berbadan mungil, jatuh pingsan setelah melihat api dari tangan Agna. “A-apa dia juga dukun?” gumam Iwan terpaku. “Yah, tak apalah kalau kalian tidak bicara. Lagi pula, aku hanya perlu membakar kalian!” Sebelum Agna melempar bola api pada rombongan Diana, sebuah batu melesat – mendarat telak di pelipis kiri lelaki bertopi biru gelap. Dak! Gadis sawo matang berambut panjang dengan kuncir, melotot pada laki-laki pelempar api. “Dasar dukun j*****m!” teriaknya jengkel. Gadis berseragam PDL Pramuka merah berlari menghampiri pria bertopi. ‘Bocah ini berani melempar batu padaku!’ Ia menoleh ke arah Dita yang terus berlari mendekat. “Dita!” Alif berteriak histeris setelah mengenali gadis yang sedang berlari menghampiri lelaki berkekuatan api. “Jangan!” Swuuss! Tendangan putar bertubi-tubi Dita dengan mudahnya Agna hindari. Serangan cepat gadis manis tersebut mengubah raut jengkel si lelaki bertopi biru jadi terkejut. Api merah yang menyala pada kedua tangannya pun padam seketika. “Lumayan juga,” gumamnya tersenyum separuh seraya mengelak menghindar. “Kau cepat. Tapi apa kau juga kuat?” Pria bercelana jeans membalas gadis berbusana merah dengan ayunan tinju kanan. Blaaak! Hentakan tinju Agna, langsung membuat pingsan Dita. “Yah... sayang sekali.” Alif memaksakan diri tuk mendekati gadis yang ia kenali. “Dita! Tidak!” Kedua kepalan tinju pemuda keriting berkulit gelap begitu erat. “Lawan aku!” serunya geram sembari meluncurkan tinju kanan. Tap! Agna mengaitkan alis, tersenyum skeptis. “Apa kau kekasihnya?” Alif menyusulkan tendangan dorong pada lawan. “Haaaah!” Tap! Lagi-lagi Agna menangkap serangan tersebut tanpa berkeringat. “Ck! Kekasihmu cantik? Kau bisa bela diri?” Alif melompat, melayangkan kaki kirinya guna menghantam wajah menyebalkan lawan. “Haaagh!” Blaaak! Agna mengangkat tinggi badan Alif sebelum membantingnya keras ke tanah. “Kau bisa melindunginya tidak?” tanyanya meledek, sejurus kemudian membungkuk – memajukan kepala pada lawan yang meringis kesakitan di bawah. “Hah? Tidak? Hmmmmph!” Api hitam kembali berkobar di tangan kanan. “Lemah!” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN