“Aaaaargh!” Wildan meringis – mengira rasa sakit masih saja menjalar di sekujur badan. Pemuda beriris mata coklat celingukan, bingung memandangi sekitar. “He? Su-sudah siang?” gumamnya heran.
“Sayf? Apa yang terjadi? Apa aku barusan pingsan dan... terbangun di tempat yang sama?” Keningnya berkerut saat wilayah hutan sekitar jauh berbeda dari hutan yang jadi lapangan tempur. Pasalnya, tak ada satu pun pohon yang tumbang di sekitarnya. “Sayf? Apa ini, benar hutan semalam?”
Sadar bila dirinya tidak dibalut busana – hanya mengenakan celana hitam pendek, membuatnya semakin bingung. "Tidak ada luka?" Menghela napas, Wildan memutuskan berjalan menuju desa terdekat.
"Hey Sayf? Kenapa kau diam saja?" Ia terus berjalan seraya menunggu jawaban. "Sayf?"
Jrug... jrug... jrug... jrug... jrug... jrug...
Tiga menit berlalu, yang ia dengar justru ia derap langkah kuda. Seorang pria berambut panjang menaiki kuda hitam. Busana lelaki yang dikenakan, mirip seperti busana ala kerajaan. Mulai dari celana, sandal, perhiasan emas yang melingkar pada lengan kekar, dan kalungnya. Rambut sosok yang tengah melaju mengarah pada Wildan, terbilang panjang dan tertiup oleh angin kencang.
“Eh? Apa jangan-jangan di sini sedang dibuat tempat syuting film kolosal?” Wildan mengamati sela-sela pepohonan hutan sekitar. “Tapi di mana kru dan kameramennya?” pikirnya heran.
‘Ah, apa sekalian aku tanya saja, ya?’ pikirnya melambai-lambai pada pria gondrong yang terus melaju mendekat. “E-eh! M-Mas! Berhenti Mas!” serunya terpejam saat kuda hitam dengan penunggangnya terus melaju kencang – tak mengacuhkan Wildan.
Membuka mata, entah bagaimana, ia tak tertabrak lelaki sembrono tersebut. “Loh? Kok... apa dia barusan lompat dan menghindariku?” gumamnya garuk-garuk rambut.
“Hmmm... peduli amat, lah!” celetuknya kesal melanjutkan perjalanan. Seraya melangkah, ia tak kunjung mendengar jawaban sang harimau. ‘Sayf? Apa kau terlalu lelah sampai-sampai tak bisa menjawabku?’ batinnya. “Hmmm....”
Setelah puluhan menit pemuda berbadan kekar berjalan, dijumpainya sebuah perkampungan. Sebuah perkampungan yang terbilang unik. Atap rumah-rumah di sana terbuat dari daun rumbia kering, pasaknya dari kayu, dindingnya anyaman bambu. Rumah-rumah itu berjajar padat. Orang-orang di sana mengenakan pakaian jaman dulu. Para pria kebanyakan hanya bercelana hitam, sementara kaum hawa mengenakan kemben dengan rambut disanggul.
Namun, ada pula beberapa pria yang memakai ikatan kepala seperti blangkon dan rompi merah dari kain. Anak-anak riang gembira bermain permainan tradisional Jawa seraya bernyanyi Slador Slador mu'ama'i mu'amador, si kaki nyolong bubur ora entek gowo mabor.
"Ini lokasi syuting, kah? Kok... sutradaranya ngawur? Sudah jelas berita pendaki yang hilang gencar ditayangkan di media sosial, malah syuting di sini?” renungnya mendekati kerumunan warga.
Deg!
“A-atau jangan-jangan ini... alam jin!" Wildan menggenggam erat tangan kanan – bermaksud memanggil Sarung Tangan Gadil Pajajaran sebagai alat pertahanan untuk berjaga-jaga.
Namun, tak ada respon sedikit pun dari pusaka itu. "Aneh! Kenapa pusaka itu juga tidak muncul!" Wildan melirik tajam pada lengan kanan. "Apa jangan-jangan karena aku terlalu memaksakan diri untuk pertarungan semalam?" Wildan panik. "Celaka! Apa yang harusku lakukan!"
Swuuuss....
Dalam kebimbangan pemuda tersebut, dua helai daun dari pohon cengkih di dekatnya, tertiup – menembus badannya. “H-halah! Kok... tembus? A-apa yang terjadi dengan tubuhku!” gumamnya bingung menggerak-gerakan tangan kanan-kiri.
Menghela napas panjang, Wildan memberanikan diri untuk melangkah mendekati orang-orang di depan sana. ‘Sepertinya aku memang tak punya pilihan lain!’ Kerumunan laki-laki yang sedang makan di warung, jadi tujuan pemuda berambut lebat tersebut. Kebanyakan melahap nasi jagung berlauk sambal hijau dan daging rusa.
“M-maaf? P-permisi?” ucapnya ragu, berdiam diri di belakang kerumunan lelaki yang lahap menyantap makanan. “Permisi? Mas? Pak? Kang? Pakdhe?” panggilnya lagi lebih keras.
Lagi, ia mengucap salam, “assalamualaikum, Pak?” Namun tetap saja tak ada tanggapan. Orang-orang di sana tak merespon – seolah tak mendengar ataupun merasakan kehadiran Wildan. "Mas, ini di ma-" Wildan menyentuh pria terdekat. Matanya terbelalak tatkala tangannya menembus punggung lelaki tersebut. ‘Tembus? Apa jangan-jangan aku sudah... mati?’
*
(Rumah sakit Kota Magetan, Jawa Timur.)
Diana mengenakan jaket merah dan celana jeans. Netra gadis manis tersebut terpaku pada Wildan – pemuda berpiyama hijau toska yang tergeletak di ranjang dalam keadaan koma. Tiap beberapa menit sekali, Diana mendongak ke arah infus – cairan yang mengalir pada selang kecil guna memberi Wildan nutrisi selama tak sadarkan diri. Tangan gadis tersebut mulai erat menggenggam telapak tangan kanan Wildan.
"Sejak kita pertama bertemu, kau tak pernah berhenti membuatku cemas. Aku tak tahu hal buruk apa yang sedang kau hadapi sampai-sampai terlibat dengan orang-orang berbahaya itu. Apa kau sengaja memutuskan hubungan denganku agar aku terhindar juga dari mereka?” gumamnya lirih. Air mata mulai terbendung di pelupuk mata Diana. “Kenapa kau jahat sekali padaku? Kenapa kau suka menyimpan rahasia besar padaku?" Air mata menetes dari mata indahnya. “Kau itu tak pandai berbohong, tahu!” imbuhnya kesal.
Krrieet...
Pintu ruangan terbuka. Dita, Yahya, dan Rifza, memasuki ruangan. Mereka masing-masing mengenakan kaos putih namun dengan corak dan gambar yang berbeda. Diana bergegas menghapus air mata. Menyembunyikan kekhawatiran yang menerpa. Ia memperhatikan teman-temannya yang masuk.
Yahya menoleh ke arah Diana. "Apa dia masih belum sadar juga?"
Diana menggeleng pelan. Bibirnya masih tertutup, tak melontarkan sepatah kata pun. ‘Hal ini, bukanlah hal yang bisa diterima akal logika,’ pikirnya menghela napas. "Di mana teman-teman yang lain?" Diana menatap Dita – gadis yang kerap ia cemburui sebab lebih sering bersama Wildan.
"Mereka sedang dalam perjalanan bersama Pak Ircham," jawabnya lirih.
"Sebenarnya apa yang terjadi saat kemah diadakan, sih? Kenapa sampai ada kebakaran hutan segala?" Riri bertanya dengan raut serius – membuat Diana dan Dita saling memandang bingung.
Yahya melirik siswa SMA berkulit cerah seraya menjawab, "Tim SAR dan Anggota polisi hutan pada pagi hari menemukan Wildan tergeletak di hutan Gunung Lawu. Di sana juga ditemukan bekas api unggun. Para polisi bilang, ada seorang dukun yang menculik para pendaki demi ritual ilmu gaib. Saat Wildan hendak menolong, muncul seorang pemuda dengan obor dan tongkat besi. Dia menyerang mereka dan membakar beberapa orang. Pemuda itu pergi dan masih menjadi buronan," jelas Yahya sambil mengingat apa yang ia dengar dari obrolan kakek Wildan dengan seorang anggota polisi hutan.
"Untung dia bawa kartu pelajar," ujar Rifza lega.
Diana memberanikan diri bertanya, “Yahya, dari mana kau dengar itu?”
“Kakek Wildan yang menceritakannya setelah berbincang dengan tim pencari,” jawabnya. “Bukankah memang begitu? Kan, kamu yang ikut dikejar-kejar dukunnya?”
“I-iya! Be-betul, iya begitu!” timpal Dita cepat.
*
"Apa? Apa aku sudah mati?" Wildan menatap telapak tangannya.
"Eh Kang, kamu sudah dengar kabar tentang Gusti Raden Ajeng Putri Ayu Mayang Sari?" Pria yang Wildan sentuh bertanya pada kawan di sebelahnya.
Deg!
Jantung serasa disentak hanya dengan mendengar nama tersebut. Wildan termenung, merapatkan bibir seraya memutar otak. ‘Seperti pernah dengar nama itu....’
"Maksud sampean itu, Putri Kerajaan Kusuma Seta?" tanyanya balik usai menelan cuilan daging rusa.
"Iya, yang sangat cantik itu! Masa kau belum dengar kabarnya!"
"Ada apa dengan dia?" Pria itu berhenti makan, menatap serius kawannya.
"Putri Ayu Mayang Sari diculik oleh Ksatria dari negeri timur-tengah. Tadi malam, ksatria itu membawa pergi Putri Ayu Mayang Sari dari kerajaan!"
Semua laki-kaki di warung makan itu melirik. Mereka tertarik dengan cerita itu. Termasuk ibu-ibu pelayan warung.
"Lah? Lah? Lah? Lah terus, Baginda Prabu Jati Kusuma, bagaimana?"
"Beliau mengutus ksatria terkuat dari istana, dan bahkan pangeran dari Singajati pun turun tangan sendiri untuk memboyong kembali Gusti Raden Ajeng!" ujarnya agak keras, agar semua orang mendengar.
"Lah? Lah? Lah? Katanya, ksatria dari timur-tengah itu adalah salah satu ksatria yang menyebarkan agama islam? Kok begitu?"
Wanita penjaga warung mendekat seraya berkata, "halah! Mustahil! Bukankah Agama Islam yang konon turun dari langit itu penuh dengan ajaran darma dan bakti seperti agama kita?"
"Yang salah itu orangnya, bukan agamanya!" seru Wildan keras, namun teriakannya tak di dengar.
Ketika pria-pria di sana hendak kembali bergosip, jerit warga di desa sederhana tersebut berpautan, memancing mereka yang ada di dekat Wildan, beranjak dan melongok pada sesuatu yang terjadi di tengah pasar. Semuanya mulai berjalan mengerumuni sesuatu atau mungkin suatu peristiwa.
"Tuan ksatria, lepaskan Putri Ayu Mayang Sari, dan aku akan membiarkanmu pergi!"
Teriak geram seseorang memancing Wildan untuk bergegas berjalan mendekati keramaian. Tubuhnya menembus para manusia di sekitar sana. ‘Apa yang terjadi? Aku samar seperti merasakan tekanan energi gaib seperti saat aku bertarung?’
“Kalau sampean tidak mau menyerahkan beliau, jangan salahkan kalau aku gunakan cara keras!” bentak suara yang sama lagi.
Wildan tercengang menyaksikan sesosok figur yang tak asing. “D-dia?”
Pemuda bersorban putih, dengan busana serba putih ala pengembara timur-tengah, berdiri menghadap seorang pria berambut panjang – pria yang tak lain dan tak bukan merupakan pendekar yang menunggangi kuda beberapa saat yang lalu, sebelum dirinya sampai di sebuah perkampungan berarsitekur khas Jawa Kuno.
“Lah? Dia, bukannya penunggang kuda tadi?” gumamnya bingung.
Di belakang pria bersorban misterius, terlihat sesosok perempuan berambut panjang dengan balutan busana kuning ala putri keraton. Rambutnya yang panjang nan tebal terlihat. Lekukan tubuhnya yang indah, dan posturnya yang semampai. Belum lagi wangi tubuh menggoda yang membuat pria di sana serempak menoleh memperhatikan kedua pendatang itu. Para pria berkasak-kusuk. Mereka melirik curiga. "Siapa mereka? Wangi ini, mirip seperti wangi melati yang sangat wangi."
‘Apa ada perselisihan, kah?’ Wildan mulai mengamati dua orang yang jadi pusat perhatian.
“Hentikan, Genta!” seru sang perempuan berkulit mulus. “Ini keputusanku sendiri! Aku yang ingin ikut bersama Kakang Wildan!" Sang gadis cantik menggandeng tangan orang yang mirip dengan Wildan.
Deg!
Selain karena nama, kata-kata, dan wajah si perempuan yang keseluruhan tidaklah asing, Wildan turut terpana mengamati wajah lelaki tegap berjambang tipis tersebut. Pasalnya, wajahnya sangatlah mirip dengan wajah dirinya sendiri. ‘Heh! Tunggu!’ Badannya mulai gemetaran, tak percaya pada apa yang ia saksikan. “Itu... wajahnya benar-benar mirip denganku!” gumamnya meraba pipi kanan-kiri yang mulus tanpa berewok.
"Ampun Gusti Putri, bila engkau pergi meninggalkan kerajaan dan menolak menikahi Raja Singajati, mereka akan menaklukan kerajaan kita secara paksa!" Pria berambut panjang itu menunduk, penuh hormat. “Hamba benar-benar mohon maaf sebesar-besarnya...,” imbuhnya kembali memandang lurus seraya mengambil posisi siaga.
"Aku sudah banyak mengerti dan menuruti permintaan Ayah!” jerit sang wanita berbusana keemasan. “Kali ini, aku hanya berharap pengertian dari Ayah!” serunya dengan mata berkaca-kaca. “Hanya sekali ini saja...," pintanya lirih.
Pria tampan berjenggot tersebut balik kanan, menatap sang gadis. Ia langsung menghapus air mata yang baru saja keluar, turun membasahi pipi. “Tenangkan dirimu, Adinda. Semua baik-baik saja, insyaalloh.”
Pria berambut gondrong mengeratkan gigi. “Beraninya kau menyentuh Gusti Raden Ajeng Putri Mayang Sari!” ujarnya melesat meluncurkan serangan ke arah pria arab berbusana serba putih.
Pria berwajah mirip Wildan melompat – menghindari serangan seraya memeluk Sang Putri. Ia mendarat di depan kerumunan penonton, tepatnya tak begitu jauh dari Wildan berada.
"Singkirkan tanganmu darinya!" serunya kembali menghampiri sang pria bersorban. “Haaaaaagh!”
Mengetahui bila pria berambut panjang itu adalah orang sakti, para warga berlarian menjauh, meski sebagian masih saja penasaran dan hanya mundur untuk mengatur jarak. ‘Orang-orang di sini... tidak adakah yang bisa melerai mereka?’ gumam Wildan panik.
Lelaki berjambang dengan busana putih panjang serupa jubah, menangkis dan terus mengelak dari jurus-jurus pria berambut panjang. Raut muka sosok berjambang tipis tersebut cukup datar, tak merasakan kalut ataupun takut.
"Hentikan!" seru gadis berparas anggun dalam balutan busana keraton.
Namun pria bertelanjang d**a terus saja menyerang – tanpa menghiraukan jeritan sang perempuan. Pendekar itu meluncurkan tiga pukulan berturut-turut, diselingi tendangan-tendangan putar nan mematikan. “Jangan meremehkanku!”
Melompat mundur kemudian menghela napas, ia berkata lirih, “sejatinya kita berada pada pihak yang sama – sama-sama mengharapkan perdamaian.”
“Kau sendiri yang membuat kedamaian terancam!” sahutnya kembali melesat mendekati lawan dengan kedua kepalan tangan terbuka lebar.
Blaaaak!
Lelaki berwajah Arab membalas dengan satu kali pukulan tangan kiri. “Dho’if!” Tinju yang tak terlalu keras tersebut tepat mengenai lambung lawan.
Swuuuung!
Musuhnya terlontar puluhan meter, mendarat – menghancurkan sebuah warung makan berdinding anyaman bambu yang mana sempat jadi tempat Wildan berada. “Uhhoowgh!” Lelaki bernama Genta tersungkur muntah darah. Beruntung tiada warga yang ikut terkena badan Genta saat terlempar.
Wildan menganga melihat dampak pukulan itu. Matanya melotot tak berkedip sekali pun. ‘Tinjunya pelan... tapi... dampak serangannya begitu mengerikan!’
"Tuan Genta, kau tidak akan mampu menggunakan tenaga dalam selama dua hari. Aku akan membawa Putri Ayu Mayang Sari ke tempat yang jauh. Tapi sebelum dua hari berlalu, aku akan kembali ke sini dan mengalahkan pasukan dari kerajaan Singajati." Pendekar Arab membalik badan dengan tenang. Ia menghampiri – menggandeng lembut gadis cantik bertubuh semampai.
"Sayf!" seru si pria berjambang.
“Grrooaaaam!” Tak lama, harimau belang putih dengan sinar matanya yang terang muncul. Ia menunduk dan membiarkan pria bersorban juga perempuan menawan itu duduk di punggung kekarnya.
“S-Sayf?” Wildan diam membatu. Ia menatap harimau yang dipanggil Sayf. Tak sengaja ia menahan napas, saking terkejutnya.