Sadar

1158 Kata
(Kediaman Laras, Garut, Jawa Barat.) Laki-laki usia lima puluh tahun, telah duduk bersandar pada bagian depan mobil hitam. Ia hanya geleng-geleng kepala saat dua putri kesayangannya masih sibuk mondar-mandir mengemas barang-barang bawaan. “Laras! Sukma! Bawa yang penting saja! Kita tidak liburan lebih dari satu minggu, loh!” seru sang Ayah. Grep.... Seorang perempuan paruh baya masuk kemudian menutup pintu mobil dari dalam. Ia duduk di sebelah sang kepala keluarga seraya berkata, “biarin, Pah. Namanya juga baru kali ini mau liburan jauh.” “Hmm... kalau bukan permintaan Sukma yang baru sembuh, mana mau Ayah turuti untuk pergi ke Bali.” Wanita berkerudung biru ikut geleng-geleng melihat gadis berkulit sawo matang tengah berlari memeluk selimut kemerahan. “Ras! Tidak usah bawa selimut! Di hotel nanti sudah ada atu daaa!” “Biar anget!” sahut si gadis sebelum kembali balik kanan – menuju ke dalam rumah untuk mengambil sesuatu hal lain. Perempuan berusia belasan tahun, datang dengan sebuah boneka beruang biru di tangan kanan. “Hayuklah, Ma! Si Teteh ditinggal saja! Lama!” celetuknya kesal. “Heeeh!” Laras yang mendengar dari dalam rumah menyahut, “awas aja kalau Teteh ditinggal! Bakal Teteh obrak-abrik nanti rumah!” * (1 tahun yang lalu, SMA Kota Pekalongan.) Arloji silver pada pergelangan tangan Diana menunjukan pukul 21.05 WIB. Di tengah hujan yang begitu lebat mengguyur bumi, siswi SMA berseragam putih itu menunggu jemputan di halte depan sekolah. Menjadi anggota OSIS sekaligus mengikuti ekstrakulikuler bahasa, membuatnya harus pulang semalam ini karena agenda kegiatan yang bersangkutan dengan jadwal ekskul di tahun ajaran baru. "Kenapa ayah lama sekali, sih?" gerutunya menoleh ke arah jalan raya yang di guyur hujan. “Mana si Nisa sudah balik duluan!” bibirnya mengerut kesal. Pimmm... pimm... pim.... Suara klakson mobil pun tiba-tiba terdengar. Mobil biru berhenti di seberang jalan. Ponsel Diana berbunyi. ‘Eh, ini nomor siapa?’ Nomor tak dikenal yang tengah menelepon. "Hallo assalamualaikum?" sapa Diana. "Ini Ayah, kamu di mana? Ayah sudah mau sampai SMA. Pakai mobil biru." "Ayah ganti nomor lagi?” tanyanya menghela napas. “Iya, HP Ayah rusak, Nduk. Ini Ayah sudah di seberang gerbang, kamu di mana?” “Oh, Iya, Yah. Diana sudah lihat," ujarnya memandang sebuah kendaraan jenis van di seberang jalan. "Kamu di mana? Tunggu biar ayah menepi ke samping gerbang," ujar sang ayah. "Tidak usah, biar Diana saja yang menyeberang," ucap si Gadis memutuskan telepon sejurus kemudian mengantongi ponsel dan berlari menyeberangi jalan, menembus derasnya hujan kala itu. Di waktu yang sama, Wildan dengan pakaian putih abu-abu, baru saja melangkah keluar dari gerbang. Ia memperhatikan suara klakson motor yang berbunyi berkali-kali. Matanya terbelalak dikala menjumpai seorang gadis yang tengah berlari menyeberang jalan. “Ck! Woy! awas!” Pemuda tersebut melempar ransel hitam di tangan, segera melompat menerjang gadis di tengah jalan. Diana pun menjerit saat Wildan memutar tubuhnya sambil memeluk tubuhnya di udara. Ia bermaksud agar tubuhnya lebih dulu yang yang mendarat – menjadi bantalan bagi gadis berkerudung. Craaak... Basah oleh guyuran air hujan, Wildan dan Diana terbaring di jalan raya. Diana memeluk Wildan dengan mata terpejam. Ia masih saja kaget. “Nyeberang lihat-lihat!” si pengendara motor melotot, dan terus melajukan motor. Motor lain muncul, menyusul pemotor pertama. ‘Wah... memang dasar pembalap liar!’ Wildan menghela napas. "Hey, kau tidak apa-apa?" tanyanya menatap gadis yang berbantalkan d**a. Kedua telapak tangan gadis itu berada di lengan berotot Wildan. Ia menatap gugup sang idola sekolah yang mendadak muncul menyelamatkannya dari terjangan motor. "Ti-tidak." "Lain kali tengok kanan kiri dulu lah, Di," tanggap Wildan tersenyum. Dalam dingin udara malam Pekalongan, wajah Diana seketika memerah. Ia malu ketika mengetahui ia tengah dipeluk Wildan. Terlebih saat melihat Wildan tersenyum padanya, mereka berdua memang duduk di kelas yang sama, namun hampir tidak pernah mereka berbicara ataupun saling tersenyum sebelumnya. Ayah si gadis mengenakan kemeja putih dan celana coklat turun dari mobil dengan raut panik. "Diana, kamu tidak apa-apa sayang?" Dengan wajah sebal bercampur malu, gadis berkerudung itu mendorong Wildan sebelum beranjak dan masuk buru-buru ke dalam mobil tanpa berterima kasih. "Mas, Anda tidak apa-apa?" Ayah Diana bertanya. Wildan mengangguk sembari menyahut gugup, "Eh, I-iya, Pak. Ndak apa-apa." * (Rumah sakit Kota Magetan, Jawa Timur.) Dua jam sudah Diana menggenggam tangan kanan lelaki tak tergeletak di atas ranjang rumah sakit. Beberapa momen menggembirakan bersama lelaki yang ia amat sayangi, tak henti-hentinya terpintas dalam benak. "Jika di ingat, aku bahkan belum berterima kasih padamu karena sudah menyelamatkanku waktu itu.” Diana menyentuhkan bibir pada tangan kiri Wildan. Ia tersenyum dengan air mata kembali mengalir. Krrieet.... Pintu masuk ruangan dibuka dari luar. Mengerti bila rombongan orang yang menjemput Wildan telah tiba, Diana bergegas menghapus air mata – menyembunyikan kekhawatiran yang menerpa. “Apa dia masih belum siuman?” Iwan si pemuda berjaket kuning, muncul bersama gadis berkerudung hitam. Mereka mendekat dari belakang. “Kak Iwan... belum, Kak,” jawabnya lesu. Iwan menghelas napas dalam-dalam. ‘Bukan karena Wildan saja, kami bisa selamat dari tragedi mengerikan di Gunung Lawu. Yang aku paham sebelum sesuatu yang panas mendekat cepat, sebuah cahaya putih yang begitu terang muncul menyilaukan kami semua. Dan setelah sadar, kami semua berada di depan rumah sakit ini. Yang aku bingung, cahaya apa, atau cahaya siapa itu? Apa jangan-jangan... Pak Kyai yang muncul dan menyelamatkan kami?’ terka Iwan ragu. * (Dua hari kemudian, Rumah sakit Kota Magetan, Jawa Timur.) Deg! Wildan membuka mata saat jantungnya terasa disentak kuat oleh sesuatu yang padat. Tubuh pemuda dengan piyama hijau bermandikan keringat dingin. ‘Apa itu barusan!’ Bergegas ia duduk di tengah ranjang. Degup jantungnya tak beraturan, karena suatu tekanan misterius barusan. "Astaghfirullah hal adzim...." Dita, Alif, dan Diana, serempak terkejut bersamaan. Sadar bila pemuda yang mereka tunggui akhirnya siuman, garis bibir mereka mulai merekahkan senyuman. "Senpai?" Dita tersenyum lega, menitikkan air mata bahagia. "Dasar jahat!" Diana memeluk pemuda tersebut dengan sangat erat. "Kau harus bertanggung jawab karena membuatku menangis tiap hari!" Diana menangis dipelukan pria tercintanya. “Kau harus menjelaskan semuanya tanpa terkecuali!” rengeknya sesenggukan. “D-Diana?” Wildan menarik napas panjang, sedikit tersenyum. Netra beriris coklatnya menyapu sekitar di mana Dita, Aalif, dan beberapa perawat turut gembira. ‘Jadi... mereka semua... selamat?’ pikirnya menghela napas panjang. “Aku kira... kali-” "Wildan!" Diana terus memanggil nama pria yang ia peluk. "Iya, aku di sini," sahutnya lembut membelai kerudung gadis manis yang mendekap. "Aku di sini, Diana." “Kau jahat!” ucapnya tak membiarkan Wildan lepas dari pelukan. Praalll! Sesuatu besar menghancurkan jendela ruang pasien – membuat histeris orang-orang di ruangan. Alif, Dita, dan Diana memasang mata baik-baik pada sosok manusia bersayap burung hitam nan lebar, sementara dua orang perawat di sana, pingsan seketika usai menjerit histeris. “Wildan Alfatih?” tanya sosok lelaki berambut panjang dengan kuncir. Lelaki tersebut dibalut jaket dan celana jeans gelap. “Kau pasti juga merasakannya, kan?” “Hey! Siapa kau!” Alif melotot, mengambil posisi kuda-kuda Karate-ka, disusul Dita yang melakukan gerakan sama. “Titisan Sayap Hitam, Mandala,” ucap pemuda mancung berkulit cerah tanpa mengalihkan mata dari Wildan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN