Padamnya Teror!

1296 Kata
Drap drap drap drap drap drap dlap! Wildan berlari kencang dengan kedua kaki di antara gelap hutan malam. Sepasang netra pemuda berkaos putih tersebut berpupil harimau. Setelah samar merasakan kehadiran lelaki misterius berkekuatan api, ia memijakkan kaki kanan kuat-kuat, melambung tinggi naik ke atas untuk selanjutnya bertengger di pucuk pohon pinus. Raut mukanya berubah geram tatkala menjumpai Agna yang nyaris menghantam Alif. “Hentikan!” ‘Wildan! Perlambat waktu, sekarang!’ Memejamkan mata seraya memusatkan tenaga pada sepasang kaki, Wildan melejit cepat – menerjang lawan. “Haaaaagh!” Angin malam menggesek daun telinga, menyebabkan bunyi gemuruh. Wildan Alfatih melesat cepat ketika waktu begitu lambat, meninggalkan pohon pinus yang retak patah – nyaris tumbang. Srraakkk! Ia berhasil menggoreskan cakar kiri pada punggung lawan. Setelah serangan pertama telak membuka luka pada punggung lelaki berjaket jeans, waktu kembali berjalan normal. Wildan Alfatih si pemuda setengah harimau, berdiri bungkuk membelakangi Iwan dan Diana. Iwan menelan ludah, gemetaran saat pemuda yang ia kenal berada di dekatnya hanya dalam waktu singkat. ‘Apa aku tak salah lihat? Dia... Wildan? Dia barusan berteriak dari atas pohon, kemudian muncul di hadapanku!’ Greeedaaak! Pohon pinus yang Wildan tenggeri beberapa waktu lalu, ambruk ke tanah – menimpa beberapa pohon lain. Agna meraung kesakitan, merasakan darah mengucur dari badan. “Hwaaaarrgh!” Mata harimau pemuda berkaos putih bergeming, fokus pada kobaran api hitam dan merah yang ada di belakang Agna. Ia tercengang, tatkala melihat beberapa jasad manusia, terbakar hangus di sana. ‘Apa aku... terlambat?’ “Kau!” Pria bertopi biru menudingkan telunjuk kanan pada Wildan. “Beraninya menyerangku dari belakang!” Ia tak menggubris teriakan serta umpatan Agna, justru memalingkan pandang pada tubuh kawan-kawan yang dikenalinya. Anis, Diana, Iwan, dan Dita, terlihat masih selamat – tetapi tidak dengan sisanya. “Apa... dia yang membunuh mereka?” tanyanya dingin pada Iwan. “B-benar,” jawab Iwan gugup sambil manggut. Blaaarrr! Tubuh Agna berselimut api merah. “Dengarkan kalau aku sedang bicara!” Topi, jaket, celana, dan anggota tubuhnya sama sekali tak terluka akibat si jago merah yang menyelimuti diri. “Haaaaaagh!” Tangan kanan-kirinya bergerak cepat – melempar berondongan bola api kepada lawan. Swuuung!  Swuuung!  Swuuung!  Swuuung!  Swuuung!  Swuuung!  Swuuung!  Swuuung!  Swuuung!  Swuuung!  Swuuung!  Swuuung!   “Mau dewa atau iblis sekalipun....” Sang pemuda bermata harimau melotot, kakinya mulai mengayuh cepat menghampiri lawan. Pemuda berkaos putih justru lincah melangkah zigzag guna menepis semua bola api lawan menggunakan Cakar Putih Pajajaran di tangan kanan. “Kau harus membayarnya!” Tiap serpihan bola api yang hancur oleh hantaman pusaka Wildan, menciprat ke tubuhnya – membakar kaos dan celana hitam yang ia kenakan. Meski dirasa panas, tetapi Sang Titisan Cahaya tak sedikit pun memperlambat laju kaki. “Haaaaagh!” “Kau pikir kau membuatku takut!” bentak Agna kesal. Blaarrr! Nyala jingga kemerahan dari api yang menyelimuti badannya, berubah jadi kehitaman. Sosok bertopi biru tersebut mulai melesat menyambut Wildan dengan tinju berselimut api hitam. “Haaaagh!” Ia tak menyadari bila kelopak mata sang lawan mulai bergerak hendak menutup. ‘Dia berkedip!’ Tubuh pemuda yang seharusnya ada di depannya, kini benar-benar lenyap tanpa jejak. Dep! Agna berhenti mendadak, menoleh cepat ke kanan-kiri guna mencari keberadaan Wildan. ‘Dia membekukan waktu untuk bersembunyi?’ terkanya ragu.   “Hyyaaaaaagh!” Wildan mendadak muncul di sisi kanan lawan seraya melayangkan tinju kanan – mendarat tepat di rusuk kanan. Blaaaaaaam! Hantaman tinju tersebut begitu keras, sampai-sampai bunyi tulang yang retak terdengar disela dentuman hebat barusan. Cairan merah nan kental pun menyembul keluar dari mulut lelaki berjaket jeans gelap. Swuuuuuung! Tubuh Agna terlontar puluhan meter dengan sangat cepat, menabrak beberapa pohon besar hingga tumbang. Api yang menyelimuti badannya, mulai padam secara berkala. ‘Akkkh! Hantamannya sangat keras! Padahal aku yakin tekanan energinya jauh dibawah – dibanding dirinya yang dulu! Tapi bagaimana mungkin dia jadi sekuat ini!’ Ia mulai meliukkan badan – berputar-putar di udara. Setelah laju kecepatan lontarannya teredam, Agna mengutus kaki kiri tuk menyentuh tanah lebih dulu. Ddrrrraaaakkkk.... Ia mengerem menggunakan kedua kaki. Matanya terbelalak melihat Wildan yang melesat menyusul dengan begitu cepat. ‘Bocah ini! Apa dia sama sekali tak kelelahan setelah menyerangku dengan tenaga besar seperti barusan!’ Di saat ia menyadari bila tangkisannya pasti tetap tertembus hantaman Wildan, otak liciknya menemukan gagasan keji. Ia tersenyum sungging, kembali memunculkan api yang membakar  sekujur badan. ‘Wildan! Dia bermaksud menembak!’ Api yang membakar tubuh Agna, terhisap – menggumpal jadi bola api panas di tengah telapak tangan yang sedang ia dekatkan. “Bhramaragna!” Blaaaassss! Semburan proyektil dari api hitam yang menggumpal, menyorot lurus pada jalur di mana Wildan tengah melaju. Ia justru terkekeh saat lelaki bermata harimau melompat – menghindar dari semburan laser apinya. Kekehannya berubah jadi tawa, tatkala Wildan kembali memasang kuda-kuda hendak melesat. “Hahahahaahah!” “Apa yang kau tertawakan!” Menunjuk pada garis lurus di mana lasernya menyorot, Agna tersenyum seringai. “Ucapkan sampai jumpa di neraka, kepada teman-temanmu yang di sana,” ujarnya puas. Wildan terbelalak saat memikirkan nasib Diana dan yang lain. “Diana!” gumamnya balik badan, sejurus kemudian melesat cepat mendekati area di mana mereka berada. Kekhawatirannya kian memuncak tatkala api hitam menyelimuti pohon-pohon di depan sana, bahkan pohon pinus tumbang yang tadi ia gunakan sebagai pijakan, ikut terlalap oleh api hitam. Saat lawannya bergerak menjauh, Agna menghela napas lega sembari meringis menahan sakit. ‘Aku memang tak bisa mengalahkannya tanpa pusaka-pusaka legendaris Tanah Jawa!’ pikirnya balik kanan, sejurus kemudian berlari sekuat ia bisa. ‘Tak apa, terpenting mentalnya makin hancur!’ Belum sampai satu menit berselang, suara Wildan menggema – memecah keheningan hutan, “mau lari ke mana kau!” Pria bertopi biru menoleh ke kanan dan kiri berharap menemukan sumber suara, hingga akhirnya Wildan terjun dari atas dan mendaratkan cakar tajam kirinya. Ia mencakar dari ujung wajah hingga perut. Srrrrraak!! "Uwaaaagh...!" Agna memegangi wajahnya yang berlumuran darah. Ia ambruk, berkalang tanah seraya meronta-ronta kesakitan. “Haaagh!” "Berdiri kau!” seru Wildan melotot. “Orang picik sepertimu belum cukup bila hanya mendapat luka seperti itu!" Wildan mencengkeram leher Agna menggunakan tangan kirinya. Ia mengangkat tubuh musuh hanya dengan tangan kiri. "Aku rela mati demi membunuh manusia busuk sepertimu!" Sarung tangan di tangan kanannya bersinar. Bahkan sinar itu lebih terang ketimbang sebelumnya. Dirasa tenaga yang terkumpul cukup besar, Wildan mengayunkan tinju kanan pada lawan. Blaaammmm! Pemuda setengah harimau melayangkan tinju kanan berbalut pusaka logam telak ke perut musuh. Agna memuntahkan darah ke wajah lawan, badannya terpental puluhan meter – menabrak dan menumbangkan lima pohon besar sekaligus, sebelum jatuh terguling di tanah tak berumput. Wildan berjalan terseok. Matanya memancarkan dendam yang begitu dalam. Ia melangkah mendekati pria yang telah membunuh teman-temannya. Semakin jaraknya dekat, semakin bencinya membesar. Semakin ia ingin menghabisi sosok yang telah terkapar. “Bangun kau b*****h!” ‘Wildan, kendalikan amarahmu...’ Lelaki berkaos putih penuh luka bakar, tak memedulikan anjuran sang khodam. Di sekitarnya, banyak makhluk halus yang secara sembunyi-sembunyi menonton pertarungan dahsyat tersebut. Mereka semua takut dengan aura harimau ganas di tubuh Wildan. "Kau... membunuh teman-temanku! Kau membunuh mereka yang tak sepadan denganmu!" Pemuda berkaos putih kini berada di depan Agna yang tergolek pingsan. Greeep! Ia kembali mencengkeram leher Agna dan mengangkatnya menggunakan tangan kiri. "Maka kau, juga akan mati dengan cara yang sama!" Sarung tangan gadil Pajajaran kembali menyala terang – tapi tak seterang tadi. "Hancurlah kau!" Sesosok pria berjubah hitam, duduk bersila di bawah pohon gelap. Ia selesai merapal mantra rahasia, sejurus kemudian menghantamkan telapak tangan kanan ke bumi sembari menjerit, "Ajian Rengka Gunung!" Sukma atau tubuh astralnya keluar dari raga, melesat melayang – mengarahkan tinjunya ke punggung Wildan. ‘Wildan! Dari belakang!’ Blaaaaag! Wildan merasakan pukulan di punggung atas.”Uhhookh!”  Ia memuntahkan darah dan melepaskan Agna. Pupil harimaunya kembali normal – jadi pupil manusia biasa. Pemuda berkaos putih, berlutut di tanah kemudian jatuh tak sadarkan diri. Yang ia ingat hanya rasa sakit yang begitu menusuk menembus – begitu menyesakkan d**a.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN