Laras manyun saat Sukma si remaja SMP merebut selimutnya. Gadis berkerudung hitam menekuk wajah, sesekali melirik pada adik bungsunya yang mana sudah tertidur semenjak perjalanan mobil dimulai. ‘Menyebalkan!’ Ia menyandarkan kepala pada sofa belakang mobil, mulai membuka ponsel guna membuka sosmed.
Jarinya berhenti menggulir layar ketika artikel dari sebuah organisasi bernama Legacy Hunter Association terlihat. Gadis mancung berkulit sawo matang mulai membaca dalam hati, ‘dari beberapa pusaka yang akhir-akhir ini ditemukan di Nusa Peninda Bali, konon sebagian telah dibeli secara legal oleh organisasi dunia satu ini. Meski banyak dari kalangan ahli budaya yang menyayangkan bahkan sampai melakukan protes terhadap pemerintah, kata Warjo.’ Dahi Laras mengerut. “Ih, sayang pisan benda warisan leluhur malah diperjual-belikan!” gumamnya heran.
Ia memperbaiki posisi duduk, kembali memandang layar telepon sebelum lanjut membaca dalam hati, ‘hal ini juga dilakukan demi keamanan negara. Karena di tangan LHA, mereka berniat menggunakannya sebagai alat untuk meringkus berbagai orang-orang penganut ilmu hitam dan memburu makhluk mengerikan yang sempat membuat kehancuran di Ibu Kota, tegasnya.’
Sang ibu yang melihat perubahan wajah sang putri lewat spion atas, berkomentar, “baca apa, sayang? Mukamu sampai serius begitu?”
“Ibu, kalau menurut Ibu, makhluk yang kemarin sempat membuat kehancuran di Jakarta itu, makhluk apa?”
Sang Ayah menyahut sambil menyetir mobil, “tenang saja. Jangan khawatir dia muncul lagi. Kemarin kan Bapak Wibowo sudah bilang kalau pihak TNI sedang melacak keberadaannya.”
*
(Rumah sakit Kota Magetan, Jawa Timur.)
Ruang rumah sakit jadi histeris setelah kemunculan tak terduga dari Sang Titisan Sayap Hitam - Mandala. Beberapa pasien berlari keluar ruangan, hendak melapor pada petugas keamanan. Beberapa yang tak mampu bergerak akibat luka pada kaki, hanya berteriak ketakutan.
‘Titisan Sayap Hitam?’ Nama yang disebut oleh lelaki gondrong berjaket jeans terasa tak asing di telinga. “Mandala?” Wildan mulai mengambil posisi duduk. ‘Walau aku tak tahu pasti siapa orang ini, tapi aku seolah bisa merasakan niat baiknya?’
‘Dia kawanmu di kehidupan masa lalu. Julukannya Sang Sayap Garuda Hitam, Sang Titisan Sayap Hitam, atau Sang Titisan Angin Hitam. Dan getaran yang dia maksud barusan adalah getaran dari Buto Angkoro – makhluk berwujud raja genderuwo hitam bersayap.’
“S-Sayf? Apa itu kau?” gumamnya terkejut.
“Kita tidak punya banyak waktu lagi, Wildan. Apa yang kau rasakan barusan, adalah tekanan aura dari sesuatu yang seharusnya kita hancurkan di kehidupan lalu. Sepertinya sukmamu juga kembali masuk ke dalam raga karena hentakan energi ini.” Ia melangkah maju, mengulurkan tangan pada Wildan.
“A-apa yang kau bicarakan!” Diana angkat bicara, melirik kecil pada Wildan. “D-dia... dia baru saja sembuh dan kemudian kau muncul tiba-tiba, dan ingin membawanya pergi?”
Dyaarrr!
Mandala menoleh pada jendela yang ia hancurkan sebagai pintu masuk tadi. Awan hitam beserta gelegar petir mulai menyambar dari langit. ‘Mendung?’ Netra pemuda berhidung mancung menyipit – merasakan aura mengerikan yang semakin menyebar dari udara. “Wildan, kita tidak punya banyak waktu.”
Alif berteriak dengan muka geram, “jangan seenaknya bi-”
Wildan memotong kalimat Alif, beranjak dari ranjang. “Apa yang kau maksud barusan, adalah makhluk yang menyebabkan kekacauan di Jakarta beberapa bulan lalu?”
“Ya! Dan kalau kita tidak mencegahnya, dia akan menimbulkan kehancuran lagi. Aku yakin dia dalam keadaan lemah sekarang, karena selain pusaka Syekh Subakir yang sudah ditanam kembali, dia juga masih terluka akibat pertarungannya melawan salah satu anggota Pusaka Nusantara.”
‘Dia tahu Pusaka Nusantara juga?’ Wildan menarik napas dalam-dalam, sejurus kemudian meregang-regangkan tangan kanan-kiri. “Tolong sampaikan kalau aku sudah sembuh dan pergi karena urusan,” jelasnya menoleh pada Diana. “Kalau Kakek yang datang,sampaikan kalau aku telah menjalankan semua amanahnya,” imbuhnya menepuk ubun-ubun gadis yang ia sayang perlahan.
Greeep!
Wildan memeluk Wildan begitu erat hingga jemarinya bisa merasakan daging pemuda berpyama hijau yang padat lagi kekar. “Kau bodoh, ya! Kau baru saja siuman! Dan sekarang kau mau pergi bersama monster aneh yang tak kau kenal!”
Mandala menggaruk pipi menggunakan telunjuk kiri. ‘Duh, tampan-tampan begini disebut monster aneh....’
Wildan mendorong badan gadis brkerudung perlahan. Wajahnya memandang muka panik Diana. “Aku janji, aku segera mengabarimu jika aku kembali. Aku hanya akan pergi sebentar, ya?”
*
(Markas LHA, Jakarta.)
Elizabeth sang penyihir berjubah merah melangkah dengan terburu-buru. Wajah sosok mancung bermata indah itu terlihat gusar, seraya melangkah di atas karpet merah gedung mewah. Dua pintu kayu yang saling menempel, seketika terbuka oleh angin kencang tatkala perempuan berambut kemerahan berdiri di depannya.
Dijumpainya ruangan penuh komputer beserta para pekerja berbalut tuksedo hitam. “Apa yang terjadi!”
Salah satu pria pirang mancung dengan kaca mata hitam menoleh. Ia membungkuk – memberi hormat pada perempuan berjubah merah panjang dengan syal serupa bulu rubah pada leher. “Ada gangguan sinyal pada markas LHA cabang Jawa Tengah, Nyonya. Kami kehilangan kontak dengan semua pihak di sana,” lapornya menggunakan bahasa Inggris sembari menundukkan wajah.
“Apa laporan terakhir mereka?” Ia melangkah memasuki ruangan penuh monitor di dinding dan meja kerja.
“Makhluk yang membuat kehancuran di Jakarta, terbang dan menyerang markas cabang kita, Nyonya,” lapornya lagi sedikit mendongak. “Apa, perlu kami beritahukan hal ini pad-”
Blaaak!
Tubuh lelaki pirang berkaca mata seketika terjerembap keras menghantam lantai tanpa sebab jelas. “Aaakh...”
“Perintahkan semua anggota terdekat untuk datang ke sana! Aku tak mau Yang Mulia tahu kegagalan kita untuk kesekian kalinya!” bentakan wanita berkaki jenjang itu membuat puluhan manusia di ruangan menoleh. “Kalian mengerti!” serunya keras.
“Siap! Dimengerti, Nyonya!”
Piip... pipp... pip... pip... piipp....
Monitor paling besar di ruangan menampilkan sebuah peta Pulau Jawa warna biru. Di sana, terpampang dua buah titik warna putih dan hitam – yang mana berkedip cepat sembari melaju ke arah Jawa Tengah. Menghampiri titik di mana Markas LHA berada. Perempuan berkaca mata jernih menolehkan pandangan bergantian pada layar monitor dan sosok berjubah merah panjang seraya melapor, “Nyonya, sepertinya mereka juga mendekat ke titik yang sama – ke tempat makhluk itu berada.”
Elizabeth tertegun memandang layar monitor. ‘Hitam... dan putih... mungkinkah itu...’ Bibir berlisptik merahnya merekahkan senyum saat mengetahui sesuatu. “Kerahkan sebagian untuk melukai mereka dengan Blue-Fe. Setelah itu, pancing monster itu pada mereka, atau sebaliknya! Aku mau melihat pertarungan mereka dari dekat!’ imbuhnya memerintah.
*
(Beberapa waktu lalu, Markas Pusat Pusaka Nusantara, Daerah Istimewa Yogyakarta.)
Di tengah aula berlantai marmer, Ki Panca menghadap Panji dan Raihan. Berbeda dari Raihan dan Panji yang memasang kuda-kuda, sosok lelaki berkemeja hijau lengan panjang justru berdiri tegap. “Nafsu tidak menjawab siapa penciptanya ketika Tuhan bertanya. Alhasil, ia dimasukan ke dalam neraka yang teramat panas.”
Raihan menelan ludah, sudah ratusan serangan ia kerahkan tetapi semuanya berhasil ditepis oleh sang guru. ‘Mencerna apa yang beliau sampaikan sembari bertarung melawan beliau. Ahh... bukan hanya karena akalku yakin kalau aku tak akan bisa berhasil, tapi aku juga ragu untuk menyerang beliau!’
Panji si pemuda bermata belo dengan rambut depan dikuncir ke belakang – mirip Mikey si tokoh idola, mencoba menenangkan napas. Keringat bercucuran membasahi badan kekar berbalut jaket coklatnya. ‘Kalau serangan langsung selalu gagal, apa aku harus melawan menggunakan tenaga dalam?’ pikirnya menarik napas. ‘Bagaimanapun juga, aku harus berhasil meski sekali!’
Dlap!
Panji melesat cepat menghampiri Ki Panca. Tenaga dalam ia alirkan pada tangan kanan-kiri. ‘Tinju Brajamusti!’
“Setelah bertahun-tahun dihukum, ia dikeluarkan dari neraka. Tetapi, nafsu kembali berdiam diri saat ditanya siapa Tuhan-Nya. Alhasil, ia kembali dimasukan ke dalam neraka. Terus begitu berulang-ulang, sampai salah satunya ia dilaparkan di sebuah neraka,” ucapnya menampik kepalan tinju Panji hanya dengan telunjuk jari. “Barulah setelah itu, ia mengakui siapa Tuhan-Nya,” imbuh Ki Panca seraya menyelentik dahi Panji.
Daakk!
“Aaaagh!” Panji terlontar jauh dengan jidat memar. Beruntung, Raihan si pemuda berblangkon hitam segera menangkap dari belakang.
Tep!
“Kau baik-baik saja, Nji?” tanyanya.
“Nah, jadi... apa kesimpulan soal nafsu?” Ki Panca tersenyum – berjalan maju.
Panji hanya nyingir kebingungan, menahan rasa sakit akibat serangan ringan sang guru. ‘Wah, aku terlalu fokus menyerang sampai-sampai tak menyimak apa yang beliau sampaikan!’
Raihan menarik napas dalam-dalam. “Nafsu adalah sesuatu yang diberikan pada tiap-tiap manusia. Nafsu itu sendiri, haruslah dikekang dan tak mesti selalu dituruti, sebab nafsu bisa jadi pengantar menuju jurang kebinasaan,” jawabnya melesat memejamkan mata. Tubuhnya begitu lentur lagi lemas. “Karenanya, merasakan apa-apa yang tidak disukai, menundukan pandangan, serta menikmati lapar, merupakan sebagian cara untuk memperkecilnya!” jawabnya melesatkan tendangan dan pukulan bertubi-tubi pada Ki Panca.
Lelaki mancung berkemeja hijau lengan panjang tersenyum sembari mengelak dari serangan beruntun lelaki berjaket hitam. “Wehh, cerdas! Sudah mau menikah, jadi tambah encer akalnya!” tanggapnya menangkap tendangan Raihan.
Pipi Raihan memerah, mendengar kata-kata yang sudah bertahun-tahun ia nantikan. Tapi, siapa sangka justru pada keadaan bertarung seperti ini. “N-nikah, Mas?”
Blaaak!
Ki Panca melompat – mengutus kedua kaki tuk menendang dorong perut Raihan. Setelah Raihan terlempar belasan meter, barulah ia terkekeh sembari melompat berdiri. “Fokus tha, ngger! Mau nikah bukan berarti ndak bisa fokus pada hal-hal yang dihadapi!”
Panji menelan ludah, memandang Raihan yang terjatuh di dekatnya. ‘Meski sejenak, Kang Raihan nyaris berhasil memukul beliau? Jurus apa yang Kang Raihan gunakan barusan? Masa, jurus cacing kremi?’ pikirnya garuk-garuk rambut. ‘Padahal kalau Kang Raihan tetap fokus, bisa saja kena serangannya!’
“Nafsu ibarat api. Untuk memadamkannya, jadilah dingin seperti air. Ikuti alur takdir sekalipun bertentangan dengan nafsu diri. Dengan begitu, kau bisa menaklukannya secara bertahap, insyaalloh,” tanggap Ki Panca. Ia mendengar jelas apa yang Panji pikirkan barusan. “Makanya, kamu yang masih muda, jangan gampang kagetan!” imbuhnya.
*
(Langit Jawa Tengah.)
Swuuuuuung!
Mandala mendekap Wildan dari belakang sembari membawanya terbang di angkasa siang itu. Mega mendung membuat suram suasana langit kala itu. Terpaan angin nan kencang membuat pemuda berambut lebat merasakan dinginnya udara. Mereka berada pada ketinggian ratusan meter di atas tanah. Wildan memegang kuat lengan Mandala yang lebih kecil darinya seraya berteriak, “hey! Apa masih jauh!”
“Hahahahaah! Kau kedinginan, ya!” balasnya berteriak karena terpaan angin yang meniup suara mereka. “Salah sendiri malah lepas baju!”
“Hmmm....” Wildan mendongakkan kepala ke depan. ‘Ya malu, lah! Masa pakai piyama pasien!’ pikirnya kesal menyipitkan mata.
Arah terbang lelaki bersayap burung hitam nan lebar sedikit merendah. Di bawah mereka, tiada lagi bangunan-bangunan tinggi pencakar langit maupun rumah-rumah warga. ‘Woaahh... jadi begini rasanya melihat panorama alam dari ketinggian....” Wildan termangu menyaksikan hamparan pepohonan pinus berkabut lebat di bawah mereka – seperti menikmati hasil pemandangan dari pesawat drone lewat mata kepala sendiri. ‘Asyik juga bisa terbang begini!’
Mandala mengeratkan gigi sembari berputar-putar di udara. ‘Kabut di hutan ini, terlalu mencurigakan! apa ini juga dampak dari aura negatif yang Buto Angkoro sebarkan?’ Sayap yang semenjak tadi lebar ia kembangkan, kini menutup guna jadi perisai dari sesuatu yang melesat begitu cepat ke arah mereka. “Huuugh!”
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
“A-apa yang terjadi!” tanya Wildan sambil berpegangan erat pada tangan Mandala yang melingkar di perut.
Jlup! Jlup! Jlup! Jlup! Jlup!
Walaupun tak menembus sayap hitam Mandala, tetapi timah-timah panas dari beberapa orang misteris di sekitar pepohonan berhasil melukai Sang Titisan Sayap Hitam. “Huungh!” Pemuda itu berambut panjang dengan ikatan kuncir meringis menahan sakit. Sayap hitam lebar yang mengantarkan mereka melalui jarak puluhan kilometer, kini berubah transparan sebelum benar-benar menghilang. “Wildan! Pendaratannya tak akan mulus!”
‘Apa! Ada apa ini! Apa yang terjadi!” Pemuda berperut six-pact panik manakala jarak mereka dengan tanah hutan mulai begitu dekat – belum lagi sayap Mandala yang lenyap begitu saja.
‘Beberapa orang menembakki kita, Wildan. Peluru yang bersarang pada sayap Mandala, mengandung batuan khusus yang membuat tenaga dalamnya melemah, sama seperti dulu sewaktu mereka menembakimu,’ jelas Sayf dari dalam badan. ‘Tangan kirimu yang sekarang, setara dengan puluhan kekuatan manusia dewasa,’ imbuhnya berahap Wildan menemukan solusi pendaratan.
Lelaki beralis lebat menggulirkan netra beriris coklatnya ke kanan-kiri. ‘Sayap Mandala sepertinya bisa muncul menggunakan tenaga dalam. Kalau au melemparnya, bisa berhaya dalam kecepatan laju begini!’ pikirnya sebelum mengutus tangan kiri agar menyentuh tanah di bawah.
Ssrraakkkkk....
Wildan coba menghentikan laju mereka berdua dengan tangan kiri sebagai pijakan. Otot dan pembuluh darahnya muncul tiba-tiba, dibarengi dengan kukunya yang berubah memanjang. “Aaaaaargh!” Ia memaksakan tangan kanan untuk melempar pemuda berjaket jeans gelap.
Swuuung!
Mandala yang terlempar membiarkan punggung sebagai alas pendaratan. Jaket dan celana berbahan jeans yang ia kenakan berhasil meredam benturan benda-benda tumpul dan tajam di sekitar tanah hutan. “Aaaagh....”
Gluusraakk!
Wildan dan Mandala terguling di hutan secara bersamaan – tapi dengan arah berlawanan. “Huuugh! Ya Alloh!” keluhnya merasakan perih saat punggung tanpa berbalut sehelai kainnya jadi topangan pendaratan. “Aaaarkh!” Beberapa detik setelah terseret akibat laju luncuran terbang tadi, Wildan menderita banyak luka gores oleh ranting, semak belukar, dan kerikil-kerikil hutan. Ironis, tangan kirinya justru tak berdarah sama sekali.
‘Harusnya kau perlambat waktu sesaat sebelum mendarat, Wildan,’ tanggap Sayf dari dalam tubuh.
“Ck! Kau kebiasaan! Telat kalau kasih saran!” celetuknya kesal seraya menenangkan napas dan gejolak darah yang berontak.
“Aaaaw! Aduh!” Mandala mengaduh kesakitan di semak belukar hutan – tak jauh dari Wildan.
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
Wildan bergegas memejamkan kedua mata saat mendengar dentuman tembakan pertama guna memperlambat waktu. Kepalanya menoleh ke kiri sesaat setelah waktu berhasil ia lambatkan. ‘Ini... aroma orang-orang itu?’ terkanya setelah mengendus-endus udara.
Sebuah timah panas berpendar kebiruan melesat begitu lambat di awang-awang, nyaris mengenai daun telinga pemuda bercelana hitam panjang. Di belakang peluru biru tersebut, enam peluru serupa lain melesat menyusul selambat siput. “Manusia-manusia b*****h!” gerutunya usai mengeratkan gigi. Pusaka Sarung Tangan Gadil Pajajaran seketika membalut tangan kanan sang pemuda kekar. “Haaaaagh!”
Hanya dalam satu hantaman tinju kanan, peluru-peluru tersebut terombang-ambing di udara untuk sesaat, sebelum akhirnya berhenti tak bergerak. “Sayf! Di mana orang-orang itu bersembunyi!” Ia celingukan di saat daun dari pepohonan bergerak begitu lamban bersama angin.
‘Arah timur, arah barat, dan di selatan. Mereka bersembunyi di atas pohon, Wildan.’
“Keluar kalian!” Tujuh butir timah yang masih mengambang di udara, Wildan manfaatkan. Ia melempar ke arah pepohonan sesuai arah yang sang khodam jabarkan.
Swuuung! Swuung! Swuung! Swuung! Swuung! Swuung! Swuung!
Ketika waktu kembali bergerak normal, jerit kesakitan para bule terdengar. Lima orang terlihat jatuh dari atas pohon rindang yang mereka gunakan sebagai tempat persembunyian, sementara dua yang lain bergegas turun dari pohon – memilih kabur menjauh.
“Jangan lari kalian!” bentak Wildan hendak mengejar.
‘Tunggu! Wildan! Bijaklah dalam menggunakan tenagamu! Aku merasakan kehadiran Buto Angkoro di arah orang-orang itu berlari,’ ungkap Sayf. ‘Jangan sampai kau kehabisan tenaga! Aku tak bisa mewujud maupun memberi tambahan padamu untuk saat-saat ini!’ imbuhnya memberi saran.
“Kalau begitu, apa ada kemungkinan bila kita bisa mengalahkan makhluk itu, Sayf?”
‘Keadaanya lemah. Dia, baru saja merebut sesuatu bertekanan besar. Walau begitu, kau tetap harus waspada.’
Jluup!
“Huuaaaaagh!” Pria berkaca mata hitam dengan balutan tuksedo menjerit kesakitan dari kejauhan. Sesosok makhluk berbulu hitam lebat dengan sepasang sayap lebar membentang, baru saja menusuk badan pria malang tersebut hingga tembus ke punggung.
Mandala melihat kejadian tersebut seraya berjalan mendekati Wildan. “Apa kau siap, Sang Titisan Cahaya?” tanyanya menepuk pelan pundak pemuda kekar bercelana hitam.
“Grrroaaaaaar!” Monster bersayap kelelawar menjerit membiarkan suara mengerikan tersebut menggelegar menelusuri hutan. Pria bule yang ia tusuk dengan cakarnya, lambat laun mulai mengering – berubah jadi sosok tanpa daging.
Wildan mengambil kuda-kuda ala Karate. Ia menarik napas dalam-dalam, seraya menyahut, “sebelumnya aku tak yakin bisa mengalahkan makhluk ini. Tapi sekarang – setelah menghancurkan beberapa kepala makhluk sepertinya, mungkin memang sudah waktunya kita coba!” Cakar Putih Pajajaran – sebuah pusaka logam hitam-putih yang membalut lengan kanan pemuda kekar beralis lebat, mulai bersinar saat itu juga.